Web portal pendidikan – Esai kali ini berjudul Wajah pendidikan Indonesia, yang dikirimkan oleh salah satu peserta dalam ajang lomba esai nasional bersama belapendidikan.com. Untuk lebih lengkapnya dapat kita lihat sebagai berikut.

Wajah Pendidikan Indonesia

Yah di sini saya akan membahas tentang wajah pendidikan Indonesia. Apa sih wajah pendidikan Indonesia itu? Wajah pendidikan Indonesia itu merupakan suatu karakter pendidikan di Indonesia. Bagaimana wajah pendidikan di Indonesia tersebut?

Menurut saya, pendidikan Indonesia hampir tiap tahun berganti kurikulum, sehingga setiap tahun metode pembelajarannya berubah. Memang antara sekolah yang satu dengan lainnya berbeda – beda metode pembelajarannya, namun inti dari pembelajarannya sama saja.

Setelah saya jelaskan mengenai sekilas tentang wajah pendidikan Indonesia, saya sekarang mulai membahas mengenai soal – soal USBN. USBN merupakan Ujian Sekolah jenjang akhir. Saat ini USBN mulai bertahap dengan soal subjektif (isian). Mengapa hal tersebut terjadi?

Menurut tanggapan saya, mungkin dimaksudkan agar para siswa berfikir dengan logika dan melatih untuk berfikir secara luas serta belajarnya menjadi lebih maksimal, karena dalam soal objektif kebanyakan pelajar tidak belajar dan malah mengandalkan contekan dari temannya sebab mudah untuk menyontek dan lagi siswa jaman sekarang lebih pandai dalam mengatur strategi untuk menyontek sehingga pelajar kurang mampu mengasah otaknya atau melatih untuk berfikir secara luas.

Pada paragraf sebelumnya sudah saya jelaskan sekilas tentang USBN masa kini. Selanjutnya saya akan membahas UN (Ujian Nasional). UN merupakan ujian nasional yang menentukan apakah kita lulus atau tidak untuk meneruskan ke jenjang selanjutnya. Pelaksanaan UN kini sudah mulai menggunakan komputer atau istilahnya UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer) yang sebelumnya dilakukan dengan manual.

“Kami berusaha, mulai tahun depan soal UN tidak lagi semuanya pilihan ganda. Sehingga dapat mengukur level kognisi siswa lebih mendalam,” ujar Kepala Pusat Penilaian Pendidikan Kemdikbud, Nizam, dalam konverensi pers di Jakarta, Kamis. Dikutip dari website : https://m.antaranews.com/berita/635585/kemdikbud-menyebut-soal-un-2018-berbentuk-esai.

Saya mendukung atas usaha tersebut sebab soal pilihan ganda dalam UN terdapat pilihan jawaban yang menjebak yang dapat membuat siswa berfikir secara matang dan dapat menentukan jawaban yang paling benar dan soal subjektif juga dapat melatih berfikir siswa secara luas seperti yang sudah saya bahas di paragraf sebelumnya.

Tetapi jika UN diubah menjadi soal subjektif seluruhnya, saya kurang setuju sebab siswa tidak dapat berfikir tentang jawaban yang benar akan ada jawaban yang lebih benar lagi alias sebuah jebakan dalam pilihan jawaban.

Apakah Jam Wajib Belajar Yang Ditetapkan Sudah Terlaksana Dengan Baik ?

Setelah membahas mengenai USBN dan UN, di paragraf ini saya singgung tentang jam wajib belajar yang pernah ditetapkan. Apakah jam belajar itu benar – benar terlaksanakan?

Tanggapan saya, hal tersebut tidak sepenuhnya terlaksanakan sebab banyak siswa pada jam wajib belajar tidak digunakan untuk belajar tetapi digunakan untuk online sosmed. Mengapa hal tersebut terjadi? Karena tidak ada tugas dari sekolah sehingga tidak perlu belajar. Karena siswa jaman sekarang kebanyakan hanya belajar pada saat ada tugas atau ulangan saja.

Saya berpendapat sebaiknya jam wajib belajar lebih ditegaskan lagi agar siswa tidak keluyuran atau online sosmed yang kurang bermanfaat pada saat jam belajar. Saya harap dari tahun ke tahun sistem pendidikan di Indonesia semakin berkembang maju, tidak hanya sistemnya tetapi juga dapat menghasilkan kualitas siswa yang baik dan cerdas.

Membuat siswa mau belajar dengan giat dan dalam belajar tersebut dapat benar – benar memahami materi yang diajarkan sehingga dalam ujian, siswa tidak perlu repot – repot membuat strategi untuk menyontek dan suasana dalam ujian pun nyaman.

Apakah Sistem Belajar “FullDay” Sudah Efektif ?

Dari sekian banyak pembahasan yang saya jelaskan, kali ini pembahasan terakhir yaitu mengenai Fullday yang artinya sekolah dari pagi hingga sore seperti jam kerja. Saat ini sudah banyak sekolah yang menerapkan sistem fullday.

Anggapan saya mengenai sistem ini netral karena pada hari Sabtu dan Minggu diliburkan, sehingga siswa memiliki waktu luang untuk refreshing sebanyak 2 hari penuh. Tetapi di sisi lain dari memiliki waktu luang yang banyak, sistem ini membuat siswa kelelahan karena terlalu banyak menyerap materi dan malamnya pun diharuskan untuk belajar lagi.

Bagi siswa yang kurang mampu menyerap banyak materi, siswa tersebut akan kewalahan sehingga kurang memahami materi tersebut. Jadi sebaiknya perlu diberikan solusi belajar yang benar – benar membuat siswa dapat memahami dalam kegiatan pembelajaran.
Sekian pembahasan yang dapat saya jelaskan.

Semoga sistem pendidikan di Indonesia dari tahun ke tahun menjadi lebih baik dan membuat siswa menjadi berkualitas sehingga Indonesia dapat menjadi negara yang lebih maju.

Esai ini di tulis oleh Siti Nur Megumi kamu juga bisa menulis karyamu di belapendidikan, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah setiap bulannya, Daftar Sekarang

Ahmad Andrian F
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi keluhkesah.com