Web portal pendidikan – Esai kali ini berjudul Upaya melejitkan potensi anak guna mewujudkan generasi berpengetahuan global dan cinta budaya lokal, yang dikirimkan oleh salah satu peserta dalam ajang lomba esai nasional bersama belapendidikan.com. Untuk lebih lengkapnya dapat kita lihat sebagai berikut.

Upaya Melejitkan Potensi Anak Guna Mewujudkan Generasi Berpengetahuan

Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang kaya akan nilai – nilai luhur budaya bangsa yang tercermin dalam setiap aktivitas berbangsa dan bernegara. Seiring berkembangnya zaman, nilai – nilai tersebut semakin terkikis dan tergantikan oleh budaya – budaya asing yang masuk bersamaan dengan masuknya teknologi canggih seperti smartphone dan internet yang seringkali disalah gunakan untuk mengakses konten bernuansa negatif (Praheto, 2016).

Akibatnya, masyarakat Indonesia terutama anak usia dini sudah tidak lagi mengenal budaya luhur bangsanya dan lebih memilih budaya – budaya asing milik bangsa lain. Hal tersebut salah satunya dapat dilihat pada aktivitas bermain anak yang dahulunya dimainkan secara bersama – sama antar anak dalam suatu lingkungan, yaitu seperti permainan cublak – cublak suweng, dakon, engklek, jamuran, gobak sodor, cim – ciman, bedhil – bedhilan, petak umpet, lompat tali, dan sebagainya,

Sekarang telah tergantikan dengan play station, aplikasi – aplikasi game yang terdapat di smartphone, game online yang dapat dimainkan di gadget yang telah terkoneksi dengan internet dan sebagainya (Sari M. K., 2016).

Hal ini didukung dengan sebuah penelitian yang dilakukan oleh Tria Puspita Sari terhadap anak usia pra-sekolah yang menunjukkan bahwa 100% dari responden mengoperasikan gadgetnya untuk bermain game (Sari T. P., 2016).

Artinya, di zaman sekarang ini, anak jauh lebih memilih untuk berada di dalam rumah dan memainkan aplikasi – aplikasi yang ada dalam gadgetnya, daripada bermain dan bersosialisasi dengan teman – teman yang ada di sekitar lingkungannya.

Padahal sejatinya, dolanan anak yang diwariskan oleh leluhur bangsa tersebut menurut berbagai penelitian mutakhir justru berdampak positif pada perkembangan potensi anak, baik secara kognitif (pengetahuan), afektif (sikap) maupun psikomotor (keterampilan) (Herawati, 2015) yang merupakan tujuan utama implementasi kurikulum di Indonesia, baik pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 maupun Kurikulum 2013 (Al-Tabany, 2014).

Maka dari itu, harus ada upaya untuk mengeksistensikan kembali dolanan anak sehingga anak – anak Indonesia dapat kembali mengenal dan mencintai keluhuran budaya yang dimiliki oleh bangsanya sendiri. Salah satu upaya untuk mengembalikan hal tersebut yaitu melalui PEDON atau Pembelajaran Berbasis Dolanan Anak, yaitu sebuah upaya untuk menginternalisasikan materi – materi pelajaran di sekolah ke dalam berbagai dolanan anak yang ada, sehingga seperti halnya peribahasa sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.

Pembelajaran akan disampaikan dengan baik kepada peserta didik, tetapi bersamaan dengan itu juga dikenalkan budaya bangsa serta diajarkan nilai – nilai positif yang terkandung di dalamnya, yaitu tanggung jawab, kejujuran, kreativitas, dan sebagainya.

PEDON ( Pembelajaran Berbasis Dolanan Anak)

PEDON dapat diaplikasikan oleh guru di semua mata pelajaran yang diampu, dimana dalam pelaksanaanya tetap disesuaikan dengan topik atau materi yang harus disampaikan kepada siswa. Guru juga harus menyesuaikan antara dolanan yang ada dengan tingkat kognitif siswa, sehingga siswa dapat enjoy dengan pembelajaran yang diberikan guru, tetapi juga mampu menyerap inti dari pelajaran yang disampaikan, sehingga siswa tetap mampu mencapai kompetensi – kompetensi yang harus dikuasai.

Beberapa contoh pelaksanaan PEDON di kelas, diantaranya yaitu pertama, Dakon. Dakon merupakan suatu dolanan yang dimainkan oleh minimal 2 orang anak, dimana keduanya dihadapkan dengan suatu area yang terdiri atas kotak – kotak kecil atau suatu papan yang tersusun atas lubang – lubang kecil, dimana anak harus memasukkan bulatan – bulatan kecil, baik berupa biji buah, kerikil dan sebagainya secara berurutan pada setiap kotak yang telah disediakan, masing – masing satu bulatan pada setiap kotak, baik kotak “lumbung” sebagai tempat menyimpan, maupun kotak – kotak lainnya. Dolanan ini misalnya yaitu diaplikasikan dalam pembelajaran matematika yang bertemakan “bilangan” yang ada pada kurikulum SD maupun SMP.

Guru dapat menuliskan angka – angka pada setiap bulatan yang ada, misalnya dari angka 1 hingga 50 yang dibuat secara menarik dan berwarna – warni, kemudian siswa secara berpasangan memainkan dolanan tersebut layaknya bermain dakon.

Setelah diberikan waktu selama ±2 menit, siswa diminta menghitung “lumbung” dakonnya, untuk kemudian dihitung pada berbagai aspek, seperti jumlah butir bulatannya; jumlah angka yang tertera dalam bulatan; jumlah angka dari bulatan berwarna hijau; jumlah angka dari bulatan berwarna merah dan kuning; jumlah angka pada bulatan merah dikurangi jumlah angka pada bulatan biru; bulatan yang menunjukkan bilangan prima; bilangan yang menunjukkan bilangan ganjil, dan sebagainya (Gambar 1).

Modifikasi dakon dalam pedon
Gambar 1, Modifikasi dakon dalam pedon

Engklek.

Dolanan engklek dimulai dengan cara membuat petakan – petakan yang digambar di atas halaman maupun lantai rumah dengan menggunakan kapur atau sisa pecahan atap atau “gentheng”. Anak membuat petakan dengan kreatifitas mereka sendiri atau yang biasa dilakukan adalah dengan bentuk yang menyerupai pesawat. Anak kemudian saling melakukan “hompimpa” untuk mendapatkan kesepakatan tentang urutan pemain.

Siswa yang menang dalam “hompimpa” akan bermain terlebih dahulu dengan cara berdiri di luar petakan dan melemparkan “gentheng”. Lemparan pemain tidak boleh keluar dari petak yang dibuat, karena jika keluar, maka pemain dianggap kalah. Setelah “gentheng” berada pada suatu petak, maka pemain mulai melompat ke arah “gentheng” tersebut dengan menggunakan satu kaki.

Dolanan ini misalnya dapat diterapkan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia pada pokok pembelajaran Pantun yang ada dalam tingkat SD, SMP maupun SMA. Jika pada tingkat SMA, misalnya, guru dapat membagi siswa ke dalam 2 kelompok besar, dengan tujuan agar keduanya saling berbalas dan beradu pantun.

Medan dolanan yang digunakan yaitu petakan pesawat ya ng saling berhadapan, dimana petakan dari siswa kelompok 1 akan berhadapan dengan petakan siswa kelompok 2. “Gentheng” yang digunakan pada dolanan tersebut diganti dengan kertas yang telah berisi sampiran beberapa pantun. Siswa kemudian diminta untuk saling berbalas pantun, tetapi menggunakan pola sebagaimana sampiran yang telah disediakan. Kelompok yang dapat membuat “isi” pantun dengan sampiran yang telah disediakan, maka ia akan mendapatkan point, dan begitu juga sebaliknya (Gambar 2).

modifikasi engklek pada pedon
gambar 2, modifikasi engklek pada pedon

Gobak Sodor.

Gobak sodor adalah suatu permainan tradisional yang harus dimainkan secara berkelompok, dimana satu kelompok menjadi penjaga lapangan dan kelompok lainnya menjadi pemain yang harus melewati lapangan. Tugas penjaga lapangan adalah menghalang – halangi pemain agar gagal melewati lapangan, sementara tugas pemain adalah berusaha menghindar agar tidak disentuh oleh penjaga lapangan, sehingga ia bisa melewati lapangan dan manjadi pemenang.

Dolanan ini juga dapat diaplikasikan dalam pembelajaran, misalnya pada materi IPA maupun sejarah, tetapi sebelumnya siswa harus sudah membaca terlebih dahulu materi yang akan digunakan dalam dolanan, misalnya yaitu pada materi “Pencernaan Makanan” yang ada pada pelajaran IPA SMP dan Biologi SMA. Siswa yang menjadi penjaga lapangan bertugas menyiapkan pertanyaan – pertanyaan yang nantinya akan diberikan kepada pemain lapangan yang anggota badannya tersentuh oleh penjaga lapangan.

Sebelum pemain keluar dari area dolanan, pemain harus bisa menjawab pertanyaan yang diberikan oleh penjaga lapangan yang telah menyentuh tubuhnya. Jika belum bisa menjawab, maka penjaga lapangan yang telah menyentuh tubuh pemain akan memberikan pertanyaan yang lain.

Jika sampai tiga kali pertanyaan tetapi pemain tidak mampu menjawab, maka pemain akan mendapatkan tugas dari guru untuk mencari jawaban pertanyaan tersebut dalam waktu ±5 menit. Jika tidak mampu menjawab juga, maka siswa akan dikenai sanksi berupa pengurangan nilai. Karena itu, maka siswa diharapkan akan benar – benar sungguh – sungguh untuk mencari jawabannya, sehingga siswa mampu memahami pelajaran yang disampaikan (Gambar 3).

modifikasi gobak sodor
gambar 3, modifikasi gobak sodor

Cublak – cublak suweng.

Cublak – cublak suweng yaitu suatu dolanan tradisional yang dimainkan oleh beberapa anak, dengan cara satu orang duduk dan menelungkupkan punggungnya, sementara anak – anak yang lain duduk mengelilingi pemain tersebut sambil meletakkan tangannya diatas punggung pemain yang tengkurap. Semua pemain kemudian menyanyikan lagu cublak – cublak suweng sambil memutar suweng atau kerikil dari tangan ke tangan. Pemain yang tengkurap harus memejamkan matanya, sehingga ia tidak mengetahui keberadaan suweng atau kerikil.

Jika lagu cublak – cublak suweng telah sampai pada lirik berbunyi “gosong”, maka pemain terakhir yang mendapatkan suweng harus menggenggam erat – erat suweng tersebut, sehingga pemain yang tengkurap tidak mengetahuinya. Setelah itu, pemain yang tengkurap akan menebak tentang siapa yang membawa suweng tersebut. Jika tebakan benar, maka orang yang membawa suweng akan menggantikan posisi tengkurapnya, sementara jika gagal, maka ia akan kembali ke posisi tengkurap dan begitu seterusnya.

Dolanan tersebut tentu mampu untuk diterapkan ke dalam pembelajaran, misalnya yaitu dalam pembelajaran Bahasa Inggris yang bertemakan Expression, seperti expression of happines, expression of sadness, expression of congratulation dan sebagainya. Suweng yang diedarkan pada tangan – tangan pemain secara melingkar tersebut diganti dengan ungkapan – ungkapan dalam bahasa inggris, baik perkataan orang yang pertama maupun jawaban dari orang kedua.

Jika lagu telah sampai pada lirik “gosong” maka pemain yang mendapatkan soal akan menggenggam dengan erat soal tersebut, lalu pemain tengkurap akan menebak tentang siapa yang membawa soal tersebut. Jika jawaban pemain tengkurap benar, maka pemain yang membawa soal harus menjawab soal tersebut dan menggantikan posisi pemain tengkurap.

Sementara jika tebakannya salah, maka pemain yang membawa soal memberikan soal yang dibawanya kepada pemain tengkurap, kemudian pemain tengkurap akan menjawab soal tersebut lalu kembali menjadi pemain yang tengkurap. Jika ada kesulitan dalam menjawab pertanyaan tentang expression yang tersedia dalam soal tersebut, maka pemain dapat menanyakan dengan teman – temannya yang lebih mengetahui.

Akan tetapi, temannya tidak boleh langsung memberikan jawaban, tetapi menstimulasi siswa agar ia berfikir sendiri tentang jawaban yang harus diberikan. Sehingga diharapkan siswa akan benar – benar memahami tentang apa yang harus ia jawab (Gambar 4).

modifikasi cublak cublak suweng dalam pedon
gambar 4, modifikasi cublak cublak suweng dalam pedon

Bedhil – bedhilan atau tembak – tembakan.

Dolanan ini dijalankan dengan membagi anak mejadi 2 kelompok besar yang saling berlawanan masing – masing anak membawa dan memainkan bedhil atau tembak yang dibuat dari bambu. Anak biasanya menggunakan peluru dari bahan kertas maupun biji buah. Jika tembakan terkena pada kelompok lawannya, maka kelompok yang menembak akan mendapatkan point.

Dolanan ini sangat cocok untuk diterapkan dalam pembelajaran, misalnya yaitu pada pelajaran – pelajaran yang menuntut banyak kosakata asing untuk dihafal oleh siswa, seperti misalnya kosakata bahasa inggris, kosakata bahasa arab, nama – nama nabi, nama – nama Allah (Asma’ul Husna), nama – nama pulau di Indonesia, nama – nama bahasa di Indonesia dan sebagainya.

Aplikasi dolanan ini yaitu dengan cara mengganti peluru dengan soal – soal singkat, seperti misalnya arti dari suatu kata bahasa inggris, nama seorang nabi yang hanya dituliskan inisialnya, nama pakaian adat dengan diberi clue nama daerahnya, dan sebagainya.

Peluru tersebut ditembakkan kepada lawan. Jika peluru berhasil mengenai lawan, maka lawan harus menjawab soal tersebut, sementara jika tidak sampai mengenai lawan, maka pemain penembaklah yang harus menjawab soal tersebut.

Pertambahan nilai akan diberikan kepada kelompok yang mampu menjawab soal dengan benar. Semua anggota dalam kelompok tersebut harus berperan aktif, dimana semua harus pernah merasakan menembak dan ditembak; tidak hanya satu atau dua orang saja yang saling menembak (Gambar 5).

modifikasi bedhil bedhilan dalam pedon
gambar 5, modifikasi bedhil bedhilan dalam pedon

Esai ini ditulis oleh Elvara Norma kamu juga bisa menulis karyamu di belapendidikan, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah setiap bulannya, Daftar Sekarang

Ahmad Andrian F
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi keluhkesah.com