Web portal pendidikan – Selamat sore sobat keluhkesah, kali ini saya akan memberikan pemahaman edukasi tentang tren sistem pemilu hybrid di Indonesia. Adapun penjelasannya dapat kami sampaikan melalui uraian dibawah ini.

Tren Sistem Pemilu Hybrid Di Indonesia


Ada sangat banyak sistem pemilu yang pernah di terapkan di permukaan bumi. Setidaknya ada 300 model. Keduanya berada dalam dua keluarga besar, yaitu sistem proporsional dan mayoritas/pluralitas. Dari keluarga besar sistem tersebut, berkembang sistem sistem lainnya.

Dalam buku Electrocal System Design : The New International IDEA Handbook, para pakar mengklarifikasikan sistem pemilu ke dalam empat tipe, yaitu sistem proporsional, sistem mayoritas/pluralitas, sistem campuran, dan sistem lain lain.

Sistem Pemilu Hybrid
Sistem Pemilu Hybrid Di Indonesia
Sistem Pemilu Hybrid Di Indonesia

Para pakar penyusun buku itu adalah Andrew Reynolds, Ben Reilly, Andrew Ellis, Jose Antonio Cheilbub, Karen Cos, dan lain lain. Buku ini diterbitkan IDEA – organisasi antar pemerintah yang beranggotakan negara negara dari seluruh benua untuk penguatan institusi demokrasi pada tahun 2005 silam.

Tapi ada juga yang membagikannya menjadi tiga sistem, yaitu sistem proporsional, sistem mayoritas, dan sistem campuran. Tiga sistem ini antara lain dikutip Mulyana W Kusumah Dan Pipit R Kartawidjaja, dalam sistem pemilu dan pemilihan presiden : Suatu studi banding.

Dan Andrew Reynold adalah pakar pemilu yang awal Mei 2011 lalu datang ke Indonesia lewat papernya yang bertajuk Electrocal System and the Protection and Participation of Minorities, juga pernah membagi sistem pemilu menjadi tiga yaitu, mayoritas/pluralitas, proporsional, dan semi proporsional. Laporan ini di terbitkan oleh Minority Right Group International (MRG) pada tahun 2006.

Baca juga : Pendidikan pemilu bagi pemilih pemula

4 Varian Sistem Mayoritas Atau Pluralitas Oleh Reynold

Ada empat varian yang dimasukan Reynold ke dalam sistem mayoritas/plluralitas, yaitu first past the post, alternative vote, two round system, dan block vote. Sistem proporsial terbagi atas list proporsional representation (list PR) atau di Indonesia kerap disebut sistem proporsional daftar, mixed member proportional (MMP), dan single transverable vote ( STV ), sedangkan sistem semi proporsional terdiri atas sistem paralel dan single non transverable vote (SNTV).

Secara internasional, ada 10 kriteria untuk menilai keberlangsungan sebuah pemilu. Tapi, dari ke 10 kriteria tersebut, kurang dari separuhnya yang bisa dipenuhi Indonesia dengan sistem pemilu proporsional terbuka.

Adam Schmidt dalam Indonesia’s 2009 Election Performance Chalange and Negative Precedent menyatakan hanya empat kriteria yang bisa dipenuhi Indonesia pada pemilu 2009 lalu. Yaitu, kebebasan berekspresi partai politik, peliputan media yang berimbang mengenai peserta pemilu, pelaksanaan pemungutan suara dengan damai, dan proses penyelesaian konflik dengan baik.

Baca >> Pentingnya Mengetahui Sistem Hukum Dan Peradilan Nasional

Mengapa enam kriteria lainnya tidak terlaksana atau terpenuhi ? Penyebab utamanya adalah sistem pemilu yang rumit.

Berdasarkan evaluasi Cetro atas pelaksanaan pemilu 2009 , ada lima penyebab utamanya, yaitu surat suara memuat terlalu banyak calon anggota legislatif, yaitu 150 sampai 550 caleg per surat suara, penghitungan suara yang lambat dan sulit, banyaknya masalah dalam penentuan perolehan kursi, banyaknya masalah dalam penetapan calon terpilih, dan banyaknya sengketa hasil pemilu yang berakhir di meja mahkamah konstitusi, yang mencapai 700 kasus.

Berikut ini adalah sepuluh kriteria kriteria keberlangsungan pemilu versi Adam Schmidt

  1. Kebebasan berekspresi partai politik.
  2. Peliputan media yang berimbang mengenai peserta pemilu ( partai politik dan calon anggota nya )
  3. Pemilih yang terdidik.
  4. KPU yang permanen dengan staf yang memiliki kompetensi.
  5. Pelaksanaan pemungutan suara dengan damai.
  6. Masyarakat sipil terlibat semua dalam aspek proses pemilu.
  7. Proses penghitungan suara yang transparan.
  8. Hasil pemilu yang dapat di audit.
  9. DPT yang akurat.
  10. Proses penyelesaian konflik berjalan dengan baik.

Baca juga : Makna efisiensi dan efektivitas pemilukada

Empat Keluarga Besar Sistem Pemilu

Para pakar pemilu internasional membagi sistem pemilu dalam empat keluarga besar. Kesimpulan itu mereka tuangkan dalam buku yang di terbitkan International For Democracy and Electrocal Assistance (IDEA). Berikut keluarga besar sistem tersebut sistem pemilu yang tergabung di dalamnya.

Sistem Mayoritas / Pluralitas

  • First Past The Post ( FPTP )
  • Two Round System (TRS)
  • Alternative Vote (AV)
  • Block Vote (BV)
  • Party Block Vote ( PBV )

Sistem proporsional ( Proportional Representation )

  • Proporsional Daftar ( List proportional representation )
  • Single transferable vote (STV)

Campuran

  • Mixed member proportional (MMP)
  • Paralel

Lain lain

  • Single Non-Transferable Vote (SNTV)
  • Limited Vote (LV)
  • Borda Count (BC)

Sementara itu daftar di wikipedia sudah membuat kategorisasi yang lebih spesifik. Indonesia ditempatkan sebagai negara yang menerapkan proporsional daftar calon terbuka (open lists), dengan metode penghitungan kuota hare (hare quota).

Daftar yang dibuat wikipedia ini lebih spesifik, karena sejak tahun 2004, Indonesia telah meninggalkan sistem proporsional tertutup yang di praktikkan sejak tahun 1955 sampai 1999. Indonesia telah menggantikannya dengan sistem proporsional daftar calon terbuka, dimana pemilih tak hanya memilih tanda gambar, tapi juga memilih calon anggota legislatif.

Daftar yang dibuat wikipedia ini lebih spesifik, karena sejak tahun 2004, Indonesia telah meninggalkan sistem proporsional tertutup yang di praktikkan sejak tahun 1955 sampai 1999. Indonesia telah menggantikannya dengan sistem proporsional daftar calon terbuka, dimana pemilih tak hanya memilih tanda gambar, tapi juga memilih calon anggota legislatif.

Tapi bila menggunakan tiga pembagian umum yang dikutip Mulyana W Kusumah dan Pipit R Kartawidjaja, Indonesia masuk dalam sistem campuran, bersama dengan sistem MMP.

Artikel ditulis oleh @author dengan judul artikel tren sistem pemilu hybrid di Indonesia. Kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi pengembangan artikel lebih lanjut.

Kamu juga bisa menulis karyamu di belapendidikan, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah. Klik disini untuk kirim tulisan, atau bisa lewat email kami [email protected]

Ahmad Andrian F
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi keluhkesah.com