Sayangnya Skripsi Ga Cukup Dengan “Rebahan” di Rumah Saja

oleh -281 views
Sayangnya skripsi ga cukup dengan rebahan di rumah saja
Sayangnya skripsi ga cukup dengan rebahan di rumah saja

Web portal pendidikan – Seperti yang sudah saya katakan di group sarana belajar sastra waktu lalu, saya akan membuat suatu opini yang berkaitan dengan peristiwa yang terjadi di masyarakat saat ini. Artikel dengan judul “sayangnya skripsi ga cukup dengan rebahan di rumah saja“. Menarik untuk kita bahas. Jangan lupa share ke teman teman kamu yang merasakan hal yang sama.

Sayangnya Skripsi Ga Cukup Dengan “Rebahan” di Rumah Saja


Wabah Corona Virus Disease (COVID-19) berhasil mencetak sejarah baru dalam peradaban Indonesia. Bagaimana tidak, jika dahulu berjuang dilakukan dengan angkat senjata.

Saat ini, perjuangan menyelamatkan Indonesia dapat dilakukan dengan “rebahan” dirumah saja. Sepele memang, tapi begitulah cara yang dinilai paling efektif untuk mencegah penyebaran virus.

Sejak Presiden Jokowi berpidato tanggal 16 Maret 2020, selama 12 hari, jumlah pasien positif corona mencapai 1155 orang pertanggal 28 Maret. Tak hanya korban, melemahnya nilai rupiah, pembatasan tempat keramaian, pengusiran oleh petugas keamanan, hingga penerapan sistem pembelajaran daring diseluruh jenjang pendidikan menjadi dampak bahaya pandemi ini.

Bagi mahasiswa semester akhir, penyebaran virus COVID-19 ini ibarat simalakama. Bagaimana tidak, diakhir masa studinya, tak hanya menghadapi pandemik, tapi juga akademik berupa Skripshit.

Apakah hastag #dirumahaja Menjadi Masalah Saat ini ?


Permasalahannya bukan pada konsep #DirumahAja, tapi sistem yang tidak jelas alur dan bentukannya. Bila komunikasi dengan dosen yang ditemui tanpa social distancing di kampus saja sering terjadi bias, apalagi harus secara online.

Maupun seandainya, okelah kita “sepakat” dengan bimbingan online, platform dan regulasi yang ditawarkan pihak kampus toh juga tidak jelas penampakannya.

Pada hakikatnya, bimbingan dan pembelajaran itu memiliki konsep yang berbeda. Tujuan pembelajaran, menurut Cak Bloom digolongkan menjadi 3 taksonomi: kognitif (ben pinter), afektif (ben gak kakean pola), dan psikomotorik (ben terampil).

Nah, sejak tahun 1990-an diperkenalkan dengan konsep CBT, model pembelajaran online memang berkhasiat untuk meningkatkan kemampuan kognitif. Sehingga, seandainya perkuliahan diganti dengan sistem online, dengan sintak yang sesuai, takkan mempanguhi perkembangan peserta didik.

Baca juga : Apakah harus “skripsi” demi mendapatkan gelar sarjana ?

Bahkan, Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, mengajarkan kita untuk bergerak “Dari keteraturan menuju kesemrawutan”. E-leaning merupakan bagian what should a learning environment provide.

Tapi masalahnya, konsep tersebut berbeda dengan bimbingan yang lebih menekankan pada “Interaksi”. Hanya mahasiswa tingkat akhirlah yang akan merasakan betapa berharganya sebuah interaksi, terkhusus dengan dosen pembimbing.

Bagaimana rasanya dicampakkan, menebak-nebak ketidakjelasan, memahami tulisan model art scribbling, dan bersabar dalam mencari sosok yang dirindukan.

Jelas, semua gejolak itu tidak akan bisa digantikan dengan sistem online. Bukannya tidak sepakat, jujur, jauh sebelum COVID-19 mewabah, sebagian dari kami, mahasiswa akhir yang telah berjuang melawan ketidakjelasan juga telah memutuskan untuk melakukan social distancing.

Tanpa diminta ataupun diintruksikan, social distancing dengan dosen pembimbing itu sudah hal yang biasa dilakukan, bapak ibu.

Sebagai kaum yang terdampak social distancing jauh sebelum COVID-19 mewajibkan untuk #DirumahAja, kebijakan yang dikeluarkan ibarat fatamorgana, asyik tapi menipu.

Minimal, setidaknya kalau mau buat kebijakan tentang bimbingan online juga mempertimbangkan beberapa aspek. Setidaknya, prinsip interaksi sosial yang gagas oleh Soerjono Soekanto juga bisa terpenuhi.

Karena pada hakikatnya, mahasiswa akhir yang masih dalam tahap bimbingan skripsi membutuhkan kontak sosial dan komunikasi.

Dari awal memang yang menjadi masalah bukan pada medianya, tapi tidak adanya efek antara komunikan dengan komunikator, kalau demikian bagaimana kontak sosial bisa terpenuhi. Gampangnya, percuma dibuat online kalau bapak dan ibu dosen tidak memberikan tanggapan.

Mulai dari ketidakjelasan prosedur itulah, akhirnya muncul permasalahan kedua, penelitian. Saat ini, kondisi COVID-19 semakin membahayakan, dalam waktu yang singkat terjadi peningkatan jumlah korban mencapai 50%.

Dampaknya, banyak sekolah yang mengganti pembelajaran melalui daring. Mahasiswa akhir khususnya dari jurusan pendidikan apalagi keguruan pasti kalang kabut. Bimbingan sulit, penelitian pun tak bisa.

Terakhir adalah dampak yang paling riskan, beresiko, dan menimbulkan kegelisahan tidak hanya dikalangan mahasiswa, tapi juga orang tuanya. Masalah itu adalah Uang Kuliah Tunggal (UKT).

Aturan tentang UKT dimulai pada waktu Pak Nuh, melalui Permendikbud No. 55 Tahun 2013. Disana dijelaskan bahwa konsepnya adalah biaya kuliah tunggal yang ditanggung setiap mahasiswa berdasarkan kemampuan ekonominya, dan telah dikurangi biaya yang ditanggung oleh Pemerintah.

Seiring pergantian menteri, direvisilah hinga ke Permenristek-Dikti No. 39 Tahun 2017.

Dijelaskan bahwa usulan UKT diusulkan oleh kampus kemudian ditetapkan oleh Mentri. Peraturan itu berlakukan mulai tanggal 27 Mei 2017 hingga ada peraturan baru yang menggantikan.

Ya begitulah, meskipun peraturannya jelas, tetap saja pihak birokasi kampus mengedepankan semboyan, “Kalau ada yang ribet, kenapa memilih yang mudah”.

Mendapatkan rincian penggunaan UKT menjadi hal yang tabu. Pada prinsipnya, kuliah membayar iuran, tapi tidak jelas peruntukannya untuk apa. Membayar, tapi gak tau untuk apa.

Begitulah derita mahasiswa akhir di tengah Corona. Mau bimbingan tidak diberikan prosedur yang jelas. Hendak penelitian skripsi tapi seluruh akses tempat penelitian sudah ditutup.

Dan ketika memilih untuk tetap melakukan social distancing, UKT semester depan fardu ain untuk dibayar. Pada akhirnya, dengan #Rebahan dan #Dirumahaja tidak bisa menjadikan kamu untuk jadi pahlawan secara instant.

Semua orang terdampak COVID-19, begitupun mahasiswa semester akhir. Secara tidak langsung, juga akan berdampak pada perekonomian keluarga. Setelah wabah mereda, waktunya kita suarakan perubahan, #Bergerakdari #Dirumahsaja.

Tentang Penulis: Ahmad Andrian F

Gambar Gravatar
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi keluhkesah.com

26 thoughts on “Sayangnya Skripsi Ga Cukup Dengan “Rebahan” di Rumah Saja

  1. Alhamdulillah saya tidak mengalami apa yang dinamakan SKRIPSI. OLeh dosen disuruh hanya membuat tugas akhir dengan membuat artikel sesuai jurusan hanya dua lembar gitu.

  2. Jadi ingat masa-masa buat skripsi, saya paham betul untuk hal ini sangat ga bisa hanya berdiam di rumah saja. Pejuang bebas UKT alias pejuang skripsi harus banget pergi ke luar untuk meneliti, minimal ke perpus.

  3. Yang terdampak ini adalah mahasiswa yang rajin ketemu dosen buat laporan progres skripsi dan sekaligus bimbingan. Mahasiswa yang menganggap skripsi adalah momok, malah seneng, lega, nggak dikomentari, dimarahi, di corat coret laporannya suruh merombak

  4. Semangat menuntaskan skripsi… capek rebahan ganti dg duduk, capek duduk ganti berdiri, … dont give up

  5. Tidak ada yg diuntungkan dari situasi sekarang. Mungkin win win solution bisa tercapai jika ada komunikasi yg jelas ya kak antara mhsiswa dan pihak kampus terlebih untuk uang kuliah smster depan. Semoga ada solusinya ya kak

  6. Situasi ini memang berimbas pada segala hal ya kak. Semoga wabah segera berlalu. Aamiin.

  7. Mestinya ada kebijakan. Buat skripsi dengan kuesioner online saja. Jadi bisa dijangkau subjeknya.

  8. Tetap semangat…yang terkena dampak semua dan di seluruh dunia. Insya Allah ada hikmahnya. Dan sabar serta syukur bisa jadi pegangan kita. Semoga yang sedang tugas akhir dilancarkan dan dimudahkan dan pandemi ini segera berakhir.

  9. Akibat sosial distancing mahasiswa akhir memang jadi kesulitan. Sedangkan ketemu langsung dengan dosen pembimbing saja, sudah susah mengerti apa yv dijelaskan. Apalagi kalau hanya bertemu dengan online

  10. Hiks.. memang covid 19 ini mengubah semua sendi kehidupan kita ya mas. Bahkan ke anak kuliahan. Dan mereka yang skripsi maupun meja hijau bakalan ribet banget sama wabah ini .
    Semoga segera berakhir pandemi ini ya mas. Saya sebagai ibu merasa kewalahan karena anak kami bakalan ujian lewat online.

  11. Semangatnya untuk mengerjakan skripsi luar biasa, semoga bisa menemukan penyelesaian skripsi dan inovasi terkait pengerjaan skripsi di rumah saja ya kak. Dan semoga wabah penyakit ini bisa segera berlalu.

  12. Dulu kalau disuruh ketemu dosen ada aja alasannya… via email ajalah..nanti2 ajalah…sekarang disuruh via onlien…malah rajin ngejar2 dosen utk ketemuan… memang kalau ga gitu kelamaan leyeh2nya..lama juga nanti selesai dan wisudanya… hiks…jadi ingat perjuangan jaman dulu

  13. semangat selalu untuk yang sedang skripsiii, dulu banget pernah jadi salah satu yang hopeless sama skripsi karena tak kunjung beres dan lelah ngoding wkwk. untung aja punya support system yang bener-bener bikin bangkit. nah, bener nih jangan rebahan bae, skripsi itu harus dikerjakan dengan sungguh2, biar bisa lulus sidang dan segera mendapatkan gelar sarjana. semangat selaluuu.

  14. permasalahan covid 19 ini mempengaruhi semua lapisan hidup kita ya, buat yang bekerja, buat yg mau melangsungkan resepsi pernikahan dan juga buat yg lagi pada kuliah, apalagi kuliah akhir untuk menghadapi skripsi dan melakukan penelitian

  15. semoga Allah kasih jalan keluar ya buat kamu iya kamu yg lagi berjuang sama skripsi, dan semoga para dosen pembimbing jg diberikan kelembutan hati buat memudahkan jalan para pejuang skripsi heu

  16. Junior-junior saya di kampus ada yang bertahan dan tidak pulang kampung karena sedang mengerjakan skripsi. Di jurusan kami, teknik mesin, mengerjakan skripsi atau tugas akhir tidak bisa di rumah karena harus masuk labor. Alhasil mahasiswa ada yang bertahan walaupun keuangan menipis, solusinya dibuka donasi bagi dosen-dosen yang ingin membantu mahasiswa yang terdampak efek tidak langsung dari musibah Covid-19 ini

  17. Semoga segera ada solusinya ya, karena semua memang terpaksa dalam situasi sekarang ini.

  18. Yah … aku mah nggak pernah skulah … nggak ngerti skripsi.
    But, tetep berharap yang terbaik untuk pendidikan di Indonesia tercinta ini

  19. Dampak pandemik ini memang sangat luas. Seperti anak-anak saya yang metode pembelajarannya tiba-tiba menjadi jaring sedangkan persiapan dilakukan mendadak. Belum lagi berebutan fasilitas laptop dan ponsel yang juga saya gunakan untuk bekerja. Sudah pekan ketiga tapi saya justru semakin kelimpungan karena mau nggak mau harus mendahulukan urusan cari uang.

    Semoga wabah ini segera usai. Kehidupan kembali berjalan normal, atau malah lebih baik dari sebelumnya. Aamiin.

  20. dilema juga ya. tapi mau gimana lagi. ini yg namanya kesalahan faktor x. gak terduga. dan semoga para dosen juga mengerti dengan situasi yg terjadi.

  21. Apapun itu,nggak bakalan selesai dengan rebahan dan malas-malasan.
    beberapa tahun yang lalu aku pun pernah mengalami situasi seperti ini.

    Saat skripsi,banyak hal yang dipersiapkan. Bimbingan lah, ke tempat fotocopy lah, ke perpustakaan tuk menambah bahan, begadang juga, perbaikan, dan masih banyak lagi yang nggak mungkin dijabarkan.

    Intinya tetap optimis bakalan selesai skripsi nya, walaupun dalam situasi pandemi virus covid-19 sekalipun. Semoga lulus dengan IPK terbaik

  22. Di prodiku bukan skripsi tapi tugas akhir, berupa desain. Biasanya engga masalah krn ada jadwal bimbingan hingga sidang². Sejak PJJ ini seluruh civitas terganggu sih. Semangat yaa…

  23. ada adek kelas yag lagi masa skripsi, skrg bimbingan dia online, bahkan kmren sidang pun akhirnya online kak via zoom,

    praktis sih tapi katanya jadi banyak bgt revisinya, wuahahaha

  24. Aku belum menghadapi skripsi karena baru d3 tapi tetap ada tugas akhir berupa karya ilmiah yang mirip mirip skripsi, jadi membayangkan gimana adik-adik kelasku nanti kalau sampai ketika mereka tugas akhir pandemi ini belum juga selesai. Memang akan rada sulit, tinggal gimana dosen dan kampus bisa mengakali hal ini

  25. kalau ak harus bimbingan skripsi online malah seneng, nggak ktemu langsung ama dosen pembimbing yang serem… hahaha

  26. Betul banget. Pernah ngerasain jadi mahasiswa tingkat akhir, nyusun skripsi, dikejar target sidang dan wisuda, makanya interaksi langsung itu penting banget. Malah gemes sendiri kalau dosennya ilang2an atau sibuk terus. Nggk bisa bayangin jg gmn kalau skripsi waktu itu d kondisi seperti ini

Komentar ditutup.