Web portal pendidikan – Selamat malam sobat belapendidikan, kali ini kita kedatangan tulisan yang berkaitan dengan kota semarang, judul yang dikirimkan mba Rochayani adalah “Ritual Uluk Salam Di 3 Pintu Gaib Goa Kreo Semarang“. Penasaran dengan ceritanya ? Yuk simak ulasannya dibawah ini.

Ritual “Uluk Salam” Di 3 Pintu Gaib Goa Kreo Semarang


“Daur Hidup” Ritus (Ritual Uluk Salam)

Praktik ritus merupakan salah satu proses daur hidup atau Life Cycle pada manusia. Saat ini, ritus yang ada di lingkungan masyarakat perlahan berubah menjadi rasa ketakutan dan ketergantungan manusia terhadap lingkungan alam dan kekuatan dari luar diri manusia.

Daur hidup merupakan realita yang hanya dapat dipecahkan oleh manusia secara ritual di luar hal yang bersifat profan (biasa). Seiring perkembangan zaman, perubahan-perubahan yang terjadi merupakan gambaran kerentanan yang dialami oleh manusia.  Hal tersebut dapat dilewati dengan beberapa upaya dan penanganan khusus, misalnya melalui ritus atau ritual.

Dengan adanya ritual, individu maupun kelompok masyarakat dapat mengekspresikan apa yang menjadi kepercayaan, keyakinan, gagasan, cita-cita, harapan dan nilai yang ada di dalam budaya mereka masing-masing.

Ritual merupakan bentuk perwujudan diri dari waktu ke waktu mulai dari masa kandungan, kelahiran, dan kematian bahkan setelah seseorang telah meninggal tetap diselenggarakan ritual-ritual tertentu.

Ini merupakan upaya menuju keselamatan. Bagaimana pun, dalam kehidupan terdapat  dunia profan dan sakral yang tidak dapat dipisahkan. Berbagai tempat, pasti memiliki keunikan tersendiri. Baik dari misteri dibalik legenda suatu tempat, hingga mitos larangan yang turut menyertainya.

Makna Ritual

Sebagian besar agama dan culture pasti memiliki ritual. Ritual merupakan bentuk perilaku yang tidak ubahnya sebuah tindakan yang dilakukan berulang-ulang dalam waktu yang relatif lama, memiliki ciri tradisional, memberikan gambaran sebuah tindakan yang menyimbolkan nilai-nilai kepercayaan bagi masyarakat.

Menurut Swantz (1970), ritual adalah cara suatu masyarakat mengalami dan mengekspresikan diri  melalui simbol-simbol pemahaman mereka tentang hidup dan mewariskan kepada generasi selanjutnya.

Sedangkan menurut Winangun 1990: 60) menjelaskan bahwa ritual secara lebih khusus mengacu pada ekspresi dan keyakinan dan sikap religus manusia.

Secara lebih khusus lagi, Turner (1966) dan Kurtz (1995) menjelaskan bahwa ritual merupakan perilaku atau ucapan tertentu pada kesempatan tertentu yang notabene bukan sebuah rutinitas biasa, namun lebih kepada bentuk perwujudan dari sebuah nilai dari kepercayaan dalam suatu agama, serta ditujukan pada suatu kekuatan mistik.

Salah satu bentuk ritual yang berkembang di Objek Wisata Goa Kreo Semarang adalah budaya mengucap salam “Uluk Salam” saat memasuki 3 pintu gaib menuju goa tersebut. Tatkala pengunjung mulai melewati jalan menuju goa, mereka harus mengucap salam.

Sedikit berbeda dengan pintu 1 dan pintu ke 3, pada pintu 2, selain mengucap salam pengunjung juga harus meng-gejukkan (menghentakkan) kaki ke tanah. Belum diketahui secara pasti apa makna dari uluk salam dan gejuk  ini. 

Dalam hal ini, penulis dapat mengkorelasikan makna perilaku uluk salam dan gejuk kaki ini dengan analogi “Orang Bertamu”. Saat bertamu, sebagai wujud hormat terhadap sang tuan rumah, biasanya kita terlebih dahulu mengetuk pintu serta mengucapkan salam.

Apabila kita melakukan hal tersebut, maka tuan rumah tentu akan menyambut kita dengan cara yang baik pula. Ini sesuai dengan perilaku kita terhadap mereka  yang tidak ubahnya hubungan kausalitas.

Lain halnya bila saat bertamu kita asal masuk rumah, tanpa mengetuk pintu dan mengucap salam. Tentu tuan rumah akan  merasa tersinggung. Tuan rumah akan merasa tidak dihargai di rumahnya sendiri. Itu adalah perkiraan dalam keseharian (profan) berkaitan peran manusia sebagai makhluk sosial.

Apabila dilihat dari sisi dunia sakral, tidak akan jauh dari contoh kasus yang telah dijelaskan dalam dunia profan. Menurut salah satu informan bernama Bapak Ngarso (Petugas Pusat Informasi Goa Kreo), mengatakan bahwa ada beberapa kasus di luar nalar manusia.

Contohnya, terdapat kasus dimana sepasang kekasih yang melakukan hubungan ditempat tersebut “terkunci” yang kemudian dikabarkan meninggal ditempat. Lalu, ada seorang bapak dari Kota Semarang mencari anaknya yang tenggelam di Waduk Jatibarang. Saat berkunjung kesana, naas setelah beliau berucap “Nak mung arep mati kok ndadak tekan kene” yang berarti “Kalau hanya ingin mati mengapa sampai disini”.  

Tiba-tiba beliau langsung jatuh dari jembatan penyebrangan menuju Goa Kreo.  Fenomena yang tidak kalah aneh, yakni ketika ada dua orang remaja perempuan yang mengambil foto selfie di depan mulut goa menghasilkan foto yang terdapat penampakan tengkorak. 

Menurut masyarakat setempat, fenomena itu terjadi karena pengunjung tidak mengucapkan salam serta kurang berlaku sopan saat berkunjung. Sama halnya dengan analogi  orang bertamu, disini manusia dihadapkan dengan dunia sakral yang tidak kasat mata dimana fenomena tersebut memang nyata adanya namun tidak dapat dibuktikan secara ilmiah.

Mitos “uluk salam” dapat dianalisis menggunakan dualitas kehidupan menurut Durkheim (1992: 72) antara lain “Yang Sakral” dan “Yang Profan”. Menurut Durkheim, hal sakral adalah yang berkaitan dengan sesuatu yang dilindungi dan diisolasi oleh larangan-larangan (tabu), sedangkan hal yang bersifat profan adalah hal-hal tempat larangan yang harus tetap diberikan jarak dengan hal yang sakral.

Oleh sebab itu, setiap pengunjung yang datang ke Goa Kreo sebaiknya memberikan jarak antara hal yang profan dengan tempat keramat ini. Niat dan tujuan saat berkunjung juga harus diperhatikan.

Kita sebagai manusia juga harus menyadari bahwa di dunia ini, bukan sebagai makhluk tunggal. Kita juga harus menyadari bahwa ada dzat yang bersifat adikodrati atau adidaya yang juga berperan dalam kehidupan di alam semesta.

Di masa lalu, foklore semacam ini berkembang sangat pesat. Dimana jarang terjadi fenomena seperti apa yang telah disebutkan di atas. Kondisi ini terjadi karena sebagian besar masyarakat masih percaya akan adanya eksistensi dan tetap mengaplikasikan “uluk salam”.

Mereka percaya bahwa ada kekuatan magis yang berada di luar kendali manusia. Secara sadar atau tidak memang memberikan pengaruh yang nyata bagi keselamatan para pengunjung.

Namun, saat ini folklore tersebut mulai pudar seiring perkembangan zaman. Tempat yang dahulu dikeramatkan, seakan kehilangan pamornya. Situasi ini dipicu dengan adanya pembangunan dan pengadaan fasilitas yang seolah mengaburkan pandangan masyarakat terutama para pengunjung yang notabene berasal dari berbagai daerah yang tentunya tidak terlalu memikirkan hal itu.

Karena tujuan wisatawan adalah mencari hiburan, maka tidak banyak yang tau tentang mitos tersebut. Hanya sedikit saja orang sekitar yang mengerti dan masih melestarikan folklore tersebut.

Tips Aman dalam Berwisata

Perlu disadari bahwa setiap tempat keramat memiliki karakteristik tersendiri. Oleh sebab itu, sebelum memutuskan untuk berkunjung ke tempat yang sifatnya keramat kita sebaiknya sedikit banyak mengetahui bagaimana seluk beluknya.

Agar saat kita berada di lapangan, hal-hal yang demikian bisa diminimalkan. Bagimana pun, kita sedikit banyak memiliki kuasa atas keselamatan diri pribadi. Tanpa melawan takdir, kita juga harus waspada agar hal-hal demikian tidak terus terjadi.

Seperti yang kita ketahui bahwa salah satu fungsi folklore yakni sebagai alat pengawas agar norma-norma masyarakat selalu dipatuhi anggota kolektifnya. Di satu sisi, folklore mampu digunakan sebagai alat pengawas, menjaga keteraturan sosial, dan mendukung terjaganya lingkungan yang asri tanpa tindakan vandalisme dari para pengunjung.

Disisi lain, apabila folklore ini menyebar luas di masyarakat dan mendapat penambahan-penambahan informasi yang sifatnya palsu, maka akan berdampak pada sepinya objek wisata tersebut. Oleh sebab itu, perlu adanya sumber yang jelas mengenai informasi tersebut. Sehingga, kabar burung yang belum tentu kebenarannya bisa diminimalkan persebarannya.

Artikel ditulis oleh Rochayani
Email pengirim : Rochayani yani

Terima kasih sudah membaca artikel tentang “Ritual Uluk Salam Di 3 Pintu Gaib Goa Kreo Semarang”. Untuk sobat belapendidikan yang sudah pernah kesana, yuk sharing pengalamannya di kolom komentar dibawah ini.

Kamu juga bisa menulis karyamu di belapendidikan, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah. Klik disini untuk kirim tulisan, atau bisa lewat email kami [email protected]

Ahmad Andrian F
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi keluhkesah.com