Web portal pendidikan – Puisi kali ini berjudul partikel guru, yang dikirimkan oleh salah satu peserta dalam ajang lomba puisi nasional bersama belapendidikan.com. Untuk lebih lengkapnya dapat kita lihat sebagai berikut.

Puisi Partikel Guru

Mereka menyala di antara siang dan malam
dari kegelapan yang menolak cahaya selain
putih. Mereka jalan setapak berundak di bukit
Zhangye Danxia, jalur perenungan diri menuju
tanah tujuh warna Chamarel dan sungai Cano
Cristales, yang menyembunyikan benda-benda
celestial dan bintang-bintang. Mereka Alkemis
yang menempaku dari emas Granule.

Mereka cermin dan hempasan angin yang pecah
dan memantul-mantul saat aku tersesat di Gurun
Arabia, mereka selimut yang membentang, pelukan
seorang ibu yang hangat waktu aku tertidur dan
bermimpi di Gurun Antartika.

Mereka yang meredam amuk dan gemuruh gunung
api dan memecah ombak tsunami, mereka yang
berdiri di atas gempa bumi dan waktu, lebih tegak
dari pilar Persepolis dan Almyra. Mereka mewarisi
darah Sam’un dan Hercules.

Mereka planet yang bersembunyi, tempat tungkaiku
gemetar mencengkram tanah, api, air dan udara.
Mereka gaung suara terpendam dalam hati yang kusebut
sebagai doa. Ketenangan yang terbuka, ruang padat
cahaya, obat bagi tubuhku yang dipenuhi segala luka.
Mereka perpustakaan al-Qarawiyin terbuka, yang
membentuk peta dunia Autha.

Mereka jari-jari udara yang melambungkanku
ke langit. Mereka angka di balik matematika,
huruf-huruf puisi, notasi lagu dan musik.
Mereka mimpi di kepala Einstein saat ia tidur
mendengarkan Moonlight Sonata di kaki
Gunung Alpen.

Mereka rumah farah bagi anak-anak kecil yang
kelaparan. Mereka buah naga dan stroberi dari
kebun Palangga dan Ciwidey. Mereka arsitek
yang membangun rumah dari emas dan perak
di dunia lain yang masih tersembunyi.

Mereka kebahagiaan yang membuncah di balik
gelak tawaku saat ini. Mereka yang akan selalu
merawat jalan terpanjang di bumi. Mereka yang
terbangun tengah malam dari rasa cemas akan
masa depanku. Mereka lautan yang menampung
air mataku. Mereka… Mereka guruku, masa laluku,
yang sekarang kukenang dengan rasa bersalah karena
suka membantah saat aku tersesat di atas peta
tanpa arah dan mata angin.

Puisi ini di tulis oleh Camila Nurahmah kamu juga bisa menulis karyamu di belapendidikan, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah setiap bulannya, Daftar Sekarang

Ahmad Andrian F
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi keluhkesah.com