Web portal pendidikan – Puisi kali ini berjudul Opini, yang dikirimkan oleh salah satu peserta dalam ajang lomba puisi nasional bersama belapendidikan.com. Untuk lebih lengkapnya dapat kita lihat sebagai berikut.

Puisi : Opini Ku Tentang Pendidikan

Coba jelaskan pada ku, pikiranku terlalu rumit untuk memahaminya.
Apakah yang ada disekolah adalah para sosok pencari ilmu.
Apakah setiap yang duduk didepan papan tulis itu belajar dan yang didepannya adalah pengajar.

Apakah hanya mereka yang bersepatu dan berseragam itu yang kau sebut sebagai orang yang berpendidikan.
Sengaja aku tak menggunakan tanda baca ‘tanya’ pada setiap pertanyaanku.
Sebab aku yakin kau malah bertanya balik kepada ku.

Siapa kamu, manusia-manusia robot kah?
Yang lagi dipermainkan alunan mesin.
Menunduk patuh tanpa membantah.
Mengerjakan tugas yang tak tau apa maknanya.

Seharian duduk, diperintah, mengumpulkan, disalahkan, merevisi, dan mengulangi lagi.
Siklus yang sangat lucu.
Terserah kamu setuju, atau tidak dengan ku
Yang jelas aku melihatmu seperti itu.

Kamu yakin sedang mencari ilmu?
Atau hanyanya mencari selembar kertas yang ‘katanya’ berhaga.
Tanyakan pada hati kecilmu.
Bagaimana jika kamu sudah dinyatakan lulus tapi tak kunjung diberi kertas berharga itu, kamu pasti akan menuntut tempat bersekolahmu itu kan?

Lalu mengapa kamu menggelak jika aku mengaggap kamu lebih mementingkan kertas itu?
Kamu mengoleksinya sejak dulu dan memajangya diruang tamu.
Dunia ini memang keras.
Dunia ini penuh kompetisi untuk mendapatkan apapun termasuk kertas itu.
Apapun kamu lakukan.

Namanya kompetisi siapa yang mampu melewati alur permainannya maka kertas berharga itu akan jadi milikmu, itu kan yang kamu mau?
Dan semoga memang benar aku dan kamu sedang mencari ilmu.
Tapi tidak hanya itu kawan.

Waktu mu harus kamu pertanggungjawabkan.
Apa yang bisa kau berikan untuk ayah bunda?
Bukan sekedar foto dengan baju toga
Tapi lebih dari itu.

Kau, aku dan kita harus bisa bermanfaat.
Kau, aku dan kita harus bisa mengukir makna.
Jangan sampai ada tidaknya kau , tak ada bedanya di masyarakat.
Kau akan pulang dari perantauan.
Jangan hanya mencari aman dibalik baju kebanggaan ‘toga’
Nyatanya itu hanya tipu daya.

Duduk, tertawa dan sesekali berfoto dengan gedung mu tak apa.
Tapi kau harus mampu menyisihkan waktu untuk menata masa depan mu.
Hey, kau tak gratis duduk disana.
kau membeli ilmu disana dengan cucuran air keringat ayah bunda.

Kau masih mau jadi manusia robot ?.
Kau tak lagi seorang pekerja tapi kau harus menjadi seorang pencipta lapangan kerja.
Iya itu hanya nasehat klasik yang sering aku dan kamu dengar.
Tapi nyatanya apakah kamu dan aku sudah melakukannya?.

Puisi ini di tulis oleh Wilda Khoirun Nisa kamu juga bisa menulis karyamu di belapendidikan, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah setiap bulannya, Daftar Sekarang

Ahmad Andrian F
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi keluhkesah.com