Web portal pendidikan – Puisi kali ini berjudul Dibalik labuh pendidikan ibu pertiwi, yang dikirimkan oleh salah satu peserta dalam ajang lomba puisi nasional bersama belapendidikan.com. Untuk lebih lengkapnya dapat kita lihat sebagai berikut.

Puisi Dibalik Labuh Pendidikan Ibu Pertiwi

Desa terpencil di sudut kota,
aku melihat lukis lelah dua pasang sorot mata.
Dimana dua raut wajah mulai menua,
tempat Ayah dan Ibuku berjuang dengan setia,
untuk masa depan putri kesayangannya.

Mereka siap menjadi mahluk hina,
mengais rezeki mana dimana harus ada.
Hanya untuk membayar gedung negara,
dipenghujung semesternya.

Kadang dunia berteriak kejam,
mereka hanya memberi bantuan terhadap mereka yang kekurangan.
Namun tak pernah bertanya rintihan mereka,
yang berat menghadapi kehidupan serba pas-pasan.

Ini bukan bentuk ketidaksyukuran,
hanyalah rontaan melarat haluan keterlindasan.
Rakyat kecil menjerit setiap masa,
selalu menangis mengadu Tuhan.

Siang dan malam hanya ada rintihan luka,
tapi tak akan lagi sedih-sedih kembali,
tak boleh ada cerita-derita lagi.
Aku harus slalu berdiri berjuang sampai titik mati,
untuk membayar keringat Ayah,
dan ada tangis Ibu yang harus segera kureda.

Hidup adalah usaha demi usaha,
buang jauh-jauh pilu keterpurukan.
Kini saatnya aku berlomba-lomba,
berlari mengejar cita-cita yang aku punya.

Aku ini manusia yang biasa-biasa saja,
dengan upaya keras dan doa sujud kepada-Nya,
semoga saja lekas menjadi nyata.

Akan ada batu dan lubang menghalangi nantinya,
tapi tetap saja aku tak boleh terhenti sampai sana.
Aku harus melompat, terbang,
menghalau, melalui setiap duka lara.

Setiap kali bila nanti aku merasa mulai letih dan lemah,
segores catatan ini akan berkali-kali kubaca.
Tanpa henti sampai jiwa tertampar, raga tercambuk perih,
mata menyala, hati akan berbisik lirih.

Ayah dan Ibu tidak membayar murah atas Almet yang kupakai ini,
aku harus bisa menggapai capai setiap mimpi.
Pendidikan tinggi..pendidikan tinggi..
Kicauan tameng kebodohan, kebanggaan negeri,
terindam-idam kelak bukan hanya sebatas ilusi,
atau angan yang bisa saja hilang terbawa siulan angin pasang.

Getir dan dingin perjuangan ini,
nanti kan dikenang banyak orang.
Yang dulunya hanya lalu lalang,
tanpa rasa asih kepedulian.

Dalam ranum bunga bangsa yang ingin mekar,
delapan belas tahun gadis berusia.
Bermunajat kepada Sang Illah,
mengeja keinginannya dalam aksara.

Semoga berlabuh segala asa,
untuk kelayakan masa depan dirinya,
untuk menjawab pengorbanan orang tuanya,
untuk membangun nirwana desa kecilnya.

Agar kelak anak bangsa bisa mengeyam arti penting labuh pendidikan,
agar kelak tak ada orang yang merasa keberatan dalam belenggu penjara dunia,
agar kelak kehidupan ingsan pada Ibu Pertiwi lebih baik dari hari-hari sebelumnya.

Puisi ini di tulis oleh Melisa Septeanawati kamu juga bisa menulis karyamu di belapendidikan, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah setiap bulannya, Daftar Sekarang

Ahmad Andrian F
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi keluhkesah.com