Cerpen : Pesan Dari Smartphone

oleh -944 views
Pesan dari smartphone
Cerpen : Pesan dari smartphone

Cerpen : Pesan Dari Smartphone (Bagian Ketiga)

Esoknya, aku benar – benar menghampiri Kenny dan mengucapkan selamat kepadanya. Kupikir, ia akan senang karena ada rekannya yang berinisiatif mengucapkan selamat secara lengsung kepadanya. Bukankah itu perayaan yang berkesan meski hanya sekedar ucapan selamat?

“Happy Birthday, Kenny. Semoga panjang umur.” Kataku tersenyum seraya mengulurkan tangan kananku.
Kenny melirikku, kemudian melirik tanganku yang menggantung di udara menunggu balasan jabat tangan darinya. “Kenapa tidak mengucapkannya di grup?” tanyanya dingin.

Aku menurunkan tanganku. “Bukankah lebih baik secara langsung, ini sebagai bentuk perayaan sederhana bukan?” aku masih setia tersenyum meski wajah Kenny terlihat menyiratkan ketidak sukaan atas apa yang kukatakan barusan.

“Perayaan? Kupikir perayaan di grup lebih seru, menulis selamat kepadaku secara bersamaan, lebih menyenangkan daripada menerima satu ucapan selamat secara langsung. Dan, ucapan selamat ulang tahun secara langsung itu kuno—setidaknya untuk zaman kita hidup saat ini.” Ujarnya datar dan berlalu pergi.

Aku menganga ditempat. Tertawa dalam hati, mengejek kebodohanku sendiri. Bukankah aku sudah terbiasa menerima semacam ini? Mereka manusia – manusia modern. Mereka selalu berkembang mengikuti zaman, sementara aku terpaku pada kebiasaan yang mereka sebut kuno.

Kemodernan ini benar – benar membatasi ku untuk bersosialisasi dengan mereka. Semua perayaan yang seharusnya dilakukan bersama – sama berubah menjadi deertan text di pesan grup WhatsApp atau sosial media yang lain.

Aku kembali duduk ditempatku. Sama seperti sebelum – sebelumnya. Aku dan rekan – rekanku hanya bicara seperlunya. Selebihnya, mereka akan mengobrol via grup WhatsApp. Kali ini, aku tidak masalah lagi. Apapun yang akan mereka lakukan selanjutnya, bagaimana mereka berkomunikasi.

Aku sudah tidak peduli. Percuma saja, setelah penolakan atas ucapan selamatku kepada Kenny, aku mulai mengerti bagaimana jalan pikiran orang – orang disini. Mungkin, mereka sudah tidak berminat lagi berhubungan dengan orang lain. Aku lebih baik fokus kepada pekerjaan ku untuk mendapatkan uang dan hidup dalam kenyamananku sendiri.

Sekitar pukul delapan malam, aku sampai di apartemenku. Aku mampir ke mall sebentar untuk mengisi stok kulkas. Seperti biasa, aku tidak memeriksa smartphone ku dan langsung meletakkannya di nakas. Kupikir, tidak akan ada yang penting. Pasti hanya pesan – pesan dari grup WhatsApp rekan – rekan sekantor.

Setelah membersihkan diri, aku berbaring di kasur. Kalimat Kenny kembali terngiang dikepalaku. Perasaan kecewa menghampiri ku tiba – tiba. Rasa ini mirip seperti ketika Ibu menghentikan tradisi perayaan untuk ulang tahun kami dan nilai raport ku yang bagus. Ketika Ibu mengganti tradisi cium pipi dengan emoticon kiss di WhatsApp, atau mengganti kado sederhana dengan icon kado.

Dering smartphone ku tiba – tiba berbunyi. Aku sempat melirik jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Benda persegi yang sering kuabaikan itu menyala. Aku meraihnya dengan sedikit enggan. Deret tulisan Ibu tertera dilayar. Aku segera mengangkatnya.

“Halo?” sapaku singkat.
“Allen, mengapa tidak membalas pesan Ibu? Kupikir kau ada masalah.” Suara diseberang sana terdengar panik.
Andai Ibu tahu bahwa aku berusaha untuk tidak bersentuhan dengan benda ini sesering mungkin. Tapi aku tidak mungkin mengatakannya. Ibuku begitu menyukai smartphone. Kalimatku hanya akan membuatnya kecewa.

“Aku baik – baik saja, aku sibuk dikantor.” Kataku jujur.
Aku mendengar helaan napas. “Oh, syukurlah. Kau tidak mengecek grup keluarga? Krist merayakan ulang tahunnya. Dia mencarimu.”

“Dirayakan dimana? Aku tidak menerima undangan apapun.”
“Sudah dirayakan di grup kok. Krist bilang perayaan semacam itu lebih efektif daripada perayaan kuno dengan menyebar undangan. Dengan perayaan ulang tahun di grup, semuanya bisa mengucapkan tanpa harus menemuinya. Apalagi jika sedang sibuk. Tidak akan memakan waktu lama juga.”

“Maafkan aku, aku sangat lelah. Bisakah aku tidur, Bu?”
“Baiklah sayang. Selamat malam.”

Tentang Penulis: Ahmad Andrian F

Gambar Gravatar
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi keluhkesah.com