Cerpen : Pesan Dari Smartphone

oleh -943 views
Pesan dari smartphone
Cerpen : Pesan dari smartphone

Cerpen : Pesan Dari Smartphone (Bagian Kedua)

Hubunganku dan Ibuku merenggang seiring waktu. Ia lebih asyik dengan benda persegi yang selalu setia dibawanya. Dirumah pun, kedua matanya hanya terfokus pada benda itu. Perlahan, posisiku mulai teralihkan oleh benda itu. Aku yang semakin dewasa seiring waktu memikirkan untuk meninggalkannya.

Tidak, maksudku aku ingin pergi merantau, bekerja ditempat yang jauh. Ibuku masih muda, dia tidak menderita penyakit kronis apapun, tidak akan masalah jika dia kutinggalkan, apalagi untuk alasan pekerjaan. Dan benar, saat itu Ibu benar – benar melepaskanku dengan mudah.

“Kau yakin akan pergi, Len?” saat itu Ibu duduk didepanku seraya menyesap tehnya. Smartphone miliknya sekarang ada tiga, dan ketiganya selalu menemaninya kemana saja.

Aku mengangguk. Tidak ada yang lebih kuinginkan untuk mencoba melihat dunia luar yang luas. Aku hanya ingin tahu, apakah diluar sana semua orang juga menggunakan tulisan untuk menyampaikan apa yang mereka sebut ‘perayaan penting’. Ya, maksud lain dari perantauanku selain karena bekerja adalah untuk mencari tahu.

“Pulanglah beberapa bulan sekali, Ibu sendirian dirumah. Ibu juga khawatir kau ada masalah.” Ujarnya kalem.
Ingin sekali aku menjawab bahwa meski aku tidak ada dirumah pun sama sekali tidak ada bedanya. Selama beberapa tahun terakhir sejak perayaan ulang tahunku yang begitu menyedihkan, Ibu lebih memperhatikan benda perseginya ketimbang aku, anaknya sendiri.

Dahulu, saat pembagian raport dan aku mendapat nilai yang bagus, Ibu akan merayakannya dengan memasak makanan yang enak – enak untuk kami berdua, tapi sejak beberapa tahun lalu semua perayaan itu sirna. Ibu lebih sering mengucapkan kalimat – kalimat manisnya lewat sebuah pesan WhatsApp alih – alih mengucapkan langsung. Padahal, kutekankan lagi bahwa kami tinggal serumah. Yah, meski Ibu sering keluar dengan alasan pertemuan penting.

“Aku akan baik – baik saja. Pekerjaan ku akan dimulai lusa, besok aku akan berangkat. Jaga baik – baik dirimu, Bu.”
Aku memeluknya sebentar. Ah, sudah lama sekali sentuhan seperti ini tidak kurasakan dari wanita yang paling kusayangi. Saling menyalurkan afeksi lewat sentuhan ringan semacam ini membuatku bahagia sekali. Andai Ibu lebih memperhatikanku daripada smartphone miliknya.

Semuanya berlalu begitu saja, aku bekerja ditempat yang jauh dari rumah, dan Ibu yang tetap setia bermain dengan gadget miliknya. Aku jarang menghubungi Ibuku karena rasa kesalku terhadap benda persegi itu. Benda itu yang mengalihkan perhatian Ibuku dariku. Aku jarang menyanyakan kabar Ibuku. Aku hanya menghubungi Ibu sekitar seminggu sekali, atau jika beliau yang menghubungiku.

Nyatanya, ditempat ini juga sama menyebalkannya. Aku memiliki banyak teman sekantor yang akrab—dalam pesan. Aneh sekali, saat dikantor mereka selalu diam, mengabaikanku, menganggap seolah aku tidak berada disana. Tapi, mereka sering sekali merecokiku dengan pesan WhatsApp saat aku di apartemen. Karena aku pekerja baru, mereka yang merasa senior sering sekali menyuruhku melakukan ini – itu.

Mengambilkan minuman, menyelesaikan proposal, dan hal – hal merepotkan lainnya. Aku tidak keberatan andai mereka bicara langsung kepadaku. Sialnya, mereka menyuruhku lewat pesan WhatsApp. Padahal, tempat mereka ada didepan dan samping ku.

Ketika salah seorang rekan ber-ulang tahun, mereka semua berinisiatif merayakannya. Aku juga ikut. Kupikir, mereka akan membeli kue dan menyanyi selamat ulang tahun. Merayakan secara sederhana namun berkesan. Ah, semua itu kuno.

Aku yakin mereka berpikiran seperti itu. Apa yang dilakukan Ibuku padaku terulang disini. Rekan – rekan ku hanya mengucapkan selamat kepada salah seorang rekan yang berulang tahun. Namanya Kenny. Grup WhatsApp penuh dengan tulisan perayaan selamat ulang tahun. Aku hanya melihatnya tanpa minat menulis hal yang sama. Aku akan mengucapkannya secara langsung besok.

Tentang Penulis: Ahmad Andrian F

Gambar Gravatar
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi keluhkesah.com