Web Portal Pendidikan – Selamat siang sobat jurnaliscun, ketemu lagi kita hari ini dengan pembahasan yang berbeda. Kali ini saya akan membuat suatu artikel tentang Hak Asasi, khususnya Hak Asasi di Benua Eropa. Judul yang akan saya buat kali ini yaitu Perkembangan Hak Asasi Manusia di Eropa. Tanpa panjang lebar saya akan menjelaskan dan mengulas judul diatas.

Perkembangan Hak Asasi Manusia di Eropa


Di Eropa Barat pemikiran mengenai hak asasi berawal dari abad ke 17 dengan timbulnya konsep Hukum Alam serta hak hak alam. Akan tetapi sebenarnya beberapa abad sebelumnya, yaitu pada Zaman Pertengahan, masalah hak manusia sudah mulai muncul di Inggris.

Pada tahun 1215 ditandatangani suatu perjanjian, Magna Charta, antara Raja John dari Inggris dan sejumlah bangsawan. Raja Jhon dipaksa mengakui beberapa hak dari para bangsawan sebagai imbalan untuk dukungan mereka membiayai penyelenggaraan pemerintahan dan kegiatan perang.

Hak yang dijamin mencakup hak politik dan sipil yang mendasar, seperti hak untuk diperiksa di muka hakim (habeas corpus). Sekalipun pada awalnya hanya berlaku untuk bangsawan, hak hak itu kemudian menjadi bagian dari sistem konstitusional Inggris yang berlaku bagi semua warga negara. Sampai sekarang, Magna Charta masih dianggap sebagai tonggak sejarah dalam perkembangan demokrasi di Barat.

Pada abad ke 17 dan ke 18 pemikiran mengenai hak asasi maju dengan pesat. Konsep bahwa kekuasaan raja berdasarkan wahyu illahi (Divine Right Of Kings atau Hak Suci Raja) yang sejak abad ke 16 berdominasi.

Mulai dipertanyakan keabsahannya karena banyak raja bertindak sewenang wenang. Golongan menengah yang mulai bangkit ingin agar kepatuhan masyarakat pada raja mempunyai dasar yang rasional.

Yang dicita citakan ialah suatu hubungan antara raja dan rakyat berdasarkan suatu kontrak, sesuai dengan suasana perdagangan yang sedang berkembang di Eropa Barat.

Pemikiran ini tercermin dalam karangan beberapa filsuf Zaman Pencerahan (Enlightenment) yang menganut aliran Liberalisme (klasik). Seperti Hobbes (1588 – 1679), John Locke (1632 – 1704), Montesquieu (1689 – 1755) dan Rousseau (1712 – 1778).

Sekalipun mereka berbeda dalam penafsiran, semuanya membayangkan suatu masa lalu dimana manusia hidup dalam “keadaan alam” (state of nature). Dalam keadaan alam ini semua manusia sama martabatnya, tunduk kepada hukum alam, dan memiliki hak hak alam.

Akan tetapi suatu saat manusia mengembangkan rasionya (akal sehat) dan sampai pada kesimpulan bahwa untuk menjamin terlaksananya hak hak itu, “keadaan alam” perlu ditinggalkan dan diganti dengan kehidupan bernegara berdasarkan suatu kontrak sosial antara penguasa dan masyarakat. Ini yang kemudian dinamakan sebagai Teori kontrak sosial.

Yang paling tegas merumuskan hak hak alam itu ialah John Locke, yaitu hak atas hidup, kebebasan, dan kepemilikan serta pemikiran bahwa penguasa harus memerintah dengan persetujuan rakyat (government by consent). Filsuf Prancis, Montesquieu lebih menekankan perlunya pembagian kekuasaan sebagai sarana menjamin hak hak itu, suatu sistem yang kemudian dikenal dengan istilah trias politica. Filsuf Prancis lain yaitu Jean-Jacques Rousseau, menekankan perlunya kebebasan bagi manusia.

Jika pemikiran John Locke menjadi pegangan bagi rakyat Amerika saat memberontak melawan penguasa Inggris (1775-1781), maka Jean-Jacques Rousseau menjadi inspirasi bagi rakyat Prancis untuk memulai revolusinya (1789) melawan raja Bourbon, Louis XVI.

Hak asasi pada tahap itu masih terbatas pada hak dibidang politik seperti hak atas kebebasan, atas kesamaan (equality), dan hak menyatakan pendapat. Hak hak ini dicantumkan dalam beberapa piagam.

Di Inggris hak itu diundangkan dalam Undang undang Hak (Bill of Rights, 1689), yang diterima satu tahun sesudah Parlemen berhasil mengusir Raja James II dan mengundang Puterinya Mary beserta suaminya. William of Orrange, untuk menduduki takhta kerajaan Inggris. Hak hak yang dirumuskan itu tidak boleh dilanggar oleh raja sekalipun.

Di Prancis kita kenal Deklarasi mengenai Hak Manusia dan Warga Negara (Declaration des Droits de I’Homme et du Citoyen, 1789), yang dirumuskan pada awal revolusi Prancis. Pernyataan ini mencanangkan hak atas kebebasan, kesamaan, dan kesetiakawanan. Kongres Amerika mengesahkan Undang undang Hak Asasi (Bill of Right, 1789) yang pada tahun 1791 dimasukan dalam Undang undang Dasar dalam bentuk sepuluh amandemen.

Nah itulah penjelasan dan ulasan tentang Perkembangan Hak Asasi Manusia di Benua Eropa. Jika ada kekurangan dalam penjelasan yang kami paparkan, sedia kiranya anda menambahkannya di kolom komentar dibawah ini.

Terima kasih sudah mengunjungi dan membaca artikel kami yang berjudul Perkembangan Hak Asasi Manusia di Eropa. Nantikan kembali artikel artikel edukasi dari kami. Untuk itu kami ucapkan terima kasih, dan undur diri. Sampai jumpa diartikel selanjutnya.

JURNALISCUN TAGS

Hak Asasi Manusia di Benua Eropa
Perkembangan HAM di Eropa
Pemikiran Pemikiran Para Ahli Tentang Hak Asasi Manusia di Eropa
Awal Mulanya Hak Asasi di Benua Eropa
Perkembangan Hak Asasi di Eropa

Ahmad Andrian F
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi keluhkesah.com