Web portal pendidikan – Hasil kiriman opini pada hari ini yaitu perilaku konsumtif dan pemenuhan gaya hidup. Untuk informasi lebih lengkap dapat kita simak dalam artikel berikut ini.

Perilaku Konsumtif dan Pemenuhan Gaya Hidup

Dua tahun yang lalu ada berita mengenai Komunitas TAC Chapter yang dibentuk di wilayah Sumatera, seperti Palembang, Riau, dan Jambi. TAC merupakan singkatan dari Toyota Agya Club. Komunitas TAC Chapter di Jambi ini kurang lebih sudah dua tahun lamanya.

Biasanya komunitas mobil seperti ini hanya di peruntukkan bagi mobil-mobil yang mahal, tetapi kali ini komunitas TAC Chapter didirikan berdasarkan mobil yang murah. Komunitas mobil TAC Chapter Jambi didirikan khusus bagi pengguna mobil yang murah dan memiliki desain yang unik.

Mobil-mobil tersebut didesain sedemikian rupa, supaya terlihat keren, unik dan bernilai mahal. Walaupun anggota komunitas TAC Chapter ini sebagian besar sudah berkeluarga dan sudah bekerja, namun kelompok ini pun masih memiliki jiwa muda, seperti berkumpul dengan anggota lainnya.

Komunitas ini tidak hanya berkumpul-kumpul atau nongkrong begitu saja seperti anak muda biasanya, komunitas ini juga sering melakukan aksi-aksi sosial. Seperti membagikan masker kepada masyarakat saat kota Jambi diterjang musibah asap. Dan masih banyak kegiatan sosial yang telah mereka lalukan.

Kali ini saya tidak memfokuskan tulisan pada komunitas TAC Chapter. Tulisan saya kali ini akan lebih mengarah kepada “kenapa dizaman ini semakin marak adanya komunitas-komunitas yang terbentuk berdasarkan hobi dan kesukaan”.

Misalnya seperti komunitas yang dulu sewaktu SMA saya pernah ikuti. Dulunya saya masuk kedalam komunitas helm“FIGHTER” yang mana komunitas ini berdasarkan hobi yang sama dan dimiliki oleh orang-orang yang seumuran dengan saya dan suka mengoleksi helm GM FIGHTER. Helm ini merupakan barang yang cukup terbilang keren untuk dipakai anak muda, dan harganya bisa terbilang mahal dikantong anak sekolah.

Komunitas-komunitas yang dibentuk berdasarkan hobi, kesukaan, dll semuanya itu ada dasar teorinya. Permasalahan ini masuk kedalam ranah perubahan sosial, dan mengarah kepada masyarakat komsumtif berdasarkan teorinya Jean Paul Baudrilland.

Masyarakat modern adalah masyarakat ber perilaku konsumtif. Masyarakat yang terus menerus berkonsumsi. Namun, konsumsi yang dilakukan bukan lagi sekedar kegiatan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar dan fungsional manusia.

Masyarakat modern tidak cukup hanya mengkonsumsi sandang dan pangan untuk dapat bertahan hidup. Secara biologis manusia membutuhkan makanan dan pakaian yang cukup untuk dikonsumsi.

Namun, untuk kebutuhan dalam tatanan pergaulan sosial dengan sesama manusia lainnya manusia harus mengkonsumsi lebih dari itu. Inilah yang disebut sebagai manusia modern.
Masyarakat modern saat ini hidup dalam budaya konsumen.

Sebagai suatu budaya, konsumsi sangat mempengaruhi kehidupan sehari-hari dan mampu menstruktur kegiatan keseharian di masyarakat. Nilai-nilai pemaknaan dan harga diri menjadikan sesuatu yang dikonsumsi menjadi semakin penting dalam pengalaman personal dan kehidupan sosial masyarakat.

Konsumsi telah masuk kedalam rasionalitas berpikir masyarakat dan teraplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Anggota komunitas mobil TAC Chapter Jambi dan komunitas helm Fighter merupakan contoh masyarakat modern karena seiringnya mereka mengikuti dan mengadakan kegiatan rutin.

Seperti acara rutin yang dilakukan anggota Komunitas mobil TAC Chapter Jambi mengadakan kegiatan kumpul sesama anggota, toring gabungan, dll.

Acara dan kegiatan diluar aktivitas disetiap harinya seperti janjian dan bertemu di bengkel, kafe-kafe, bahkan di tempat-tempat yang cocok untuk jadi tempat sharing dan menikmati wkatu luang.

Baik acara dan kegiatan yang dilakukan merupakan kegiatan yang diadakan sebagai alat penunjang hobi sebagai riders bagi setiap anggota komunitas-komunitas yang didirikan berdasarkan hobi dan kesukaan.

Acara dan kegiatan yang dilakukan juga merupakan sebagai penunjang hobi yang menunjukkan suatu gaya hidup sosial anggota komunitas yang diikuti.

Secara nyata kegiatan konsumsi pada masyarakat modern dapat dilihat dan dibuktikan melalui bagaimana rasionalitas konsumsi telah beroperasi pada masyarakat budaya perilaku konsumtif. Untuk setiap harinya, begitu banyak waktu yang biasa dihabiskan untuk berkonsumsi, berpikir tentang apa yang dikonsumsi serta menyiapkan apa yang akan dikonsumsi.

Sebagian besar orang merasa memerlukan pekerjaan untuk bisa berkonsumsi, melanjutkan pendidikan demi bisa berkonsumsi lebih baik, menilai orang lain dengan apa-apa yang dikonsumsinya, menunjukkan identitas diri dengan benda-benda konsumsi, serta segala sesuatu hal yang berhubungan dengan orang lain berdasarkan keterikatannya pada benda-benda yang dikonsumsi, dan lain sebagainya.

Perubahan sosial yang dihadapi masyarakat modern sekarang ialah masyarakat yang tidak lagi memprioritaskan barang yang dibutuhkan, namun barang-barang yang didasarkan karena hobi masing-masing manusia.

Pemenuhan kebutuhan hobi sebagai masyarakat modern inilah yang kadang membuat manusia sudah merujuk pada suatu perilaku konsumtif yag orientasinya untuk menarik perhaian atau penghargaan dari pihak lain, sehingga dapat dikatakan sebagai gaya hidup.

Gaya hidup akan mempengaruhi keinginan seseorang untuk berprilaku dan akhirnya menentukan pilihan-pilihan konsumsi seseorang, Kasali 1998. Hal 225.

Gaya hidup dan kepemilikan barang-barang mewah untuk saat ini sudah merupakan bentuk pengaktualisasian diri agar dianggap dapat meningkatkan status sosialnya dalam kehidupan bermasyarakat.

Sehingga ketika masing-masing anggota dalam suatu komunitas memiliki kecenderungan yang berbeda dalam memandang suatu kepentingan gaya hidup dan pola perilaku konsumtif merupakan suatu hal yang wajar dan manusiawi terjadi.

Gaya hidup merupakan bagian dari kehidupan sosial sehari-hari manusia di dunia modern. Gaya hidup berfungsi dalam interaksi dengan cara-cara yang mungkin tidak dapat dipahami oleh mereka yang tidak hidup dalam masyarakat modern.

Dalam hal ini lah, perlu adanya kesadaran manusia modern sekarang ini untuk tetap memprioritaskan kebutuhan biologis yang semestinya harus terpenuhi, bukannya malah dikesampingkan.

Kebanyakan manusia sering mengutamakan kebutuhan yang berdasarkan tatanan pergaulan sosial dengan orang lain dibandingkan kebutuhannya dirinya sendiri. Benar, tidak ada salahnya memenuhi kebutuhan hobi, namun perlu disadari arah dan tujuan pemenuhan kebutuhan bukanlah untuk pamer atau menunjukkan kepada orang lain, bahwa kita sudah mengkonsumsi dan sudah memiliki barang-barang tersebut.

Mengkonsumsi barang bukan sebagai tolak ukur kita dalam menilai kehidupan sosial seseorang. Bukan berarti ketika salah seorang mengkonsumsi barang bermerek dan masuk dalam komunitas tertentu merupakan seseorang yang kaya, seorang yang punya pergaulan hebat, dll.

Kebutuhan yang berdasarkan pergaulan sosial dapat terpenuhi merupakan suatu bonus yang kita dapat dalam hidup, bukanlah sesuatu yang menunjukkan derajat atau pergaulan seseorang.

Penulis : Karlina Veradia Simanungkalit

Ahmad Andrian F
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi keluhkesah.com