Pengertian Qiyas Dan Pembagian Qiyas

oleh -140 views
pengertian qiyas dan pembagian qiyas
pengertian qiyas dan pembagian qiyas

Web portal pendidikan – Selamat siang sobat keluhkesah.com, kali ini saya akan memberikan ulasan materi edukasi pengertian qiyas dan pembagian qiyas. Berikut ulasannya dapat saya sampaikan di bawah ini.

Pengertian Qiyas Dan Pembagian Qiyas

pengertian qiyas dan pembagian qiyas
pengertian qiyas dan pembagian qiyas

A. Pengertian Qiyas

Qiyas menurut bahasa adalah pengukuran sesuatu dengan yang lainnya atau penyamaan sesuatu dengan sejenisnya.

Sedangkan menurut terminologi definisi qiyas adalah menyamakan ketentuan hukum antara sesuatu yang sudah ada aturan hukumnya, dengan sesuatu yang lain yang belum diatur hukumnya dalam nash al-Qur’an dan Hadist, karena ada kesamaan illat antara keduanya.

Qiyas memiliki rukun-rukun yang harus terpenuhi demi keabsahan atau kesempurnaan suatu hal, dan Jika rukun-rukun tersebut tidak dapat terpenuhi maka secara otomatis qiyas juga tidak dapat diterapkan. Adapun rukun dari Qiyas, yaitu sebagai berikut:

Baca juga : Pengertian Al-Qur’an dan Pengkodifikasian Al-Qur’an

A. Ashl

yaitu sesuatu yang telah ditebtukan ketentuan hukumnya berdasarkan nash, baik nash tersebut berupa al-Quran maupun Sunah. Dalam istilah lain, ashal ini disebut juga dengan maqis alaihi (yang di qiyaskan atasnya) atau juga musyabbah bih (yang diserupakan dengannya).

B. Far’u (cabang)

yaitu sesuatu yang tidak dinashkan hukumnya, yakni yang diqiyaskan, disebut juga dengan al-maqis atau dengan al-musabbah.

Far`u atau cabang harus memenuhi syarat, yaitu:

  1. Cabang ini tidak mempunyai hukum tersendiri.
  2. Illat hukum yang ada pada cabang harus sama dengan yang ada pada ashl
  3. Cabang tidak lebih dahulu ada daripada ashl
  4. Hukum cabang harus sama dengan hukum ashl.

c.  Hukum ashl

yakni hukum syara yang dinashkan pada pokok yang kemudian akan menjadi hukum pada cabang. Hukum ashl harus memenuhi syarat-syarat hukumnya, yaitu:

  • Hukum ashl harus merupakan yang amaliyah.
  • Hukum ashl maknanya harus logis atau rasional.
  • Hukum ashl bukan hukum yang khusus.
  • Hukum ashl masih tetap berlaku, apabila sudah tidak berlaku lagi seperti sudah dimansukh, maka tidak bisa dijadikan hukum ashl.

d.  Illat

secara bahasa illat adalah sesuatu yang bisa mengubah keadaan. Illat terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu:

  1. Illat itu harus merupakan sifat yang nyata seperti dapat diinderai.
  2. Illat harus merupakan sifat tegas dalam arti dapat dipastikan wujudnya pada cabang.
  3. Illat hukum mempunyai kaitan dengan hukum untuk mencapai tujuan syariah, seperti  memabukkan ada kaitannya dengan keharaman khamar.
  4. Illat bukan hanya terdapat pada ashl, sebab jika sifat itu hanya terbatas pada ashl tidak mungkin dianalogikan, seperti kekhususan Rasulullah tidak bisa diqiyaskan kepada orang lain.
  5. Illat tidak berlawanan dengan nash, jika berlawanan maka nash yang didahulukan.

Ditinjau dari segi ketentuan pencipta hukum (syari’) tentang sifat apakah sesuai atau tidak dengan hukum, Illat dibagi menjadi beberapa macam, yaitu:

A. Munasib mu’tsir

yaitu persesuaian yang diungkapkan oleh syara’ dengan sempurna, atau dengan kata lain sudah ada hukum yang sesuai dengan sifat itu.

B. Munasib mulaim

yaitu persesuaian yang diungkapkan syara’ pada salah satu jalan saja. Maksudnya ialah persesuaian itu tidak diungkapkan syara’ sebagai ‘illat hukum pada masalah yang sedang dihadapi, tetapi diungkapkan sebagai ‘illat hukum dan disebut dalam nash pada masalah yang lain yang sejenis dengan hukum yang sedang dihadapi.

C. Munasib mursal

yaitu munasib yang tidak dinyatakan dan tidak pula diungkapkan oleh syara’.

Munasib mursal berupa sesuatu yang nampak oleh mujtahid bahwa menetapkan hukum atas dasarnya mendatangkan kemaslahatan, tetapi tiada dalil yang menyatakan bahwa syara’ membolehkan atau tidak membolehkannya.

D. Munasib mulghaa

yaitu munasib yang tidak diungkapkan oleh syara’ sedikitpun, tetapi ada petunjuk yang menyatakan bahwa menetapkan atas dasarnya diduga dapat mewujudkan kemaslahatan.

B. Pembagian Qiyas

Qiyas terbagi menjadi beberapa macam berdasarkan kejelasan ‘illat, kesamaran, dan prediksinya terhadap persoalan yang tidak termaktub dalam nash, yaitu:

  1. Qiyas aqwa, adalah analogi yang ‘illat hukum cabangnya (far’u) lebih kuat daripada ‘illat pada hukum dasarnya (ashl).
  2. Qiyas Musawi, adalah qiyas yang kekuatan ‘illat pada hukum cabang sama dengan hukum ash.
  3. Qiyas Musawi, adalah qiyas yang kekuatan ‘illat pada hukum cabang sama dengan hukum ash.

Baca juga : Pengertian Ijma dan Pembagian Ijma

Qiyas adh’af, adalah analogi yang illat pada hukum cabangnya (far’) lebih lemah daripada ‘illat pada hukum dasarnya (ashl).

penulis, Imas masitoh
penulis, Imas masitoh

Artikel ditulis oleh Imas Masitoh dengan judul artikel Pengertian qiyas dan pembagian qiyas.

Profil lengkap penulis :
Nama : Imas Masitoh
Domisili : Bates Labuhan Sreseh Sampang
Pendidikan : Mahasiswi Ekonomi Syariah FEBI UINSA
Email Pengirim : Imas Masitoh
Judul Tulisan : Pengertian qiyas dan pembagian qiyas

Kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi pengembangan artikel lebih lanjut.

Kamu juga bisa menulis karyamu di belapendidikan, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah. Klik disini untuk kirim tulisan, atau bisa lewat email kami [email protected]

Kata kunci : #pengertian qiyas dan pembagian qiyas

Tentang Penulis: Ahmad Andrian F

Gambar Gravatar
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi keluhkesah.com