Pengertian Ijma Dan Pembagian Ijma

oleh -214 views
pengertian ijma dan pembagian ijma
pengertian ijma dan pembagian ijma

Web portal pendidikan – Selamat siang sobat keluhkesah.com, kali ini saya akan memberikan ulasan materi edukasi pengertian ijma dan pembagian ijma. Berikut ulasannya dapat saya sampaikan di bawah ini.

Pengertian Ijma Dan Pembagian Ijma

pengertian ijma dan pembagian ijma
pengertian ijma dan pembagian ijma

A. Pengertian Ijma

Pengertian Ijma’ secara etimologi berarti kesepakatan, sedangkan menurut istilah, Ijma’ ialah kesepakatan seluruh ulama mujtahid  dari kalangan umat islam dari seluruh penjuru dunia yang terjadi pada masa sesudah wafatnya Rasulullah Saw atas permaslahan hukum syara’ yang tidak terdapat dalam nash qoth’i.

Ijma’ diposisikan sebagai salah satu dari sumber hukum Islam selain al-Qur’an, Sunah dan Qiyas.

Ijma merupakan satu prinsip untuk menjamin kebenaran hukum yang muncul sebagai hasil penggunaan qiyas dan merupakan pembatas terhadap qiyas dan merupakan pembatas terhadap qiyas yang bersifat bisa salah.

Ijtihad atau ijma` digunakan oleh para ulama untuk menemukan jawaban dari suatu permasalah dalam hukum syariat yang terjadi dalam masyarakat.

Adakalanya seorang mujtahid berijtihad sendirian (fardi), ijtihad fardi merupakan seorang mujtahid dalam mengeluarkan fatwa berdasarkan pada ijtihadnya sendiri.

Ijtihad fardi contohnya seperti Imam Syafi`I, Imam Hanafi, Imam Hambal, Imam Maliki, dalam memberikan suatu hukum tehadap permasalahan yang terdapat pada penganutnya.

Selain ijtihad fardi, ada juga ijtihad ijma`I (Bersama-sama), dimana para mujtahis bersama-sama dalam memutuskan suatu permaslahan.

Sebelum melakukan sebuah ijtihad, mujtahid atau orang yang melakukan ijtihad harus memenuhi beberapa syarat, yaitu:

  1. Memahami isi al-Qur`an dan Hadist terutama yang berkaitan dengan hukum
  2. Menguasai Bahasa Arab dengan segala kelengkapan untuk menafsirkan al-Qur`an dan hadist.
  3. Menguasai ilmu ushul fiqih dan kaidah-kaidah fiqih yang luas.
  4. Mengetahui ijma` para ulama dan perkembangan hukum dalam islam.
  5. Memahami keadaan masyarakat, baik dari sisi adat istiadat, kebiasaan, sosial, hingga psikologi masyarakat

Syarat diatas harus dipenuhi oleh seorang mujtahid sebelum melakukan ijtihad, dengan demikian, apabila hasil ijtihadnya mendekati suatu kebenaran maka sesuai dengan ketentuan Allah dan petunjuk Rasulullah saw. Seperti yang terdapat dalam sebuah hadist, yaitu:

“dari Amr bin As r.a. sesungguhnya Rasulullah saw. Bersabda: “apabila seorang hakimberijtihad dalam memutuskan suatu persoalan, ternyata ijtihadnya benar, ia mendapatan dua pahala, dan apabila dia berijtihad kemudian ijtihadnya salah, ia mendapatkan satu pahala.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Hukum yang dihasilkan dari ijtihad tidak boleh bertentangan dengan al-Qur’an dan Hadist.

Karena tujuan dilakukan sebuah ijtihad yaitu untuk menemukan status hukum yang terdapat dalam nash al-Qur’an dan Hadist, dan yang tidak diatur dalam al-Qur’an dan Hadist akan tetapi tetap berpedoman dalam al-Qur’an dan Hadist.

Terdapat beberapa metode dalam melakukan sebuah ijtihad dalam ajaran islam, yakni sebagai berikut:

  1. Qiyas, yaitu mengukur suatu perkara yang tidak ada hukumnya dengan perkara lain yang telah ada hukumnya berdasarkan persamaan `illat yang ada.
  2. Istihsan atau istislah, yaitu menetapkan hukum suatu perbuatan yang tidak dijelaskan dalam al-Qur`an dan Hadist berdasarkan kepentingan umum atau keadilan.
  3. Istishab, yaitu meneruskan berlakunya suatu hukum yang telah ada hingga ada dalil lain yang mengubah kedudukan hukum tersebut.
  4. Maslahah mursalah, yaitu menetapkan hukum suatu masalah berdasarkan kemaslahatan umum yang dituju oleh nash al-Qur`an dan Hadist meskipun tidak secara jelas menunjukkan masalah tersebut.
  5. al-`Urf, yaitu Tindakan membolehkan tradisi atau kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat selama tidak bertentangan dengan aturan pada al-Qur`an dan Hadist.
  6. Saddu zara`I, yaitu memutuskan suatu perkara yang sebenarnya boleh menjadi makruh dan haram untuk menghindari kerusakan yang lebih besar.

B. Pembagian Ijma

Ijma dibagi menjadi beberapa macam yaitu:

  1. ijma’ ditinjau dari sudut cara menghasilkannya, yaitu:
  2. Ijma’ Shorih, adalah setiap mujtahid menyampaikan ucapan atau perbuatan yang mengungkapkan secara jelas tentang pendapatnya.
  3. Ijma’ Sukuti, adalah sebagian mujtahid menyampaikan pendapatnya secara jelas mengenai suatu peristiwa dengan sistem fatwa atau qodho’, sedang sebagian mujtahid tidak memberikan tanggapan terhadap pendapat tersebut mengenai kecocokannya atau perbedaannya.
  4. ljma’ ditinjau dari segi dalalahnya, yaitu:
  5. Ijma’ yang qoth’I, adalah ijma’ shorih, dengan artian bahwa hukumnya telah dipastikan, dan tidak ada jalan mengeluarkan hukum lain yang bertentangan.

Ijma’ yang dhonni, adalah ijma’ sukuti, dengan artian bahwa hukum itu didugakan menurut dugaan yang kuat, dan tidak bisa dilepas bila kejadian itu terlepas dari usaha ijtihad.

penulis, Imas masitoh
penulis, Imas masitoh

Artikel ditulis oleh Imas Masitoh dengan judul artikel Pengertian Ijma dan pembagian ijma.

Profil lengkap penulis :
Nama : Imas Masitoh
Domisili : Bates Labuhan Sreseh Sampang
Pendidikan : Mahasiswi Ekonomi Syariah FEBI UINSA
Email Pengirim : Imas Masitoh
Judul Tulisan : Pengertian ijma dan pembagian ijma

Kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi pengembangan artikel lebih lanjut.

Kamu juga bisa menulis karyamu di belapendidikan, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah. Klik disini untuk kirim tulisan, atau bisa lewat email kami [email protected]

Tentang Penulis: Ahmad Andrian F

Gambar Gravatar
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi keluhkesah.com