Pengertian AlQuran Dan Pengkodifikasian Al-Qur’an

oleh -66 views
pengertian alquran dan pengkodifikasian al-qur'an
pengertian alquran dan pengkodifikasian al-qur'an

Web portal pendidikan – Selamat siang sobat keluhkesah.com, kali ini saya akan memberikan ulasan materi edukasi pengertian AlQuran dan Pengkodifikasian Al-Qur’an. Berikut ulasannya dapat saya sampaikan di bawah ini.

Pengertian AlQuran Dan Pengkodifikasian Al-Qur’an

pengertian alquran dan pengkodifikasian al-qur'an
pengertian alquran dan pengkodifikasian al-qur’an

Al-Qur`an secara harfiah al-Qur`an berasal dari Bahasa arab “qara`a”, berarti bacaan atau sesuatu yang dibaca.

Sedangkan menurut istilah, al-Qur’an adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad secara lafadz (lisan), makna, dan gaya Bahasa (ushlub), yang bermaktub dalam mushaf yang dinukil dari-Nya secara mutawatir.

Pengertian alquran adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad melalui perantara malaikat Jibril secara berangsur-angsur selama 22 tahun 2 bulan dan 22 hari, yang didalamnya terkumpul beberapa surat, yang dimulai dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Nas, dan bagi yang membacanya bernilai pahala.al-Qur`an diturunkan oleh Allah sebagai pedoman, landasan dan petujuk bagi umat manusia. 

Al-Qur’an memiliki nama-nama yang lain dalam penyebutannya, Adapun nama-nama Alquran yang umum dikenal ada lima yaitu al-Qur`an (bacaan yang dibaca), al-Kitab (tulisan yang ditulis), al-Furqan (pembeda), Al-Dzikr (perigatan) dan Al-Syifa` (obat).

Sebagaimana yang telah kita ketahui, bahwa al-Qur’an merupakan sumber hukum islam yang pertama, dan tidak boleh ada hukum yang bertentangan dengan Al-Qur’an.

Karena sesungguhnya al-Qur`an merupakan firman Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad yang dijadikan pedoman bagi ummatnya.

Secara garis besar kandungan al-Quran memuat beberapa hal seperti akidah, ibadah, wa`du dan wa`id, muamalat, akhlak, hukum, sejarah atau kisah, pengetahuan dan teknologi.

Al-Qur`an merupakan sebuah solusi dalam mengatasi persoalan-persoalan kehidupan manusia.

Untuk hal itulah al-Quran diturunkan sebagai pedoman hidup dan kehidupan bukan hanya hubungan antara manusia dengan Tuhannya (hablu minallah) melainkan juga dengan seluruh makhluk (hablu minannas) dan alam (hablu minal`alam).

Terdapat beberapa tahapan dalam pengkodifikasian al-Qur`an sehingga menjadi mushaf yang seperti sekarang ini, dan yang kita baca sekarang ini. Berdasarkan pendekatan historis tradisonal proses pengumpulan Al-Qur`an (jam`ul Qur`an) terdapat tiga fase, yaitu:

Pengumpulan Al-Qur’an Pada Masa Nabi SAW 

Cara pertama dalam Pemeliharaan Al-Qur’an pada masa Rasululah dengan Cara Menghafalkannya. Berdasarkan paparan sejarah, pada mulanya bagian-bagian Al-Qur’an yang diwahyukan kepada Muhammad dipelihara dalam ingatan Nabi SAW dan para sahabatnya.

Jadi, setelah menerima suatu wahyu (sebagaimana diperintahkan Al-Qur`an), Nabi SAW kemudian menyampaikanya kepada para pengikutnya yang kemudian menghafalkannya.

Cara yang kedua dalam Pemeliharaan Al-Qur’an yaitu dengan cara Menuliskannya. Sebenarnya pada masa Rasulullah sudah ada orang-orang yang diperintah oleh nabi Muhammad sebagai penulis al-Qur`an, seperti  Ali, Mu’awiah, Ubai bin Ka’ab, dan Zaid bin Tsabit.

Terdapat beberapa alasan mengapa kodifikasi al-Qur’an pada masa Nabi saw tidak dilakukan. Pertama, para penghafal al-Qur’an cukup banyak, sehingga kemungkinan adanya upaya untuk mengganggu atau mempertanyakan akan orisinilitas al-Qur’an tidak akan terjadi.

Kedua, selama proses turunnya wahyu, adanya nasikh dan mansukh masih terjadi. Ketiga, selama proses turunnya wahyu, tata tertib dan urutan ayat diturunkan tidak teratur atau runut.

Terdapat beberapa alasan yang dapat melatarbelakangi mengapa kodifikasi dan unifikasi al-Qur’an pada masa Nabi saw tidak dilakukan. Pertama karena wahyu al-Qur’an masih turun. kedua, belum ada kebutuhan yang mendesak.

Ketiga, para penghafal al-Qur’an cukup banyak, sehingga kemungkinan adanya upaya untuk mengganggu atau mempertanyakan akan orisinilitas al-Qur’an tidak akan terjadi.

Keempat, selama proses turunnya wahyu, adanya nasikh (menghapus hukum syara’ dengan dalil atau khithab syara’ yang lain) dan Mansukh (hukum syara`yang telah dihapus) masih terjadi.

Kelima, selama proses turunnya wahyu, tata tertib dan urutan ayat diturunkan tidak teratur atau runut.

Mengenai urutan ayat, para ulama bersepakat, bahwa urutan tersebut bersifat tauqifi, bersumber dari keterangan Rasulullah yang diberitahukan oleh Malaikat Jibril atas perintah Allah.

Dan ada pendapat kedua yang mengatakan, bahwa urutan surah itu merupakan ijtihad dari sahabat, karena masing-masing sahabat ternyata memiliki urutan surah berbeda satu sama lain.

Pendapat ketiga mengatakan, bahwa urutan sebagian surah itu merupakan tauqifi dan sebagian lainnya berdasarkan ijtihad para sahabat.

Pengumpulan Al-Qur’an Pada Masa Abu Bakar 

pada tahun 12 H terjadi perang yamamah antara kalangan umat Islam dengan orang-orang murtad. Dalam peperangan tersebut, banyak sahabat penghafal Al-Qur`an yang meninggal.

Tragedi Yamamah ini Umar khawatir Al-Qur`an akan berangsur-angsur hilang bersamaan dengan meninggalnya para penghafalnya, kemudian Umar bin Khattab untuk meminta kepada khalifah Abu Bakar agar Al-Qur`an segera dikumpulkan dan ditulis dalam sebuah mushaf.

Baca juga : Pengertian As-Sunnah Dan Pembagiannya

Pengumpulan Al-Qur’an Pada Masa Usman bin Affan 

Pada masa Usman bin Affan penyebaran agama Islam semakin luas. Sehingga percampuran antara bangsa Arab dan non Arab (‘Ajam) pun tidak dapat dihindari.

Dengan berbaurnya antara bangsa Arab dan bangsa ‘Ajam, maka cara baru membaca dan mempelajari al-Quran pun tidak bisa dielakkan. Begitu pula timbulnya aneka ragam bacaan al-Qur’an pada penduduk di wilayah-wilayah Islam yang luas itu pun semakin beragam, mengikuti pola dan ragam bacaan.

Dengan banyak-nya ragam baca al-Qur’an tersebut, maka masyarakat dari wilayah Islam tertentu merasa bahwa bacaan al-Qur’an yang mereka terapkan itu adalah yang benar, sementara bacaan masyarakat yang lainnya adalah salah.

Situasi ini sangat mencemaskan khalifah Usman bin Affan, karenanya ia segera mengundang para pemuda sahabat, baik dari golongan Ansar maupun Muhajirin.

Akhirnya, dari mereka diperoleh suatu kesepakatan, agar mushaf yang ditulis pada masa Abu Bakar disalin kembali menjadi beberapa mushaf dengan dialek Quraisy. kemudian beberapa mushaf yang sudah disalin menjadi dialek Quraisy dikirim ke berbagai kota untuk dijadikan rujukan.

penulis, Imas masitoh
penulis, Imas masitoh

Artikel ditulis oleh Imas Masitoh dengan judul artikel Pengertian AlQuran Dan Pengkodifikasian Al-Qur’an.

Profil lengkap penulis :
Nama : Imas Masitoh
Domisili : Bates Labuhan Sreseh Sampang
Pendidikan : Mahasiswi Ekonomi Syariah FEBI UINSA
Email Pengirim : Imas Masitoh
Judul Tulisan : Pengertian AlQuran Dan Pengkodifikasian Al-Qur’an

Kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi pengembangan artikel lebih lanjut.

Kamu juga bisa menulis karyamu di belapendidikan, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah. Klik disini untuk kirim tulisan, atau bisa lewat email kami [email protected]

Tentang Penulis: Ahmad Andrian F

Gambar Gravatar
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi keluhkesah.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *