Web portal pendidikan – Esai kali ini berjudul Pendidikan didaerah perbatasan Indonesia, yang dikirimkan oleh salah satu peserta dalam ajang lomba esai nasional bersama belapendidikan.com. Untuk lebih lengkapnya dapat kita lihat sebagai berikut.

Pendidikan Didaerah Perbatasan Indonesia

Mencerdaskan kehidupan bangsa adalah cita-cita dari bangsa Indonesia. Hal ini juga tertuang dalam teks Undang-Undang Dasar 1945. Tapi saat ini bangsa Indonesia masih jauh dari cita-cita tersebut. Terbukti saat ini masih banyak anak-anak yang putus sekolah.

Berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pada tahun 2016 lebih dari satu juta anak putus sekolah pada jenjang Sekolah Dasar (SD) dan tidak melanjutkan ke tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Jika digabung antara yang tidak tamat SD-SMP maka ada sekitar 4,3 juta anak yang tak mengenyam pendidikan dasar sembilan tahun.

Akibatnya, sekitar 40 persen angkatan kerja Indonesia merupakan lulusan SD.
Banyak hal-hal yang membuat anak-anak tersebut harus putus sekolah. Salah satunya adalah terbatasnya sekolah didaerah mereka. Jika kita melihat didaerah perkotaan mungkin sekolah sudah banyak sekali.

Tetapi coba kita lihat ke daerah perbatasan Indonesia. Karena terbatasnya sekolah anak-anak disana perlu melakukan banyak perjuangan agar sampai kesekolah. Bahkan tidak jarang diantara mereka perlu melewati banyak hal yang mengancam keselamatan mereka. Ini disebabkan karena minimnya sekolah didaerah tersebut. Akibatnya mereka perlu pergi jauh dari rumah jika ingin terus mengenyam pendidikan.

Padahal pada saat ini dana yang dialokasikan untuk pendidikan jauh lebih besar dibanding untuk dana lainnya. Seperti tercantum dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 107 Tahun 2017 tentang Rincian APBN 2018, pemerintah mengalokasikan Rp 444,13 triliun untuk pendidikan dari total anggaran belanja senilai Rp 2.220 triliun di tahun 2018. Dana tersebut tidak dapat dibilang kecil.

Tapi mengapa di zaman sekarang ini masih sangat sedikit sekolah didaerah terpencil? Kemanakah dana tersebut berjalan?

Menurut Ketua Umum PGRI Dr. Unifah Rosyidi tidak semua anggaran pendidikan terdistribusi dengan baik. Bahkan, anggaran dari pusat yang ditransfer ke daerah untuk diteruskan keguru kerap dipergunakan terlebih dahulu untuk pembangunan daerah. Akibatnya, anggaran tersebut terlambat sampai ditangan para guru.

Apakah hal tersebut yang membuat tertundanya pembangunan sekolah didaerah-daerah terpencil?

Sebenarnya tidak dapat disalahkan juga tetang perjalanan dana untuk pendidikan. Kesadaran dari masing-masing orang pun sangat diperlukan. Didaerah terpencil bukan hanya sedikitnya sekolah. Tetapi ada beberapa daerah yang sebenarnya terdapat sekolah tetapi gurunya yang tidak ada.

Contohnya seperti yang dimuat pada artikel kabarpapua pada tahun 2017 didaerah Kampung Skow, Kota Jayapura terjadi kekurangan tenaga pengajar. Daerah tersebut tidak memiliki guru yang bertempat tinggal didaerah Skow. Karena jauhnya Kampung Skow dengan tempat tinggal para guru tersebut membuat kegiatan belajar mengajar menjadi tidak efektif.

Biasanya dalam seminggu sekolah-sekolah disana hanya aktif dua hari saja. Kepala Kampung Skow menginginkan guru yang akan menetap di Kampung Skow. Supaya para guru tidak memiliki alasan dengan letak sekolah. Bahkan karena permasalahan tersebut banyak penduduk menyekolahkan anak mereka kesekolah yang sangat jauh dari rumah. Lantas jika seperti ini siapakah yang perlu disalahkan?

Hal ini membuat kita semakin miris saja dengan pendidikan di Indonesia pada saat ini. Anak-anak yang seharusnya mendapatkan pendidikan malah harus berhenti hanya karena masalah seperti itu.

Padahal wajib belajar selama 9 tahun telah tercantum dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 47 tahun 2008 Pasal 1. Tetapi bagaimana mereka bisa memenuhi kewajiban jika sekolah dan gurunya saja tidak ada? Anak-anak sangat semangat untuk bersekolah dan belajar tetapi fasilitas untuk menunjang kegiatan mereka tidak ada.

Untuk itu bukan hanya pemerintah yang perlu memperbaiki dan menambah infrastruktur bangunan disetiap daerah. Tetapi ini juga tergantung bagaimana kesadaran bagi diri masing-masing. Bagaimana semangat kita untuk membangun bangsa Indonesia dan bagaimana semangat kita untuk mencapai cita-cita bangsa Indonesia.

Esai ini di tulis oleh Julinda Silfia Damayanti kamu juga bisa menulis karyamu di belapendidikan, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah setiap bulannya, Daftar Sekarang

Ahmad Andrian F
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi keluhkesah.com