Web portal pendidikan – Esai kali ini berjudul Merosotnya pendidikan Indonesia zaman ini, yang dikirimkan oleh salah satu peserta dalam ajang lomba esai nasional bersama belapendidikan.com. Untuk lebih lengkapnya dapat kita lihat sebagai berikut.

Merosotnya Pendidikan Indonesia Zaman ini

Ah, Indonesia. Negara kita tercinta. Dengan 17 ribu pulaunya dan ratusan juta penduduk mampu untuk membuat Indonesia menjadi negara terpadat ke-4 sedunia. Lantas jika setiap orang merupakan masyarakat yang lahir di Indonesia, menjadi warga masyarakat Indonesia, dan tinggal di atas tanah Indonesia, apa membuat mereka memiliki status yang sama?

Iya, kalau hanya ditanya tentang status dan haknya sebagai masyarakat Indonesia. Kalau tentang status sosial? Tentu tidak. Hal itu tergantung masing-masing individu. Mereka sendiri-lah yang membangun image mereka dan menentukan bagaimana orang lain memandang mereka.

Lalu bagaimana cara membangun, menentukan, dan bahkan mengubah pandangan orang lain terhadap kita?

Saya percaya, 40% berasal dari latar belakang keluarga dan sisanya tergantung usaha kita sendiri. Bagaimana kita bersikap, beretika, cara kita memperlakukan orang lain, dan yang tidak kalah penting, yaitu tingkat pendidikan serta karir kita.

Tapi tidakkah kita kasihan pada masyarakat Indonesia yang minim akan pengetahuan seperti yang tinggal di daerah-daerah pelosok yang ada di Papua atau Kalimantan? Bukan keinginan mereka sebenarnya, hanya saja sinyal dan koneksi yang kurang mendukung serta fasilitas-fasilitas yang kurang memadai menghambat mereka untuk menelusuri pengetahuan-pengetahuan dunia lebih mendalam.

Bahkan kadang masyarakat yang tinggal di daerah pelosok tersebut memiliki semangat menuntut ilmu lebih tinggi dibanding masyarakat yang tinggal di perkotaan. Tapi hal itu tidak lantas membuat masyarakat daerah menjadi lebih berwawasan luas dibanding masyarakat kota karena yang telah disebutkan tadi, keterbatasan fasilitas. Tidak adil memang, tapi itulah kenyataannya. Meskipun ada juga beberapa yang merantau ke kota meninggalkan keluarganya demi menuntut ilmu.

Jujur saja kadang saya sangat malas untuk membaca dan mencari tahu hal-hal yang baru, bahkan meski hanya mengetik beberapa kata saja di Internet, tapi saat-saat begitu saya langsung jadi teringat dengan nasib orang-orang yang justru memiliki rasa penasaran yang tinggi tapi tidak kesampaian untuk mencari tahu.

Apakah Kemerosotan Pendidikan Hanya Dirasakan Masyarakat Yang Tinggal Didaerah Pelosok saja ?

Bukan hanya masyarakat yang tinggal di daerah-daerah, tapi seluruh masyarakat Indonesia yang memiliki berbagai kendala dalam mencari ilmu, seperti tidak memiliki biaya untuk bersekolah atau membeli buku-buku, tidak memiliki smartphone atau komputer yang dengan benda tersebut kita jadi bisa mencari tahu banyak hal, atau ada juga seseorang yang disuruh berjualan dari kecil daripada bersekolah demi menghidupi keluarganya, padahal hal itu salah.

Bersekolah tidak hanya sekadar menuntut ilmu. Disana secara perlahan kita belajar caranya bersosialisasi, bersikap yang benar kepada teman sebaya maupun orang yang lebih tua, tahu mana perbuatan yang baik dan buruk, menikmati masa-masa indah bersama teman-teman, dan masih banyak lagi.

Padahal kalau bisa memilih, saya yakin setiap orang ingin dilahirkan di tempat yang apa-apa mudah untuk dijangkau, dicari, dan ditemukan. Tidak hanya benda, ilmu pun dapat dijadikan rujukan.

Kalau dikatakan ingin, ya semua orang pasti ingin memiliki ilmu, tapi tidak semua orang benar-benar niat mencarinya. Kadang saya berpikir, beruntungnya saya lahir dan dibesarkan di kota, kalau ingin mencari tahu apa-apa tinggal searching di internet, coba kalau di daerah yang sinyalnya sangat sulit dijangkau, sulit mencari tahu.

Harus ada bukunya, tapi bisa jadi bukunya tidak lengkap, dan seandainya ada sekolah tapi sang guru juga tidak mengetahuinya, terus bagaimana? Tidak ada yang bisa dilakukan.
Kalau begini siapa yang akan disalahkan? Pemerintah?

Meskipun pemerintah sudah berusaha membangun sekolah di tiap-tiap daerah dan mengirim guru-guru muda? Atau anak-anak itu sendiri? Yang tidak merantau ke kota demi menuntut ilmu?

Tapi seandainya mereka semua merantau, kota yang awalnya sudah padat akan menjadi lebih padat, desa juga akan semakin kekurangan populasi. Lagipula tidak semua masyarakat desa memiliki biaya untuk bermigrasi dan tinggal di kota. Jadi tidak ada yang perlu disalahkan.

Menurut Pendapat saya pribadi :

Hingga saat ini, menurut saya gambaran akan pendidikan di Indonesia masih abu-abu. Pendidikan yang diberikan masih tidak merata, tapi bisa dibilang masih agak sulit juga untuk membuatnya adil dan merata.

Bukan salah pemerintah atau penduduk. Hanya tergantung masing-masing individu saja. Mau siapapun dia, laki-laki atau perempuan, umur berapa, tinggal dimana, orang kota atau orang desa, kalau dia memang sama sekali tidak memiliki semangat dan malas untuk menuntut ilmu ya ilmu pun juga akan malas untuk menetap di otaknya. Yah, meskipun fasilitas juga menjadi nilai tambah dalam menuntut ilmu.

Esai ini ditulis oleh Dyah Ratih K kamu juga bisa menulis karyamu di belapendidikan, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah setiap bulannya, Daftar Sekarang

Ahmad Andrian F
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi keluhkesah.com