Upaya Memelihara Autentisitas Demokrasi Dalam Dinamika Politik Di NTT

oleh
upaya memelihara autentisitas demokrasi dalam dinamika politik
upaya memelihara autentisitas demokrasi dalam dinamika politik

Mahasiswa Membunuh Politik Identitas


Politik di NTT masih berpotensi irasional. Wujud irasional paling nyata, seperti yang sudah disinggung dalam pilkada serentak 2020 dan juga pada masa pasca-pilkada.

Baca juga : Regulasi dan Dinamika Pilkada

Gema seruan untuk tidak memilih salah satu paslon yang memiliki latar belakang perbedaan ras, agama dan suku menjadi begitu kuat dan tanpa disadari telah berbuah kebencian, saling memfitnaf, saling mengejek ataupun maki sehingga memecah masyarakat menjadi kawan dan lawan.

Perilaku demikian secara sadar, bukan berasal dari suatu rasionalitas masyarakat, melainkan datang dari sentimen primordial yang mengendap di kepala masyarakat, yang membiarkan emosi mereka diperdaya oleh suatu loyalitas semu belaka.

Seharusnya masyarakat yang lebih rasional akan fokus pada kinerja, rekam jejak dan juga program kerja, bukan pada loyalitas primordial yang semu.

Maka tidak mengherankan masyarakat kita begitu mudah digiring bahkan diprovokasi dengan isu-isu terkait ras, etnisitas maupun agama, sehingga memupuk semangat saling membenci satu sama lain yang akan berujung pada aksi destruksi.   

Krisis yang dibawah oleh politik identitas harus segera diatasi. Solusi yang ditawarkan datang dari kesadaran para mahasiswa sebagai generasi-generasi muda yang berintelektual yang merasa bertanggung jawab untuk meberikan orientasi bagi pola pikir masyarakat yang masih kabur terhadap politik dan nilai-nilai fundamental lainnya;

yaitu melalui pola edukasi politik, sosialisasi politik dan juga komunikasi dialogal antar-masyarakat di dalam suatu diskursus publik.

Baca juga : Hubungan ilmu politik dengan ilmu lainnya

Kita yakin bahwa dengan kontribusi dari para mahasiswa melalui pola edukasi, sosialisasi, semakin meningkatkan rasionalitas masyarakat tentang hakikat politik dan nilai-nilai fundamental lainnya dalam masyarakat; dan dengan suatu pola komunikasi-dialogal seperti yang diharapkan oleh Habermas dalam teorinya tentang “diskursus publik”, dapat membuka ruang saling pengertian, sehingga setiap perbedaan yang ada dalam masyarakat NTT bisa dilihat sebagai suatu kekayaan yang perlu dijaga dan dilestarikan.

Komunikasi interaktif serta dialog merupakan sutau bentuk keterbukaan terhadap perspektif yang lain, kesediaan melakukan negosiasi untuk mencapai suatu konsensus bersama, keberanian untuk meninggalkan suatu nilai demi hal-hal yang lebih rasional dan lebih bernilai.

Melalui pola edukasi, sosialisasi dan komunikasi publik, kita mengharapkan rasionalitas masyarakat semakin terbuka untuk meninggalkan praktek politik yang keliru demi tercapainya suatu bonum commune sehingga upaya memelihara autentisitas demokrasi tetap terjaga di bumi NTT.


Penutup Dari Penulis

Sepanjang perjalanan menyimak tulisan ini tentunya kita akan sampai pada suatu kesimpulan logis bahwa politik identitas merupakan praktek politik yang telah menodai autentisitas demokrasi di wilayah NTT. Mengapa?

Asumsi di atas beralasan, karena politik identitas merupakan suatu model politik yang ingin memaksakan perspektif primordialnya kepada kelompok-kelompok lain dalam masyarakat yang berdimensi plural.

Tentunya kita akan sepakat bersama perihal penolakan terhadap politik identitas. Karena jika kita menerima politik identitas artinya kita telah menodai citra demokrasi dan telah mereduksi politik hanya kepada kepentingan kelompok tertentu. Dan lebih parahnya lagi kita tidak menghargai dimensi pluralitas dalam masyarakat NTT.

Akan tetapi dalam dinamika politik NTT, kita menjumpai bahwa masih ada kubu-kubu yang tetap keras kepala.

Maksudnya bahwa ada kelompok-kelompok tertentu yang masih menggunakan politik untuk tujuan yang salah. Tentunya hal ini tidak bisa dibiarkan karena kita tidak akan mengelak dari konflik dan perpecahan dalam masyarakat jika masih ada politik identitas.

Solusi yang ditawarkan datang dari para mahasiwa seperti pada pembahasan di atas yaitu dengan memberikan edukasi politik, membuka ruang sosialisai dan ruang komunikasi publik seperti dalam teorinya Habermas tentang diskursus publik;

Dimana setiap orang berdiri setara dalam komunikasi untuk menemukan sebuah bahasa saling pengertian dalam dimensi pluralitas dan membongkar sikap eksklusivitas yang berlebihan untuk terbuka menerima “yang lain dalam keberlainan”.

Dengan demikian bumi NTT bisa menjadi wilayah yang bersih dari praktek politik identitas dan dengan demikian autentisitas demokrasi akan tetap terjaga.

#upaya_memelihara autentisitas demokrasi dalam dinamika politik di Nusa Tenggara Timur NTT


yohanes debrito naimnanu
yohanes debrito naimnanu

Pengenalan Penulis :

Nama : Yohanes Debrito Naimnanu, seorang mahasiswa jurusan filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, yang juga lahir pada tanggal 4 Februari 2000.

Saat ini Yohanes sedang menjalankan studi semester IV nya, sebagai seorang mahasiswa yohanes juga seorang calon imam (Frater) yang sementara ini dibina di panti pendidikan calon imam Seminari Tinggi, Kupang.

Artikel ditulis oleh @yohanes dengan judul artikel Upaya Memelihara Autentisitas Demokrasi Dalam Dinamika Politik Di NTT . Kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi pengembangan artikel lebih lanjut.

Kamu juga bisa menulis karyamu di belapendidikan, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah. Klik disini untuk kirim tulisan, atau bisa lewat email kami [email protected]

Kata kunci : upaya memelihara autentisitas demokrasi, dinamika politik di NTT

Tentang Penulis: Ahmad Andrian F

Gambar Gravatar
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi keluhkesah.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *