Upaya Memelihara Autentisitas Demokrasi Dalam Dinamika Politik Di NTT

oleh -433 views
upaya memelihara autentisitas demokrasi dalam dinamika politik
upaya memelihara autentisitas demokrasi dalam dinamika politik

Wajah Politik Di Nusa Tenggara Timur


Wilayah NTT yang berdimensi pluralis bisa menjadi bibit unggul bagi tumbuh suburnya politik identitas. Kita tidak bisa menghindari tendensi dengan keberagaman budaya, suku, ras, agama bagi lahirnya suatu model politik yang salah.

Hal ini bisa saja terjadi karena keberagaman mungkin saja melahirkan kecenderungan dari kubu-kubu tertentu yang secara radikal menggunakan identitas-identitas kelompoknya dalam wilayah politik NTT demi tujuan-tujuan lain. Pertanyaan bagi kita adalah apakah pluralitas harus dihilangkan?

Kita bisa menjawab dengan nada tegas bahwa akar masalahnya bukan terletak pada esensi wilayah NTT yang berdimensi plural itu.

Sebenarnya pokok persoalan itu datang dari kelompok-kelompok yang sering keras kepala tidak menghargai pluralitas dalam masyarakat dengan mengklaim kebenaran identitas-identitas kelompoknya.

Klaim kebenaran partikular dalam masyarakat berdimensi plural tentunya akan menciptakan kontraversi dan tanpa disadari akan berbuah pertikaian yaitu pertikaian atar-kelompok yang satu dengan kelompok lainnya.

Perihal kontraversi seputar masalah politik identitas dapat kita simak secara nyata dalam pilkada serentak yang diadakan di NTT pada tanggal 8 Desember 2020 baru-baru ini. Kita patut mengapresiasi akan semangat persaudaraan yang selalu dijunjung tinggi selama masa pilkada berlangsung.

Akan tetapi tidak seluruhnya berjalan dengan baik. Di beberapa kabupaten seperti Belu, TTU, Flores, proses pilkada tidak luput dari model politik yang bercirikan suku, ras dan agama.

Sedangkan di kabupaten Malaka, proses pilkada juga cukup memprihatinkan. Seperti yang dilansir dari Katantt.com, Sabtu, 28/11/2020 19:36 WIB “Bentrok Antar Dua Pendukung Paslon di Malaka, Polisi Amankan 13 Warga”.

Aksi tawuran tersebut, terjadi di jembatan Benenai, Desa Haitimuk, Kabupaten Malaka oleh massa simpatisan kedua Paslon peserta Pilkada tahun 2020 di daerah tersebut.

Berita lain seperti dilansir dari POS-KUPANGCOM I BETUN Kamis, 10 Desember 2020 15:50, Aparat gabungan dari POLRI juga TNI diterjunkan ke kawasan jalan negara jurusan Betun-Kupang tepatnya di Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, untuk mengamankan situasi pertemuan antar-kedua massa pendukung dua paslon yang saling menyatakan kemenangan masing-masing paslon sehingga menimbulkan keributan yang berujung saling melempar batu.

Aksi kejar-kejaran dan saling melempar batu itu mengakibatkan beberapa unit motor dirusaki massa.

Suksesnya pilkada ini secara nyata disadari bahwa kontestasi Pilkada NTT 2020 merupakan salah satu pilkada yang sarat dengan politik identitas, utamanya identitas etnis dan religius.

Baca juga : Peran Sentral Partai Politik Dalam Pemilukada

Gelombang seruan untuk tidak memilih salah satu calon yang mempunyai perbedaan latar belakang suku, agama dan ras terus bergulir dan tak jarang berakhir pada ujaran kebencian, saling memfitnah satu sama lain.

Dan kabar buruknya luka yang dibawah politik identitas pada Pilkada NTT belum bisa sembuh, dan merambah ke mana-mana.

Politik yang sejatinya adalah sarana untuk menjunjung tinggi nilai demokrasi, mengokohkan solidaritas, meghargai perbedaan dalam masyarakat, malah dipandang oleh kelompok tertentu sebagai saran untuk meruntuhkan sesamanya.

Maka benar bahwa politik di NTT menciptakan¾dalam pengertian Carl Schmitt “antinomi kawan dan lawan”.Kubu-kubu yang terjun dalam politik dengan menyandang identitas kelompoknya, tanpa peduli memandang yang lain hanya sebagai lawan yang harus dihancurkan dengan cara apapun bahkan dengan kekerasan sekalipun.

Di NTT politik identitas bukan hanya marak saat masa pilkada. Politik identitas masa pasca-pilkada perlu juga diberi perhatian. Bahkan politik identitas pasca-pilkada menampilkan wajahnya yang serius.

Misalnya saja di kabupaten Malaka, TTU, Belu, ketika pemerintahan berlangsung, politik identitas menyata dalam sistem pembagian kekuasaan.

Kita menjumpai bahwa hampir seluruh bidang kekuasaan, baik itu dari yang paling rendah dalam hal ini kepala desa, camat, lurah sampai yang paling atas, begitu di dominasi oleh kekuasaan orang-orang yang hanya sehaluan politik atau mereka yang memiliki latar belakang kesamaan suku, agama, maupun ras.

Pembagian kekuasaan yang prinsipnya lebih memperhatikan integritas diri seseorang justru sebaliknya lebih menekankan pada kesamaan suku, ras, maupun agama atau mereka yang sehaluan politik saja.

Hal ini bisa bertendensi bagi penyalahgunaan kekuasaan oleh segelintir orang demi kepentingan kelompoknya sendiri. Pola pikir masyarakat yang picik dalam memahami pluralitas menjadi masalah yang cukup mendasar.

Baca juga : Konsep Kekuasaan Dalam Politik

Pada titik tertentu, kepicikan terhadap dimensi pluralitas dalam masyarakat NTT dapat mengakibatkan sense of plurality semakin memudar, sehingga publik dibuat lupa bahwa bumi NTT terdiri atas etnisitas, religius dan ras yang beragam, membuat sebagian besar masyarakat berperilaku intoleran pada kelompok yang tidak sehaluan politik.

Ditambah lagi dengan kurang kritisnya akal sehat, minimnya rasionalitas terhadap esensi politik dan maraknya sikap eksklusif yang berlebihan semakin membuka lebar jurang perbedaan dalam masyarakat.

Keadaan demikian sangat memungkinkan kelompok-kelompok tertentu menutup mata mereka dalam membangun mengacu pada teori Immanuel Kant tentang “Hospitalitas suatu sikap menyambut yang lain dalam keberlainannya, sikap terbuka terhadap pluralisme nilai-nilai, sehingga mengakibatkan terjadinya konflik-konflik dalam masyarakat dan juga konflik kepentingan.

Kita harus mengakui bahwa politik di NTT adalah suatu model politik yang masih jauh dari apa yang dimaksudkan oleh Kant di atas.

Sebab politik di wilayah NTT masih dipandang oleh kelompok-kelompok tertentu sebagai arena untuk berkompetisi secara tidak sehat demi tujuan-tujuan yang tidak sesuai dengan citra demokrasi itu sendiri.

#Upaya_memelihara autentisitas demokrasi dalam dinamika politik di Nusa Tenggara Timur NTT

Tentang Penulis: Ahmad Andrian F

Gambar Gravatar
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi keluhkesah.com