Upaya Memelihara Autentisitas Demokrasi Dalam Dinamika Politik Di NTT

oleh
upaya memelihara autentisitas demokrasi dalam dinamika politik
upaya memelihara autentisitas demokrasi dalam dinamika politik

Web portal pendidikan – Selamat siang sobat keluhkesah.com, kali ini saya akan memberikan ulasan opini yang berkaitan dengan dinamika politik. Judul yang di publish kali ini merupakan hasil tulisan dari saudara Yohanes Debrito dengan judul upaya memelihara autentisitas demokrasi dalam dinamika politik di Nusa Tenggara Timur (NTT). Berikut ulasannya.

Upaya Memelihara Autentisitas Demokrasi Dalam Dinamika Politik

upaya memelihara autentisitas demokrasi dalam dinamika politik
upaya memelihara autentisitas demokrasi dalam dinamika politik

Di Indonesia politik serupa horor bagi rakyat. Masa kelam, ketika rezim orde lama dan orde baru mengibarkan bendera kekuasaan total yang bernaung di bawah kemah sistem otoriter dan suatu nasionalisme kaku, membuka kembali memori kita akan kenangan mencekam situasi politik di Indonesia.

Kita mengharapkan hembusan angin segar di era politik pasca-orde baru yaitu zaman reformasi. Alhasil, di luar dugaan, badai justru mengamuk ingin meruntuhkan demokrasi Indonesia.

Menyetir ungkapan O’Donnell dan Schimitter, kurang lebih zaman reformasi membawa sistem politik Indonesia memasuki fase baru “transisi dari otoritarianisme entah menuju ke mana”.

Salah satu badai zaman pasca-orde baru paling mencolok bangkit dari kubu-kubu yang menyandang identitas-identitas kolektif bukan hanya dari segi religius, melainkan juga suku, ras, golongan atau kategori-kategori kolektif lainnya yang ingin memaksakan kebenaran partikularnya di dalam wilayah politik Indonesia dengan motif/intensi yang sama sekali berada diluar telos dari das sein politik Indonesia. Disini muncul apa yang disebut politik identitas.  

Sementara itu, secara khusus bumi NTT memiliki wajah politik yang coraknya tidak jauh berbeda dari politik Indonesia yaitu adanya politik identitas.

Politik identitas dapat didefinisikan sebagai tindakan politik yang mengedepankan kepentingan-kepentingan anggota suatu kelompok karena memiliki kesamaan identitas atau karakteristik, baik yang berbasiskan pada ras, etnisitas, maupun keagamaan.

Di NTT, politik identitas menjadi salah satu sisi yang seringkali diabaikan dalam masyarakat, tetapi secara tidak sadar justru dapat memicu konflik, dalam hal ini bisa memicu terjadinya konflik kepentingan dan juga ambivalensi politik.

Karena politik identitas itu prinsipnya hanya tunduk pada kepentingan-kepentingan kelompoknya, sementara menentang apa yang menjadi das sein politik itu sendiri. Praktek politik seperti ini tentunya menjadikan autentisitas demokrasi tercela, merusak solidaritas, melukai persatuan dan rasa keadilan.

Terkesan demokrasi kita hanyalah sebuah pseudo democracy (demokrasi semu),sebab demokrasi dijadikan oleh kubu-kubu yang berpolitik hanya sebagai locus demi tujuan-tujuan di luar dari cita-cita demokrasi.

Situasi turbulensi politik NTT seperti ini menciptakan kekacauan dalam masyarakat, karena politik telah direduksi menjadi sarana kepentingan kelompoknya sementara mengabaikan kepentingan umum.

Menyikapi situasi demikian, maka kita membutuhkan perubahan dan tentunya membutuhkan juga agen perubahan.

Kita menyoroti kaum intelektual (dalam hal ini adalah para mahasiswa NTT) sebagai agen perubahan yang mampu membongkar paradigma politik NTT dengan membawa kubu-kubu yang condong berpolitik menyandang identitas-identitas kolektifnya mengacu pada kosa kata Jürgen Habermas “diskursus publik”,yaitu :

“suatu dialog tanpa dominasi untuk menemukan bahasa saling pengertian demi tercapainya cita-cita demokrasi. Dengan demikian dalam kosa kata penulis membunuh politik identitas, sebagai upaya memelihara autentisitas demokrasi dalam dinamika politik di NTT.”

#upaya_memelihara autentisitas demokrasi dalam dinamika politik di Nusa Tenggara Timur NTT

Tentang Penulis: Ahmad Andrian F

Gambar Gravatar
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi keluhkesah.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *