Web portal pendidikan – Cerpen kali ini berjudul Luna adalah tumbal, yang dikirimkan oleh salah satu peserta dalam ajang lomba cerpen nasional bersama belapendidikan.com. Untuk lebih lengkapnya dapat kita lihat sebagai berikut.

Cerpen : Luna Adalah Tumbal (Bagian Pertama)

Suasana yang sama, kegelapan yang sama, dan ketakutan yang sama.
Alkisah sebuah dongeng, ada seorang putri kecil. Putri kecil yang telah termakan oleh keluguannya sendiri.

Tak seperti rentetan kisah dongeng pada umumnya, putri kecil tak kenal siang dan malam. Tak kenal raja, ratu, pangeran, atau putri. Tak kenal istana. Pun tak kenal pada alam bebas yang sesungguhnya. Namun, ia kenal kegelapan, seorang penyihir dan tumbal, kurungan, serta alam yang dipenjara oleh massa pada satu tempat.

Makanannya hanya segelas teh rosela dan beberapa butir apel per hari. Kebiasaannya hanya tidur dan membaca buku-buku dongeng—meski penalarannya terlalu kikuk untuk memahami sebagian cerita yang terlalu rumit. Karena ia tahu, dirinya adalah tumbal milik penyihir, bukan seorang putri raja.

Namanya Luna. Athala Luna. Hidupnya penuh kesukaran akan kebebasan. Seluruh hidupnya berprinsip sebagai pembaktiannya kepada sang penyihir. Hanya berbakti, tak pernah kenal bahagia.

Suasana yang sama, kegelapan yang sama.
Dan ketakutan yang sama….
Athala Luna, seluruh kebebasannya terkekang oleh sangkar yang ditutupi sulur-sulur tanaman mawar hitam yang tumbuh di sekitarnya. Sebuah pelita di dalam sangkar pun tak cukup menerangi seisi ruangan dalam sangkar.

Namun, Luna yang pintar menebak jarak aman bisa mengetahui letak ranjang, rak buku, beserta meja dan kursi tempat ia biasa meminum teh di dalam gelapnya sangkar.

Terkadang, Luna bisa mencium aroma tajam di balik sangkar. Aroma tersebut memberi isyarat kepada Luna mengenai kematangan ramuan sihir yang dibuat oleh sang penyihir. Dan itu pertanda buruk baginya.

“Tuan Penyihir,” seru Luna di dalam sangkar.
Penyihir muda yang sibuk mengaduk-aduk ramuannya itu menoleh ke arah sangkar kurungan Luna, tumbal miliknya yang spesial.
“Tidurlah, Luna. Sebentar lagi ramuannya selesai,” sahut penyihir yang tahu firasat Luna melalui instingnya.
Luna takut….

Luna diam sesaat. Jari-jarinya mencengkeram selimut hitam di ranjangnya. Ia tidak mau tidur. Karena tidur adalah kengeriannya. Kengeriannya adalah ketika setengah darahnya habis diembat oleh roh penyihir. Kengerian ini yang biasa disebut Luna sebagai “mimpi buruk”.

“Tuan Penyihir… tidak takut Tuhan?”
Luna tak bisa diam ketika rasa takutnya membekap keberaniannya. Ia terus dihantui oleh rasa sakit yang luar biasa ketika tubuhnya sedang dirasuki oleh sang penyihir. Kejadian yang terus dialami Luna setiap hari. Namun, Luna tak berani protes karena ia masih percaya akan Tuhan yang benci dengan sihir.

“Aku takut dengan Tuhan. Tetapi, wujud sihirku tidak memiliki arti kalau aku berani dengan Tuhan. Tuhan benci dengan sihir yang memakai bintang, bukan darah tumbal,” celoteh penyihir membela dirinya.

Luna tak bisa berkata-kata lagi. Tubuhnya terebah di ranjang sampai ia terlelap dalam bekapan selimut dan mimpinya di pulau kapuk. Hingga pukul 12 malam, teriakan Luna memekik keras. Mimpi buruknya terjadi.

Roh penyihir yang sempat keluar dari jasadnya setelah meminum segelas ramuan sihir, merasuki Luna dan menyantap lezat setengah darah tubuh Luna seraya bergumam pelan, sedikit lagi kekuatan sihirku akan mengembang kuat untuk menghancurkan kerajaan Athala.

Cerpen : Luna Adalah Tumbal (Bagian Kedua)

“Luna.”
Seberkas cahaya menelusuri segala warna gelap dari dalam sangkar. Termasuk Luna yang terbaring lemah di ranjang dengan bantal bulu angsa hitam yang empuk. Dari reaksi itu, Luna tahu kalau penyihir menyibak sebagian sulur mawar hitam dari sangkar.

Seketika kegelapan kembali dengan meninggalkan beberapa butir apel dan satu gelas teh rosela di pinggir sangkar. Luna melirik sedikit ke sesaji itu dengan tampang tak tertarik.
“Luna, makanlah itu. Cukuplah untuk menambah darahmu yang sedang rendah.”

Di atas ranjang, Luna bisa menebak kalau ia sedang lemah tak berdaya. Setiap waktu ia hanya terus berbaring. Merengkuh selimutnya erat, hingga tubuh Luna seperti kehilangan respon dari saraf-saraf pusat ketika kehilangan banyak darah. Degup jantungnya perlahan bisa didengarnya. Napas yang pendek, serta keluhannya menahan dingin.

“Luna tidak lapar,” sahut Luna menolak, seraya memandangi sesaji yang diberikan penyihir tadi dengan pandangan berkunang-kunang.

Di balik sangkar, Luna tahu penyihir mungkin gusar mendengarnya. Suaranya terdengar jelas. Jelas sekali. Mungkinkah ia masih punya tenaga di balik lemahnya akibat anemia? Dari alasan ini, Luna bisa dihukum mati oleh penyihir.

Sayup-sayup terdengar pintu sangkar dibuka. Sulur-sulur tanaman mawar hitam tersibak beraturan dengan telapak tangan yang kokoh menggenggamnya. Pakaian jubah hitam menyembunyikan sosok seorang pria dengan tafsiran yang kuat kalau ia adalah seorang penyihir muda.

Ia mengambil sesaji yang sempat ia letakkan di pinggir sangkar, lalu ia letakkan di meja yang bersebelahan dengan ranjang Luna. Aura seram menggelitik seluruh badan Luna hingga tubuhnya bergetar hebat.

Luna tak mengubah posisi baringnya ketika menghadap penyihir. Jari-jari tangan penyihir mengangkat sedikit dagu Luna, jempolnya meraba-raba bibir Luna yang seketika bergetar dan kemudian disadari olehnya.

“Ternyata bibir sekering ini masih bisa menyahut dengan suara yang terdengar jelas? Athala Luna, mengaku saja jika kau ketakutan.”

Luna hanya mematung. Bagai dipelintir rantai, ia tak bisa lepas dari jeratan penyihir yang membuatnya terkekang akan ketakutan yang luar biasa. Tuan penyihir benar, Luna takut.

“Lu… Luna…” Perkataan Luna terputus ketika jari telunjuk penyihir menyentuh bibir Luna—memberi isyarat pada Luna untuk diam. Telapak tangan kanan Luna terus digenggam-nya sejak tadi. Tangan kirinya menggerak-gerakkan sesuatu, seperti sedang mengaktifkan sihirnya. Apel-apel sesaji terpecah-pecah dengan sendirinya ketika apel-apel itu digenggam penyihir. Dengan apel-apel yan sudah terpecah belah, Luna akan lebih mudah dirayu untuk makan.

Awalnya Luna enggan ketika sepotong kecil apel disodorkan penyihir. Namun, teringat akan suatu hal yang membuatnya takut akan kejadian semalam, Luna terpaksa makan dengan tampang seperti orang yang sedang sakit parah. Terlalu parah.
“Makanlah lebih banyak lagi.”

Isi mulut Luna terlalu penuh. Terlalu sering dipaksakan agar ia bisa berpura-pura seperti orang yang rakus akan makanan.
“Sepertinya tubuhmu terlalu lemah. Untuk hari ini berbaringlah terus di ranjang, tak perlu banyak bergerak.”

Seketika suasana lengang. Penyihir telah pergi. Luna terus mengunyah isi mulutnya yang penuh. Samar-samar, ia mendengar deru-deru langkah kaki yang terasa asing. Bayang-bayang sosok kucing menampakkan diri di hadapan Luna.

“Menyanyilah! Ucapkan kalau kau menginginkan kebebasan. Itu adalah kunci pembuka pintu sangkar.”

Cerpen : Luna Adalah Tumbal (Bagian Ketiga)

Satu jam Luna tertidur, cahaya matahari terpancar hingga menempuh kulit pipi Luna yang sensitif terhadap suhu panas. Sontak, ia terbangun. Luna termangu sesaat.
“Luna ada di mana?” tanyanya bingung. Tanpa sadar, ia berada di sebuah ranjang—entah milik siapa. Telapak tangannya ditusuki oleh jarum dengan pangkalnya yang terpasang selanng yang mengalirkan darah.

Darah?!
Ruangan yang terselimuti warna putih membekas di mata Luna yang merespon dengan dugaan kalau ia sedang berada di dunia lain.

“Kau sudah bangun?”
Suara yang asing tertangkap basah di telinga Luna. Sosok pria dewasa semampai berdiri tegak di hadapan Luna dengan senyum merekah.

“Luna ada di mana?”
Pria itu duduk di sebelah ranjang Luna dengan tangan besarnya yang sedang mengelus kepala Luna. Ia berkata, “Nama Kakak Ardian. Kakak menemukan Luna sedang tidur di pohon.”

“Kebetulan kakak sedang menulis dongeng yang ternyata secara tidak disengaja namamu kakak tulis sebagai tokoh utama. Mau kakak bacakan ceritanya?” tawar Ardian di balik diamnya Luna yang sedang melamun.
Sontak Luna mengangguk.

“Alkisah di kastil penyihir, hiduplah seorang penyihir muda. Ia menculik seorang putri kecil dari Kerajaan Athala untuk dijadikan sebagai sumber kekuatan sihirnya. Nama putri kecil itu adalah Luna. Athala Luna.”

“Luna adalah seorang tumbal milik penyihir.”
Deg!
Degup jantung Luna terdengar keras. Tubuh ringkihnya seketika lemas ketika mendengar dongeng yang diceritakan ialah kisah Luna sendiri. Ia terus bertahan mendengar cerita Ardian hingga ketika mencapai akhir cerita….

“Ketika Luna dihukum sang penyihir akibat tidak menjaga pembaktiannya, seorang Pangeran Kerajaan Athala, Pangeran Luzel, menyelamatkan Luna dari sebuah ketakutannya yang ternyata tidak kekal.”

Cerpen : Luna Adalah Tumbal (Bagian Keempat)

Kisah Luna sendiri ternyata ditulis oleh seorang pendongeng bernama Ardian. Dunia dongeng yang sekarang diinjaknya, wujud dirinya, namanya, serta ketakutannya adalah hasil tulisan dari seorang pria bernama Ardian. Ardian adalah tuhan dari kisahnya!

Ketika sadar, Luna sudah berada di ranjang dalam sangkar. Ia kira kejadian mengenai Ardian adalah mimpi semata. Namun, ketika tangannya merasa sakit bekas ditusuk oleh jarum yang mengalirkan darah, Luna sadar itu bukan mimpi.

“Siapa yang membawa Luna kembali?” tanya Luna sambil mencoba menggerakkan tubuhnya yang ringkih.
“Luna, aku yang membawamu kemari.”
Luna sempat kaget. Ia merasa ada sosok yang memasuki tubuhnya. Sekejap kemudian, ia ketakutan.
“Tuan Penyihir…?”

“Ini aku, dalam wujud roh. Darahmu sudah tercampur oleh darah orang lain. Kau sudah melanggar pembaktianmu kepadaku sebagai seorang tumbal.”

Detak demi detak, jantung Luna berdegup kencang. Tubuhnya kembali lemas menahan kengerian yang harusnya tak terjadi apabila bayang-bayang sosok kucing putih tidak menyuruhnya untuk menyanyi yang bermakna harapan untuk bisa melihat alam bebas.

“Kau pantas diberi hukuman!”
“Tidaaak! Luna takut….”
Tercerai berailah air mata Luna hingga sebelum mencapai akhir hayat hidupnya…
“Terkutuk kau, penyihir Naresh!”

Luna belum mati.
“Putri Luna sudah siuman!”
Perlahan mata Luna menangkap sedikit cahaya yang menembus matanya. Perlahan, ia perhatikan segala lingkup tempat ia berada sekarang. Ranjang mewah, ruangan yang besar. Dunia lainkah ini?

Bukan, bukan dunia kak Ardian, batin Luna tertahan.
Terdengar banyak sorak-sorai mengisi suasana tempat Luna berbaring. Tangkapan pertama dari mata Luna, seorang pria—lebih tepatnya pangeran—berlari kencang meng-hampiri Luna yang terbaring lemah di ranjang.

“Luna adikku! Athala Luna, kau adikku bukan? Kau kenal kakak, ‘kan?”
Seketika senyum Luna terpancar di balik raut wajahnya yang pucat. Ia tahu, Pangeran Luzel namanya.

Luna tahu, segala kisahnya pernah diceritakan langsung oleh penulis kisah-nya di dunia lain. Sebuah kisah dengan akhir yang bahagia.
Dalam dongeng Ardian, seorang putri kecil bernama Luna diceritakan sebagai tumbal Penyihir Naresh.

Tamat ….

Cerpen ini ditulis oleh Haliza Putri Zahrani kamu juga bisa menulis karyamu di belapendidikan, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah setiap bulannya, Daftar Sekarang

Ahmad Andrian F
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi keluhkesah.com