Web Portal Pendidikan – Selamat siang sob, kali ini saya akan posting artikel tentang karakter pemimpin ideal dalam islam. Bagaimana sih karakter yang ideal itu menurut pandangan islam ? Berikut akan kami jelaskan dalam artikel ini.

Karakter Pemimpin Ideal Dalam Islam

Kepemimpinan dalam Islam memegang peranan penting. Bahkan Imam al-Ghazali menyebut, Islam dan kepemimpinan yang mewujud dalam bentuk kekuasaan semacam dua saudara kembar.

Islam menjadi pondasi kehidupan, sedangkan kepemimpinan, dengan kekuasaan yang ada di dalamnya, ibarat penjaga (pengawal)-nya. tanpa kekuasaan, Islam bakal lenyap. Begitulah peranan penting kekuasaan dengan kepemimpinannya dalam Islam.

Tujuh Syarat Pemimpin

Secara spesifik, pemimpin negara penguasa dalam Islam harus mempunyai tujuh kriteria yang harus terpenuhi: Muslim, laki-laki, baligh, berakal, adil, merdeka dan mampu. Ketujuh kriteria ini adalah syarat utama bagi penguasa.

Pasalnya, ketujuh kriteria ini telah ditetapkan oleh dalil syariah sebagai kriteria yang harus dimiliki seorang pemimpin. Apabila salah satu dari ketujuh kriteria ini tak ada, maka kepemimpinan dengan cara syar’i dinyatakan tak sah.

Islam menetapkan kriteria Muslim sebab al-Quran dengan tegas telah melarang kaum Muslim untuk memberi jalan terhadap orang kafir untuk menguasai mereka (QS an-Nisa’ [4]: 141). Walaupun QS an-Nisa’ [4] ayat 141 ini berupa kalimat kabar, penafian oleh Allah SWT dengan cara permanen (nafyu at-ta’bîd) di dalamnya sekaligus menjadi indikasi adanya larangan tegas.

Tidak hanya itu, supaya kalimat kabar tersebut terbukti adanya, penafsiran permanen yang dikabarkan di dalamnya harus diwujudkan. Dengan begitu dapat dipahami, bahwa ayat ini dengan tegas melarang orang kafir untuk memimpin kaum Muslim.

Pemimpin negara juga harus laki-laki, haram perempuan menjadi penguasa. Nabi saw. pun menafsir kan dengan cara permanen keberuntungan sebuah kaum apabila mereka dipimpin oleh perempuan. Rasul saw. bersabda,

“Lan yufliha qawm[un] wallaw amrahum imra`at[an]”

(Tidak akan beruntung sebuah kaum yang menyerahkan urusan pemerintahan mereka terhadap perempuan.” (HR al-Bukhari dari Abi Bakrah). Penafian permanen ini juga bermakna sama, yakni larangan tegas menjadikan kaum perempuan sebagai penguasa.

Adapun terkait kriteria baligh dan berakal, dengan tegas Nabi muhammad saw. menyebut kan bahwa keduanya adalah syarat taklif. Syarat taklif ini adalah syarat sah dan tidaknya tasharruf (tindakan hukum), baik dengan cara lisan (qawli) maupun verbal (fi’li).

Apabila perbuatan hukumnya tidak sah, maka dirinya lebih tidak pantas lagi untuk menjadi pemimpin yang mengurusi urusan orang yang tidak sedikit sebab dirinya tak mempunyai hak untuk melakukn perbuatan hukum (tasharruf).

Karakter Pemimpin Ideal Dalam Islam

Begitu juga dengan kriteria adil. Keadilan dipersyaratkan atas saksi, sebagaimana disebutkan dalam QS ath-Thalaq ayat 2. Dalam faktor ini, pemimpin negara lebih agung, lebih berat dan lebih dari sekadar saksi. Pasti syarat adil ini lebih pantas disematkan terhadap penguasa.

Merdeka dan sanggup juga adalah kriteria yang utama harus dipenuhi seorang pemimpin negara. Orang yang menjadi budak tak dapat melakukan perbuatan hukum dengan cara independen.

Apabila orang itu tak dapat bertindak independen, bagaimana mungkin dirinya diserahi untuk melakkukan perbuatan mengurusi urusan masyarakat. Perbuatan dan kehendaknya bakal tergadai terhadap pihak yang mengendalikan dirinya.

Tidak lebih faktor yang sama juga terjadi pada orang yang dipenjara, dan disandera atau dikendalikan oleh pihak lain; baik oleh negara asing, kroni, cukong maupun parpol pendukungnya.

Orang semacam itu pada hakikatnya tak merdeka dengan cara penuh sebab perbuatan hukumnya tak independen. Pemimpin ataupun penguasa semacam ini hanya menjadi “boneka” atau penyuplai pihak yang menyandera dirinya.

Pemimpin yang tersandera semacam itu mencerminkan pemimpin yang lemah. Padahal kekuatan kepemimpinan adalah kriteria yang sangat penting. Ketika Abu Dzar meminta mandat kepemimpinan, Nabi saw. menolak sambil memberi nasihat:

“يَا أَبَا ذَرّ إِنَّك ضَعِيف، وَإِنَّهَا أَمَانَة، وَإِنَّهَا يَوْم الْقِيَامَة خِزْي وَنَدَامَة إِلَّا مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيهَا”

Abu Dzar, sungguh engkau lemah, sementara jabatan dan kekuasaan itu adalah mandat dan dapat menjadi kesesatan dan penyesalan pada Hari Kiamat; kecuali bagi orang yang mengambil mandat kekuasaan itu dengan benar dan menunaikan keharusannya di dalamnya.” (HR Muslim).

Karakter pemimpin Ideal dalam islam

Selain ketujuh kriteria atau karakter yang harus diketahui itu, syariah juga menunjukkan sejumlah karakter ideal seorang pemimpin. Imam al-Mawardi di dalam al-Ahkâm as-Sulthâniyah menyebutkan enam karakter yang harus ada pada diri pemimpin yaitu:

  • berperilakku adil,
  • mempunyai ilmu untuk mengambil keputusan
  • indera yang sehat (terutama alat dengar, menonton dan alat bicara),
  • sehat dengan cara fisik dan tak cacat,
  • peduli terhadap beberapa persoalan, dan
  • tegas dan percaya diri.

Pemimpin itu juga bukanlah sosok pemburu jabatan, bukan orang yang gila jabatan dan menghalalkan segala cara cara untuk meraih jabatan. Di dalam pesan Nabi muhammad saw. terhadap Abu Dzar di atas disebutkan, “illâ man akhadzahâ bi haqqihâ… (kecuali orang yang mengambil mandat kekuasaan itu dengan benar…).”

Baca juga sob : Pemimpin yang baik Menurut Mas Hafiz

Orang yang menyuap sejumlah pihak supaya ia dipilih, menebarkan hoax, menjelek-jelekkan orang lain, melakukan intimidasi, memakai aparatur, iming-iming dalam beberapa bentuk dan segala cara cara lainnya, supaya dapat menjadi penguasa justru menunjukan dirinya tak pantas menjadi pemimpin.

Pemimpin semacam ini sangat mungkin menipu dan mengkhianati rakyatnya. Padahal Nabi muhammad saw. telah mencela pemimpin yang menipu dan mengkhianati rakyatnya:

« لِكُلِّ غَادِرٍ لِوَاءٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرْفَعُ لَهُ بِقَدْرِ غَدْرِهِ أَلاَ وَلاَ غَادِرَ أَعْظَمُ غَدْرًا مِنْ أَمِيرِ عَامَّةٍ »

Setiap pengkhianat diberi panji pada Hari Kiamat yang diangkat sesuai kadar pengkhianatannya. Ketahuilah, tak ada pengkhianat yang lebih besar pengkhianatannya daripada pemimpin masyarakat (penguasa) (HR Muslim, Ahmad, Abu ‘Awanah dan Abu Ya’la).

Al-Qadhi Iyadh menyebutkan bahwa ini adalah larangan bagi penguasa untuk berkhianat terhadap rakyatnya. Seseorang yang diangkat menjadi pemimpin negara adalah untuk ri’ayah syu`un ar-ra’iyyah (mengurusi urusan rakyat).

Karakter Pemimpin Ideal Dalam Islam

Ini tahap dari filosofi pelantikan seorang pemimpin dan penguasa. Sebab itu sekedar mengabaikan urusan rakyat meski tak berkhianat tetap berkurang kebaikannya. Nabi muhammad saw. memperingatkan:

« مَا مِنْ أَمِيرٍ يَلِى أَمْرَ الْمُسْلِمِينَ ثُمَّ لاَ يَجْهَدُ لَهُمْ وَيَنْصَحُ إِلاَّ لَمْ يَدْخُلْ مَعَهُمُ الْجَنَّةَ »

Tidaklah seorang pemimpin mengurusi urusan kaum Muslim, lalu dirinya tak bersungguh-sungguh mengurus urusan mereka dan tak menasihati mereka, kecuali dirinya tak dapat masuk surga bersama mereka (HR Muslim).

Pemimpin yang sikap dan komentarnya terkesan menggampangkan urusan rakyat, tak peduli terhadap hidup rakyat, tak berempati terhadap rakyat, bahkan menyalahkan rakyat, tergolong pemimpin yang masuk dalam ancaman tersebut. Apalagi apabila pemimpin dengan sengaja tanpa rasa bersalah membuat suatu kebijakan-kebijakan yang menyusahkan rakyat, pasti ancamannya lebih besar lagi. Pemimpin semacam ini bahkan didoakan dengan doa yang kurang baik oleh Nabi muhammad saw.:

«للَّهُمَّ مَنْ وَلِىَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِى شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ»

Ya Allah, siapa saja yang megurusi urusan umatku lalu menyusahkan mereka, maka sulitkan dirinya (HR Muslim dan Ahmad).

Pemimpin yang baik itu sejatinya senantiasa melakukan suatu kebenaran dan melakukan semua urusan dan kemaslahatan rakyat menjadi lebih baik, bukan malah merusak rakyatnya. Di antara aktivitas merusak rakyat itu adalah mencari-cari kesalahan rakyat. Padahal Nabi saw. telah memperingatkan:

«إِنَّ الأَمِيرَ إِذَا ابْتَغَى الرِّيبَةَ فِى النَّاسِ أَفْسَدَهُمْ»

Seorang pemimpin, apabila mencurigai masyarakat, niscaya merusak mereka (HR Abu Dawud, al-Hakim).

Karakter Pemimpin Ideal Dalam Islam

Menurut asal mulanya Ali al-Qari dalam Mirqâh al-Mafâtîh, ungkapan di atas bermakna: pemimpin yang melemparkan tuduhan terhadap orang-orang dengan mencari-cari aib mereka dan memata-matai mereka dan menuduh mereka dengan mengorek-ngorek keadaan mereka, niscaya dirinya merusak mereka.

Tugas Pemimpin

Penting diingat bahwa penguasa dalam Islam diangkat untuk dua tugas utama: menerapkan syariah dan mengurus urusan rakyat. Tugas yang pertama pasti tak bakal dilakukan oleh seorang yang sekular-liberal, mengidap islam opkegemarana, apalagi kafir.

Tugas ini hanya mungkin ditunaikan oleh orang Mukmin yang bertakwa. Mukmin yang bertakwa sekaligus bakal menjamin terealisasinya kedua tugas itu.

Pemimpin yang memenuhi seluruh kriteria dan karakter di atas pasti bakal dicintai rakyatnya. Itulah sebaik-baik pemimpin, sebagaimana sabda Nabi muhammad saw.:

« خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ »

Pemimpin yang paling baik adalah pemimpin yang anda cintai dan dirinya mencintai kalian, juga yang anda doakan dan dirinya mendoakan kalian. Pemimpin yang kurang baik adalah yang anda benci dan dirinya membenci kalian, juga yang anda laknat dan dirinya melaknat anda (HR Muslim).

Ini adalah beberapa hal yang perlu kamu ketahui terkait masalah penistaan agama pada akhir akhir ini. Berikut penjelasannya.

Komentar al-Islam

  • MUI: KH Ma’ruf Amin Diperlakkukan Tidak lebih Manusiawi di Sidang Permasalahan Ahok (Republika.co.id, 31/1/2017).
  • Ulama adalah pewaris para nabi. Siapa saja yang merendahkan ulama sama saja dengan merendahkan para nabi.
  • KH Ma’ruf Amin bukan saja ceo MUI dan NU, namun sekaligus salah seorang pemimpin umat di negeri ini. Sebab itu pasti umat sepantasnya tersinggung dan marah saat ulamanya dinistakan.
  • Penistaan ulama hanya mungkin terjadi dalam sistem sekular-liberal. Sebab itu, saatnya sistem ini dikubur dan diganti dengan sistem Islam dalam institusi Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah.

Itulah penjelasan penjelasan dari karakter pemimpin ideal dalam islam. Kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan yang sebesar besarnya dari para pengunjung belapendidikan.com.

Ahmad Andrian F
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi keluhkesah.com