Guru dan Pendidikan Karakter di Era Digital

oleh -3.006 views
guru dan pendidikan karakter di era digital
guru dan pendidikan karakter di era digital

Peranan Guru Dalam Pendidikan Karakter di Era Digital

Kemajuan teknologi menyebabkan arus informasi dan globalisasi berkembang dengan cepat, mempengaruhi berbagai sendi kehidupan, bahkan telah mengikis nilai-nilai spritual, sehingga masyarakat kehilangan identitas diri serta terasing dari lingkungan dan nilai-nilai moral yang dianutnya.

Lembaga pendidikan kemudian dihadapkan pada masalah yang cukup serius. Di satu sisi pendidikan dituntut untuk membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, agar menjadi wahana untuk mengembangkan potensi peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Sedangkan di sisi yang lain, kondisi masyarakat yang sedang mengalami berbagai krisis dan media massa yang sering menayangkan berita serta program acara di televisi yang tidak sesuai dengan usia para peserta didik menjadi faktor penghambat terhadap pembentukan sumber daya manusia yang diharapkan.

Ternyata pendidikan Nasional sebagai wahana sosialisasi dan pembudayaan berbagi warisan budaya bangsa, nilai-nilai kebudayaan nasional dan nilai-nilai yang dituntut oleh masyarakat global yang dikuasai oleh ilmu pengetahuan dan persaingan global belum sepenuhnya terlaksana.

Pendidikan nasional juga belum sepenuhnya mampu mengembangkan manusia Indonesia yang religius, berakhlak, berwatak kesatria dan patriotik. Padahal nilai-nilai karakter yang baik sangat diperlukan sebagai filter dalam menerima informasi dan meminimalkan bahaya globalisasi yang sekarang nyata melanda putera-puteri penerus perjuangan bangsa.

Krisis moral dan kepercayaan makin memperparah keadaaan. Tidak banyak figur yang bisa dijadikan suri tauladan. Banyak pemimpin yang dipilih oleh rakyat kemudian menjadi penjahat berdasi putih, kasus korupsi dan tangkap tangan terjadi hampir setiap hari, merata di seluruh daerah di bumi Indonesia ini.

Sumber berita dari salah satu televisi swasta menyebutkan ada 77 Bupati di Indonesia selama tahun 2017 ini terjaring dalam operasi tangkap tangan untuk berbagai kasus suap.

Realita memberikan informasi nyata bukan hanya sekedar cerita jika saat ini Indonesia berada pada keadaan tanggap darurat narkoba, dan yang lebih serius lagi terjadi krisis kepercayaan dan moral.

Banyak berita memiriskan hati. Kerusuhan, demokrasi yang kebablasan, pemerkosaan, perampokan, penipuan, korupsi, kolusi dan nepotisme, lunturnya rasa kepedulian terhadap sesama, ayah kandung yang menghamili darah dagingnya sendiri, anak yang tega membunuh ayah kandungnya, anak yang membawa ibu kandungnya ke pengadilan karena kasus tertentu bahkan dari pendidikan tersebar berita tentang kekerasan yang terjadi di sekolah. Guru memukul peserta didik, orang tua balik memukul guru.

Ditambah dengan banyaknya tayangan televisi yang tidak mendidik perkembangan anak-anak makin menunjukkan betapa negeri kita Indonesia darurat akan krisis moral dan jika hal ini terus dibiarkan maka suatu saat keragaman budaya baik di negeri ini akan benar-benar menjadi dongeng untuk generasi yang akan datang.

Data lain menunjukkan bahwa pendidikan di Indonesia menjadi negara yang mengedepankan kuantitas dibandingkan kualiatas.

Hal ini terlihat dari sedikitnya lulusan sekolah menengah atas yang dapat di terima pada perguruan tinggi negeri yang memiliki kualitas nomor satu, baik di dalam maupun luar negeri.

Kenyataan yang lain tingginya pengangguran di negara kita karena output pendidikannya tidak memenuhi kualifikasi pada lapangan kerja yang tersedia.

Pertanyaannya dimanakah pendidikan memainkan peran dan pengaruhnya sebagai jalan dalam menciptakan bangsa yang bermartabat? Bukankah seharusnya dunia pendidikan menjadi solusi dari persoalan bangsa ini?

Sekolah menjadi lembaga yang memikul tanggungjawab yang cukup berat dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan bermakna, membentuk karakter pesera didik agar tumbuh dan berkembang sesuai dengan jiwa pancasila, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Mungkinkah ada yang salah dengan konsep pendidikan kita? Presiden Republik Indonesia yang pertama, Bung Karno, menyatakan bahwa “ Bangsa ini harus dibangun dengan mendahulukan pembangunan karakter (character building).

Karena charakter building inilah yang akan membuat bangsa Indonesia menjadi besar, maju dan jaya, serta bermartabat. Jika charakter ini tidak dilakukan, bangsa Indonesia akan menjadi bangsa kuli”.

Senada dengan hal tersebut, saat deklarasi kemerdekaan Republik Indonesia di proklamirkan, telah disadari oleh para Proklamator kita tantangan yang harus dihadapi oleh bangsa ini.

Satu, mendirikan negara yang bersatu dan berdaulat, dua adalah membangun bangsa dan tiga, membangun karakter masyarakatnya. Dari ketiga hal tersebut, membangun bangsa dan karakternya membutuhkan waktu yang cukup panjang dan harus dilakukan terus menerus di sepanjang sejarah kebangsaan Indonesia.

Peranan guru menjadi sangat penting dalam upaya mencapai tujuan Pendidikan Nasional, sebab guru merupakan figur yang langsung bersentuhan dengan peserta didik sebagai pelanggan pendidikan yang paling utama.

Tentang Penulis: Ahmad Andrian F

Gambar Gravatar
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi keluhkesah.com