Jurnaliscun.com – Pada kesempatan kali ini saya ingin membuat suatu postingan artikel tentang edukasi, artikel yang ingin saya buat ini berjudul “Definisi Budaya” atau Pengertian Budaya. Artikel ini diharapkan menjadi sumber pengetahuan bagi yang belum tahu apa itu budaya. Baiklah simak ulasan Budaya menurut saya.

Definisi Dari Budaya
Pengertian Dari Budaya, Budaya Itu Apasih?

Budaya adalah sebuahtutorial nasib yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi.Budaya terbentuk dari tidak sedikit unsur yang rumit, tergolong sistem agama dan politik, budaya istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, adalah tahap tidak terpisahkan dari diri manusia jadi tidak sedikit orang cenderung menganggapnya diwariskan dengan cara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang tidak sama budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.

Budaya adalah sebuah pola nasib menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Tidak sedikit sudut budaya turut menentukan komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi tidak sedikit kegiatan sosial manusia.

Beberapa argumen mengapa orang mengalami kesusahan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terkesan dalam definisi budaya: Budaya adalah sebuahperangkat kompleks kualitas-kualitas yang dipolarisasikan oleh sebuah citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri.”Citra yang memaksa” itu mengambil bentuk-bentuk tidak sama dalam beberapa budaya semacam “individualisme kasar” di Amerika, “keselarasan individu dengan alam” di Jepang dan “kepatuhan kolektif” di Cina.

Citra budaya yang bersifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilsaya yang pantas dan menetapkan dunia makna dan kualitas logis yang bisa dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan nasib mereka.

Dengan demikian, budayalah yang menyediakan sebuahkerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilsaya orang lain.

Pengertian kebudayaan menurut Para Ahli

Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang tersedia dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.

Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic.

Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan arti kualitas sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan dan keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas sebuahmasyarakat.

Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, budaya istiadat, dan performa-performa lain yang didapat seseorang sebagai anak buah masyarakat.

Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.

Dari beberapa definisi tersebut, bisa diperoleh arti mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang bakal memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide alias gagasan yang tersedia dalam pikiran manusia, jadi dalam kenasiban sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.

Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilsaya dan benda-benda yang bersifat nyata, umpama pola-pola perilsaya, bahasa, peralatan nasib, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk menolong manusia dalam melangsungkan kenasiban bermasyarakat.

Wujud dan komponen

Wujud

Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas, dan artefak.

Gagasan (Wujud ideal)

Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, kualitas-kualitas, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak bisa diraba alias disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala alias di alam pemikiran warga masyarakat. Apabila masyarakat tersebut menyebutkan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.

Aktivitas (tindakan)

Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai sebuahperbuatan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini tidak jarang pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, dan berteman dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan budaya tata kelsayaan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kenasiban sehari-hari, dan bisa diamati dan didokumentasikan.

Artefak (karya)

Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, lakukanan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda alias hal-hal yang bisa diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret di antara ketiga wujud kebudayaan. Dalam kenyataan kenasiban bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah terhadap perbuatan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.

Komponen

Berdasarkan wujudnya tersebut, Budaya mempunyai beberapa elemen alias komponen, menurut pakar antropologi Cateora, yaitu :

Kebudayaan material

Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret. Tergolong dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari sebuahpenggalian arkeologi: mangkuk tanah liat, perhisalan, senjata, dan sesemakinnya. Kebudayaan material juga mencsayap barang-barang, semacam televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci.

Kebudayaan nonmaterial

Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi, umpama berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu alias tarian tradisional.

Lembaga social

Lembaga social dan pendidikan memberbagi peran yang tidak sedikit dalam kontek berhubungan dan berkomunikasi di alam masyarakat. Sistem social yang terbantuk dalam sebuahNegara bakal menjadi dasar dan konsep yang berlsaya pada tatanan social masyarakat. Contoh Di Indonesia pada kota dan desa dibeberapa wilayah, wanita tidak butuh sekolah yang tinggi apalagi bekerja pada satu instansi alias perusahaan. Tetapi di kota – kota besar faktor tersebut terbalik, wajar seorang wanita memiliki
karier.

Sistem kepercayaan

Bagaimana masyarakat mengembangkan dan membangun system kepercayaan alias keyakinan terhadap sesuatu, faktor ini bakal mempengaruhi system pekualitasan yang ada dalam masyarakat. Sistem keyakinan ini bakal mempengaruhi dalam kebiasaan, bagaimana memandang nasib dan kenasiban, tutorial mereka berkonsumsi, hingga dengan tutorial bagaimana berkomunikasi.

Estetika

Berhubungan dengan seni dan kesenian, music, cerita, dongeng, hikayat, drama dan tari –tarian, yang berlsaya dan berkembang dalam masyarakat. Semacam di Indonesia setiap masyarakatnya mempunyai kualitas estetika sendiri. Kualitas estetika ini butuh dipahami dalam segala peran, supaya pesan yang bakal kami hinggakan bisa mencapai tujuan dan manjur. Misalkan di beberapa wilayah dan bersifat kedaerah, setiap bakal membangu bagunan tipe apa saj wajib meletakan janur kuning dan buah – buahan, sebagai symbol yang arti disetiap derah tidak sama. Tetapi di kota besar semacam Jakarta jarang mungkin tidak terkesan masyarakatnya memakai tutorial tersebut.

Bahasa

Bahasa adalah alat pengatar dalam berkomunikasi, bahasa untuk setiap walayah, tahap dan Negara mempunyai perbedaan yang sangat komplek. Dalam ilmu komunikasi bahasa adalah komponen komunikasi yang susah dipahami. Bahasa mempunyai sidat unik dan komplek, yang hanya bisa dimengerti oleh pemakai bahasa tersebu. Jadi keunikan dan kekomplekan bahasa ini wajib dipelajari dan dipahami supaya komunikasi lebih baik dan manjur dengan memperoleh kualitas empati dan simpati dari orang lain.

Perubahan sosial budaya

Perubahan sosial budaya bisa terjadi bila sebuah kebudayaan melsayakan kontak dengan kebudayaan asing. Perubahan sosial budaya adalah sebuah gejala berubahnya struktur sosial dan pola budaya dalam sebuah masyarakat.

Perubahan sosial budaya adalah gejala umum yang terjadi sepanjang masa dalam setiap masyarakat. Perubahan itu terjadi sesuai dengan hakikat dan sifat dasar manusia yang rutin ingin mengadakan perubahan. Hirschman berbicara bahwa kebosanan manusia sebetulnya adalah penyebab dari perubahan.

Ada tiga faktor yang bisa memengaruhi perubahan sosial:

tekanan kerja dalam masyarakat
kemanjuran komunikasi
perubahan lingkungan alam.
Perubahan budaya juga bisa muncul dampak timbulnya perubahan lingkungan masyarakat,
penemuan baru, dan kontak dengan kebudayaan lain.

Sebagai contoh, beresnya zaman es berujung pada ditemukannya sistem pertanian, dan kemudian memancing inovasi-inovasi baru lainnya dalam kebudayaan.

Budaya alias kebudayaan berasal dari bahasaSansekerta yaitu buddhayah, yang adalah bentuk jamak dari buddhi, diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.

Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian, kualitas, norma, ilmupengetahuan,keseluruhan struktur sosial, religius, dan segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas sebuahmasyarakat.

Menurut Edward B. Tylor, kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, budaya istiadat, dan performa-performa lain.

Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi , Kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat

Dari beberapa definisi tersebut, bisa diperoleh kesimpulan :

Kebudayaan bakal mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide alias gagasan yang tersedia dalam pikiran manusia, jadi dalam kenasiban sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilsaya dan benda-benda yang bersifat nyata, umpama pola-pola perilsaya, bahasa, peralatan nasib, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk menolong manusia dalam melangsungkan kenasiban bermasyarakat.

Orientasi Kualitas Budaya

Kluckhohn   dalam   Pelly   (1994)   mengemukakan   bahwa   kualitas   budaya adalah sebuah konsep beruanglingkup  luas  yang  nasib  dalam  alam  fikiran setersanjungn besar warga sebuahmasyarakat, mengenai apa yang paling berharga dalam nasib. Rangkaian konsep itu satu sama lain saling berkaitan dan adalah sebuah sistem kualitas – kualitas budaya.

Secara  manfaatonal  sistem  kualitas  ini  mendorong  individu  untuk  berperilsaya semacam  apa yang  ditentukan.  Mereka  percaya,  bahwa  hanya  dengan  berperilsaya semacam itu mereka bakal sukses (Kahl, dalam Pelly:1994). Sistem kualitas itu menjadi pedoman yang melekat erat dengan cara emosional pada diri seseorang alias sekumpulan orang, malah adalah tujuan nasib yang di perjuangkan. Oleh sebab itu, mengubah sistem kualitas manusia tidaklah mudah, diperlukan waktu. Sebab, kualitas – kualitas tersebut adalah  wujud  ideal  dari  lingkungan  sosialnya.

Bisa  pula dikatakan  bahwa sistem   kualitas   budaya   sebuah  masyarakat   adalah   wujud   konsepsional   dari kebudayaan mereka, yang seolah – olah berada diluar dan di atas para individu warga masyarakat itu.

Ada lima persoalan pokok kenasiban manusia dalam setiap kebudayaan yang bisa ditemukan dengan cara universal. Menurut Kluckhohn dalam Pelly (1994) kelima persoalan pokok tersebut adalah: (1) persoalan hakekat nasib, (2) hakekat kerja alias karya manusia, (3) hakekat kedudukan manusia dalam ruang dan waktu, (4) hakekat hubungan manusia dengan alam kurang lebih, dan (5) hakekat dari hubungan manusia dengan manusia sesamanya.

Beberapa   kebudayaan   mengkonsepsikan   persoalan   universal   ini   dengan beberapa  variasi yang  tidak sama  –  beda.  Semacam  persoalan  pertama,  yaitu  mengenai hakekat nasib manusia. Dalam tidak sedikit kebudayaan yang dipengaruhi oleh agama Budha umpama, berpendapat nasib itu kurang baik dan menyedihkan. Oleh sebab itu pola kenasiban masyarakatnya berusaha untuk memadamkan nasib itu guna memperoleh   nirwana,   dan   mengenyampingkan   segala   perbuatan   yang   bisa meningkatkan rangkaian nasib kembali (samsara) (Koentjaraningrat, 1986:10). Pandangan  semacam  ini  sangat  mempengaruhi  wawasan  dan  makna  kenasiban  itu dengan cara keseluruhan. Sebaliknya tidak sedikit kebudayaan yang berpendapat bahwa nasib itu baik. Pasti konsep – konsep kebudayaan yang tidak sama ini berpengaruh pula pada sikap dan wawasan mereka.

Persoalan kedua mengenai hakekat kerja alias karya dalam kenasiban. Ada kebudayaan yang memandang bahwa kerja itu sebagai usaha untuk kelangsungan nasib (survive) semata. Kelompok ini tidak lebih berminat terhadap kerja keras. Bakal tetapi ada juga yang berpendapat kerja untuk memperoleh status, jabatan dan kehormatan. Tetapi, ada yang berpendapat bahwa kerja untuk mempertinggi prestasi. Mereka ini berorientasi terhadap prestasi bukan terhadap status.

Persoalan ketiga mengenai orientasi manusia terhadap waktu. Ada budaya yang memandang penting masa lampau, tetapi ada yang menonton masa saat ini sebagai focus usaha dalam perjuangannya. Sebaliknya ada yang jauh menonton kedepan. Pandangan yang tidak sama dalam dimensi waktu ini sangat mempengaruhi perencanaan nasib masyarakatnya.

Persoalan keempat berkaitan dengan kedudukan manfaatonal manusia terhadap alam. Ada yang percaya bahwa alam itu dahsyat dan mengenai kenasiban manusia. Sebaliknya ada yang berpendapat alam sebagai hidayah Tuhan Yang Maha Esa untuk dikuasai manusia. Bakal tetapi, ada juga kebudayaan ingin mencari harmoni dan keselarasan dengan alam. Tutorial pandang ini bakal berpengaruh terhadap pola aktivitas masyarakatnya.

Persoalan kelima menyangkut hubungan antar manusia. Dalam tidak sedikit kebudayaan hubungan ini tampak dalam bentuk orientasi berfikir, tutorial bermusyawarah, mengambil keputusan dan bertindak. Kebudayaan yang menekankan hubungan horizontal (koleteral) antar individu, cenderung untuk mementingkan hak azasi, kemerdekaan dan kemandirian semacam terkesan dalam masyarakat – masyarakat eligaterian. Sebaliknya kebudayaan yang menekankan hubungan vertical cenderung untuk mengembangkan orientasi keatas (kepada senioritas, penguasa alias pemimpin). Orientasi ini tidak sedikit tersedia dalam masyarakat paternalistic (kebapaan). Pasti saja pandangan ini sangat mempengaruhi proses dinamika dan mobilitas social masyarakatnya.

Inti perpersoalanan disini semacam yang dikemukakan oleh Manan dalam Pelly (1994) adalah siapa yang wajib mengambil keputusan. Sebaiknya dalam system hubungan vertical keputusan dibangun oleh atasan (senior) untuk semua orang. Tetapi dalam  masyarakat  yang  mementingkan  kemandirian  individual,  maka  keputusan dibangun dan diarahkan terhadap masing – masing individu.

Pola orientasi kualitas budaya yang hitam putih tersebut di atas adalah pola yang ideal untuk masing – masing pihak. Dalam kenyataannya tersedia nuansa alias variasi  antara kedua pola yang ekstrim  itu yang bisa disebut sebagai pola transisional. Kerangka Kluckhohn mengenai lima persoalan dasar dalam nasib yang menentukan orientasi kualitas budaya manusia bisa dilihat pada Tabel 1.

Meskipun tutorial mengkonsepsikan lima persoalan pokok dalam kenasiban manusia yang universal itu sebagaimana yang tersebut diatas tidak sama – beda untuk tiap masyarakat dan kebudayaan, tetapi dalam tiap lingkungan masyarakat dan kebudayaan tersebut lima faktor tersebut di atas rutin ada.

Sementara itu Koentjaraningrat telah menerapkan kerangka Kluckhohn di atas untuk menganalisis persoalan kualitas budaya bangsa Indonesia, dan menunjukkan titik – titik kelemahan dari kebudayaan Indonesia yang menghambat pembangunan nasional. Kelemahan mutlak antara lain mentalitas meremehkan mutu, mentalitas suka menerabas, sifat tidak percaya terhadap diri sendiri, sifat tidak berdisiplin murni, mentalitas suka melalaikan tanggungjawab.

Kerangka Kluckhohn itu juga telah dipergunakan dalam penelitian dengan kuesioner untuk mengenal dengan cara objektif tutorial berfikir dan bertindak suku – suku di Indonesia umumnya yang menguntungkan dan memenyesalkan pembangunan.

Selain itu juga, penelitian variasi orientasi kualitas budaya tersebut dimaksudkan disamping untuk memperoleh fotoan sistem kualitas budaya kelompok – kelompok etnik di Indonesia, tetapi juga untuk menelusuri sejauhmana kelompok masyarakat itu mempunyai system orientasi kualitas budaya yang sesuai dan menopang pelaksanaan pembangunan nasional.

HUBUNGAN MANUSIA DAN KEBUDAYAAN

Dalam hubungannya dengan lingkungan, manusia adalah sebuahoganisme nasib (living organism). Terbentuknya pribadi seseorang dipengaruhi oleh lingkungan bahkan dengan cara ekstrim bisa dikatakan, setiap orang berasal dari satu lingkungan, baik lingkungan vertikal (genetika, tradisi), horizontal (geografik, fisik, sosial), maupun kesejarahan. Tatkala seoang bayi lahir, ia merasakan perbedaan suhu dan kehilangan energi, dan oleh kaena itu ia menangis, menuntut supaya perbedaan itu bertidak lebih dan kehilangan itu tergantikan.

Dari sana muncul asumsi dasar bahwa setiap manusia dianugerahi kepekaan (sense) untuk membedakan (sense of discrimination) dan keinginan untuk nasib. Untuk bisa nasib, ia membutuhkan sesuatu. Alat untuk memenuhi kebutuhan itu berasal dari lingkungan.

Manusia dan kebudayaan adalah salah satu ikatan yang tidak bisa dipisahkan dalam kenasiban ini. Manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna menciptakan kebudayaan mereka sendiri dan melestarikannya dengan cara turun menurun. Budaya tercipta dari kegiatan sehari hari dan juga dari kejadian – kejadian yang telah diatur oleh Yang Maha Kuasa.

Kebudayaan berasal dari kata budaya yang berarti hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Definisi Kebudyaan itu sendiri adalah sesuatu yang bakal mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide alias gagasan yang tersedia dalam pikiran manusia, jadi dalam kenasiban sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Tetapi kebudayaan juga bisa kami nikmati dengan panca indera kita. Lagu, tari, dan bahasa adalah salah satu bentuk kebudayaan yang bisa kami rasakan.

Manusia dan kebudayaan pada hakekatnya mempunyai hubungan yang sangat erat, dan hampir semua perbuatan dari seorang manusia itu adalah adalah kebudayaan. Manusia mempunyai empat kedudukan terhadap kebudayaan yaitu sebagai
1) penganut kebudayaan,
2) pembawa kebudayaan,
3) manipulator kebudayaan, dan
4) pencipta kebudayaan.

Sebuah kebudayaan besar biasanya mempunyai sub-kebudayaan (atau biasa disebut sub-kultur), yaitu sebuah kebudayaan yang mempunyai sedikit perbedaan dalam faktor perilsaya dan kepercayaan dari kebudayaan induknya. Munculnya sub-kultur dikarenakan oleh beberapa hal, diantaranya sebab perbedaan umur, ras, etnisitas, kelas, aesthetik, agama, pekerjaan, pandangan politik dan gender,
Ada beberapa tutorial yang dilsayakan masyarakat ketika berhadapan dengan imigran dan kebudayaan yang tidak sama dengan kebudayaan asli. Tutorial yang dipilih masyarakat tergantung pada seberapa besar perbedaan kebudayaan induk dengan kebudayaan minoritas, seberapa tidak sedikit imigran yang datang, watak dari penduduk asli, kemanjuran dan keintensifan komunikasi antar budaya, dan tipe pemerintahan yang berkuasa.

Monokulturalisme: Pemerintah mengusahakan terjadinya asimilaSi kebudayaan jadi masyarakat yang tidak sama kebudayaan menjadi satu dan saling bekerja sama.
Leitkultur (kebudayaan inti): Sebuah model yang dikembangkan oleh Bassam Tibi di Jerman. Dalam Leitkultur, kelompok minoritas bisa menjaga dan mengembangkan kebudayaannya sendiri, tanpa bermengenaian dengan kebudayaan induk yang ada dalam masyarakat asli.
Melting Pot: Kebudayaan imigran/asing berbaur dan bergabung dengan kebudayaan orisinil tanpa campur tangan pemerintah.
Multikulturalisme: Sebuah kebijakan yang mengwajibkan imigran dan kelompok minoritas untuk menjaga kebudayaan mereka masing-masing dan berinteraksi dengan cara damai dengan kebudayaan induk.

Terima kasih sudah membaca artikel kami yang berjudul “Definisi Budaya” Artikel ini diharapkan mampu mendorong keingintahuan pengunjung internet dengan mengetahui apa itu budaya, sebagai bahan belajar juga buat yang belum tahu apa itu budaya. Artikel lainnya akan saya ulas kembali lain waktu.

Ahmad Andrian F
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi keluhkesah.com