Web portal pendidikan – Cerpen kali ini berjudul Tuhan tahu yang Aku Mau, yang dikirimkan oleh salah satu peserta dalam ajang lomba cerpen nasional bersama belapendidikan.com. Untuk lebih lengkapnya dapat kita lihat sebagai berikut.

Cerpen : Tuhan Tahu Yang Aku Mau (Bagian Pertama)

Tik-tik…suara jam dinding berdetik dan terdengar begitu jelas di telingaku. Sepintas aku tatap jam dinding disampingku, tepat tertuju pada pukul 16.25 WIB, di sore yang mengundang malam ini, aku menikmati sejuknya udara yang tersiram air hujan, dingin tentu saja turut menemaniku.

Aku biarkan anganku berkelana melalang buana, aku biarkan pikiranku berimajinasi, memikirkan banyak hal yang sungguh membuat penat dan jenuh. Jika dibandingkan dengan urusan negara, mungkin tak jauh berbeda.

Perlahan namun pasti, aku mulai menelusuri titik demi titik sebuah rasa yang sedari tadi bahkan telah lama tak kunjung pergi dariku, terus menjerat dan semakin menjeratku. Sebuah rasa ingin yang teramat dalam menjadi seorang mahasiswa. Mahasiswa ? Sungguh teramat indah kata itu, betapa bahagianya mereka yang mampu mendapat sebutan mahasiswa.

Oh Tuhan, aku juga ingin, aku ingin jadi mahasiswa. Entah mahasiswa di kampus mana pun itu, karena bagiku yang penting bisa merasakan dunia perkuliahan dan tentunya bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang mahasiswa.

Tapi, sesekali tetap saja rasa pesimis muncul, dan dengan semaunya menenggelamkan perahu mimpi yang telah siap menemaniku mengarungi lautan hidup sesungguhnya. Seribu tanya mulai berjatuhan dalam pikiranku, yang pada intinya bertanya tentang bagaimana aku bisa menjadi seorang mahasiswa ?

Karena bisa mengenyam dunia perkuliahan pun aku tidak tahu. Dan lagi-lagi alasannya adalah duit, duit, dan duit. Sungguh teramat bosan aku mendengar kata duit. Semuanya seolah bisa didapatkan dengan duit, dan bahkan tak sedikit orang rela melakukan apa saja demi duit, apakah Tuhan di dunia ini sudah tergantikan oleh duit ? Hingga rasa kemanusiaan pun seakan sirna dan hanya akan tumbuh bila ada duit. Aku sungguh tak mengerti dengan kehidupan di dunia ini.

Tapi memanglah, tidak dapat aku pungkiri bila semua tergantung pada duit, selayaknya diriku sekarang yang tak mampu berkutik apapun, karena tak punya duit. Keluargaku tergolong keluarga menengah ke bawah atau biasa disebut keluarga miskin.

Keluarga miskin yang tak punya uang lebih untuk pendidikan, karena untuk makan sehari-hari pun pas-pasan dan bersyukur masih bisa makan setiap hari. Mengenyam bangku sekolah hingga pendidikan menengah atas (SMA) adalah suatu hal yang sangat beruntung,

karena dari ke-3 saudaraku tidak ada yang sampai jenjang SMA, mereka hanya sampai SMP, lulus lalu bekerja di PT atau menjadi asisten rumah tangga, dan pada akhirnya menikah.

Aku sungguh tak mau hidupku seperti saudara-saudaraku, aku bersyukur, karena aku memang sudah selangkah lebih beruntung dari mereka, dapat menikmati bangku SMA. Tapi, bagiku SMA bukanlah akhir dari jenjang pendidikan, aku masih haus akan ilmu, aku ingin menikmati dunia perkuliahan, menimba ilmu disana untuk perlahan mewujudkan cita-citaku menjadi seorang pengajar.

Dan aku pun ingin memutar roda kehidupan, aku ingin memutus mata rantai kemiskinan, karena aku yakin dengan pendidikan kemiskinan bisa terputus. Aku ingin keluar dari julukan keluarga yang miskin.

Karena aku yakin aku bisa mengenyam dunia perkuliahan asalkan aku mau berusaha, dan tidak menyerah. Sebagaimana pepatah arab mengatakan “Man jadda wa jadda” siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil.

Cerpen : Tuhan Tahu Yang Aku Mau (Bagian Kedua)

Sering aku menyemangati diriku sendiri dengan kata-kata yang tak bosan aku ucapkan “You can do it, kamu pasti bisa” bagiku itu kata-kata ampuh pengusir segala rasa penghancur semangatku, di setiap kali rasa pesimis itu muncul aku segera menepis dan membuangnya jauh-jauh, kemudian positive thinking bahwa aku pasti bisa.

Namun sayangnya, rasa pesimis itu bukan hanya saja muncul dari dalam diriku, tapi dari keluargaku juga dan itu adalah tantangan terbesar bagiku. Karena hal yang sangat menyakitkan adalah saat dimana pendapatku tak sama dengan keluargaku terlebih lagi dengan orang tuaku, karena sungguh berat melangkah tanpa ridho orang tua, lalu bagaimana mungkin Tuhan akan meridhoiku sedangkan orang tuaku saja tidak meridhoi. Bukankah ridho-Nya terletak pada ridho orang tua ?

Ahhh, bingung sungguh bingung, serasa kepala ini mau pecah, aku sungguh ingin menjerit sekuat-kuatnya mengadu pada alam, agar sang pohon mendengar dan mungkin dia bisa sedikit mengajariku tentang bagaimana batangnya kuat bertahan menopang dirinya, atau barang kali sang rumput yang akan mengajariku tentang bagaimana dirinya bisa bertahan meski selalu diinjak, terkena panas matahari, terguyur hujan dan seringkali dipotong bahkan dicabut orang.

Tapi aku percaya, bahwa Tuhan menakdirkanku untuk kuat dan suatu saat nanti aku pasti bisa mewujudkan apa yang telah lama aku impikan.

Aku tak menyerah untuk mencari ridho orang tua terutama ridho ibuku, ketika malam tiba, perlahan aku bicara dari hati ke hati dengan ibuku. “Bu aku ingin kuliah” dan belum sempat aku bicara lagi, ibuku sudah memotong pembicaraanku “Naaak, orang tua mana yang tak ingin anaknya sukses?

Semua orang tua pasti nenginginkan hal itu, tapi tolonglah nak, mengertilah dengan keadaan orang tuamu, yang ayahmu hanya bekerja sebagai buruh, itu pun kalau ada yang nyuruh ayahmu untuk bekerja, dan kamu tahu sendiri ibu hanya seorang pengangguran, kita itu keluarga miskin naak”.

Ibuku berkata dengan berlinang air mata. Aku menjawab “iya bu, aku tahu, aku tahu itu, maka dari itu aku ingin kuliah bu, aku ingin sebutan miskin tidak ada lagi di keluarga kita”
Ibuku mengusap pundakku lalu berkata “jika memang itu yang kamu mau, bekerjalah setelah lulus SMA, tidak usah lanjut kuliah”

Lalu aku berkata “Tapi bu, aku ingin kuliah bu, ada beasiswa bidikmisi yang kuliahnya ngga bayar tapi diberi uang saku, aku janji tak akan menyusahkan bu” ibuku menjawab “ahh, sudahlah kamu memang keras kepala, kamu ngga nurut sama perkataan ibu, tidak seperti kakak-kakakmu yang nurut, kamu memang ingin membuat orang tuamu susah.

Cobalah nak kamu bersyukur karena kamu lebih beruntung dari kakak-kakakmu, SMA adalah pendidikan tinggi di keluarga kita naaak” ibuku mengatakan itu dengan menangis dan dengan nada suara yang keras dan geram kepadaku.

Aku tak mampu berucap apapun, aku hanya menyalahkan diriku sendiri, mengapa aku keras kepala seperti ini, mengapa aku tidak seperti kakak-kakakku yang selalu nurut dengan ibu, apa aku tertakdir sebagai anak durhaka di dunia ini ?

Beribu tanya terus berkecambuk dalam hatiku dan seakan terus memojokanku. Dan tanpa sadar aku pun menangis sampai sesenggukkan. Aku menoleh dan sepintas menatap ibuku, aku dapati ibuku yang juga air matanya mengalir deras, aku sungguh ingin mengusap air matanya, aku sungguh merasa sangat berdosa telah membuatnya menangis, tapi aku tak berdaya untuk mendekat pada ibuku.

Perlahan aku berdiri dari tempat dudukku, bukan mendekat pada ibuku, melainkan lari sekencang mungkin lalu keluar dari rumah, menemui rumput dan pohon lalu bercerita kepadanya, karena aku pikir barang kali aku bisa menemukan ketenangan, kenyamanan atau bahkan pencerahan darinya.

Aku duduk diatas batu berlumut, menatap dengan tatapan entah tertuju pada apa, yang pasti aku hanya menatap sejauh mata memandang. Disaat itu pula aku mengadu pada sang angin, untuk menyampaikan doaku pada sang Tuhan

“Wahai angin, sampaikanlah pesan ini pada Tuhan, tentang aku yang hanyalah sebutir debu, aku siap Tuhan tiup kemana pun itu, asalkan tempat yang bisa membuatku menjadi pribadi yang lebih baik lagi” sepoi-sepoi angin terasa mendinginkan hatiku yang sedari tadi terasa panas, dedaunan yang tertiup angin seakan mengajakku menari menikmati indahnya hidup ini. Sesaat kemudian aku kembali ke rumah, raut mukaku aku buat biasa saja, dan ku toreh senyum di wajahku.

Setelah kejadian itu, aku tak lagi berani berucap tentang keinginanku untuk kuliah, tapi bukan berarti hatiku telah menuruti perkataan ibuku dan bukan pula pesimis sudah menguasaiku, karena aku masih sama, semangatku tidak akan pernah padam, tentang aku yang harus kuliah.

Aku memilih diam karena aku tidak ingin membuat air mata ibuku berjatuhan lagi. Semua aku serahkan pada-Nya, biarlah waktu yang bicara, jika aku tertakdir untuk kuliah pasti Tuhan memberiku jalan, sekalipun jalan yang tak pernah terpikirkan olehku.

Cerpen : Tuhan Tahu Yang Aku Mau (Bagian Ketiga)

Hari demi hari berganti minggu, dan minggu pun berganti bulan. Tiba saatnya aku di penghujung penentuan, kemana selanjutnya kakiku melangkah, dunia perkuliahan sebagaimana yang aku mau, ataukah dunia kerja sebagaimana yang ibuku mau.

Lagi-lagi aku hanya bisa berserah diri kepada-Nya setelah lebih dulu aku berusaha. Usahaku dalam mendaftar di perguruan tinggi dengan jalur beasiswa, tanpa sepengetahuan ibu dan keluargaku, meski ibuku sempat curiga lalu bertanya kepadaku untuk apa aku masih ke SMA padahal Ujian Nasional sebagai tanda berakhirnya pendidikan di SMA sudah selesai.

Saat aku ditanya seperti itu, dengan berat hati aku terpaksa berbohong kepada ibuku, aku katakan bahwa masih ada kepentingan dengan pihak sekolah, padahal sebenarnya aku sedang sibuk mengurus berkas syarat mendaftar ke perguruan tinggi. Saat itu aku bersama temanku, jadi untunglah kecurigaan ibu kepadaku tidak berlanjut, dalam hati aku berkata pada ibuku “maafkan bungsu bu, bungsu benar-benar ingin kuliah, bungsu tak bermaksud membohongimu bu”

Setelah semua persyaratan beres, aku tinggal menunggu waktunya. Detik demi detik aku jalani dengan banyak harapan agar aku bisa diterima di perguruan tinggi dan juga lolos seleksi beasiswa bidikmisi.

Tapi pada akhirnya aku tidak terlalu berharap, karena aku tahu apapun hasilnya nanti, itulah yang terbaik untukku dari Tuhan. Dua minggu kemudian yakni hari pengumuman yang menentukan langkahku selanjutnya, hatiku sungguh berdebar, aku kumpulkan segala kekuatan hatiku untuk menerima kenyataan terkait apapun hasilnya.

Dan sungguh Tuhan tak pernah tidur, Dia mendengar doa ku, Dia mengabulkan permohonanku, berjuta syukur aku bersyukur atas keputusan-Nya, aku dinyatakan diterima di perguruan tinggi dan lolos beasiswa bidikmisi.

Pengumuman itu aku buka bersama teman-temanku di SMA dan teman-temanku pun banyak yang bernasib sama denganku. DITERIMA DI PERGURUAN TINGGI. Aku pulang ke rumah dengan wajah berseri-seri, aku katakan kepada ibu dan seluruh anggota keluargaku bahwa aku diterima kuliah dan dapat beasiswa.

Namun sayangnya, respon ibu dan keluargaku tak seperti yang aku bayangkan. Ibuku tetap saja tidak setuju jika aku kuliah. Dan untuk kali ini aku sungguh merasa tidak mampu menghadapi keputusan ibuku seorang diri, keesokan harinya aku ceritakan hal itu pada guruku.

Setelah aku curhat kepada guruku, akhirnya guruku memutuskan untuk ke rumahku lalu menemui ibuku. Guruku bercerita panjang lebar guna membujuk agar ibu meridhoiku untuk kuliah, dan lagi-lagi aku merasa bahwa Tuhan selalu bersamaku, aku bersyukur karena pada akhirnya hati ibuku luluh, dan meridhoiku untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi yakni dunia perkuliahan lewat bujuk rayu guruku.

Saat itu pula hatiku sungguh senang, bahkan kesenangan itu serasa belum pernah aku rasakan sebelumnya. Mimpiku bukanlah mimpi semata, dan mimpiku sudah di depan mata. Betapa bahagianya aku bisa mengenyam dunia perkuliahan, aku bisa kuliah, aku bisa merasakan jadi mahasiswa. AKU KULIAH, ALHAMDULILLAH. Sungguh, tak ada nikmat Tuhan yang mampu aku dustakan. Tuhan tak pernah tidur, Tuhan mendengar, Tuhan tahu yang aku mau.

Tamat …

Cerpen ini ditulis oleh Catur Mei Wati kamu juga bisa menulis karyamu di belapendidikan, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah setiap bulannya, Daftar Sekarang

Ahmad Andrian F
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi keluhkesah.com