Web portal pendidikan – Cerpen kali ini berjudul Sesal Tiada Ujung, yang dikirimkan oleh salah satu peserta dalam ajang lomba cerpen nasional bersama belapendidikan.com. Untuk lebih lengkapnya dapat kita lihat sebagai berikut.

Cerpen : Sesal Tiada Ujung (Bagian Pertama)

Siang begitu terik, kutelusuri jalanan kota dengan telapak kaki yang secara langsung menyentuh pertiwi. Tak kuhiraukan panas mentari juga tajamnya kerikil, karena mereka memang sudah menjadi teman akrabku.

Tiba- tiba saja kepalaku terasa pusing. Beristirahat sejenak mungkin akan sedikit mengurangi rasa pusing di kepalaku. Kusandarkan punggung dan kepalaku pada sebuah pohon di tepi jalan seraya memijat pelipisku. Belum sampai semenit, seorang temanku meneriakiku dari seberang jalan.

“Woy! Dodi!” Ia menyebrang jalan seraya mengulurkan tangan kanannya ke samping dengan telapak tangan menghadap luar, sebagai isyarat untuk para pengendara agar tak menabraknya.

“Ngapain kau duduk-duduk di sini?” Tanyanya ketika sampai di depanku. Matanya beralih menuju setumpuk koran yang terletak di samping kiriku. “Koranmu masih banyak.”
“Kepalaku pusing, aku berniat istirahat sebentar.” Kataku masih dengan memijat pelipisku.
“Jangan lama-lama! Nanti kena marah kau,” Katanya sambil berlalu pergi.

Aku tak begitu khawatir dengan ancaman temanku tadi karena setiap hari pun aku selalu kena marah ibuku. Jika aku tak berhasil menjual habis setumpuk koran itu, ibuku pasti marah.

Sekitar lima belas menit berlalu, kurasa sudah cukup waktuku beristirahat. Aku beranjak meninggalkan pohon teduh itu untuk kembali menjajakan koran. Berjalan di sela-sela para pengendara motor dengan raut muka kesal dan lelah lantaran menunggu bergantinya lampu merah menjadi hijau ditambah terpaan terik sang mentari.

Jam 3 sore, aku pulang dengan koran yang masih terhitung banyak dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya. Uang yang kudapat pun tak genap 15.000. Aku berjalan pulang dengan memantapkan hati untuk siap menerima omelan ibu, bahkan mungkin bukan hanya omelan yang akan kuterima. Meski sudah terbiasa, tetap saja ada sedikit rasa takut di lubuk hatiku.

Cerpen : Sesal Tiada Ujung (Bagian Kedua)

“Kenapa koranmu masih banyak, Di? Ngapain saja kau seharian?” Baru sampai di depan rumah sudah disambut ibu dengan pernyataan itu.
“Maaf bu, tadi Dodi istirahat sebentar, kepala Dodi pusing.”
Ibu meraih lengan bajuku kemudian menyeretku masuk, “Jangan manja kau. Pusing sedikit saja dijadikan alasan. Kita ini orang miskin, Di. Untuk beli makan saja kita harus bekerja keras. Kau jangan malas-malasan!”

“Dodi cuma istirahat sebentar bu,” Elakku.
“Sebentar? Lalu kenapa koranmu masih banyak?”
Aku diam tertunduk seraya mengucek-ucek ujung pakaianku yang lusuh.
“Kalau kau ingin jadi orang sukses, kau harus berusaha! Pusing sedikit saja kau harus bisa lawan. Hidup ini keras, Di.”

Kini ibu meraih sebendel koran dan memukulkannya padaku sambil terus mengomel. Aku hanya merintih kesakitan, namun ibu tak juga berhenti memukuliku. Di sela rintihanku, terlontar sebuah pertanyaan dari mulutku, “Apa Dodi bukan anak ibu?”

Tak lagi kurasakan pukulan ibu, kenapa ibu berhenti memukulku? Keheningan mengambil alih situasi untuk beberapa saat.
“Kenapa kau tanya begitu?” Ucap ibu kemudian.
Kuberanikan diri untuk menatap wajah ibu, “Kenapa, bu? Apa Dodi salah menanyakan hal itu? Mengingat ibu sering memarahi bahkan memukuliku, apa salah jika Dodi berpikir bahwa Dodi bukan anak Ibu?

Selama 13 tahun, ibu tak pernah memberi perhatian atau kasih sayang, bahkan jika Dodi sedang sakit. Ibu selalu menyuruhku bekerja, bekerja, dan bekerja. Dodi capek, bu.” Kata-kata itu secara tiba-tiba memaksa untuk keluar dari mulutku, rupanya ia tak tahan karena selama ini ia hanya mampu bersuara dalam hati kecilku.

Air mata mengalir di sudut mata ibu, aku pun tak kuasa menahan tetes air mata yang membanjiri pipiku. Tangan ibu terangkat dan mendarat di pipi kiriku dengan keras. Spontan kupegang pipi kiriku lantas berlari meninggalkan ibu.

Air mata yang masih mengalir dari mataku membuat pandanganku melindap. Aku hanya mendengar suara klakson kendaraan yang berbunyi keras dan berulang-ulang, lalu tiba-tiba semuanya gelap.

Cerpen : Sesal Tiada Ujung (Bagian Ketiga)

Kubuka kelopak mataku perlahan, pandanganku sedikit kabur. Kudengar suara-suara menyebut namaku. Perlahan pandanganku semakin jelas, kudapati teman-temanku berdiri di sekelilingku.

“Sudah sadar kau, Di?” Sambut bang Roni, teman seperjuangan yang paling tua di antara kami.
Aku mengangguk, masih bingung dengan apa yang telah terjadi padaku. “Aku kenapa, bang?”
“Kemarin kau kecelakaan,”

Aku baru sadar kalau sekarang aku sedang berada di ranjang rumah sakit yang putih. Kemarin? Ahh iya, saat aku berlari lalu terdengar klakson yang terus berbunyi dan kemudian aku tak ingat apa yang terjadi setelah itu. Sebelum itu? Ibu? Sebelum itu aku bertengkar dengan ibu?

Kutatap satu persatu orang-orang di sekelilingku, namun tak kulihat sosok wanita yang telah kulukai hatinya itu. “Ibuku dimana?”
Bang Roni mendekat lalu dengan tatapan matanya yang pilu, ia berkata, “Ibumu sudah pergi, Di”
“Apa maksud kau, bang?”

Mengalirlah cerita dari mulut bang Roni tentang peristiwa yang telah terjadi kemarin.
“Kemarin aku lewat depan rumahmu dan melihat kau lari dari rumah. Ibumu juga ikut lari mengejarmu, tapi nampaknya kau tak tahu.

Aku mengikuti kalian berdua, sampai kau menyebrang jalan raya dan tak peduli kalau ada mobil dari arah kanan. Ibumu buru-buru mendorongmu sampai kau jatuh membentur trotoar,” Bang Roni menghela nafas sebelum melanjutkan.

“Dan, mobil itu menabrak ibumu sampai…” Ceritanya terhenti sampai disitu. Ia merangkul tubuhku yang mulai rapuh.
Kurasakan pipiku hangat oleh air mata. Jadi, kemarin ibu mengejarku? Lalu, ibu menyelamatkanku dari tabrakan mobil itu yang membuat dirinya kehilangan nyawa? Demi aku? Demi anak yang sudah melukai hatinya.

“Apa yang telah kulakukan? Aku bahkan belum sempat meminta maaf pada ibu, bang. Aku sudah membuatnya menangis, aku menghancurkan hatinya, dan aku yang membuat ibu pergi. Ini semua gara-gara aku, bang. Aku ini anak durhaka…”

“Dodi, sudahlah! Ini semua sudah takdir. Ini bukan salahmu, Di.”
“Tapi kalau kemarin aku tak menanyakan pertanyaan bodoh itu, tak akan terjadi pertengkaran seperti kemarin, bang. Dan ibu pasti masih di sini.”

Penyesalan yang begitu hebat kini menikamku. Mungkin sampai aku mati, penyesalan ini tak akan berhenti mengikutiku. Aku teringat betapa keras ibu mendidikku, menyuruhku untuk terus bekerja tanpa ada rasa malas.

Kini aku mengerti untuk apa ibu melakukan semua itu. Supaya aku menjadi orang yang gigih dalam menjalani hidup, tak kenal lelah, dan pantang menyerah. Itu semua demi kebaikanku. Ibu ingin aku menjadi orang yang sukses di masa depan.

Di balik sifatnya yang keras, ibu rela mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkanku. Aku mengerti, bahwa semua perlakuannya padaku adalah bentuk kasih sayangnya. Kasih sayang tulus yang baru kusadari setelah ibu tiada. Ibu, maafkan Dodi.

Tamat …

Cerpen ini ditulis oleh Maylinda Hayu Hermastuty kamu juga bisa menulis karyamu di belapendidikan, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah setiap bulannya, Daftar Sekarang

Ahmad Andrian F
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi keluhkesah.com