Web portal pendidikan – Cerpen kali ini berjudul Seperti Bintang Di Bumi, yang sudah dikirimkan oleh salah satu peserta dalam ajang lomba cerpen nasional bersama belapendidikan.com. Untuk lebih lengkapnya dapat kita lihat sebagai berikut.

Cerpen : Seperti Bintang di Bumi (Bagian Pertama)

Selamat pagi, Depok.
Hari ini aku begitu bersemangat memulai hari. Hari ini adalah hari pertamaku mengajar di sebuah sekolah di daerah Depok. Mataku berkaca-kaca saat tiba di depan sekolah. Ada rasa bahagia yang begitu membuncah di dalam hatiku. Mengajar dan anak-anak dua hal yang begitu aku cintai dalam hidup dan sekarang aku bisa berhadapan dengan keduanya. Betapa bahagianya.

Aku disambut oleh seorang perempuan ketika memasuki ruang guru, namanya Ibu Risma. Dia menjelaskan padaku kondisi kelas yang akan aku ajar nanti. Aku akan mengajar di kelas 4 SD dan dia juga memberitahuku untuk berhati-hati dengan salah seorang murid yang ada di kelas itu, kata Ibu Risma dia sangat nakal jadi aku harus bisa bersabar dengannya. Aku jadi penasaran bagaimana rupa anak ini. Selang beberapa lama aku diantar ke kelas dan dipersilakan untuk langsung berkenalan dengan murid-murid di kelas itu.

Namun, aku tidak langsung mengajar tapi untuk beberapa jam aku disuruh memperhatikan terlebih dahulu suasana mengajar di kelas yang diajar oleh salah seorang guru di sekolah itu. Aku memperhatikan bagaimana cara mengajar guru tersebut,

“Coba, Heru, ini apa bacanya?”
(diam tidak menjawab)
“Kok diam saja, ini apa bacanya?” (dengan nada tegas)
“Gak tahu. Gak kebaca. Males ah bacanya.”
“Males kamu bilang? Gak kebaca? Coba yang lain, ini apa?”
(bersama-sama membaca tulisan di papan tulis)

“Liat, Heru! Yang lain bisa tuh. Kok kamu gak bisa? Makanya jangan main game melulu, ngelamun di kelas. Pantas kamu tidak dapat rangking terus.”
(bersorak meneriaki Heru)

“Heru juga suka nyontek tuh, Bu,” celetuk salah seorang temannya.
Aku tertegun. Jujur saja aku merasa miris.

Harusnya sebagai seorang guru, perlakuan seperti itu bukanlah hal yang baik untuk dilakukan. Menghakimi seorang anak kecil di hadapan umum bisa menimbulkan trauma maupun ketidakpercayaan diri yang mendalam buat diri anak tersebut. Aku tidak sanggup melihat pemandangan seperti itu berlanjut akhirnya aku berinisiatif untuk menggantikan ibu guru tersebut.

Ahmad Andrian F
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi keluhkesah.com