Web portal pendidikan – Cerpen kali ini berjudul Senandika berperang rasa, yang dikirimkan oleh salah satu peserta dalam ajang lomba cerpen nasional bersama belapendidikan.com. Untuk lebih lengkapnya dapat kita lihat sebagai berikut.

Cerpen : Senandika Berperang Rasa (Bagian Pertama)

Kamu menggerakkan tanganmu untuk memundurkan kopling ke bawah, membentuk huruf L dengan tangan sebelah masih memegang setir mobil, memutarnya ke kanan, lalu begitu cepat kamu mengembalikkan setir mobil ke arah semula. Matamu memandang lurus ke depan. Kadang pula, kamu mengetuk-ngetukkan jarimu di atas kopling, menghindar dari rasa bosan akan perjalanan yang telah menghabiskan setengah liter tungku bensin mobilmu.

Namun kamu menikmatinya, kamu menikmati setiap detik sawah-sawah hijau di setiap persimpangan jalanmu. Sebenarnya, kamu sedang tidak mengakui bahwa manusia di sampingmu juga sebagai alasan kamu menikmati perjalanan ini. Tapi, kamu mengelaknya dalam hati, menganggap bukan karena orang di sampingmu, melainkan tujuan dari perjalanan ini dan beberapa pemandangan indah yang selalu kamu dapati dari luar mobilmu.

Penyebabnya karena orang di sampingmu tidak sekalipun mempercayai cara menyetirmu. Sesekali, dia akan menegurmu ketika tanganmu hanya satu berada di kemudi setir mobil. Sesekali, dia akan menegurmu ketika kamu menyiulkan lagu kesukaanmu, mengusir rasa bosanmu. Sesekali, dia akan menegurmu ketika kamu melirik ke sana – kemari, tidak memandang ke depan.
Semata-mata hanya karena ‘hati-hati.’

Kamu membiarkannya begitu saja, karena begitu lelah mendengarkan sepata kata telah menjadi sepanjang perjalanan yang telah menguras dua lembar ratusan ribu di dompetmu. Tegurannya sama dengan menguras seluruh kesabaranmu yang tinggal seperempat saja. Mungkin setelah ini, kamu siap untuk menurunkan dia di tengah hutan belantara. Sayangnya, kamu tidak setega itu.
“Kalau capek mending berhenti aja deh, Nuk.” tuturnya kepadamu.

Kamu menelengkan kepalamu ke kiri, melirik perempuan yang sedang bermain dengan benda persegi panjang berwarna hitam itu. “Nggak usah. “ Singkat, kamu kembali menghadap ke depan, memasang pandangan lurus.

“Aku nggak mau kita kenapa-kenapa. Mending kalau capek, kamu merepet bentar ke warung kopi deh, Nu. Toh tinggal setengah jam lagi kita sampai.” nasehatnya kepadamu begitu kalem.

Kali ini kamu melihat dia telah menyampirkan benda persegi panjang itu di atas pangkuannya. Matanya telah tertuju lurus ke arahmu. Tangannya pun ikut berada di puncak kepalamu, mengusap pelan rambut cepakmu ke belakang dengan penuh kelembutan. Kamu menarik tangannya hingga berada di atas kopling mobil, menggenggamnya erat, dan sesekali menariknya untuk kamu daratkan di bibirmu, menciumnya lama dan penuh kasih sayang.

“Nuk. Hati-hati. Konsen.” gumamnya dengan menarik tangannya dari genggamanmu. Kamu sempat mengelaknya, tapi wanita di sampingmu, memberi beliakkan mata yang lebar, tengah mengecam tindakanmu barusan. Mau tak mau pun, kamu melepaskan genggaman tangannya dengan dengusan sebal yang begitu keras.

Kamu begitu sebal dengan nasehat dari wanitamu yang selalu tidak pernah mempercayai cara mengemudimu. Menurutmu, kamu telah berjalan di jalur yang benar, mengemudi dengan kecapatan rata-rata, tetapi wanitamu terus-menerus mencerca cara menyetirmu. Kesabaranmu selalu habis ketika kamu pergi berdua dengan wanitamu ini.

Biasanya kamu akan bertahan, atau kamu akan menegurnya. Namun, perjalanan berkilo-kilo meter ini tidak bisa membuat wanita berhenti walau hanya sekata pun. Padahal kalian bukan seperti dua orang tidak saling kenal.

Cerpen : Senandika Berperang Rasa (Bagian Kedua)

Kamu melirik ke jari manis kananmu, cincin perak yang kamu beli dua tahun lalu terlingkar begitu apik dan selaras dengan kulitmu. Anehnya, wanitamu masih tidak mempercayai cara setirmu.

“Nuk, itu ada belokan tajam, kamu hati-hati, ya? Turunin kecepatan kalau bisa.”
Wanitamu berkata lagi, yang menyuruhmu untuk menurunkan kecepatan. Padahal selama berjam-jam, kamu tidak sama sekali menambah gas atau bahkan mendorong kopling lebih ke angka dua saat jalanan tanjakan ini sepi.

Berapa kali kamu mengangguk patuh dengan dengusan sebal, tetapi wanitamu seakan acuh tak acuh. Kamu mungkin salah menunjukan sindiran halus untuk wanitamu, atau mungkin, kamu memilih cara selanjutnya untuk bertengkar di pinggir jalan hanya karena wanitamu tidak menyukai cara menyetirmu.

Tanganmu mengulur ke depan, menyentuh putaran volume radio. Wanitamu mencegah tanganmu, lalu kamu mengerutkan kening dengan bingung.

“Jangan dengerin lagu kalau lagi di jalan. Nanti ganggu kosentrasi kamu, Nuk.”
Detik berikutnya kamu ingin melipirkan mobilmu ke pinggir, tetapi kamu terlalu mencintai wanita di sampingmu. Kamu mengira jika wanita di sampingmu ini mungkin tengah krisis langganan emosi yang terjadi setiap bulannya, sehingga membuat dia lebih banyak bicara ketimbang biasanya.

Kamu lupa lagi, jika krisis emosi langganan setiap bulan wanitamu itu terjadi ketika berada di mobil dengan kamu sebagai sopirnya.
Tiba-tiba, dia berteriak keras. “Nuk!” panggilnya keras, membuatmu kembali menghadap kedepan.

Satu mobil yang berpapasan denganmu hampir melipir ke mobilmu. Hanya tinggal beberapa sentimeter lagi, kamu mendaratkan mobilmu ke mobil sedan berwarna hitam. Beruntungnya, dengan lihai, kamu bisa menghindarinya dengan melempar setir ke kiri. Kamu menghentikkan mobilmu, lalu melihat wanitamu yang tengah tersenggal. Kamu dengan cepat mengambil tabung biru dari tasnya, menyorongkannya ke mulut wanitamu.
Nafas tersenggal itu mulai perlahan membuat dia kembali seperti semula.

Dia melirikmu dengan raut wajah ketus. Kamu tahu bahwa apa yang barusan terjadi hampir membuat wanitamu kehilangan nafas hanya karena kebodohanmu bersenandung senandika dengan dirimu sendiri mengenai topik berisiknya wanitamu.

Kamu melirik dari spion luar mobil. Satu masalah lagi muncul saat kamu melihat pria bertubuh tegap dengan seragam tentara tengah keluar dari mobil sedannya. Kamu dengan sigap keluar setelah memastikan wanitamu baik-baik saja. Kamu menemui pria itu dengan wajah sesal tak tertolong.

“Kita hampir mati kalau tadi kamu nggak melempar setir ke kiri.” Pria tegap ini berseru kepadamu. Nadanya begitu tinggi seimbang dengan bentuk tubuhnya. Namun tidak membuat kamu menciut seketika.

“Beruntungnya, kita nggak apa-apa.” lanjut pria itu dengan menggelengkan kepala berubannya. Kamu masih mengulas senyum ramah. “lain kali hati-hati, ya, Mas? Kasihan wanitanya itu.” Pria itu menunjuk wanitamu yang ternyata telah keluar dari mobil.
Kamu mengangguk dengan terus menerus memasang wajah penuh sesal. Kamu menyalaminya ketika pria tegap tadi memberimu nasehat. Bahkan kamu meminta maaf berulang kali dengan kepala tertunduk penuh sesal.

Pria tegap itu kembali masuk ke dalam mobil, membiarkanmu sendiri dengan wanitamu. Kamu menghampiri wanitamu. Dia masih sama seperti tadi, memasang wajah pias bercampur dengan keketusan yang tak hingga.

Cerpen : Senandika Berperang Rasa (Bagian Ketiga)

“Kamu ngeiyain nasehat dia, tapi kamu nggak ngeiyan nasehat aku, Nuk.” Dia tiba-tiba berkata kepadamu, membuat kamu menatapnya dengan kening mengkerut dalam.
Wanitamu menggeleng berullang kali dengan tangan terlipat di depan dada. “Kamu tahu ‘kan, kita menikah sudah dua tahun, tapi kamu ketemu dia hanya dua menit, Nuk?”

Kamu memejamkan kedua matamu. Sebelah tanganmu berada di pinggang kirimu, sedangkan tangan sebelahmu menekan keningmu. Kamu benar-benar nggak percaya dengan apa yang kamu alami saat ini bersama wanitamu. Bertengkar setelah maut hampir menjemput kalian, itu bukan penyelesaian masalah yang terbaik.

“Masalahnya, Nuk, kamu ingin membuatku percaya, tapi, kamu sendiri nggak mau mendengarkanku, Nuk.” Wanita cantikmu memundurkan langkahnya, lalu menatapmu dengan kalutan emosi begitu dalam. “I trust you to drive us. But you don’t trust me when i want to be your navigator, Nuk.”

Kamu diam di depannya. Milyaran kata yang kamu telah pelajari seakan lenyap ketika melihat wanitamu menangis. Dia mendekat kepadamu, menunjuk cincin yang melingkar di jari manis kananmu. “Dua tahun aku ingin jadi navigatormu, membiarkanmu memimpin kita. Tetapi, apa yang selama ini aku lakukan, nggak membuat kamu percaya dengan cara pandangku, Nuk.”

Tanganmu merengkuh rahang wanitamu, mencari manik mata coklat yang selalu membuat kamu bangga dengan kehidupan yang selama ini kamu jalani. Wanitamu membiarkanmu merengkuhnya. Kamu bisa merasakan rahangnya basah akibat tangis yang telah kamu sebabkan.

Kamu mengecup keningnya. Kamu terlalu bersenandung dengan senandikamu hingga kamu lupa jika hatimu telah melawan logika untuk mempercayai wanitamu. Kamu melupakan jika wanita pemenang hatimu yang membuat kamu bertekuk lutut di depan orang tuanya. Kamu terlalu lupa jika senandika ini mengambil seluruh pemikiranmu hingga membuatmu berperang rasa kepercayaan terhadap wanitamu.

Tamat …..

Cerpen ini ditulis oleh Annasa Rivada Engkesari kamu juga bisa menulis karyamu di belapendidikan, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah setiap bulannya, Daftar Sekarang

Ahmad Andrian F
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi keluhkesah.com