Web portal pendidikan – Cerpen kali ini berjudul Persepsi, yang dikirimkan oleh salah satu peserta dalam ajang lomba cerpen nasional bersama belapendidikan.com. Untuk lebih lengkapnya dapat kita lihat sebagai berikut.

Cerpen : Persepsi (Bagian Pertama)

Dalam dekapan ibunya yang hangat, seorang gadis kecil menatap langit yang membentang di atasnya. Bagai atap rumah yang syahdu, melingkupinya dengan tenang sekaligus menuntunnya menuju dalamnya bahtera mimpi.

“ Bintangnya banyak.” dengking gadis lima tahun berwajah bulat itu.
“ Iya, pilihlah satu!” seru ibunya menunjuk tepat di atasnya.
“ Buat permohonan? Agar ayah cepat pulang?”
“ Memohonlah pada Tuhan agar ayah cepat pulang sebelum adikmu lahir.”

Gadis itu beranjak dari pangkuan ibunya. Meneleng dalam gelap dan mengelus perut ibunya yang membuncit dan bergerak.
“ Aku sayang Ibu dan kamu, Adik Kecil.”

Malam akan menjadi malam, menyimpan ketakutan manusia untuk menghadapi hari esok. Untuk menerima dunia yang nyata, tentang pilunya setiap kalbu yang terluka atas runtuhnya mimpi, atas pecahnya ego, dan atas brutalnya nafsu. Mimpi buruk akan menikam setiap nyawa, merenggut hidup atau menyiksanya perlahan.

Bulir-bulir keringat mengalir dari dahi Isma, gadis berusia enam belas tahun yang kini tengah dilecuti dengan mimpi buruknya. Ia melihat banyak wajah setan di mimpinya. Berkelakar dan melemparinya dengan batu, mencemoohnya sebagai anak miskin yang ditinggal ayahnya demi wanita lain.

Lantas wajah itu menjulurkan tangannya yang panjang seperti ular, menggenggam pisau dan hampir mengiris lehernya hingga pada akhirnya ia tersadar oleh hentakan tangan Nuri, adiknya, yang kini berdiri dengan wajah setengah sadar. Ia pun tersengal dan menatap liar ke sekeliling. Dia tak bisa berhenti mimpi buruk sejak ayahnya pergi dari rumah, tanpa kembali, yang merebakkan gossip bahwa ia menikah lagi dengan wanita lain. Meninggalkan ia dan ibunya yang tengah mengandung.

Secara drastis perilakunya menjadi tak terkendali. Membentak dan membangkang. Setiap lelucon ringan tak akan berpengaruh padanya juga sikap welas asih dari ibunya, Bu Rokayah. Ia berada pada puncak pubertasnya dengan emosi yang gila dan meledak-ledak.

Dia pun mengacak rambutnya, menjambaknya dengan kasar. Dia ingin melihat darah keluar dari tubuhnya untuk menghilangkan frustasi ini. Seluruh teman mengucilkannya karena dia aneh dengan bicara yang terkadang ngelantur, juga temperamen yang buruk.

Ia selalu tahu mata yang memicing itu. Tanpa simpati dan tanpa ampun. Dia berasal dari keluarga tidak mampu sementara teman-temannya berada pada strata yang jauh lebih tinggi darinya.

Pagi-pagi dia akan berangkat ke sekolah sekitar pukul setengah enam pagi. Mengayuh sepeda hitam tua yang berkarat di kawat rodanya juga ranjang yang telah penyok dan kehilangan bentuk aslinya. Tasnya hanya ada satu yang ia gunakan sejak kelas 3 SMP, masa yang teramat suram juga untuknya.

Ia tak akan pernah mengerjakan pekerjaan rumah. Dia hanya fokus belajar, melamun, dan kadang menangis. Semua pakaian ia tetap cuci sendiri dan membantu ibunya yang kadang berjualan gorengan di hari libur.

Cerpen : Persepsi (Bagian Kedua)

Pukul 06:45 dia akan sampai di sekolahnya, sebuah SMA ternama di Ngawi dengan lapangan luas dan gedung yang tinggi. Ia menuntun sepedanya. Tak akan heran lagi ia jika banyak yang berbisik di sekitarnya tentang baju kuning lusuhnya, sepatunya yang mangap di bagian depan dan yang bolong di alasnya, menampakkan telapak kakinya yang pecah-pecah akibat kaus kakinya yang bolong di posisi serupa.

Rambutnya panjang dan indah, kulitnya bersih, namun tubuhnya sangat kurus dengan mata yang merah dan berkantung. Tak ada teman lelakinya yang melirik di sini. Yang ada hanya kucilan semua orang. Ia tak memliki teman, satu pun.

Dan ketika para orang tua menoleh sedih padanya, dengan motor yang mereka naiki dan dengan mereka yang mengecup dahi anak masing-masing, ia pun merasa muak. Dia akan mendorong sepedanya lebih cepat dan memarkir buru-buru.
Dia ingin berlari jauh kemana pun asal jangan di sini.

‘Kenapa hanya aku yang tidak punya ayah? Kenapa hanya aku yang tidak bisa beli bolpoint? Aku juga ingin makan ayam dan beli permen kapas di pasar malam.’
‘ Nak, kau harus mengerti. Semua jalan hidup seseorang diatur berbeda-beda. Ibu juga tak mau kehilangan ayahmu, melihatmu kekurangan. Ibu akan berusaha memenuhimu. Bersabarlah dan tahanlah sebentar.’

Rasa malu yang menderanya mengenai apa yang ia miliki dan apa yang ia kenakan. Tentang senyum licik orang-orang ketika mereka mampu menunjukkan ke semua orang mengenai kecacatan tentang dirinya.

Kaus kaki yang sangat bau atau bukunya yang berupa sobekan dan tempelan dari buku bekas yang tak terpakai, tentang ikat rambut yang tak pernah ganti, ia yang tak pernah meraut pensil, atau bajunya yang berjamur di bagian kerahnya, roknya yang pendek ditambal dengan kain lusuh berwarna sama namun terlihat kontras. Semua hal, segala hal, ia harus menanggung malu itu sendirian.

Awalnya ia akan mengadu pada ibunya namun setiap jawaban akan berujung sama,“ Tahanlah sebentar.” Dan ia menurutinya sampai terasa mau mati karena saking beratnya hal itu dipikul sendirian.

Kepalanya sering berdenyut hampir mau pecah. Ia yang duduk sendirian tak mampu berkeluh kesah. Ia bukan bintang kelas namun ia selalu masuk sepuluh besar. Kemampuan menghafalnya luar biasa hebat namun jika sakit kepalanya kambuh ia bahkan tak mampu menggerakkan bibirnya sekalipun. Hal inilah yang membuat ia kehilangan beberapa kesempatan untuk masuk beberapa olimpiade di masa lalu.

‘Pilihlah satu bintang karena itu berarti kau memilih sebuah mimpi yang ingin kau raih. Jangan lepas bintang itu, jangan pernah!’

Ia ingin menjadi teknisi karena itu salah satu kemampuan ayahnya yang membuat ia terkagum. Benda-benda unik selalu ada di rumahnya, tentang inovasi-inovasi kecil pemasangan sakelar lamu yang bercabang. Teman-temannya akan memuji dengan hebat dan terkadang berlebihan. Itulah yang membuatnya sangat bangga dan terobsesi.

Setidaknya dengan menjadi teknisi ia akan mampu memperbaiki radionya yang rusak tanpa harus membawanya ke tukang servis. Memperbaiki lampu kamarnya jika sikapnya yang sering membanting-banting barang saat marah kembali kambuh. Memecahkan lampu kuning 15 watt itu atau melonggarkan kabelnya. Setidaknya ia tak perlu keluar kamar untuk belajar atau untuk menangis jika tak ada penerang.

Cerpen : Persepsi (Bagian Ketiga)

Dan saat ia mendapat kabar bahwa ia lolos seleksi universitas di jurusan tersebut ia menggayuh sepedanya sangat kuat. Wajahnya begitu cerah dan cantik denga mata yang mulai berbinar. Senyum yang hilang sekian tahun itu kembali merekah. Ia akan mampu merubah segalanya.

“ Ibu…Ibu, aku lolos seleksi masuk universitas.” teriaknya sambil berlari dari ambang pintu, menyandarkan sepedanya di tiang kayu di beranda rumahnya. Saat itu pukul tiga sore dan ibunya yang beruban itu pun mendongak dari bawah caping yang berjamur. Ia tengah mengayak padi di samping rumahnya yang kecil dan berdidnding kayu jati yang mulai keropos itu.

“ Aku lolos seleksi masuk universitas.” Ulang Isma dengan mata yang menyipit karena senyumnya yang sangat lebar.

Ibunya hanya tertegun lalu tersenyum nanar. Belakangan ia mendapati ibunya tidak memperkenankan ia melanjutkan kuliah. Alasan ekonomi. Ibunya hanya mampu menatap sendu kala itu, sangat terlihat memelas.
“ Mengertilah, adikmu juga butuh pendidikan.”
Isma berusaha menjelaskan bahwa ia bisa mendapat beasiswa. Dia pun tak lupa menyebutkan segala macam beasiswa yang ia ketahui sejauh ini, masih dengan sangat antusias.

Dia pun tak lupa menceritakan tentang tabungan yang selama ini ia kumpulkan demi biaya transportasi dan tempat tinggal serta makan sementara. Hati ibunya sangat hancur kala itu. Wanita tua beranak dua itu hanya mampu menggigit bibir bawahnya. Sebagai orang tua, sebagai pengasuh ia tak mampu memenuhi apa pun.

“ Aku masih menyimpan bintangku, Bu. Aku menahan segala hal untuk ini.” senyum Isma masih belum pudar dalam usahanya untuk membujuk wanita itu.
“ Sebentar lagi Nuri kelas 3. Akan banyak hal yang ia butuhkan kelak. Maafkan Ibu.”

Senyum Isma seketika lenyap. Segala hal yang ia tahan selama ini, Segala mimpi buruk yang ia simpan, pengucilan yang tak ia ceritakan, rasa ketidak adilan yang diterimanya yang ia samarkan. Marah yang ia redam seketika berkobar kala itu.

Ia sangat marah, kekecewaannya sangat dalam. Jika dari awal ia tak diminta memilih sebuah bintang ia tak akan berusaha sejauh ini. Tak akan bergadang demi mendapat nilai 100, tak akan pulang larut malam untuk mampir sebentar ke perpustakaan daerah untuk melengkapi bahan tugasnya, tak akan menahan diri untuk beristirahat lebih banyak demi kegiatan tambahan seperti ekstrakulikuler sekolah demi nilai tambahan.

Dia menumpahkan seluruh energinya untuk ini. Bahkan ia merasa paru-parunya telah dipenuhi oleh kelelahan.

Dan itu yang membuat ia memutuskan hengkang dari rumah setelah lulus. Berpamitan untuk menginap di rumah teman meski ia tak memiliki teman. Namun tak ada yang tahu tentang hal itu sebab ia selalu menyimpannya sendiri karena berkeluh kesah pun tak ada gunanya.

Cerpen : Persepsi (Bagian Keempat)

Dalam masa-masa sulitnya sebagai remaja, dia hanya butuh pendengar, hanya butuh dukungan, dan terkadang solusi. Namun pengabaian orang-orang yang harusnya memenuhi kebutuhan emosionalnya itu membuat ia menjadi sosok yang temperamental meski pada awalnya ia memiliki sikap tenang dan penyayang.

Ia bukanlah bayi yang ditinggal menangis terlalu lama oleh ibunya yang peneliti bilang dapat memicu sel adrenalin yang mampu membuatnya menjadi lebih agresif. Namun dalam perkembangannya ia mendapat hantaman dari beberapa pihak sehingga ia seolah terbakar dalam makian orang. Ingin ia melampiaskan kegilaan atau mencari perhatian agar seseorang sudi memeluknya dan berkata,‘Tenang, ada aku disini.

Isma tak pernah mendapatkannya sedikitpun dan ia pun pergi ke kota besar, melamar pekerjaan di salah satu perusahaan otomotif lewat BKK sekolah setempat. Ada kendala biaya namun ia telah menabung sejak kelas 1 SMA, persiapan jika ia masuk kuliah. Untuk biaya transportasi, makan, dan tempat tinggal.

Tentu ini membuat ibu dan adiknya kalang kabut kala itu. Mereka tak memiliki handphone. Terpisah tanpa kabar dan penjelasan telah menimbulkan sebuah asumsi bahwa Isma seolah telah pergi dengan temannya atau memang telah tak bernyawa.

Selang beberapa tahun Isma kembali ke rumahnya di kampung halamannya dengan membawa seorang lelaki. Awalnya tak ada yang menyangka wanita yang bertubuh berisi dan berkulit putih itu adalah Isma. Dia sekarang nampak sangat cantik melebihi bunga desa itu sendiri. Kedatangannya disambut dengan tangis histeris dari ibunya juga pelukan yang selama ini Isma impikan. Berulang kali wanita yang semakin tua itu mengucap syukur kepada Tuhan.

Ia melongok mencari Nuri, harusnya gadis itu ada di dalam. Apakah Nuri sudah mulai bekerja? Dan ketika Isma menanyakan hal itu ibunya menjawab dengan sedikit mendelik. Dadanya bergemuruh kala itu mengetahui sebuah fakta pahit bahwa ibunya telah memihak dunia untuk berperilaku tidak adil padanya. Nuri kini telah kuliah, jurusan kebidanan katanya.

Wah, desis Isma dalam hati dengan kecewa dan merana, seorang wanita dengan karier cemerlang. Calon isteri dokter, tentara, atau polisi. Sementara ia? Ia hanya seorang buruh pabrik yang harus bekerja shift dan dikejar target yang tak masuk akal.

“ Ibu takut Nuri akan pergi sepertimu.”
Isma hanya terpaku, mengerat tangannya sendiri dan menahan gemeretak giginnya. Tak sampai sehari ia mampir di rumah dan malamnya ia kembali pergi dengan lelaki itu dengan segala alasan diikuti amarah yang tak terbendung.

Seorang ibu yang memiliki persepsi salah soal anaknya sejak awal. Bahwa anaknya itu mungkin hanya butuh materi, bahwa jika ia menangis ia hanya butuh sesuatu yang harus dibeli tanpa mengetahui bahwa mungkin gadis itu merindukan sebuah pelukan.

Sebuah lika-liku kehidupan yang tak pernah berujung. Isma yang mendendam akan sadar betapa hancur hati ibunya ketika ia mulai merasakan menjadi seorang ibu. Dan ketika ia kehilangan ibunya barulah ia menyadari bahwa betapa dalam cintanya untuk wanita itu. Hanya saja depresi berlapis itu menahan ia untuk mengungkapkan semuanya.

Ia adalah seorang anak yang sulit mengucapkan kata maaf di masa depan karena baginya dunialah yang harus meminta maaf padanya. Dan penyesalan yang dalam tentang, kenapa ia tak mampu menahan sedikit lebih lama tentang trauma hidupnya, kini memasungnya dalam masalah yang lebih besar, yaitu perang batin sebagai seorang ibu.

Tamat …

Cerpen ini ditulis oleh Siti Mahmudah Solikatun Kasanah kamu juga bisa menulis karyamu di belapendidikan, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah setiap bulannya, Daftar Sekarang

Ahmad Andrian F
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi keluhkesah.com