Web portal pendidikan – Cerpen kali ini berjudul Namirah guru dari pulau, yang dikirimkan oleh salah satu peserta dalam ajang lomba cerpen nasional bersama belapendidikan.com. Untuk lebih lengkapnya dapat kita lihat sebagai berikut.

Cerpen : Namirah Guru Dari Pulau (Bagian Pertama)

Sini Kau!, ikut Ayah.”Ayah langsung menarik lengan Ku dengan keras ke kamar. Baru pertama kali Ia begini.

Namirah, tugas mu ‘hanya menjadi anak yang berbakti pada kedua orang tua’. Itu kata yang Ayah tanamkan dalam jiwa Ku. Yang menjadi kan Ku sebagai Anak yang paling penurut se kampung beringin ini.

Ayah merupakan orang yang sangat di hormati, bukan karena ia orang yang serba berkecukupan namun karena ia benar-benar murni turunan daerah sini, dan sangat menjunjung adat istiadat dengan teguh. Ia di panggil Wa Riul.

“Jika suatu saat Ayah Mu ini tak ada. Kau lah penerus nya, karena Kau anak satu-satu nya Kami. Makanya, tak usah merantau segala ke jawa, sudah enak disini.”Ucap Ayah sehabis sholat magrib di mushola rumah. Ia lalu beranjak pergi ke suatu tempat, biasa nya kedai Bang Fahmi.

“Jawa itu dimana Mak?”tanya Ku polos.
“Jauh lah, tak sampai mata Kau memandang nya dari sini.”Jawab Mamak, dan itu tidak membuat Ku puas. Tapi itulah yang Aku tahu pertama kali tentang Jawa. Mamak langsung melanjutkan mengaji, dan Aku bergegas menuju tempat lain. Mungkin mencari hal yang berkaitan dengan Jawa.

Yang paling pintar di rumah ini Adalah Bang Ammir, keponakan Ayah yang ikut tinggal disini karena kedua orang tau nya sudah tiada. Tak jarang Ayah dan Bang Ammir beradu pendapat tentang pendidikan. ‘Aku tak suka orang yang pintar, orang pintar telah merebut semua harta Ku, dan Ayah mu,’itu yang selalu Ayah katakan kepada Bang Ammir.

Tapi Bang Ammir tidak mengacuhkan, ia tetap belajar, sampai-sampai Ia di julukin si anak bintang di kelas nya, dan selalu mendpat kan beasiswa, sampai sekarang Aku tak tahu beasiswa itu apa.

“Bang, Jawa itu dimana sih?”tanya Ku penasaran, dan duduk di sebelah nya yang sedang membaca buku di meja makan.
“Jawa itu pulau besar, jauh dia.”jawab nya sambil teap membaca buku.
“Sejauh apa sih?. Rumah Kek Nun saja yang jauh di Idi bisa Aku datangi, sendiri pula.”Sambar Ku dengan nada sombong, Aku masih penasaran sejauh apa jawa.

“Heeh, kau tak akan pernah bisa kesana. Jawa itu tempat manusia pintar macam Abang. Orang bodoh macam Kau, tak bisa kesana. Sekarang kau ini sudah SMP kelas tiga kan?, habis lulus nanti, Ayah kau akan mengadakan pesta pernikahan kau dengan si Ahmad, hahaha.”Katanya sambil tertawa tebahak-bahak. Sekarang dia malah mengacuhkan buku yang di pegang nya.

“Heeh, Aku tak mau nikah semudah itu lah!,”jawab Ku ketus.
“Namirah, Bapak kau itu orang yang memangku istiadat dengan teguh. Dan itu artinya Kau pun harus menurutinya. Macam si fatimah, di kawinkan dia sama si fahmi kan. Bapak nya itu lah yang memaksa. Sudah ah, Aku mau baca buku, kau itu perempuan, belajar urus dapur saja, apalagi kita di kampung, sulit.”jelas nya dengan panjang lebar, Aku berusaha mencerna, dan tidak terima. Kenapa kami harus di dapur?.

“Lihat saja bang. Aku akan menjadi gadis yang pintar nanti. Dan Aku akan mengambil sekolah di jawa!.”Ucap Ku tegas, bang Ammir yang sebelum nya memandang Ku langsung terperanjat melihat ke arah pintu masuk rumah ini.

“Tadi Aku katakan, perempuan belajar urus dapur saja wak. Sumpah.”katanya bang Ammir membuat ku bingung, Aku mulai sadar, ternyata Ayah ada di belakang Ku sedari tadi.
“Sini Kau!, ikut Ayah.”Ayah langsung menarik lengan Ku dengan keras ke kamar. Baru pertama kali Ia begini.

“Kau ini ya, makin hari makin banyak tanya, makin belagak kau!. Kau itu tak boleh kemana-mana, ini rumah Mu, benar kata si Ammir, habis lulu SMP nanti, Kau akan ku kawinkan dengan si Ahmad!”Ucap nya dengan suara keras.

“Tapi yah, namirah juga ingin seperti bang Ammir.”jawab ku sambil takut-takut.
“Kau ini!”tegas nya jari kanan nya menunjuk wajah Ku, dan tangan kiri nya tiba-tiba memegang dada.
“Ayah mau Aku di rendah kan oleh suami Ku nanti, oleh mertua Ku?”tambah Ku,membuat wajah Ayah muram.

“Semakin Kau hebat, semakin sulit jodoh kau datang!”jawab nya lugas, dan langsung meningalkan kamar Ku. Mamak terlihat khawatir di depan pintuk kamar, Aku hanya bisa diam.
Dan membuat Ku takut untuk belajar. Akhirnya itulah takdir Ku, mengikuti adat istiadat yang di wariskan Ayah ku, tapi bukan berarti Aku menyerah dalam takdir.

Cerpen : Namirah, Guru Dari Pulau (Bagian Kedua)

Mentari terbit dari ufuk timur, kaki ku masih beridiri di kampung ini. Aku masih Namirah yang terperangkap, yang masih penasaran dengan bentuk pulau jawa. Namun mungkin kau tak akan menyangka.

Sekararang Aku Namirah yang menjadi guru kebanggaan kampung ini, yang masih berdiam diri di pulau yang sama sejak Aku kecil. Aku memang tak pernah pergi ke jawa, untuk belajar bersama orang-orang pintar. Tak apalah, yang penting anak-anak ku tak menjadi seperti Ku, mereka harus terbang-terbang diantara bintang-bintang.
Karena iqro, bacalah.
Jadikan ilmu mu sebagai penyelamat mu di akhirat kelak.

Oh iya, Ayah sekarang masih baik-baik saja. Hati nya bisa luluh juga, saat itu Aku memohon untuk sekolah guru di Banda Aceh, dan berjanji Akan menikah saat kuliah saja. Akhirnya Aku mendapat izin. Mamak, Ia meninggal dua tahun lalu, terkena kanker hati, Aku sangat sedih kala itu. Dan Bang Ammir, dia memang manusia yang jenius, sekarang ia sedang melanjutkan study S3 nya di jerman, beasiswa pula, dia mendapat kan jodoh orang sana, anak-anak nya cantik, dan tampan sekali, yaa, munkin perbaikan keturunan.

Dan untuk kalian, Ilmu itu ada dimana-mana, bukan hanya di sekolah Kau. Ilmu itu bukan untuk di benci, tapi untuk di pelajari, hidup kalian bukan hanya tentang esok mau makan Apa, tapi apa yang manfaat kalian untuk orang lain, dan ilmu adalah pembeda tiap kalian di dunia ini. Ilmu itu untuk siapa saja, dan ilmu sebagian dari iman.

Tamat …

Cerpen ini ditulis oleh Cut Shafia Hasan kamu juga bisa menulis karyamu di belapendidikan, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah setiap bulannya, Daftar Sekarang

Ahmad Andrian F
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi keluhkesah.com