Web portal pendidikan – Cerpen kali ini berjudul Misteri pesan i love you, yang dikirimkan oleh salah satu peserta dalam ajang lomba cerpen nasional bersama belapendidikan.com. Untuk lebih lengkapnya dapat kita lihat sebagai berikut.

Cerpen : Misteri Pesan I Love You (Bagian Pertama)

Hujan. Fenomena alam yang Tuhan ciptakan begitu istimewa. Basahan yang mereka buat, bukan penyebab kita terhalang beraktifitas. Mereka itu baik. Rela jatuh demi kesenangan para penikmatnya. Bergerak konstan mengikuti gravitasi. Jatuh dari ketinggian membawa sejuk. Aku gak pernah bosan sama hujan.

*Bughh* aku ditabrak sesuatu yang kuat dan tegap. Belum saja aku melihat secara keseluruhan apa yang menabrakku tadi, sepertinya aku sudah mengetahuinya. Yap, benar saja, didepanku saat ini seorang laki-laki berbaju sekolah sama sepertiku tengah sibuk mengeringkan baju dan rambutnya yang sedikit terkena tetesan hujan. Dialah Raga.

Laki-laki berparas tampan dengan tubuh ideal, dan kebiasaan unik yang dia punya. Iya, unik menurutku. Dia sangat anti dengan hujan, dan seperti orang sekarat kalau mendengar petir. Lucu, namun ketampanannya tidak memudar. Sayangnya dia sangat dingin, hanya orang-orang tertentu saja yang dapat kenal dekat dengannya.

Sebenarnya kami sudah saling kenal cukup lama. Saat ini menginjak tahun ke 5 aku dan Raga kenal satu sama lain. Kami tidak sengaja bertemu di satu tempat les yang sama, dan hingga saat ini kami tetap les di jam dan hari yang bersamaan.

Raga yang di tempat les, bukanlah Raga yang aku kenal di sekolah. Raga sangat ramah, baik, humoris dan openminded banget kalau di tempat les. Lain halnya di sekolah, kami seakan tidak saling kenal satu sama lain. Jangankan ngobrol, aku melempar senyum sapaan padanya saja tidak di perdulikan.

Cerpen : Misteri Pesan I Love You (Bagian Kedua)

“Dean!! benggong mulu.”panggilnya mengagetkanku. “Bisa ga sih, ga ngagetin. Ganggu aja.”sahutku. “De.. tau ga tad—“ucapnya terpotong bel panjang pertanda pelajaran akan segera dimulai. Aku meninggalkannya begitu saja dan bergegas masuk kelas. Dia pun menyusul langkahku dan duduk disampingku. Dia adalah Nafa, sahabatku. Senyumku terangkat saat melihat ekspresinya yang cemberut.

“Bibir lo sampe bisa diiket”ucapku sambil tertawa kecil. “De gue serius mau cerita.. nih ya jadi—“ucapannya terpotong lagi karena ketua kelasku masuk terburu-buru dan berdiri didepan kelas, sepertinya ada sebuah pengumuman yang ingin disampaikan. Mata kami otomatis tertuju ke depan kelas.

“Guyss, Bu Siti gamasukk!!”teriaknya. Langsung saja seluruh isi kelas bersorak gembira. Bu Siti, seorang guru kimia yang amat sangat rajin masuk dan terkenal killer, baru kali ini tidak masuk. Wahh senangnya.. Seisi kelas berhamburan kemana-mana, ada yang langsung ke kantin, bermain kuda tubruk, asyik ngegibah, mencari posisi untuk tidur, ada juga yang ke perpustakaan. Dan Raga.. tumben dia tetap di tempat duduknya, biasanya dia kekantin bersama 3 sohibnya, ah yasudahlah buat apa juga ngurusin hidup orang.

“Lo ngapain ngeliatin Raga???”ucap sahabatku. “Kepo.”sahutku. “Ishh De, kuy lah kantin. Bete, mau cerita ada aja halangannya.”ucapnya. “Ga ah mager. Makan bekel lebih sehat.”jawabku. “Iya juga ya, tapi masa jam segini gue udah makan bekel si De. Ish tapi laper. Ihh gimana ya De. Nyemil enak nih.. Makanya ayoo kantin.”tuturnya panjang lebar.

Sepertinya dia tambah sebal. Aku sengaja memakai earphone dan mengencangkan suaranya, aku enggan mendengarkan celotehan sahabatku. Entahlah, aku sedang tidak mood. Dia pasti sudah sangat paham kalau aku seorang yang moody. Jadi, Iapun pasrah dan akhirnya memakan bekal yang Ia bawa.

Dua jam telah berlalu, Raga tetap berada di posisinya sejak tadi. Namun sekarang iya tengah terlelap dengan muka yang mengarah ke tempat dudukku. Walaupun sebagian kepalanya di tutupi oleh jaket, muka tampannya tetap sedap di pandang walaupun sang pemiliknya tengah tertidur. Aku mulai bosan, sahabatku yang dari awal ngoceh panjang lebar sepertinya mulai kehabisan batrai. Akupun menyibukkan diri dengan bermain handphone guna mengusir kegabutan.

Akupun mulai membuka screenlock dan sedikit kaget dengan notif yang mucul. *Bunda Raga* “Ada apa ya?”tanyaku dalam hati. Aku langsung membuka pesan tersebut, dan isinya “Love you too.” Loh?? Kok aneh ya, Bunda Raga tiba-tiba aja sms isinya beginian. Ahh paling salah kirim kali ya. “De.”panggil temanku. “Ya.”sahutku.

“Ada apa sih?”tanyanya dengan muka bantal. “Eh gatau ni, masa tiba-tiba—Eh gapapa kok”jawabku gugup. “Lo kenapa si, wahh gue tau ni. Lo pasti kebanyakan mikirin Raga yekan..”godanya. Tiba-tiba saja dia merebut handphone yang ku genggam dan membaca pesan tersebut.

Diapun kaget dengan apa yang sudah terjadi. Langsung saja dia menghujaniku dengan seribu satu kata tanya tentang Raga. Bahkan sahabatku tidak percaya kalau aku sudah kenal akrab dengan Raga maupun Bundanya. Aku mulai menjelaskannya dari awal kita bertemu, hingga aku mendapat pesan aneh ini.

Kata Nafa, mungkin aja Bundanya Raga salah kirim, saran Nafa sih ga usah di ladenin. Tapi entah kenapa hatiku berkata lain, dengan sigap aku membalas pesan tersebut “Maaf Bunda Raga, Bunda salah kirim ya? Ko aneh tiba-tiba aja sms kaya gitu, ehehe.” dan sepertinya Nafa malas melihat kelanjutannya. Toh sudah terbaca, pasti aja salah kirim.

Cerpen : Misteri Pesan I Love You (Bagian Ketiga)

“Naf.”panggilku. “Apaan?”jawabnya. “Ko gue deg-degan ya.”tanyaku padanya. “Lagi jatuh cinta kali lo.”jawabnya asal. “Ish ga lucu, eh eh di bales.”jawabku dan tiba-tiba notif Bunda Raga muncul kembali, langsung saja ku buka pesan tersebut “Loh bukanya Dean yang sms ke Bunda ‘I Love You’ ya Bunda bales Love you too lah, Dean kali yang salah kirim, ehehe coba cek lagi.”

Tawa Nafa menggelegar ke seisi kelas, akupun langsung memukulnya mengisyaratkan untuk diam. “Wah Wahh Wahh, bagus juga cara lo De. Jadi lo deketin dulu calon mertuanya, baru anaknya. Gila si ini mah, hahaha bagus juga cara lo. Udah De bales aja, iya Bunda itu sms dari aku, buat anaknya Bunda hahaha.”ucap sahabatku dengan suara toa masjidnya.

Aku langsung memasang muka marahku pada Nafa, yang benar saja, suaranya sudah menyita perhatian teman sekelasku, bagaimana kalau Raga bangun dan dengar celotehan kaleng rombeng satu ini. “Naf lo apa-apaan si. Gue berani sumpah bukan gue yang sms, nih lo liat gue ga ngirim apa-apa”ucapku sedikit panik seraya mengecek handphoneku berkali-kali.

“Alah ngeles aja lu, siapa tau lu hapus, yekan. Udah De gue tau ko lu lagi ngincer anaknya lewat pendekatan terhadap Bundanya terlebih dahulu.”godanya sambil tertawa. “Gue serius.. lo liat hp gue, engga ada kirim pesan apa-apa, dan gue gak suka sama dia, paham? Gue sama Bundanya ya deket biasa aja, lagi pula gue se perumahan, sering ketemu aja, lo gimana si kalau ke orang yang lebih tua.

Jadi lo diem dehh, gausah nethink. Pusing gue lagi binggung ini.”ucapku. Aku membuka handphone ku kembali dan membalas lagi pesan tersebut, aku jujur kalau itu bukan aku yang melakukannya. Tak lama kemudian, Bunda Raga membalasnya dengan sedikit menggodaku, menurutnya mungkin saja aku yang salah kirim, dia menyuruhku mengecek ulang siapa tau pesan tersebut sebenarnya ditujukan untuk orang spesial bagiku yang namanya bersebelahan dengan kontak Bunda Raga.

Aku mengelak lagi, bukan aku yang mengirim pesan tersebut, entah siapa yang iseng mengirim sms seperti itu. Aku diam, binggung memikirkan siapa pelakunya, bahkan kata Bunda Raga kalau tidak percaya ada buktinya kalau aku yang mengirim pesan ‘I Love You’ tersebut. Tapi di handphoneku tidak ada pesan apapun yang terkirim ke Bunda Raga, ini siapa sih yang iseng sms.

Kalau di Bunda Raga ada sms dari aku, kok gaada di kontak terkirim ya. Dari 76 kontak di handphoneku kenapa harus Bunda Raga sih.. Mana kirim sms yang kaya gitu lagi. Kalau Raga tau, mau taruh dimana mukaku ini. Mana pulang sekolah ini ada jadwal les bareng Raga lagi. Aduhh.

Cerpen : Misteri Pesan I Love You (Bagian Keempat)

Bel pulang sekolah telah berbunyi, aku cukup lega karna sudah tak ada lagi celotehan cempreng milik Nafa yang tidak ada habis-habisnya menggodaku seharian penuh. Dan kendalaku sekarang tinggal Raga, aku harus bersikap biasa saja seakan tidak terjadi apa-apa.

Aku bergegas pulang kerumah dan bersiap untuk berangkat les. Baru kali ini aku malas untuk les. Biasanya aku selalu bersemangat, tapi tidak untuk saat ini. Pikiran negatifku mulai memutar kembali di otakku, betapa malunya aku di depan Raga. Semoga saja Bunda Raga tidak bercerita apapun pada anaknya perihal sms tadi.

Sepanjang perjalanan menuju tempat les, aku sibuk mengecek handphoneku. Baru terpikirkan untuk mengotak-atik riwayat pesan. Dan benar saja, di riwayat pesan tepat jam 07.00 ada satu pesan terkirim ke Bunda Raga. Aku langsung membukanya, dan sialnya terdapat pop up kalau pesan tersebut sudah dihapus. Licik sekali orang ini, setelah seenaknya mengirim pesan memalukan, lalu dihapusnya. Huh! Menyebalkan..

“Assalamualaikum.”ucapku seraya memasuki tempat les. Mataku terpaku pada sosok laki-laki berkemeja abu dengan lengan panjang yang di gulung sampai siku di depanku. Biasanya dia menyapaku dan menatapku setiap aku masuk ke tempat les. Namun dia hanya tertunduk diam memainkan handphonenya dan sesekali menghela napas.

Akupun duduk. Suasana ruang makin canggung karena hanya ada aku dan dia yang sama-sama memilih untuk diam. Guru les kami izin keluar mencari makanan dan menyuruh kami untuk menunggunya sebentar. Biasanya waktu seperti ini kami habiskan berdua untuk bercanda dan bercerita satu sama lain.

Namun, hanya keheningan yang menyelimuti kami saat ini. Aku menatap keluar jendela, sepertinya hujan akan turun kembali. Gumpalan awan hitam tebal membuat seisi kota ini gelap. Dan benar, belum sampai lima menit, hujanpun turun deras dengan angin yang kencang. Membuat suasana hatiku makin campur aduk saja.

“Kirim pesan apa ke Bunda?”ucapnya. Ah tidak, suara itu.. entah kenapa aku sangat takut untuk menoleh. Akupun memberanikan diri. “Ehh engga tau Ga, bukan Dean yang kirim, serius deh. Ih Raga.. Dean malu, maaf ya, serius itu bukan Dean gatau siapa yang kirim.”ucapku pada Raga.

Cerpen : Misteri Pesan I Love You (Bagian Kelima)

Aku tidak berani menatapnya. Aku tertunduk menahan malu, aku takut Raga berpikiran kalau aku menyukainya dan mendekatinya melalui Bundanya terlebih dahulu. Aku paham betul sifat Raga, dia paling tidak suka kalau ada perempuan yang mengejarnya. Pasti kalau Raga tau, Ia langsung menjauhi perempuan tersebut.

“Buka handphone lo.”ucapnya datar. Langsung saja aku menuruti ucapannya, jantungku berpacu sangat cepat. Ada apa ini? Hanya ada notif dari Nafa. Aku memberanikan diri meliriknya, mata kami bertemu dan aku langsung memalingkan mataku ke layar handphone.

Buru-buru aku membuka notif LINE dari Nafa. “Haluu sahabat gue yang ter-gak-peka. Apa kabar jantung? Ketemu Mas Raga ni yeah..lagi les kan lo? Ahaha oiya gue cuma mau kasi tau aja, gatau penting apa engga intinya omongan gue yang kepotong mulu tadi pengen kasih tau, Raga ganteng tadi pagi duduk di meja lo, gila gak sih. Pas tadi sebelum bel masukk, aneh kan. Ngapain ya kira-kira?”

“Pagi? Bel masuk kan jam 07.00. Jangan-jangan.”tanyaku pada diri sendiri. Mataku langsung tertuju pada Raga. “Gue yang ngetik, sengaja gue kirim ke Bunda.”ucapnya datar. Jantungku berdegup semakin cepat. Diapun pindah ke tempat duduk kosong di sebelahku. “Biar kata-kata itu gak lo lupain gitu aja.”ucapnya menggantung. Aku mengerutkan keningku mengisyaratkan kata tanya.

“Itu buat lo, sengaja gue kirim ke Bunda dulu, ga langsung ke elo. Kalau gue ucapin doang, takutnya lo cepet lupa.”ucapnya lembut. Aku mematung, pipiku memanas, aku menahan gugup dengan menggigit bibir bawahku. Tiba –tiba saja **JGERR** petir menyambar kuat.

Jendela didekat kami bergetar hebat. Suara gemuruh menggelegar kuat amat menakutkan. Ruang yang kami tempati seketika gelap, aku hanya merasakan tangan hangat Raga mengalungiku dan menenangkanku.

“Maaf ya, gue sebenernya suka banget sama hujan, dari kecil juga kerjaannya ujan- ujanan ehehe. Tapi pura-pura gasuka, lagian gue seneng denger celotehan lo. Abisnya lo manis De.”ucap Raga. Entah se-merah apa pipiku saat ini. Untung saja listriknya padam, sepertinya tersambar petir.

“Ujan-ujanan yuk”ajak Raga. “Lo mau kesamber petir juga? Mau mati juga kaya listrik?”tanyaku padanya. “Emang kalau Raga mati, Kenapa?”tanya Raga. “Ya..jangan lah.”jawabku sedikit gugup.

“Aduhh..Iya deh, Raga gabakal ninggalin Dean. Raga ngerangkul Dean aja ya disini sampe listriknya idup lagi ehehe.”goda Raga. “Raga nyebelinn, ih kan Dean jadi maluu”ucapku seraya meneggelamkan muka merahku di dada bidang milik Raga.

Tamat …

Cerpen ini ditulis oleh Safna Deviputri Suwandy kamu juga bisa menulis karyamu di belapendidikan, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah setiap bulannya, Daftar Sekarang

Ahmad Andrian F
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi keluhkesah.com