Cerpen : Mentari Di Lubuk Hati

oleh -1.295 views
Mentari di lubuk hati
Cerpen : Mentari di lubuk hati

Cerpen : Mentari Di Lubuk Hati (Bagian Ketiga)

Bu Asih pun datang menghampiriku, memegang pundak ku, seolah tahu apa yang aku alami. “Kuatlah, karena kita harus menguatkan Azam”, ucap Bu Asih sambil berbisik. Kulihat Bu Asih memanggil Azam. Membawanya berkumpul bersama kami. Kedua warga itu mengatakannya pada Azam. Azam yang tadi sedang tertawa lepas berubah seketika menjadi pucat.

Tanpa pikir panjang dia seperti hendak berlari menembus ganasnya hujan angin malam itu. Tanganku berhasil meraih tangan mungilnya Azam. Tangan itu aku pegang sangat erat. Azam meronta, dia berteriak ingin pulang hingga semua teman yang sedang mengaji terkejut dan berlarian menghampiri kami. Tanganku masih memegang erat tangan gemetarnya itu. Ku peluk Azam, ku peluk sangat erat, aku tahu dia ingin pulang, tapi setidaknya aku tidak akan membiarkan dia berlari di tengah hujan seperti itu.

Azam dalam pelukanku mulai mengerang, Dia yang semula seolah kuat, akhirnya tumbang juga. Azam terduduk sambil menangis tersedu. Tak pernah kulihat orang yang selalu menebar tawa seerti dia, menangis begitu sesaknya. Akupun sudah tak sanggup menahan bendungan air mata lagi.

Aku dan Azam mulai menangis sama derasnya dengan hujan itu. Satu per satu orang disana mulai ikut menangis, tak kuasa menyaksikan kejadian itu. Beberapa saat kemudian, benar saja butiran bening mulai hilang seolah pertanda telah selesai mengabarkan berita duka. Lantas kami semua pergi ke rumah Azam.

Semenjak saat itu, Azam tak pernah masuk sekolah lagi. Kudengar Dia membantu Ibu nya bekerja. Dahulu, Ayahnya adalah seorang petani, sedangkan Ibu nya menjahit menghias kerudung atau pakaian dengan manik-manik. Namun kini, setelah kepergian ayahnya, tentu saja Ibu nya harus berperan ganda. Oleh karena itu, Azam tak tega. Dia hendak membantu Ibu nya bekerja meski harus meninggalkan sekolah yang dicintainya. Tak jarang aku dan anak-anak bermain ke rumah Azam sekadar untuk bercanda, bercerita, dan sebagainya.

Tapi, senyuman itu seolah sirna. Azam menjadi sosok pendiam. Tak banyak bicara. Hanya senyum sederhana yang ia tunjukkan. Video baby shark yang selalu jadi baha lelucon nya pun sudah tak mempan untuk membuatnya tersenyum. Aku selalu membujuknya untuk kembali sekolah, sebenarnya Ibu nya Azam juga tak mau kalau dia berhenti sekolah. Tapi Azam selalu menolak.

Suatu hari, saat hendak masuk ke kelas, ku lihat murid-murid berkumpul ramai. Penasaran apa yang terjadi, aku mendekat dan ternyata hal yang menakjubkan terjadi. Aku lihat sosok yang selama ini hilang perlahan mulai kembali. Ya. Mentari mulai memancarkan sinarnya. Azam kembali. Akhirnya dia kembali bersekolah dan tersenyum lebar, dan dia tetap membantu ibu nya pergi ke ladang selepas sekolah. “Bu Nayla, aku datang. Aku rindu sekolah,

Aku rindu Bu Nayla dan Bu Asih, Aku rindu teman-teman, dan aku ingin bermain bersama lagi” teriak Azam saat melihatku. Alhamdulillah, terimakasih ya Allah ucapku dalam hati. Dia menghampiriku dan mengatakan “Bu jangan menatap ku sepert itu. Jangan kasihani aku. Bersikaplah seperti biasa. Aku jauh lebih kuat dari yang ibu bayangkan”. Aku tersentuh, dan merasa malu. Seorang anak SD bisa berkata seperti itu. Semoga kelak Azam, dan teman-temannya menjadi orang yang sukses dan jujur, doaku.

Tak terasa, hari demi hari berlalu begitu saja, dan sudah waktunya aku kembali ke tempat asalku. Tiga bulan berlalu tanpa terasa. Sebenarnya, aku masih inggin tinggal dua sampai tiga bulan lagi disana. Tapi, apa boleh buat. Aku memang harus pulang, aku pun rindu keluargaku. Meninggalkan desa itu sungguh sangat berat. Apalagi anak-anak selalu memohon kepadaku untuk tetap tinggal disana.

Tentang Penulis: Ahmad Andrian F

Gambar Gravatar
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi keluhkesah.com