Cerpen : Mentari Di Lubuk Hati

oleh -1.293 views
Mentari di lubuk hati
Cerpen : Mentari di lubuk hati

Cerpen : Mentari Di Lubuk Hati (Bagian Kedua)

Hari berikutnya, aku mulai mengajar. Ah, dibandingkan mengajar, lebih tepat mungkin belajar mengajar. Karena aku hanyalah amatir jika dibandingkan Bu Asih. Aku hanya mempraktikan apa yang telah kupelajari di perguruan tinggi.

Hari itu, aku menyapa anak-anak disana, hanya ada satu sekolah dasar disana, dengan murid yang tidak terlalu banyak. Aku memperkenalkan diri, menyebutkan dimana aku tinggal, hobiku, dan macam-macam pokoknya. “Oh, berarti Bu Nayla tinggal di tempat para tikus berdasi”, tiba-tiba seorang anak berkata seperti itu, diikuti gelak tawa teman-temannya. Aku hanya tersenyum menanggapinya, entah darimana mereka dengar istilah seperti itu. Adalah azam yang berkata seperti itu. Siswa kelas lima dengan seorang adik perempuan yang berusia lima tahun.

Dia lah sumber kegembiraan teman-temannya, ada saja tingkahnya yang lucu yang menyebabkan tawa. Kemudian, sebagai hiburan aku menunjukkan beberapa video dari laptop untuk mereka. Mereka sangaat antusias, layaknya melihat mahakarya terindah sedunia. Video baby shark menjadi favorit mereka.

Seolah kecanduan, tiap hari setelah pelajaran usai, aku harus memutar video itu. “Wah, Bu Nayla punya tv lipat yang tak perlu pakai listrik” celetuk salah seorang siswa yang tak lain adalah azam. Ya. Muhammad Azam Abdurohman.

Sejak kedatanganku, anak-anak disana setiap hari selalu mendatangiku. Pagi hari, bahkan saat matahari belum memancarkan sinarnya, mereka sudah di depan rumah Bu Asih, menunggu ku untuk berangkat sekolah bersama mereka. Pulang sekolah pun harus bersama. Selepas Magrib, kita juga menghabiskan waktu bersama dengan mengaji, bermain, bercerita atau mengerjakan tuga sekolah bersama. Tak jarang aku diajak main oleh mereka ke tempat-tempat yang luar biasa.

Ke sawah, ke kebun yang banyak singkong ataupun buah jeruknya, ke sungai yang konon ada buayanya. Entah benar atau tidak, karena mereka menceritakannya sambil tertawa membuatku curiga. Sungguh, aku sangat menikmati hari-hari disana. Pantas saja, Bu Asih tak mau beranjak dari tempat itu. Senyum mereka, senyum merekah yang begitu indah. Belum terkontaminasi canggihnya teknologi. Murni. Loncat tinggi menggunakan karet, bermain bola bekel, kelereng, dan permainan tradisional lainnya mengisi waktu mereka.

Berbeda dengan anak kota nun jauh disana, yang menghabiskan waktunya hanya dengan menunduk dan menggerakkan jarinya diatas licinnya layar mewah gadget mereka. Berbeda dengan mereka yang sibuk membuat video galau sambil menyanyi, menangis tersedu, walau usia mereka belum sampai satu dekade.

Saat hari libur tiba, aku selalu pergi ke kota, kadang ditemani anak-anak, Bu Asih, atau hanya sendiri. Sekadar untuk berjalan-jalan, internetan dan yang paling utama menelpon orang rumah. Aku sangat merindukan keluargaku. Biasanya aku menghabiskan waktu di kota untuk telpon menceritakan semua yang terjadi disini, semua yang aku alami dengan sangat antusias. Orang tua ku pun merespon sama antusiasnya. Bahkan mereka ingin meyusulku, menyaksikan sendiri betapa indahnya pemandangan desa itu. Pemandangan yang sudah jarang ditemukan nun jauh disana.

Sore itu, senja seperti enggan menampakkan dirinya. Tergantikan oleh tebalnya awan hitam yang menggulung. Angin berhembus tak bersahabat hingga dingin seakan menusuk ke dalam sukma. Gemericik hujan mulai terdengar menyentuh tanah kering di pedesaan. Meski begitu, tetap tak menyurutkan semangat anak-anak untuk mengaji.

Mereka tetap datang menembus gelap serta menembus hujan dengan bersenjatakan lentera sederhana. Malam itu, di cuaca seperti itu, dengan hujan deras seakan tak akan ada habisnya, dengan angin yang semakin berhembus dengan semakin kuatnya, kulihat ada dua orang warga yang datang dengan basah kuyup. Sedikit terkejut, tapi tak terbesit apapun dipikiranku.

Aku terpaksa menghentikan sejenak Fitri yang sedang mengaji, dan menyuruhnya beralih ke Bu Asih, lantas segera ku hampiri warga itu. Ternyata, setelah menemui warga itu, aku tahu kenapa cuaca sore itu seolah tidak bersahabat. Aku tahu kenapa hujan begitu lebat dan angin berhembuat begitu kuat. Ternyata ini yang mereka bawa. Kabar duka.

Kepergian orang yang dicinta. Ayahnya Azam. Ayahnya Azam telah tutup usia. Mereka hendak membawa Azam pulang. Tubuhku lemas, tubuhku bergetar, mataku panas menahan tangisan, dadaku sesak, leherku tercekat, apalagi Azam pikirku. Kulihat Azam masih tertawa bersama temannya di dalam sana menunggu giliran mengaji. Bagaimana bisa kabar itu datang di saat seperti ini. Bagaimana cara menyampaikannya pada Azam. Pemikiran-pemikiran seperti itu berkecamuk dalam pikiranku.

Tentang Penulis: Ahmad Andrian F

Gambar Gravatar
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi keluhkesah.com