Web portal pendidikan – Cerpen kali ini berjudul Ku titipkan kekasih hatiku untuk Nya, yang dikirimkan oleh salah satu peserta dalam ajang lomba cerpen nasional bersama belapendidikan.com. Untuk lebih lengkapnya dapat kita lihat sebagai berikut.

Cerpen : Ku Titipkan Kekasih Hatiku Untuk Nya (Bagian Pertama)

Bersanding dengan seseorang yang paling dikasihi, disayangi dan orang yang paling mengerti tentang kita adalah suatu keinginan yang ingin dimiliki semua orang didunia ini. Tak ada alasan untuk menolak kebahagiaan ini, tapi tak semua bisa mendapatkannya.

Seperti halnya yang terjadi pada diriku. Begitu yang tertuang dalam setiap bait kalimat Annisa dalam diary mungil yang selalu menemani hari-harinya dalam suka maupun duka. Semua terasa menghimpit dadanya, hingga ia susah untuk menghembuskan nafas. Semua tulangnya terasa remuk saat harus menerima semua kenyataan yang melebihi dari pahitnya apapun.

Ingin rasanya ia memutar waktu agar semua ini bisa dia hindari atau bahkan tak akan pernah terjadi. Tapi apalah daya Annisa yang juga hanya manusia biasa yang tak punya kuasa atas apapun di atas muka bumi ini.

Kala itu, tepatnya sebulan menuju hari pernikahan Annisa, dia sudah sangat sibuk untuk mempersiapkan segala hal. Mulai dari gaun pengantin yang akan dia dan calon suaminya, Mas Fitrah kenakan, undangan, catering dan semua yang berkenaan dengan pesta pernikahan yang sudah dijadwalkan dengan rapi sesuai dengan tanggal baik pilihan kedua keluarga.

Maklumlah, ini adalah moment yang sangat berharga dan merupakan moment sakral sekali untuk seumur hidup. Jadi, Annisa juga ingin turut serta mengatur semua yang berkenaan dengan pernikahannya. Walau sebenarnya Mas Fitrah sudah meminta pihak WO (Wedding Organizer) untuk mengurus semua keperluaan saat acara pernikahan, tapi tetap saja Annisa tetap bersikukuh ingin turut andil.

“Sudahlah Nisa, Mas gak mau kamu itu terlalu lelah untuk mempersiapkan semuanya. Karena mas tahu gak bisa bantu. Mas kan masih ada tugas, terus cutinya juga belum secepat yang kita inginkan sayang” ujar Mas Fitrah mencoba memberi pengertian pada Annisa. Tapi dengan rayuan yang disertai rengekan Annisa justru berujar,

“Mas, inikan momennya sakral, teruskan cuma sekali seumur hidup juga” (dengan mengeluarkan jurus senyuman termanisnya) Dengan sigap calon suaminya yang seorang bela negara langsung menjawab pernyataan calon istrinya dengan nada yang sedikit meledek,
“O… emang ada yang mau nikah lebih dari sekali nih ceritanya”

Dengan wajah yang mulai ditekuk, Annisa pun menjawab seperti sedang menggerutu,
“Padahalkan maksudnya bukan gitu Mas” (Suara yang seperti terpendam menahan sedih)
Mas Fitrah yang melihat sikap Annisa yang mulai berusaha menahan air matanya, menjadi tersenyum simpul.

Dia paham benar akan sifat calon istrinya yang sedikit perasa dan manja terhadapnya. Dengan sikap berubah seratus delapan puluh derajat ia pun mencoba untuk meluluhkan gunung es yang sedang membeku.

“Sepertinya kali ini, ada pasukan yang harus minta maaf lagi sama komandan” (Dengan nada yang memelas dan tulus meminta permohonan maaf). Laki-laki itu berbalik menghadap kearah perempuan yang tak lama lagi akan menjadi pendampingnya yang sah. Mas Fitrah memanyunkan bibirnya demi mengharapkan sepenggal kata maaf dan seuntai senyuman yang manis. Annisa yang sebenarnya berhati lembut itupun akhirnya mengalah demi wajah itu.

Hatinya seolah porak poranda oleh wajah itu. Wajah yang selalu membuatnya rindu dan ingin segera bersatu. Di anggukkannya kepalanya tanda bahwa ia sudah menerima permintaan maaf yang tulus dari si prajurit negara tersebut. Sambil menguntai senyuman manis di bibirnya dia menjawab,

“Ya sudah, maaf prajurit diterima” (Keduanya pun kompak menyunggingkan senyuman yang berarti sudah ada perdamaian diantara kedua belah pihak)
“Sekarang terserah Annisa aja gimana baiknya, Mas ini cuma gak mau kalau calon istri kesayangan mas ini jadi sakit atau kelelahan pada saat hari yang bersejarah itu kita gelar”
“Hm, iya Annisa mengerti kok mas, terima kasih buat semua perhatian dan kasih sayang tulusnya buat Nisa selama ini” (sambil mengangguk dan bersuara manja khasnya)

Cerpen : Ku Titipkan Kekasih Hatiku Untuk Nya (Bagian Kedua)

Mas Fitrah calon suami Annisa adalah seorang pasukan tentara yang sedang bertugas diluar kota. Sebagai pemimpin dari kesatuannya dia juga ingin menunjukkan sikap profesionalisme kerja kepada para pasukan dan anggota lainnya. Walaupun dia akan segera menikah, tapi ia tak mau meninggalkan pekerjaannya terbengkalai begitu saja.

Sedikit terdengar tidak perduli dengan pernikahannya memang, tapi itulah Fitrah dengan jiwa kesatria bela negaranya. Dia sudah mengambil cuti seminggu sebelum acara sakral itu akan dimulai.

Jadi, masih ada waktu kira-kira tiga minggu lagi untuk menyelesaikan semua pekerjaan ini. Annisa awalnya tidak setuju dengan semua keputusan calon imamnya itu, namun setelah diberi pengertian ia pun akhinya bisa menerima dan justru mendukung keputusan orang yang selalu bisa memahami dan memanjakan dirinya tersebut.

Hari demi hari terus berganti, rencana demi rencana telah tersusun dengan rapi. Penantian hari bersejarah itu akhirrnya semakin dekat. Ini adalah minggu terakhir dimana mas Fitrah sudah seharusnya untuk pulang, sesuai dengan keputusan cuti yang telah ia pilih.

Annisa sebagai orang yang paling menunggu kepulangan lelaki yang ia cintai itu, sudah sangat berharap segera bertemu. Ia tak ingin buru-buru untuk menghubungi laki-laki pujaannya tersebut, sebab ia ingin sekali mendapat kejutan dan ia percaya jika sosok mas Fitrah itu tidak akan pernah mengingkari janjinya.

Ia menunggu sambil mempersiapkan sedikit kejutan kecil yang bisa membuat mas Fitrah akan sangat merasa senang. Dia memasak makan kesukaan laki-laki tersebut dengan penuh cinta.

Jarak pulau jawa dan sumatera yang diperkirakan seharusnya sudah tiba justru membuat Annisa semakin gusar. Kedatangan mas Fitrah tak kunjung tiba. Hari semakin larut, namun mas Fitrah tak jua jelas kedatangannya hingga membuat Annisa semakin cemas. Kalau-kalau calon suaminya itu sedang mengalami masalah.

“Harusnya, mas Fitah kan sudah tiba, jika melihat pada kepulangannya selama ini” gumam wanita berhijab ini dengan wajah penuh kecemasan. Hingga Annisa tak sadar jika sedari tadi ayah dan ibunya sedang memperhatikan sikapnya tersebut. Ibunya sudah berulang kali memanggil namanya ingin mengatakan sesuatu, tapi Annisa justru tak begitu menghiraukannya karena asyik memikirkan hal-hal yang sedang terjadi pada si lak-laki jangkung itu.

Hingga akhirnya ibu datang mendekat seraya menyentuh bahunya, Annisa pun sedikit terkejut dan sadar jika ayah dan ibunya sedang memperhatikannya sedari tadi.
“Cobalah kamu telpon Fitrah, mengapa sudah selarut ini dia belum juga tiba, biasanya dia sudah mengabari jika ia ingin kita jemput dibandara”. Ujar sang ibu berusaha memberikan ketenangan untuk putri bungsunya tersebut. Maklumlah Fitrah merupakan anak yatim piatu dan tidak memiliki saudara yang tinggal di sumatera. Ia hanya mengenal keluarga Annisa, jadi pasti ia akan pulang kerumah Annisa.

“Iya nak, cobalah kamu tanyakan, apa sebenarnya yang sedang terjadi. Fitrah tidak pernah seperti ini sebelumnya” Ayah ikut memberikan sarannya, sebab ia tahu dan paham benar akan sifat calon menantunya tersebut. Annisa pun segera masuk kedalam kamarnya seraya mengangguk tanda menerima usulan kedua orang tuanya tersebut.

Ia pun mengambil telepon genggamnya yang sejak pagi memang sengaja tak disentuhnya demi mempersiapkan penyambutan calon suaminya tersebut. Ia mulai membuka layar handphone tersebut dan betapa terkejutnya ia melihat ada banyak pesan dan panggilan yang tertera dilayar handpone nya.

Semua itu merupakan pesan whats app dan panggilan telepon dari Fitrah. Lelaki yang sejak pagi tadi sudah sangat ia tunggu-tunggu kehadirannya dirumah.

Dalam pesan singkat yang ia kirimkan dengan sangat berat hati dia harus mengundur kepulangannya pada hari berikutnya. Fitrah tak menyampaikan alasan yang begitu jelas, hanya saja ada pekerjaan yang harus dia kerjakan dan tak bisa ditunda walaupun sehari saja.

Hal ini tentunya membuat Annisa sedikit kecewa dan gelisah, apa sebenarnya yang terjadi dengan mas Fitrah? Gumamnya dalam hati. Setelah membaca pesan itu, masih dengan perasaan kecewa dia coba untuk membalas pesan singkat itu.

“Assalamualaikum mas”
“Maaf Nisa baru liat pesannya mas Fitrah, jujur Nisa kecewa mas karena mas membatalkan kepulangan begitu saja tanpa pemberitahuan dari awal. Ya… walaupun satu hari kan tetap saja tidak jadi pulang hari ini. Padahal Nisa udah masak masakan kesukaannya mas Fitrah… ”

Begitu pesan singkat yang ia kirimkan bersama rasa kecewa dan air mata kesedihan yang tertahan. Hanya dalam waktu beberapa detik saja pesan itu sudah diterima oleh Fitrah. Laki-laki diseberang itu segera mengirimkan emoticon tersenyum penuh cinta kepada calon istrinya tersebut. Nisa yang menerima balasan pesan itu merasa sedikit aneh dan kecewa mengapa hanya balasan itu yang ia dapatkan. Padahal seharusnya kan mas Fitrah itu minta maaf atau apalah gitu yang bisa buat hati jadi tenang, gumam perempuan berhijab itu. Tapi, ya sudahlah mungkin saja lagi sibuk, timpalnya lagi dalam hati.

Cerpen : Ku Titipkan Kekasih Hatiku Untuk Nya (Bagian Ketiga)

Keesokan harinya Fitrah pun kembali kerumah untuk memenuhi janjinya. Kali ini ia datang dengan segudang kebahagiaan untuk menunaikan ikrarnya menghalalkan kekasih hatinya. Nisa sang calon istri menyambut dengan raut bahagia yang masih menyimpan Tanya dan kecewa.

Tak ada hal yang spesifik yang diceritakan Fitrah kepada Nisa dan keluarga tentang penundaan kepulangannya itu. Dia hanya mengatakan ada tugas penting yang memang tidak bisa ditunda dan harus diselesaikan hari itu juga. Persis dengan apa yang dia kirimkan kepada Nisa.

Semuanya pun dapat maklum dan mengerti dengan kondisi sang abdi Negara tersebut. Nisa pun tak lagi mempertanyakan perihal keadaan yang sebenarnya terjadi. Sebab ia pun telah berjanji akan saling percaya satu sama lain dengan calon imamnya tersebut. Dia berusaha membuang semua rasa curiga, penasaran dan kecewanya selama ini. Semua pun berjalan sebagaimana mestinya.

Hingga tiba akhirnya hari dimana kedua insane manusia ini akan mengucapkan ijab Kabul untuk menghalalkan hubungan keduanya. Ini adalah hari yang dinanti-nanti selama ini. Hari bahagia yang begitu didambakan dua insan Allah tersebut. Mereka mengenakan busana bernuansa putih, baik pengantin dan juga keluarga.

Fatih dengan kemeja putih dan juga jas putihnya terlihat gagah dan Annisa juga terlihat anggun dan ayu dengan selayar putihnya nan muslimah disertai hijabnya yang juga merupakan padu padan putih yang elegan.

Semua tampak bahagia, terlihat dari senyuman yang tak kunjung surut dibibir mereka. Kedua calon mempelai sudah duduk didepan meja penghulu. Semua para tamu undungan juga sudah siap menyaksikan ikrar cinta mereka. Pak penghulu juga sudah siap menjadi saksi ikrar cinta mereka.

Pak penghulu menuntun Ayah Annisa untuk membacakan isi ijab yang akan diikrarkan kepada calon menantunya tersebut. Hanya dengan satu tarikan nafas saja Fitrah dapat menjawab ijab tersebut tanpa terbata-bata.

Semua sorak sorai melantukan sah, sah, sah seraya membacakan Al-Fatihah sebagai wujud syukur kepada Allah. Seperti layaknya pengantin mereka berdua pun melakukan prosesi pemakaian cincin. Sambil mencium tangan suaminya penuh khusyuk bahagia, Fitrah menaruh tangannya diatas kepala perempuan yang kini telah sah menjadi istrinya sambil mendo’akan semua hal yang baik kepada pendamping hidupnya tersebut.

Tepat dihari pernikahan tersebut, adzan zuhur berkumandang, Fitrah meminta Annisa untuk melakukan shalat berjamaah. Sebagai makmum yang baik, diapun mengamini permintaan imam hidupnya tersebut. Mereka berwudhu dan mulai melaksanakan shalat empat rakaat disiang hari tersebut.

Fitrah mengambil posisi tepat didepan istirnya sebagai imam dan sang istri berada dibelakangnya sebagai makmum. Shalat yang diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam tersebutpun berjalan dengan sangat khusyuk. Didalam do’a nya Fitrah memohon kepada Allah kebahagiaan sang istri baik dengannya ataupun kelak tanpanya. Semua do’a itu diamini oleh sang istri tanpa ada terselip rasa curiga. Annisa hanya berpikir baik dengan semua lantunan do’a-do’a dari sang suami tersebut.

Selesai berdo’a Annisa kembali mencium tangan suaminya dengan penuh hormat dan cinta. Hingga pada akhirnya seseorang datang untuk menanyakan apakah acara resepsi sudah dapat dilanjutkan. Awalnya Annisa sudah menjawab dengan mantap, tetapi Fitrah mempengaruhinya untuk menunda sebentar saja. Kita tunggu tiga puluh menit lagi aja ya, jawab Nisa kepada orang tersebut. Orang tersebut pun berlalu tanda mengerti.

“Sayang, Mas boleh gak tidur dipangkuan kamu sebentar saja”, sambil terseyum Fitrah memulai percakapannya sebelum acara resepsi. Dengan yakin dan senyuman yang meneduhkan hati pula Annisa menjawab,

“Ya tentu boleh dong mas, jangankan sebentar, lama juga gak papa kok. Sekarangkan udah halal” ujarnya membalas pertanyaan sang suami.
“Terima kasih ya sayang, tapi mas cuma butuh waktu sebentar aja kok”. Sambil berbaring dipangkuan sang istri tercinta. Annisa tak hentinya membelai rambut kekasih hatinya tersebut dengan penuh cinta.

Hingga dia tak pernah tahu dan mendengar kalau suaminya sudah mengucap kalimat syahadat dan menghembuskan nafas terakhirnya. Annisa baru sadar jika suaminya sudah pergi mengahadap Ilahi saat ia membangunkan Fitrah untuk mengikuti acara resepsi yang telah dijanjikan akan dimulai tiga puluh menit seperti permintaan mereka berdua.

Annisa berulang kali memanggil manggil nama suaminya itu diiringi dengan derai air mata yang bercucuran layaknya sumber mata air yang tak mau kering, namun tak ada sautan. Yang hanya ada senyuman kaku yang terlihat jelas dibibir suaminya itu. Semua para undangan pun turut menyaksikan hal tersebut, hingga akhirnya seorang dokter didatangakan pihak keluarga untuk memeriksa Fitrah dan dipastikan Fitrah memang sudah tak lagi bernyawa dan mengahadap keharibaan Allah.

Cerpen : Ku Titipkan Kekasih Hatiku Untuk Nya (Bagian Keempat)

Annisa begitu terpukul dengan pernyataan sang dokter, yang mengatakan jika sang suami memang benar telah meninggal dunia. Hatinya seperti tersayat-sayat pisau tumpul nan berkarat. Perih batinnya tak tertahankan. Mengapa semua harus terjadi pada dirinya.

Haruskah aku terpisah selama-lamanya dengan dia yang kucintai secepat ini ya Allah tanyanya dalam hati. Semua keluarga terus memberikan dukungan dan semangat untuk Annisa yang tampak sangat berduka dihari bahagianya tersebut. Tanda kuning menjadi merah. Hari bahagia menjadi nestapa. Semua tamu undangan pun menjadi para pelayat yang siap membacakan surah Yasin dan do’a-do’a untuk sang pengantin baru yang kini telah menghadap kepada Rabb-Nya.

Acara pemakaman pun dilakukan pada hari yang sama setelah shalat Ashar. Annisa turut serta menshalatkan sauminya tersebut, walau pada akhirnya dia tak diperbolehkan untuk mengantarkan sang suami ke peristirahatan terakhir. Sebab semua keluarga cemas dengan kondisi nya yang terlihat begitu drop.

Tenaganya habis terkuras air mata. Walaupun hatinya selalu berdo’a memohon kekuatan tapi tetap saja ia tak berdaya melawan air mata yang tercurah saat teringat kenangan mereka bersama.

Cerpen : Ku Titipkan Kekasih Hatiku Untuk Nya (Bagian Kelima)

Waktu demi waktu berganti, detik berubah menit, menit berubah jam, jam berubah hari, hari berubah bulan. Namun Annisa masih terlihat memendam duka. Kini tepat empat puluh hari kepergian sang suami tercinta. Annisa membereskan semua peninggalan sang almarhum untuk disimpan ditempat yang lebih baik. Tanpa sengaja dia membuka tas yang berisi sebuah surat tulisan tangan almarhum suaminya kepada dirinya. Annisa penasaran dan mulai membaca isi surat tersebut.

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…
Dear Istri ku tersayang 
Sebelumnya mas mau minta maaf sama Nisa, kalau suatu saat Nisa menemukan surat ini, itu tandanya mas sudah gak lagi ada di dunia yang sama dengan Nisa. Mas sudah pergi memenuhi panggilan Ilahi. Surat ini mas tulis buat Nisa saat mas menunda kepulangan dan mas baru saja pulang check up tentang sakit yang sering mas alami.

Mas divonis mengidap kanker usus stadium akhir. Mas tahu gak punya banyak waktu untuk Nisa. Malam itu mas juga bertahajud kepada Allah berharap mas gak akan mengecewakan kamu setelah mas menunda kepulangan mas waktu itu. Mas memohon sama Allah untuk mengizinkan mas jadi imam kamu walau cuma sehari saja. Mungkin Nisa berpikir mas jahat, mas egois atau yang lainnya, tapi jujur niat mas sangat tulus sayang. Aku benar-benar mencintaimu karena Allah.

Mas ingin Nisa bahagia baik saat mas Fitrah ada ataupun tidak. Percayalah Allah tidak akan memberikan ujian kepada hamba-hamba-Nya melampaui batas kemampuannya. Terpukul sudah pasti sayang, tapi kamu harus yakin kalau aku saat ini sudah sangat bahagia walau hanya bisa memiliki mu sebentar saja.

Tak ada yang lebih membahagiakan selain dapat bersanding bersama mu walau hanya sekejap. Jika Annisa juga mencintai mas karena Allah ikhlaskan aku pergi sayang, sebab ketidak ikhlasanmu dan kesedihanmu akan turut mengundang sedihku.

Percayalah sayang, akan selalu ada Allah yang menjagamu, mencintaimu dimanapun kamu berada 
Salam sayang dan rindu dari imam seharimu yang akan selalu mencintai mu hingga kapanpun dan semoga kita akan dipersatukan Allah kelak disyurga-Nya. Amin… 
Mas mu
Fitrah…

Air mata turut membanjiri surat terakhir dari suaminya tersebut. Dadanya yang terasa sesak kini mulai lega setelah menemukan jawaban atas teka-teki kecurigaannya selama ini. Dia baru paham do’a-do’a yang dipanjatkan sang suami saat hari pernikahan dan didetik-detik akhir hidupnya. Semata-mata untuk memberikan dirinya kekuatan.

Dia paham jika laki-laki ini ingin selalu melihatnya bahagia bukan malah sebaliknya. Hidup dalam kesedihan terus menerus. Semua pesan yang disampaikan almarhum suaminya itu kini menjadi kekuatan dan pengobat rindunya.

Disepertiga malam Annisa terbangun untuk menghadap Allah, dia seperti merasakan jika almarhum suaminya itu ada berada dekat dengannya saat itu. Dia pun bertahajud memohon ampunan dan mendo’akan suami tercintanya yang kini sudah tak lagi ada bersamanya.

Ya Allah…
Disepertiga malam mu ini akan datang memohon ampunan atas segala dosa dan kekhilafan yang ku lakukan selama ini. Aku paham dan sadar jika aku hambpir saja dibutakan oleh cintaku pada makhluk ciptaan-Mu. Kini aku tersadar cinta yang abadi hanyalah milik-Mu.

Ampunilah dosa-dosa suamiku jika dia selama ini juga banyak melakukan dosa dan kekhilafan terhadap-Mu. Terimalah semua amalan-amalan baiknya disisi-Mu. Tempatkan dia diselayaknya tempat disisi-Mu. Aku percaya Engkaulah Rabb yang maha pengasih lagi maha penyayang. Tak ada yang bisa menandingi besarnya lautan kasih sayang dan ampunan-Mu.

Dengarkan pintaku ya Rabb, biarkan aku bahagia saat aku sudah bisa menitipkan kekasih hatiku diselayaknya tempat disisi-Mu.
Amin… 

Selesai shalat Annisa merasa jika sosok laki-laki pujaannya itu ikut hadir menyaksikannya lalu berlalu pergi dengan senyuman manis. Seolah dia datang hanya untuk memastikan jika tugasnya sudah selesai sebagai seorang suami.

Dia sudah bisa menuntun istrinya untuk bisa terus menjalankan hidupnya didunia walau tanpa dirinya. Sebab dia ingin tunjukkan jika kuasa Allah itu sungguh nyata dan luar biasa. Semua akan baik-baik saja saat semua kau serahkan kepada Allah. Termasuk saat kau menitipkan kekasih hatimu untuk-Nya.

Tamat…

Cerpen ini ditulis oleh Rica Rahmawati Hutauruk kamu juga bisa menulis karyamu di belapendidikan, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah setiap bulannya, Daftar Sekarang

Ahmad Andrian F
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi keluhkesah.com