Web portal pendidikan – Cerpen kali ini berjudul Ku jemput mimpi demi budayaku, yang dikirimkan oleh salah satu peserta dalam ajang lomba cerpen nasional bersama belapendidikan.com. Untuk lebih lengkapnya dapat kita lihat sebagai berikut.

Ku Jemput Mimpi Demi Budayaku (Bagian Pertama)

Berdiam diri Di dalam kamar hanya membuatku merasa bosan, teringatlah aku akan latihan suatu gerakan untuk menghibur diriku. ada baiknya jika aku ulangi gerakan –gerakan tarian itu. Kuhentakan kaki ini secara perlahan, ku gerakan dan kumainkan tubuhku serta kepalan tangan sambil melangkah ke kanan dan ke kiri di iringi lantunan musik dari radio yang ku putar.

Terlihat di balik cermin panjang yang dibuat ayah memantau gerakan ku . aku berusaha mengingat gerakan demi gerakan sambil mengingat ketukan angka-angka setiap gerakan. Akan bingung jadinya jika aku belum memperkenalkan siapa diriku. aku ridho Abdullah aku bisa dipanggil ridho, hanya saja teman-teman biasanya memanggilku dengan nama idoy. umurku 14 tahun bulan ini umurku akan berkurang menjadi 15, itupun jika umurku panjang. aku suka bermain takraw, dan aktif di kegiatan pramuka namun sekarang aku juga menjadi suka menari. menari mulai ku sukai karena disaat pramuka kami ada kegiatan tambahan yaitu menari selain PBB.

Dan aku mulai giat latihan menari karena aku dipilih untuk mengikuti lomba dalam acara Festival Culture di kabupaten . itulah yang membuatku sangat ber’ambisi untuk menang dalam festival ini.

Tiba-tiba terdengar suara ganggang pintu kamarku terbuka,dann… “sretttt… ridho ngapain kamu ?? l”Tanya bapakku mengagetkan ku. “ ridho lagi latihan pak, latihan menari untuk ikut lomba “ jawabku sedikit gugup. “apa ?? menari ?? laki-laki kok menari ?? sudah ayo keluar bantu bapak mencuci motor ! “ perintah bapak dengan nada agak keras.

Aku segera mengambil busa dan kain lap serta sabun dan ember untuk membantu bapak mencuci motor. perasaanku mulai tidak enak dari nada raut wajah bapak sepertinya bapak tidak suka jika aku menari.

Tapi aku harus berpikir positif aku sudah lama mengenal bapakku .mungkin saja beliau sedang lelah hari ini. sebaiknya aku tidak membahas hal ini lagi. aku tertegun dalam hati sambil menyemprotkan air ke daerah bagian motor yang kotor.

Setelah selesai mencuci motor aku segera menuju dapur membantu ibu menyiapkan untuk makan malam, karena aku adalah anak tunggal semua harus dapat ku kerjakan sendiri, karena kedua orangtua ku tidak mendidik ku menjadi anak laki-laki yang manja semua harus dilakukan sendiri bahkan pekerjaaan wanita sekalipun yaa..meski aku tidak terlalu bisa memasak seenak ibuku .hehehe…

“ Ridho,kamu udah hafal gerakan tari nya, nanti kalau kamu jadi berangkat yang antar kesana siapa? pihak sekolah? atau biaya sendiri? Tanya ibu sambil mengaduk teh . “ mungkin pihak sekolah bu…kalau biaya sendiri ridho juga gak tau daerah dan lokasinya apalagi diluar kabupaten” .

Ku Jemput Mimpi Demi Budayaku (Bagian Kedua)

“siapa yang mau berangkat ??”Tanya bapak sambil menarik kursi di meja makan. Aku hanya diam tak berani menjawab. “ semua orang pada tuli ya! Ditanya kok diam ! “ ujar bapak lagi sambil meneguk teh.
“ridho pak, dia mau ikut lomba antar kabupaten dalam rangka acaraa….acara apa ndok ??tanya ibu

“ acara Festival culture pak ,buk..” jawabku.
“ bapak paling tidak suka laki-laki itu menari, kamu bisa ikut lomba atau kegiatan yang lain asalkan jangan menari ! itu gerakan untuk wanita.” Jawab bapak dengan medog jawanya padaku.

“taaa..piii…pak, menari tidak hanya untuk wanita ,gerakan untuk pria juga ada.”jawabku lagi. “ kalo semua tidak mau mendengarkan kata-kata bapak ! terserah saja ! jangan harap bapak meizinkan !! Paham??

Bu… aku pergi dulu ke mesjid ! ridho jangan lupa kamu ke mesjid ! biar terbuka mata mu itu laki-laki kok menari ! “ bapak pun pergi keluar menuju mesjid .

“ nak….jangan sedih, ibu dukung kamu ikut lomba itu, tanggung kamu udah habis waktu untuk latihan. “ jawab ibu berusaha menenangkan ku. “ makasih buk..ridho pamit ke mesjid ..assalamualaikum …” aku segera mengambil sajadah dan mengkalungannya di leher ku.

Keesokan paginya tepat pada hari minggu adalah hari yang membuatku sedikit ringan tanpa beban seperti hari-hari biasanya. pagi itu di hadapanku sudah tersedia sepiring nasi, dengan lauknya tempe goreng yang di lapisi tepung yang masih hangat serta sayur asam. aroma dari masakan ibu betul-betul membuatku tak bisa menahan selera makan. aku segera menyendokan nasi ke piringku. “ bapak kemana bu??? Biasanya udah di meja makan.” Tanyaku heran.

”Bapak tadi pergi pagi-pagi sekali ada kerjaan. jadi tadi bapak ibu bawakan bekal.” Jawab ibu lagi. Aku menikmati betul masakan yang dibuat ibu.” O’ya dho ! nanti selesai makan kamu antarkan baju bu Nimah ya … udah selesai ibu jahit ,udah ibu siapkan di meja ruang tamu. “siyappp bu…” jawabku lagi. Selesai makan aku segera pergi menuju rumah bu Nimah mengantarkan jahitan.

Ibuku selain ibu rumah tangga juga mencari usaha sampingan dari keahliaannya yang bisa menjahit ,lumayan hasilnya bisa membantu perekonomian keluarga. Di jalan aku bertemu dengan siti teman sekelasku yang ikut lomba menari sepertiku. “ doy ! abis darimana?? Tanya siti”

“Biasa antarin jahitan ibu…kamu mau kemana ?? “ aku mau sanggar,biasa latihan nari,eh kamu udah hapal belum gerakannya ??2 minggu lagi lho ..”ujar siti mengingatkan. “iya insyaallah hafal,aku udah latihan terus dirumah” jawabku lagi. “bagus deh kalau gitu, duluan ya ..assalamualaikum doy ! “ siti pun pergi duluan meninggalkan ku.

Pulang dari rumah aku segera latihan menari kembali, mumpung bapak belum balik kerumah. Aku mencoba mengahafalkan lagi ketukan setiap gerakannya.

Ku Jemput Mimpi Demi Budayaku (Bagian Ketiga)

Keesokan paginya, seperti layaknya anak sekolah pada umumnya aku sudah disibukkan dengan tas yang berat setiap hari senin, pagi ini aku tidak boleh terlambat pergi kesekolah apalagi terlambat mengikuti upacara, selain membersihkan sekolah jika terlambat, orang tua pun bisa ikut dipanggil. jangan sampai aku membuat masalah di pagi hari begini, aku segera cepat-cepat mengikat dasi dan pamit kepada ibu dan bapak untuk pergi sekolah! “

Ridho sarapan dulu ! “ teriak ibu padaku. namun teriakan itu tak kuherani maafkan aku ibu ..aku terus mengayuh sepeda tinjakku dengan cepat. “ sialll!! …seharusnya aku bangun lebih pagi tadi ! gak ingat minta uang saku lagi !..” dengan raut muka kesal aku mempercepat kayuhan sepedaku.

Biarpun aku bangun jam 6 tetap saja aku akan terlambat karena jarak rumahku yang cukup jauh dari sekolah SMP ku. Ayah sengaja tidak ingin pindah, sebab tanggung jika aku pindah karena nanti ketika aku SMA jarak sekolahku dengan rumah akan sangat dekat hanya bersebrangan jadi aku harus tahan selama 3 tahun ini berangkat lebih pagi dari yang lain demi menimba ilmu…Eeaaa..

Akhirnya aku sampai juga di sekolah tercinta ini, aku segera memarkirkan sepeda tinjak ku dengan rapi. “ tumben doy biasanya paling awal “. kata dicky teman sohib ku . “ia nih tadi kesiangan,…ayo langsung ke lapangan upacara “ ajak ku kepada dicky.

Usai upacara aku dipanggil oleh ibu Mirna beliau adalah guru seni ku beliau memintaku ketika istirahat pertama nanti menemui beliau di ruang guru.aku pu mengangguk paham. “ doy, apa kata bu cantik tadi ?? “Tanya dicky.” Ibu cantik ?? siapa ??

“ hedehh,,pura-pura gak tau lagi,bu Mirna lah ! “ jelas dicky .” dasar ! giliran guru muda panggilannya guru cantik, coba guru Fisika, Matematika, panggilannya guru legend ! sekalian aja noh Mobile legends “ jawabku bergurau

“hahahaha… ststt diam aja lah kau “
“terserah lah tadi itu Beliau minta aku nanti istirahat pertama ke kantor menemui beliau,tapi urusan apa aku belum tau makanya nanti kamu temenin aku nanti ya !??. “pinta ku pada dicky.

“ alahh,kenapa tidak aku saja yang dipanggil tadi ! tapi tidak apa lah ,siyappp boss nanti aku temenin kau..”jawab dicky . kami segera menuju kelas untuk mmeulai jam pertama pelajaran.

“doy, jadi gak ke ruang guru cantik?? “ Tanya dicky menghampiri ke meja ku.
“ idiihhh maniss, semangat membara sekali anak ini,aku saja pengenya ke kantin dulu ,lapar banget dick ! “ jawabku menutup tas. “ tidak boleh begitu kawanku, jika guru memerintah lakukan lah segera, jangan menunda-nunda..bahaya!! “ jawab dicky dengan penuh nasehat.” Bilang aja mau ketemu guru cantik, baiklah ayo kita ke kantor.”

Ku Jemput Mimpi Demi Budayaku (Bagian Keempat)

Kami pun bersama-sama memasuki kantor, aku mengetuk pintu kantor dengan perlahan.” Assalamualaikum,permisi bu…” aku pun memasuki ke ruang bu Mirna
“ ehh,ridho,silahkan masuk.mari duduk…” bu Mirna mempersilahkanku untuk duduk dan beliau memberiku selembar kertas .

“maaf bu, ini kertas apa yaa bu??”Tanya ku sopan. Bu Mirna pun tersenyum ke arahku “ ini kertas surat izin, untuk pergi mengikuti lomba Festival culture nanti . .kamu pasti sudah bilang sama kedua orang tua kamu kan? nah kamu harus mempersiapkan diri kamu dan teman-teman yang lainnya untuk tampil di lomba itu, ini sudah memasuki hari ketiga, besok ibu mau kertas ini sudah di tandatangani oleh kedua orang tuamu .mengerti ridho ??? “ jelas bu Mirna padaku.

“paham bu, saya mengerti, kalau begitu saya izin permisi ya bu..assalamualaikum”.. pamitku kepada bu Mirna . di situ aku semakin bingung bagaimana caranya aku membujuk bapak untuk minta izin ikut loma itu, ibu sudah pasti memperbolehkan ku namun ibu tidak mungkin mentandatangani surat ini tanpa izin dari bapak.

Pulang dari sekolah aku segera mengayuh sepeda ku, teriknya sang matahari begitu menusuk kulitku siang itu panas nya amat begitu sengit belum lagi debu-debu dari kendaraan bermotor yang mewarnai jalan akan asapnya.

“assalamualaikum bu,,ridho pulang ..bu ridho dapat surat ridho mau ibu tandatangani surat ini ya bu , sebelum bapak tau.” Pintaku kepada ibu. “ ridho, kamu ini datang-datang sudah minta tandatangan aja, kaya mau jual rumah aja.tenang dulu,j elaskan dengan tenang ini surat apa ? Tanya ibu berusaha menenangkan ku.

“huftt,, begini bu, ridho dapat surat yang meminta agar ridho harus dapat persetujuan dari kedua orangtua untuk dibawa ke kabupaten dalam rangka lomba itu bu,nah ridho minta tandatangan ibu ya bu..ibu setujukan?? Tanya ku pada ibu. ibu setuju aja nak,tapii kamu harus Tanya dulu kepada bapakmu , setuju atau enggaknya. “ jawab ibu lagi.

Tak lama akhirnya ayah pun datang , “ assalamualaikum,ada apa ini ?? “ Tanya ayah duduk di sofa sambil mengipas dirinya kepanasan . “ tuh kamu jelaskan sama bapakmu ya, kamu kan laki-laki. Ibu mau ambilkan teh dulu buat bapakmu.” Ibu meninggalkan ku ke dapur.

Aduhh, mana mungkin aku minta izin sama bapak, melihat wajahnya saja aku sudah merasa takut apalagi sungut dari kumis tebalnya. “ini pak teh nya diminum dulu ,lahh ridho kamu belum ngomong ke bapakmu tah??? “ Tanya ibu kepadaku.

“masalah apa? lomba menari itu??? Tanya bapak lagi. aku tertegun kaku. “ i..ii..ya pak,ini surat izin yang harus ditandatangani oleh salah satu pihak ibu atau pun bapak. “ bapak mengambil surat itu aku semakin tegang melihatnya. dan tanpa kusangka ternyata…..
Bapak langsung metandatangani surat keberangkatan itu. aku langsung kaget, sekaligus senang.” Pak?? Ini tandatangan asli bapak?? “ tanyaku senang. “ kenapa tandatangannya ?jelek?ya iyalah…” jawab bapak lagi tertawa.

“makasih ya pak,bu…insyaallah ridho gak kecewain kalian. “ bapak itu Cuma mengetes kamu, sampai mana usaha kamu untuk minta izin sama bapak, ternyata kamunya keras kepala yo wess…bapak dukung kamu! “ jawab bapak lagi.

Aku betul –betul sangat senang prediksi ku ternyata selama ini salah bapak malah membolehkan ku. tiba waktunya aku berangkat bersama teman-temanku ku serta guru-guru yang lain nya untuk membimbing kami. persaingan di lomba itu begitu ketat. festivalnya juga meriah tibalah puncaknya sekaligus pembacaaan siapa sekolah yang memenangkan tiap-tiap lomba dan sekolah ku mendapat juara dua, biarpun bukan juara satu tapi kami pun tetap bersyukur dan bangga,

Festival culture kali itu begitu Meriah selain kami mendapatkan pengalaman,kami juga mendapatkan teman-teman baru dari sekolah yang berbeda. Dan besok pagi aku akan pulang kerumah memberi berita ini kepada mereka…. disini aku yakin dan percaya bahwasanya usaha tidak pernah mengkhianati suatu hasil, dan terus lakukan dengan berani sampai tuhan memerintahkan kamu untuk istirahat.

Tamat ….

Cerpen ini ditulis oleh Shania Avrilia kamu juga bisa menulis karyamu di belapendidikan, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah setiap bulannya, Daftar Sekarang

Ahmad Andrian F
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi keluhkesah.com