Web portal pendidikan – Cerpen kali ini berjudul Notasi yang hilang, yang dikirimkan oleh salah satu peserta dalam ajang lomba cerpen nasional bersama belapendidikan.com. Untuk lebih lengkapnya dapat kita lihat sebagai berikut.

Cerpen : Kejutan Sebuah Kartu Ucapan (Bagian Pertama)

Hanya tersisa waktu 6 menit. Lila menatap jam tangannya dan mendesah, ia duduk dengan gelisah karena menunggu Rena yang membawa paper ujiannya untuk dikumpulkan. Segera ia menekan nomor telepon Rena lagi untuk kesekian kalinya. Tidak diangkat.

Terlambat. Waktu menunjukkan sudah lebih 1 menit. Lila masih menunggu di depan ruang dosen selama 35 menit, hingga akhirnya Rena muncul.

“Laaaa… sorry banget gue bangun kesiangan,” kata Rena yang terengah-engah.
Lila menatap jam tangannya untuk menunjukkan bahwa ia sudah menunggu sangat lama.
“Maafin gueee… Coba kita masuk, gue yang ngomong sama Miss Tika.”
Lila menganggukkan kepalanya.

“Terlambat, ya terlambat. Mau itu 1 menit, 5 menit, 30 menit. Itu tetap terlambat dan sudah tidak bisa mengumpulkan lagi sesuai peraturan kampus. Silahkan jika kalian tetap mau mengumpulkan, tapi saya tidak bisa menilainya.

Jika penjelasannya saya kurang jelas, kalian bisa baca lagi peraturan ujiannya,” kata Miss Tika saat Rena mencoba menjelaskan mengapa kami telat mengumpulkan ujiannya.
Lila menghapus air mata yang tiba-tiba berlinang di wajahnya, “Terimakasih Miss, maaf mengganggu. Kami pamit,” katanya yang kemudian langsung berlalu dari hadapan Miss Tika.

“La, gue minta maaf,” kata Rena seraya mengejar Lila.
Lila sontak berhenti, hingga membuat Rena sedikit terlonjak karena hampir menabraknya. Lila menatap Rena dan hendak mengatakan sesuatu, namun yang ia lakukan hanya memandangnya selama beberapa detik, menarik napas panjang, lalu berjalan meninggalkannya.

“Gue harus gimana, La?” tanya Rena pasrah.
“Nggak ada yang bisa dilakuin sekarang, Re. Gue mau minta lo seharusnya jangan telat bangun, toh tetep nggak bisa dan nggak akan ngerubah keadaan,” kata Lila akhirnya setelah mendiamkan Rena.

Tanpa menunggu pernyataan maupun jawaban Rena, Lila segera meninggalkan lorong kampus dan Rena yang masih terdiam.

Lila yang sangat memperhatikan nilai mata kuliahnya karena mengejar target untuk mendapatkan beasiswa S2 tiba-tiba saja putus asa. Ia baru saja kehilangan nilai UAS-nya yang berbobot 40% dan artinya ia akan mendapatkan nilai standar.

Meskipun ia tahu kehilangan nilai dari satu mata kuliah tidak menutup kemungkinan untuk dirinya mendapat beasiswa, namun ia sangat kecewa. Terlebih karena paper ujian itu dikerjakan olehnya dan Rena hanya mengedit paper agar tampilannya menarik dan mengeprintnya.

Yang lebih membuat Lila kecewa, ia mendapati dari media sosial bahwa malam sebelumnya, Rena menonton bioskop mid-night yang membuatnya pulang larut malam dan telat bangun keesokan harinya. Bahkan Rena tidak menceritakan hal itu sebelumnya, meskipun biasanya Rena selalu menceritakan hal sekecil apapun pada Lila.

Cerpen : Kejutan Sebuah Kartu Ucapan (Bagian Kedua)

Rena dengan ragu duduk di samping Lila. Sebelumnya, Lila sudah memutuskan untuk tidak membesarkan masalah, ia tidak berniat membahas mengenai ujiannya yang lalu, itu akan memperburuk keadaan dan persahabatan mereka.

“Tahu nggak, hari ini Dennis ulang tahun,” kata Lila membuka percakapan sekaligus mencairkan suasana.

Rena terkejut. Ia tidak menyangka bahwa Lila mengatakan perihal itu disaat pertemuan mereka sebelumnya sangat dingin. Setelah beberapa saat, Rena menganggukkan kepalanya.

“Let’s start a new day, jangan bahas yang lalu ya Re, gue berusaha lupain kejadian kemarin.”

Dengan ragu Rena menganggukkan kepalanya lagi, “Iya la. Sekali lagi sorry dan thankyou lo selalu baik banget sama gue,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Lila tersenyum tulus. “Gue pengen banget kasih sesuatu ke Dennis, tapi gue bingung apa, Re.”

Dennis adalah sosok lelaki yang Lila kagumi. Ia berparas cukup tampan, tinggi, namun kerap kali menutup dirinya. Banyak orang yang tidak tahu mengapa Dennis seperti itu. Tetapi hal tersebut justru membuat Lila semakin curious dan menyukainya.

Pernah sekali, pada waktu itu, Lila semobil dengan Dennis karena berada dalam satu kegiatan. Di situlah bermulanya perasaan Lila. Meskipun sangat pendiam, tapi Lila merasa bahwa Dennis adalah orang baik.

“Ehm…” kata Rena, “Lo yakin La? Maksud gue, lo kan belum ada apa-apa sama Dennis, nanti malah Dennis ilfeel ke elo.”

“Iya, gue bercanda. Gue cuma pengen aja, tapi sayangnya gue nggak bakal bisa ngasih apa-apa ke Dennis. Gue pengen ngucapin, tapi gue juga nggak bisa ngucapin.”
Rena hanya terdiam mendengar perkataan Lila.

“Kenapa lo masih bertahan banget La suka sama Dennis?”
“Gue juga bingung Re. It’s just happen.”
“Sepertinya lo harus buka kesempatan buat orang-orang yang suka sama lo. Banyak banget yang mau sama lo.”
“Ada waktunya kok. Toh jodoh ditangan Tuhan.”
Rena tersenyum. Lila pun juga.

Malamnya, setelah membeli makan malam titipan mamanya, Lila mampir ke toko roti yang terletak tak jauh dari sana. Saat berjalan menyusuri pertokoan yang terdapat café grilled steak baru, Lila melihat tempat tersebut bagus dan instagramable banget.

Namun sedetik kemudian, ia melihat pemandangan yang tidak pernah ia duga. Barang bawaan yang tadi ia genggam terjatuh di lantai. Ia segera memungutnya kembali dan segera pergi dari sana.

Lila berjalan cepat dan menghapus linangan air mata yang tiba-tiba mengalir cukup deras. Ia duduk di kursi umum yang ada dan menenangkan dirinya. Sangat tak disangkanya bahwa orang yang bersama Dennis saat itu adalah Rena, yang mana siang tadi ia dan Rena sedang mengobrol terkait hari ulang tahun Dennis.

Niat untuk membeli roti sudah tidak ada lagi, Lila memilih masuk ke toko toserba yang ada dibelakangnya. Karena sudah beberapa kali pernah ke sana, Lila langsung tahu bahwa yang harus ia tuju adalah rak paling ujung.

Setelah memilih cukup lama, Lila mendapatkan kartu ucapan berukuran 10 x 7 cm. Ia meminjam bolpoin kepada karyawan toserba dan menuliskan ucapan di dalamnya. Ucapan sederhana layaknya seorang teman.

Lila meletakkan kartu ucapannya itu di kaca mobil Dennis, yang mana Lila sudah hafal di luar kepala plat nomor polisi mobilnya karena sering mencari mobil Dennis saat di kampus. Tak susah menemukannya, Dennis memarkir mobilnya tak jauh dari café di mana ia dan Rena berada.

Cerpen : Kejutan Sebuah Kartu Ucapan (Bagian Ketiga)

Awalnya, Lila berniat untuk menunggu tetapi bersembunyi di suatu tempat agar tidak terlihat untuk mengetahui reaksi Dennis. Namun, ia memutuskan untuk pulang dengan suasana hati yang masih bercampur aduk.

Dennis dan Rena berada dalam satu mobil. Mereka memasuki mobil tanpa menyadari adanya kartu ucapan yang diselipkan di atas kaca mobilnya. Setelah berada di dalam mobil dan akan menyalakan mesin, Dennis baru menyadarinya dan segera keluar dari mobil untuk mengambilnya. Rena juga penasaran apa yang ada di kaca mobil Dennis.

Dibacanya kartu ucapan itu oleh Dennis sebelum ia memasuki mobilnya lagi. “Happy Birthday Dennis! Have a blessed birthday and wish you the best!” Tidak ada tanda dari pengirimnya.

Dennis menyadari bahwa yang mengirimnya pastilah orang yang mengenalnya dengan baik, karena kartu ucapan itu bergambar Star Wars, kesukaannya. Tidak banyak yang mengetahui mengenai hal itu.

Setelah berpikir selama beberapa saat dan tak menemukan jawaban meskipun Dennis sudah melihat ke arah sekelilingnya, ia masuk ke dalam mobilnya kembali dengan rasa penasaran yang tinggi dari siapa kartu ucapan itu.

“Apa itu Den?” tanya Rena setelah Dennis menutup pintu mobil.
“Kartu ucapan, nggak tau dari siapa.”
“Coba gue lihat.”

Sesaat setelah melihat kartu ucapan itu, Rena terkejut karena menyadari bahwa itu adalah tulisan tangan Lila. Karena refleks dan tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya, Rena menuntup mulutnya dengan tangannya.

“Kenapa Re?”
“Eh…” Rena kebingungan. Ia tidak tahu harus menjawab apa dan bersikap bagaimana.
“Re? Lo tahu ini dari siapa?” tanya Dennis.
“Re, kenapa?”
Rena mematung bahkan setelah Dennis memanggilnya berulang kali.
“Den, gue bingung,” kata Rena kemudian.
“Iya, kenapa? Cerita sama gue,” kata Dennis lembut.
Rena menanggis. Ia tidak bisa menjawab semua pertanyaan Dennis. Ia hanya meminta Dennis untuk mengantarkannya pulang ke rumah.

Setelah mengantarkan Rena ke rumahnya, Dennis masih kebingungan dengan dua kejadian tak terduga dari kartu ucapan dan perubahan sikap Rena. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang seraya mengeluarkan HP-nya untuk menelepon seseorang.

“Ger, ini gue Dennis. Tadi gue habis makan di restoran bokap lo…” Dennis meminta ijin kepada Gerry yang sudah menjadi temannya sejak kecil untuk melihat CCTV yang berada di depan cafenya. Dan ia pun segera kembali ke café itu.

Dennis nyaris tidak percaya bahwa yang dilihatnya di CCTV itu adalah Lila. Dengan gerakan yang ragu, Dennis dapat melihat Lila berjalan mendekati mobilnya dan mengusap bagian wajahnya. Entah mengapa Dennis yakin bahwa Lila sedang menangis.

Dennis mulai memahami jalan cerita malam itu. Ia menduga dan mulai mengaitkan dengan seluruh kejadian dirinya bersama Rena.

Tak perlu waktu lama untuk memutuskan, Dennis segera menuju ke rumah Lila. Tentu, ia juga sudah tahu di mana rumah Lila. Karena sebenarnya, Dennis sangat menyukai Lila sedari dulu, ia kagum pada Lila karena dengan segala kesederhanaannya yang ada. Pintar, cantik, baik, ringan tangan, peduli dan bijaksana.

Kejadian masa lalu Dennis membuatnya ragu untuk mendekati perempuan. Yang oleh karena itu Dennis hanya memperhatikan Lila dari jauh. Namun, beberapa bulan lalu, Rena datang kepadanya dan memberitahukan bahwa Lila merasa terganggu oleh sikapnya dan tidak suka kepadanya.

Dennis kecewa. Rena selama ini menjadi teman dekatnya untuk menyemangatinya karena terpuruk dengan keadaannya yang menyukai Lila. Seminggu lalu, Rena mengatakan padanya bahwa merasa nyaman bersamanya. Dan saat di café tadi, Dennis menembaknya karena mulai merasa nyaman juga bersama Rena.

Cerpen : Kejutan Sebuah Kartu Ucapan (Bagian Keempat)

Setibanya di rumah Lila, sekali lagi Dennis terkejut karena melihat Lila dan Rena sedang berada di luar. Dennis segera menyusul mereka dan mendapati mereka tengah sembab.
Semua terdiam, tidak ada yang berbicara pada awalnya.

“Happy birthday Dennis,” kata Lila mengulurkan tangannya setelah beberapa saat terdiam.
“Thankyou La.”
“Rena sudah jelasin semuanya kok,” kata Lila kemudian.
“La…” kata Rena dan Dennis bebarengan hendak memberikan penjelasan.
“Den, dengerin gue dulu,” sela Rena, “Gue bisa jelasin semuanya ke lo sama Lila.”
“Oke, lo jelasin dulu ke gue,” kata Dennis dengan nada suara yang sangat dingin.
“Maaf karena selama ini gue bohong sama lo kalo Lila nggak suka sama lo. Lila suka banget sama lo, dari dulu, bahkan dari dua tahun lalu. Dia nggak pernah ngegubris orang yang suka sama dia sekalipun karena dia fokus ke lo.

Tapi gue…” Rena sesenggukan, “Gue… gue ngarang cerita karena gue juga suka sama lo. Selama dua tahun ini gue juga berusaha buat deket sama lo. Dan gue seneng banget karena hari ini kita bisa jadian…”

Lila meneteskan air mata saat mendengar hari ini Dennis dan Rena telah berpacaran.
“Guys… gue minta maaf karena sepertinya hari ini jadi kacau gara-gara gue,” Lila memberikan isyarat agar Dennis dan Rena tidak menghentikannya, “Gue pengen kalian jangan tengkar, anggep aja gue hari ini nggak pernah muncul.

Please… gue mohon banget tetep lanjutin hubungan kalian. Gue nggak papa kok. Gue nggak marah. Gue malah tambah sedih kalo kalian jadi berantem gara-gara gue. Sekarang gue pengen istirahat dulu. Once again, happy birthday Dennis dan congratulations buat kalian berdua,” kata Lila tersenyum

Author : Selvy Tri Ciawati
Author : Selvy Tri Ciawati

Biodata Penulis :
Nama : Selvy Tri Ciawati
TTL : Banyuwangi, 30 Januari 1996
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 21 Tahun
Pendidikan : Mahasiswi
Universitas : Ciputra

Cerpen ini ditulis oleh Selvy Tri Ciawati kamu juga bisa menulis karyamu di belapendidikan, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah setiap bulannya, Daftar Sekarang

Ahmad Andrian F
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi keluhkesah.com