Web portal pendidikan – Cerpen kali ini berjudul Hitam tanpa tempa putih tanpa sesah, yang sudah dikirimkan oleh salah satu peserta dalam ajang lomba cerpen nasional bersama belapendidikan.com. Untuk lebih lengkapnya dapat kita lihat sebagai berikut.

Cerpen : Hitam Tanpa Tempa Putih Tanpa Sesah (Bagian Pertama)

Pendidikan adalah usaha dalam mengubah tingkah laku seseorang menjadi lebih baik. Kisah ini berawal dari seorang anak bernama Fadil Dwi Adma. Ia sering dipanggil Fadil. Ia sangat ingin belajar di sekolah. Hal ini dikarenakan, diusia yang sudah menginjak 10 tahun. Ia belum sekolah juga.

Ia berkeinginan, namun kehidupan tak berkata demikian. Ia juga memikirkan keadaan orang tuanya. Fadil adalah anak bungsu dari 3 bersaudara. Ia mungkin yang paling kecil. Namun, ia secara pemikiran sudah dewasa dari usianya. Demi membantu orang tuanya. Ia rela banting tulang menjadi pemulung dan penjual koran. Menjelang fajar dari ufuk timur, ia sudah bersiap untuk menjual koran di jalan.

Hidup di kota Jakarta telah menempanya untuk selalu kuat. Bukan Fadil namanya, jika ia menyerah dan pasrah akan keadaannya. Bila sudah terdengar suara adzan, ia segera bergegas ke masjid terdekat. Ia mungkin sangat membutuhkan uang, tetapi untuk shalat. Ia selalu mengutamakannya. Setelah selesai shalat. Ia bergegas pergi ke pemilik warung koran untuk menyetor hasil jualannya. Sesampainya disana, ia menyetor uang sebesar Rp 50.000,00.

Pemilik merasa iba dan memberikan uang lebih kepada Fadil. Ia sangat senang dan berterima kasih kepada pemilik. Setelah selesai dengan urusan jualan koran. Ia bergegas mengamil karung dan alat mulung. Ia memulai aksinya sebagai pemulung cilik. Ia sama sekali tak malu melakukan hal itu. Ia terlihat sangat sumringah tanpa beban. Sepanjang jalan yang ia lewati membuatnya berhasil mengumpulkan beberapa botol dan gelas plastik. Terus – menerus hingga sampai pada tong sampah di sebuah sekolah dasar.

Ia melihat anak – anak seumurannya, tertawa bahagia di sekolah itu. Perasaan sedih tergambar jelas di raut wajahnya. Ia terdiam sejenak. Sampai seoran satpam menegurnya ” Nak, kamu kenapa ? “. fadil hanya tersenyum dan berkata ” tidak apa-apa pak “. Satpam membalas jawabannya dengan senyuman. Fadil juga meminta izin untuk mengambil sampah kepada satpam sekolah. Satpam mengizinkan, asalkan jangan berantakan. Fadil mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Setelah mengambil semua barang bekas, ia bergegas menuju tempat pengepul.

Bapak pemilik tersenyum melihat hasil mulung Fadil. Fadil memang selalu berusaha untuk mendapatkan banyak barang bekas. Hasil mulung Fadil pun ditimbang. Ketika dilihat, ternyata beratnya lumayan. Hasil mulung Fadil, yakni 1 kilogram. Bapak pemilik memberi uang lebih karena melihat jerih payah Fadil dalam mengumpulkan barang bekas. Bapak pemilik memberikan uang sebesar Rp 10.000,00. Senyum merekah di wajah Fadil. Ia sangat bahagia karena berhasil mengumpulkan uang sebesar Rp 30.000,00. Ia pulang dengan berlari kecil menuju rumahnya.

Sesampai di rumah, ia melihat ibu sedang membuat kue untuk jualan besok. Ibu Fadil sudah lama berjualan kue. Ibu bermaksud untuk membantu bapak. Mengingat bapak hanyalah seorang buruh lepas yang tak menentu pendapatannya. Fadil menyapa ibunya dengan tersenyum. Ia memberikan uang hasil kerjanya kepada Ibu. Sayangnya, sang ibu tak mengambilnya.

Ahmad Andrian F
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi keluhkesah.com