Web portal pendidikan – Cerpen kali ini berjudul Dimana kita akan bertemu, yang dikirimkan oleh salah satu peserta dalam ajang lomba cerpen nasional bersama belapendidikan.com. Untuk lebih lengkapnya dapat kita lihat sebagai berikut.

Cerpen : Dimana Kita Akan Bertemu (Bagian Pertama)

Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, dan tahun demi tahun ku jalani kehidupan ini. Aku terlahir sebagai sosok anak perempuan kedua yang dikenal sebagai sosok paling ceria diantara 5 sosok dikerajaan cinta Bapak Tengku dan Ibu Nasution.

Ya, aku terlahir dari keluarga Melayu dan keluarga Mandailing. Aku sangat bersyukur kepada Allah SWT yang mana aku diizinkan menginjakkan kaki dibumi ini dan tinggal dikeluarga yang penuh dengan kebahagiaan. Tetesan air satu dua tetes membasuhi mata dan pipi itu hal yang biasa dalam hidup.

Namun siapa sangka jika tetesan tersebut lebih dari satu atau dua tetes? Awal kehidupan ku, aku hanya memikirkan hidup ini hanya untuk bahagia saja tidak pernah terbesit dalam anganku bahwa kesedihan melanda tiba-tiba.

Suatu hari pada bulan Februari 2016, Papa ingin mengajukan diri sebagai Dekan Fakultas di salah satu Universitas Swasta. Beliau merupakan dosen di Fakultas di salah satu Universitas Swasta ternama di suatu daerah di Indonesia.

Menjadi seorang Dekan adalah salah satu cita-cita Papa yang beliau idam-idamkan selama menjabat menjadi Dosen. Prosedur demi prosedur beliau jalani menuju menjadi seorang Dekan Fakultas. Selain mempersiapkan fisik dan mental demi kelangsungan proses pemilihan Dekan Fakultas, Papa selalu meminta dukungan dari istri dan anak-anak terutama dalam dukungan doa kepada Allah SWT.

Kami pun selalu mendoakan kesuksesan karir Papa dalam bentuk ibadah wajib kepada Allah SWT dan ibadah sunnah lainnya. Serangkaian panjang prosedur telah dilalui oleh Papa hingga hari H pemilihan tiba tepatnya pada bulan April 2016. Papa yang sangat takut dan grogi dari hasil musyawarah mufakat tersebut namun tetap diselingi dengan Sholat Dhuha untuk meminta bantuan dan ketenangan dari Allah SWT dan tidak lupa juga dengan istri dan anak-anaknya yang selalu menyisipkan doa-doa untuk Papa tercinta.

Hingga akhirnya pengumuman pun tiba, Papa yang sangat deg-degan begitupun kami atas pemberitahuan hasil musyawarah mufakat tersebut. Dan saat hasil diberitahukan ternyata Papa berhasil lolos menjadi Dekan Fakultas Universitas Swasta yang ada di Indonesia. Papa memberitahu kabar hangat tersebut pertama kali kepada Mama melalui via suara telepon seluler yang mana isi via suara tersebut, “Alhamdulillah Papa diamanahkan menjadi Dekan Fakultas terimakasih sudah mendoakan Papa selama ini beritahu anak-anak kabar hangat ini”.

Setibanya dirumah, aku yang berpapasan pulang sekolah bersamaan dengan Papa yang baru tiba di garasi rumah. Rona merah yang terpancar dari wajah Papa sembari bermekaran. Terpancar aroma kebahagiaan Papa yang dipantulkan lewat wajahnya.

Sontak aku langsung berkata, “Cie-cie selamat, Pa! Akhirnya kewujud juga mimpi yang di idam-idamkan Papa selama ini. How proud I am! (sembari sambil menyalami tangan Papa)”. Setelah itu kami pun masuk ke dalam rumah dan Papa menceritakan kronologis pemilihan Dekan Fakultas.

Papa sangat histeris menceritakan pengalamannya tadi kepada kami dan kami pun mendengarkan hingga cerita tersebut selesai. Papa sangat bahagia! Papa mengungkapkan bahwa akan membawa kami pergi berlibur saat libur sekolah tiba dan aku beserta kakak, adik, dan mama tidak sabar akan liburan yang kami nanti-nantikan. Rasanya ingin segera berlibur secepatnya.

Cerpen : Dimana Kita Akan Bertemu (Bagian Kedua)

Beberapa hari setelah pemilihan Dekan Fakultas, Papa mengeluh sesuatu kepada kami keluarganya. “Kok akhir-akhir ini lengan kanan Papa terasa sakit ya? Urat syarafnya juga terasa tegang”, ujar Papa.

Aku yang mempunyai ahli bisa mengurut langsung disuruh Papa untuk mengurut lengan kanan Papa. Namun setelah aku uruti lengan Papa sakitnya hanya hilang sebentar dan setelah itu timbul lagi rasa sakit dan nyeri di lengan kanan Papa. Batin kami pun berbenak, “Ada apa?”.

Aku pun menyuruh Papa untuk dibawa ke tukang urut yang lebih profesional dibandingkan hanya ahli ku saja, karena aku tidak paham teknik profesionalnya sekedar pandai saja. Setelah itu, Papa lebih sering memanggil tukang urut profesional untuk datang kerumah agar lengan atasnya bisa diurut namun sama saja rasa sakit dan nyeri itu hanya hilang sesaat setelah itu kembali lagi rasa sakit dan nyeri tersebut seperti biasanya.

Kami pun berfikir agar Papa segera ke Rumah Sakit untuk diperiksa apa penyebab sakit dan nyeri yang dirasakan Papa, namun papa tetap keras tidak ada penyakit serius cuma sekedar kelelahan saja yang ditimbulkan dari rasa sakit dan nyeri tersebut, ungkap Papa.

Hingga akhirnya pelantikan Dekan Fakultas pun tiba yang dilaksanakan pada akhir bulan April 2016. Terpancar dari aura wajah Papa yang sangat bahagia terlukis senyum lebar yang dilekukkan dari bibir Papa. Papa yang dengan gagahnya mengucapkan janji Dekan Fakultas periode 2016-2020.

Ya, papa resmi dilantik menjadi Dekan Fakultas di Universitas Swasta yang berada di Indonesia. Papa berhasil mewujudkan mimpinya menjadi kenyataan. Dan kami sangat bahagia terhadap prestasi yang Papa raih selama ini. “Selamat, Pa!”, ujarku.

Usai acara pelantikan, kondisi kesehatan Papa semakin drop. Hingga akhirnya kami pihak keluarga mendesak agar Papa diperiksa ke Rumah Sakit ternama di salah satu kota di Indonesia.

Awalnya papa sangat takut akan hal tersebut namun kami terus mendesak lantaran kondisi papa yang makin hari makin menurun kondisi kesehatannya. Yang mana lengan kanan Papa tiap hari selalu merasakan sakit dan nyeri hingga keadaan fatal menimpa karena efek sakit dan nyeri dari lengan kanan Papa tangan kanan Papa sulit digerakkan hingga akhirnya Papa memutuskan untuk diperiksa ke Rumah Sakit.

Singkat cerita, Papa langsung diperiksa di salah satu Rumah Sakit di sebuah kota yang ada di Indonesia. Saat itu Papa hanya pergi seorang diri ke Rumah Sakit lantaran mama yang sedang tidak enak badan, dan ketiga anaknya yang sedang sekolah dan kuliah.

Setelah papa diperiksa dan pulang kerumah Papa pun memberitahu hasil periksa dari dokter dan alangkah kagetnya kami yang mendengar berita dari Papa. Seakan ada petir sontak kabar yang Papa beritahukan kepada kami.

“Pa, jadi gimana hasil diagnosa dokternya?”, ujarku. “Kalian jangan jadikan ini beban dan stres ya hasil diagnosa dokternya”, balas Papa. “Ah Papa jangan bercanda terus, jadi apa? Kami penasaran ni”, ungkapku. “Kalian harus kuat hasil dari diagnosa dokter ya”, balas Papa.

“Apa, Pa?”, desak aku, kakak, adek, dan mama. “Jadi papa di diagnosa dokter bahwa Papa…mengidap tumor yang berada di dekat leher, Papa”, balas Papa yang lesu menjawabnya. “Apa????”, ujarku.

“Iya, tumor Papa ada 2 satu yang jinak satu yang ganas. Nah, yang ganas namanya kanker. Papa terkena tumor dan kanker Tiroid”, balas Papa.

Sontak, air mata yang terbenam didalam mata seketika membasuhi dan membanjiri pipi ini. Aku? Yang biasanya tidak mengenal kesedihan yang teramat dalam kini aku sangat mengenal dan memaknai apa kesedihan itu yang sesungguhnya.

Aku bukan lagi sosok perempuan yang ceria lagi, sontak dunia terasa kelam. Bagiku tidak ada pelangi lagi lantaran Papa sosok lelaki yang teramat aku sayang mengidap penyakit yang teramat serius yang bisa kapan saja merenggut nyawa Papa.

Yang ada didalam fikiran hanya, “Kanker? Apakah kanker bisa sembuh? Bukannya kanker bisa menyebabkan kematian walaupun sudah diobati berkali-kali? Seperti menjalani kemotrapi yang akhirnya berujung kepada kematian”.

Itulah yang selalu terbesit dalam pikiran suntukku yang selalu menyelimuti pikiranku. Selain hal itu, tulang leher di inci tengah Papa sudah keropos yang menyebabkan Papa dianjurkan menggunakan pengaman leher agar tulang leher lainnya tidak mengalami keroposan juga. Hal ini sangat fatal yang mana dokter menganjurkan tindakan lebih lanjut yaitu operasi.

Setelah berdiskusi dengan keluarga besar akhirnya Papa memutuskan untuk operasi tumor jinak dan tumor ganas (kanker) tiroidnya ke Rumah Sakit ternama yang berada di kenegaraan Malaysia.

Setelah operasi berjalan, akhrinya operasi berhasil dan lancar. Dan dokter menyarankan agar diadakan operasi di tulang leher yang sudah keropos setelah 3 minggu operasi tiroid dilaksanakan.

Rencananya, operasi tulang leher dilaksanakan saat puasa Ramadhan 2016 namun mengingat Papa yang masih trauma akan operasi dan terkendala soal biaya maka operasi di tunda. Usai lebaran 2016, keluarga besar pun berkumpul dan mengajukan argumentasinya kepada Papa.

Dan setelah beragumentasi Papa akhirnya memutuskan untuk menjalani teknik ablasi di Rumah Sakit ternama di Indonesia. Dan kami sangat pesimis Papa sembuh usai dari proses teknik ablasi yang dijalani beliau.

Cerpen : Dimana Kita Akan Bertemu (Bagian Ketiga)

Setelah menjalani teknik ablasi selama seminggu, akhirnya Papa kembali kerumah. Setelah 3 minggu menjalani teknik ablasi kondisi Papa makin menurun. Hingga akhir September 2016, Papa yang hendak sarapan pagi ke dapur seketika jatuh di ruang keluarga.

Papa menangis tidak berdaya untuk bangkit dan berdiri lagi, beliau coba berkali-kali namun tidak bisa dan berkali-kali jatuh saat mencobanya lagi. Akhirnya kami membawa Papa untuk diperiksa kembali sebenarnya ada apa dengan keadaan Papa yang sekarang.

Setelah diperiksa ternyata, titik kanker tiroid Papa sudah menyebar luas dibadan Papa, yang mana terdapat 5 titik kanker di tubuh Papa. Pertama di leher, kedua di tulang belakang di dekat punggung, ketiga di pinggul keempat di tulang tempurung kaki, kelima di betis.

Hal tersebut menyebabkan Papa lumpuh total yang mana dari pangkal pinggul sampai telapak kaki tidak ada harapan sama sekali bergerak karena syaraf sensorik sudah terputus dan tidak bisa terhubung dan tidak bisa dikendalikan oleh otak lagi yang menyebabkan kedua kaki Papa bergerak-gerak sendiri dengan ganasnya.

Berbagai upaya pengobatan medis sama pengobatan alternatif Papa jalani tapi tetap saja Papa hanya bisa terbaring ditempat tidur menunggu keajaiban Allah SWT datang dan terus beribadah dan berdoa kepada Allah SWT.

Setiap hari papa selalu menangis lantaran rasa sakit yang ditimbulkan dari titik-titik kanker tersebut. Papa pernah berkata kepada ku, “Sah, ikhlaskan Papa saja. Papa sudah tidak kuat lagi. Papa kesakitan, Papa tersiksa”.

Namun dibenakku, “Bagaimana aku bisa mengikhlaskan suatu kepergian Papa untuk selama-lamanya? Aku tidak membayangkan, aku tidak punya sosok seorang, Papa”. Itu lah yang selalu aku pikirkan selama Papa mengidap penyakit tersebut.

Hingga pada akhirnya, tepat pada tanggal 3 Desember 2017 sekitar pukul 23:00 WIB, Papa menghembuskan nafas terakhir. Hal yang paling aku takuti akhirnya datang juga menimpaku. Papa pergi untuk selama-lamanya dan aku harus mengikhlaskan kepergian Papa walau sangat berat untuk melepaskannya.

Satu pesan yang sangat berkesan dari Papa, “Masa depan kau, kau yang menentukan sendiri bukan Papa”. Pa, dimana kita akan bertemu? Semoga kita bisa bertemu dan berkumpul bersama lagi di Surga-Nya, Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

Cerpen ini ditulis oleh Tengku Aisyah Asyari kamu juga bisa menulis karyamu di belapendidikan, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah setiap bulannya, Daftar Sekarang

Ahmad Andrian F
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi keluhkesah.com