Web portal pendidikan – Cerpen kali ini berjudul Candu canda, yang dikirimkan oleh salah satu peserta dalam ajang lomba cerpen nasional bersama belapendidikan.com. Untuk lebih lengkapnya dapat kita lihat sebagai berikut.

Cerpen : Candu Canda (Bagian Pertama)

Gurat jingga terlihat semakin tebal di ufuk barat, lalu menghilang di pepohonan rimbun di ujung rumah. Cahaya temaram namun mengagumkan itu membawa aroma bunga sedap malam yang ditanam di sepanjang pagar belakang.

Kabut tipis yang sejak tadi berhembus lembut namun sempurna menutup secara perlahan kaca jendela hingga menjadi buram. Gerimis seketika turun tanpa bertanya dahulu padaku, siapkah aku untuk situasi ini. Setiap sore, tanpa terlewat sekalipun, aku selalu memandangi bagaimana gurat jingga yang menakjubkan itu mampu menghapus cahaya menjadi gelap gulita.

Aku mengangumi senja, namun juga membencinya. Ia kuat, mempesona, namun juga membunuh dengan tega cahaya langit dan menggantinya dengan hitamnya malam yang menyakitkan.

Banyak anak-anak yang menyukai cahaya senja yang mereka bilang indah, sepertinya pemandangan senja menjadi hal yang membahagiakan bagi mereka. Ya, mereka bilang bahagia itu sederhana, ada juga yang bilang bahwa bahagia bukan dicari namun diciptakan.

Aku tak pernah sepakat dengan pendapat itu, atau definisi-definisi bahagia yang lainnya, karena aku belum pernah menemui bahagia, dan mungkin menurutku bahagia itu tidak ada.

Aku sempat membenci kehidupan, meskipun setiap orang yang mengenalku mengatakan bahwa hidupku adalah yang paling beruntung di dunia. Bagaimana tidak, papaku seorang pengusaha dan mamaku seorang wanita karier yang sukses. Aku adalah gadis terpandai yang selalu mendapatkan ranking satu di kelas.

Banyak gadis seusiaku yang bermimpi memiliki kehidupan sepertiku. Kehidupan yang mana yang mereka maksud? Senja yang kupandangi setiap sore adalah senja yang menjadikanku hampir gila karena di usiaku yang baru 18 tahun, aku harus berada disini, tempat perawatan anak-anak yang menderita kanker yang sekarang harus aku sebut sebagai rumah.

Bunga sedap malam yang aromanya selalu menusuk hidungku adalah bunga yang tumbuh subur nan indah di pekarangan rumah kami yang menjadikan semua orang mengira bahwa penghuni rumah ini adalah anak-anak yang kuat dan memiliki semangat hidup yang tinggi.

Sedikitpun mereka tidak tahu bahwa kami, terutama aku setiap kali protes terhadap Tuhan dan kehidupan, mengapa kami yang terpilih mendapatkan penderitaan ini. Ya, aku salah satu penderita kanker otak stadium akhir yang katanya sudah tidak memiliki waktu hidup yang lama lagi. Aku baru beberapa minggu berada disini, sebelumnya aku menjalani kehidupanku dimana aku belum pernah bertemu dengan kebahagiaan.

Sejak kecil aku tak pernah akrab dengan kedua orang tuaku. Kalimat yang selalu kudengar hanya “Mama berangkat kerja dulu” dari mamaku, dan “Papa berangkat kerja dulu” dari Papaku. Rumah adalah tempat menyebalkan bagiku, tak ada kasih sayang, apalagi kebersamaan.

Rumah kuanggap sebagai tempat belajar dan tempat istirahat. Hidupku yang tak pernah kujalani dengan senyuman ketika berada di rumah ini diperparah ketika papaku memiliki wanita idaman lain dan mamaku mengetahuinya, mereka mulai lupa kehadiranku di rumah itu, setiap hari hanya ada pertengkaran mereka berdua, dan usai sudah yang namanya keluarga bagiku.

Cerpen : Candu Canda (Bagian kedua)

Setelah Papa dan Mama bercerai, aku tinggal bersama Mama yang semakin hari hidupnya semakin tak karuan. Hampir tak pernah ku lihat wajah Mama seperti sosok seorang ibu.
Meskipun di sekolah aku adalah gadis yang dipuja-puja oleh teman dan guruku, tak sedikitpun aku merasa bangga pada diriku.

Sekolah dan belajar sebenarnya hanyalah pelarianku pada kehidupan keluargaku yang carut marut. Aku tak tahu harus kemana dan tak tahu harus berbuat apa, maka yang kulakukan hanya belajar dan terus belajar. Tak seorang pun yang kurasa mengerti keadaanku, anggapan semua orang tentang kehidupanku yang sangat beruntung semakin hari menambah perasaan sakit dan kebencianku terhadap kehidupan ini.

“Maya, kamu murid ibu yang pandai. Kamu mendapatkan peringkat satu lagi tahun ini.” Begitu setiap tahun guruku memberitahukan keberhasilanku meraih prestasi yang terbaik diantara teman-temanku, setiap tahun pula aku tak pernah merespon dan hanya tersenyum hambar ketika mendengarnya. Hambar sekali.

Tak ada orang tua yang menyemangatiku, mereka sibuk mencari uang untuk biaya pendidikanku. Mungkin seperti itu yang mereka katakan jika guruku menelfon dan bertanya mengapa raportku tak pernah diambilkan orang tua setiap tahunnya, meskipun kutahu kenyataannya tak begitu.

Pagi itu pukul enam, aku terbangun dari lantai ruang tengah. Masih mengenakan baju tidur dan mencari-cari ingatan, apa yang sebenarnya terjadi. “aduuh..” keluhku sambil memegangi kepala. Aku tak ingat apapun dan kurasakan kepalaku pusing sekali. Kucoba berdiri dan duduk di sofa coklat sambil terus berusaha mengingat. Akhirnya aku berhasil juga, kuingat tadi malam aku pingsan karena kepalaku pusing sekali.

Itu pusing terdahsyat yang pernah kurasakan sepanjang usiaku, entah karena apa pusing itu hingga membuatku pingsan di lantai rumah kosong yang tak seorangpun dapat menolongku. Bahkan jika aku sekarat sekalipun, kuyakin takkan ada orang yang tahu.

Mamaku tak pulang malam tadi, hingga pagi ini. Aku sampai di sekolah meskipun dengan kepala yang rasanya hampir pecah. Kulihat teman-temanku memandangiku dengan pandangan sinis. Ada juga yang memandang dengan pandangan belas kasihan. Aku tak tahu mengapa dan aku tak ingin tahu.

Aku tak pernah berbincang dengan teman-temanku. Jika mereka bertanya aku menjawab, hanya sebatas itu. Aku tak sombong, aku hanya tak mau teman-temanku mengetahui betapa menyebalkan kehidupan yang mereka sebut sebagai keberuntungan itu. Itu sebabnya aku tak pernah memiliki teman dekat atau semacam sahabat.

“Tadi malam aku melihat Mamamu di club malam bersama seorang lelaki yang sepertinya bukan Papamu, May.” Akhirnya salah satu dari mereka angkat bicara. Aku terdiam. Pantas saja mereka memandangku dengan pendangan seperti itu pagi ini, mereka tak pernah tahu bahwa Papa dan Mamaku sudah bercerai dan sudah tak ada lagi yang bisa kusebut sebagai keluarga.

“May, apa itu benar?” sahut yang lainnya, “mengapa mamamu bisa berada di club malam, May? Dan mengapa tak bersama Papamu?” yang lain menimpali. Aku tetap terdiam dan mencoba keluar dari kerumunan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya aku juga ingin tahu jawabannya, namun aku tak tahu harus mencari kemana jawaban itu. Sia-sia usahaku keluar, baru beberapa langkah aku berjalan, kakiku terasa lemas dan tiba-tiba aku pingsan.

Cerpen : Candu Canda (Bagian Ketiga)

“Maya, may kamu sudah sadar?” ucap karin, teman sebangkuku yang ternyata sejak tadi menungguiku di UKS. “Kamu tadi pingsan may. Kamu sakit?” lanjutnya. Tak kujawab sepatah katapun pertanyaan karin meskipun ia telah berbaik hati menungguiku. Ia diam dan sepertinya tahu bahwa aku sedang dalam kondisi tak baik. “Aku mau pulang.” Ucapku singkat sambil mengendong tas punggungku yang sudah berada di atas meja UKS.

“Kamu yakin bisa pulang sendiri?” kekhawatiran karin sedikitpun tak menyentuh hatiku yang sudah membatu ini. “Ya” sahutku. Aku mengayuh sepeda mahalku dengan gontai, namun aku ingin segera melarikan diri dari situasi drama sekolah yang menjadikanku tuan puteri yang sangat mempesona namun ternyata semua itu bukan lagi kenyataan. Semua hanya maya.

Mungkin ini alasan Mamaku memberiku nama Maya. Karena hidupku tak pernah nyata. Hari ini aku tak ingin pulang ke apartment kosong dan menyeramkan itu. Aku ingin pergi ke tempat damai. Aku tahu tempat damai yang hakiki akan kudapati setelah aku mati, namun kurasa aku belum siap untuk mati.

Ya, aku masih ingin memperpanjang protesku pada Tuhan dan kehidupan. Mengapa aku tak pernah bertemu bahagia. Lamunanku buyar ketika aku mendengar tangisan seorang anak kecil berusia sekitar enam tahun. Ia menangis karena balon berwarna merah jambu lepas dari pegangannya dan terbang bebas ke langit yang cerah hari itu.

Aku tersenyum. Bukan tersenyum senang karena ia menangis, namun tersenyum karena ini pemandangan yang tak pernah ku lihat sebelumnya. Ku hampiri anak itu tanpa berkata-kata sambil membawakan beberapa balon baru yang kubeli dengan harga yang sangat murah. Anak kecil itu tertawa sambil berlari-lari lalu masuk ke dalam rumah yang seketika membuatku kagum.

Rumah itu bukan bangunan mewah seperti apartmen yang aku tinggali. Hanya rumah sederhana tak terlalu besar dengan desain klasik dan cat yang hampir pudar, pekarangan yang hijau ditumbuhi beberapa pohon besar nan rindang, di bawahnya rumput-rumput kecil tumbuh subur.

Di sepanjang pagar depan tertanam bunga mawar merah yang kuncup-kuncupnya hampir mekar, dan bunga sedap malam yang putih bersih di sepanjang pagar belakang. Aku yakin bahwa ibu dari anak kecil tadi adalah ibu yang hangat, dan beruntunglah anak-anak yang lahir darinya, pikirku.

“Nak, tunggu.” Ada suara ibu yang kupikir memanggilku keluar dari rumah tadi. “Terima kasih sudah membelikan anak saya balon. Saya Ibu Nani, pemilik rumah kasih ini. Kamu tidak ingin mampir dulu?” perkenalan dan tawaran yang hangat untuk pertama kalinya itu tak ku pedulikan sedikitpun hingga tawaran-tawaran selanjutnya.

Ya, hampir setiap hari sepulang sekolah, aku menyempatkan diri melihat rumah itu. Hampir setiap hari juga aku bertemu ibu Nani pemilik rumah yang menawariku masuk ke rumahnya, namun tak kupedulikan. Bahkan tak kujawab sepatah katapun.

Aku langsung mengayuh sepedaku dengan kencang setiap kali ibu Nani menawarkan aku untuk mampir ke rumahnya. Aku tak tahu mengapa aku terus kembali, aku merasa ada kedamaian ketika aku melihat rumah sederhana itu. Aku terus merasa penasaran mengapa rumah itu disebut sebagai rumah kasih, dan berapa sebenarnya jumlah anak bu Nani, karena aku melihat lebih dari lima anak keluar masuk dari rumah itu.

“Papa akan memeriksakanmu ke rumah sakit, sayang” ujar Papaku yang khawatir setelah aku dilaporkan pingsan untuk kesekian kalinya oleh guruku. Aku sudah meninggalkan apartment Mamaku dan memutuskan untuk tinggal bersama Papaku yang mungkin sama saja tak memiliki waktu bagiku, namun setidaknya papaku masih sadar bahwa aku ini anaknya.

Aku dijemput Papa ke sekolah dan langsung menuju rumah sakit. Aku tak pernah peduli dengan kesehatanku, maka aku juga tak ingin tahu hasil pemeriksaan rumah sakit terhadap rasa pusingku yang semakin hari semakin menyiksaku. Dua hari kemudian, Mama datang ke rumah papa sambil membawakan belanjaannya yang sangat banyak untukku.

“Kamu baik-baik saja sayang?” ucap mama sambil memeluk dan menciumku. Mama terlihat sangat sedih dan khawatir. Aku sadar betul, selama 18 tahun tak pernah mamaku bersikap seperti ini. “Sudah siap? Ayo berangkat sekarang.” Ucap papa tiba-tiba. “Kita mau kemana?” tanyaku.

“Ada apa ini sebenarnya? Apa yang kalian sembunyikan dariku?” sambungku dengan nada cukup keras hingga membuat kepalaku pusing. “Sudah sayang kamu tidak usah memikirkan apapun, kita akan pergi jalan-jalan.” Memang benar, ada yang disembunyikan papa dan mama dariku.

Cerpen : Candu Canda (Bagian Keempat)

Setelah bermain-main dan pergi jalan-jalan, mobil papa membawa kami ke rumah sederhana yang setiap pulang sekolah aku pandangi, yang oleh ibu Nani disebut sebagai rumah kasih. Ibu Nani keluar dari rumah dengan senyuman hangat seperti biasanya. Sore itu senja terlalu indah untuk diabaikan begitu saja.

Aroma bunga sedap malam di belakang rumah terbawa kabut memasuki ruang tengah yang penuh dengan anak-anak yang tersenyum gembira seperti mendapatkan seorang teman.

Namun dalam pengelihatanku, senyum mereka pahit. Gerimis mulai merintik perlahan ketika aku mengamuk dan berteriak sambil mengeluarkan air mata. Entah air mata apa ini. “Maya sayang, tinggallah disini sementara. Kamu akan dirawat dengan baik oleh ibu Nani, pemilik rumah kasih ini.”

Seketika waktu berhenti berputar senja itu. Sekarang aku tahu mengapa aku membenci kehidupan. Tuhan memang tak menginginkanku bertemu bahagia. “Maya menderita kanker otak stadium akhir, kata dokter usianya sudah tak panjang lagi, tolong rawat dia sebaik mungkin bu.

Kami akan datang setiap hari untuk menjenguknya.” Kurang lebih begitu bisik mama kepada ibu Nani. Tangisku semakin menjadi-jadi hingga tiba-tiba pagi datang dan meninggalkanku di rumah ini tanpa mama dan papa yang menyebalkan.

Aku menyukai rumah kasih ini lebih dari apartment papa dan mamaku. Bahkan hanya memandangnya dari jauh saja aku merasa damai. Namun kurasa tak seorangpun ingin tinggal disini, begitu pula aku. Tak ada lagi kedamaian yang kurasakan disini, apalagi setelah aku tahu bahwa “Rumah Kasih” ini adalah rumah tempat anak-anak penderita kanker dirawat dengan baik.

Meskipun dirawat dengan baik, aku tak ingin berada disini lagi. aku juga terpaksa menyebutnya sebagai rumah, bagiku sebenarnya ini penjara, bahkan mungkin pintu kematianku. Setiap hari yang kulakukan hanya mengamuk dan berusaha pergi dari rumah ini.

Ku lihat anak-anak lain berlarian dan bermain dengan wajah riang mereka. Namun aku tak peduli, kemarahanku pada kehidupan, dan kesedihan akibat ketidakberdayaanku melawan kehidupan lebih besar dari perasaan heran melihat kenyataan bahwa penderita kanker bisa tersenyum seperti itu.

Apa mereka tak tahu arti kanker? Bahkan mereka tak tahu akan mati esok. Jika sudah lelah berteriak, mengamuk, dan menangis, aku mematung memandangi langit senja hingga menjadi gelap yang pekat.

Empat anak-anak yang berusia sekitar lima dan enam tahun menghiburku dengan mainan-mainan mereka, dengan tawa dan canda mereka. Dafa, Rina, Fahri, dan Biya menemaniku setiap senja datang dan berusaha membuat aku tersenyum, bahkan mereka masih terus melakukannya meski aku tak menganggap mereka ada.

Papa dan mama membawaku kembali pulang ke rumah tiga minggu kemudian, setelah mereka tidak tega melihat putri semata wayangnya ini menderita berada di rumah kasih melebihi penderitaannya akibat penyakit kanker.

Karena mereka tahu, seseorang dengan penyakit kanker seharusnya berada pada lingkungan yang membuatnya lupa bahwa ia memiliki kanker, bukan ditempatkan pada lingkungan yang membentaknya setiap saat “Hai, kau menderita kanker, dan kau akan mati besok”.

Papa dan mama menyewa seorang perawat yang merawatku setiap hari, juga ada pembantu yang mengurus segala keperluanku. Lalu kemana papa dan mama? Tentu saja, mereka kembali sibuk dengan pekerjaan mereka meskipun anak perempuan satu-satunya ini akan mati karena kanker otak stadium akhir.

Bukan seperti ketika pergi berlibur atau pergi untuk kegiatan sekolah yang hanya dua atau tiga hari, mati berarti aku akan meninggalkan papa dan mama untuk selamanya. Tapi papa dan mama tak pernah takut akan kehilanganku.

Aku juga tak sedih dengan sikap mereka, Tuhan memberikan hati yang sangat keras ini karena tahu bahwa aku adalah anak dari orang tua macam itu. Kurang lebih satu minggu aku merasa sangat gembira telah kembali ke rumah. pemandangan yang sangat berbeda dari rumah kasih. Lebih luas karena hanya ada tiga orang di rumahku.

Cerpen : Candu Canda (Bagian Kelima)

Benar saja, yang kurindui dari rumahku hanya karena rumahku lebih luas dan lebih mewah. Karena hari selanjutnya aku mulai merasa ada yang aneh. Tak bisa lagi kupandangi senja yang indah, tak lagi kubaui aroma sedap malam yang terbawa kabut tipis, juga tak ada gerimis yang menyiksa hatiku namun diam-diam kurindukan.

Aku rindu situasi menyakitkan itu, situasi yang secara ajaib membawaku pada kenangan pahit ketika aku mengetahui kenyataan bahwa aku menderita kanker dan akan segera mati. Terlebih lagi, aku rindu pada Dafa, Rina, Fahri, dan Biya yang tak pernah lelah menghibur dan menemaniku. Seolah mereka sama sekali tak bisa merasakan kebencian dan kemarahanku terhadap mereka. Yang mereka tahu hanya bermain, dan aku adalah teman mereka yang seharusnya ikut bermain.

Aku sangat heran, bagaimana aku bisa merasakan candu dengan canda mereka yang semula kubenci. Bagaimana aku bisa merasakan rindu dengan suasana yang semula kukutuk sebagai takdir yang mengerikan.

Tak lebih dari delapan hari aku berada di rumah, aku memutuskan kembali ke rumah kasih setelah aku tak kuat lagi menahan candu kepada canda anak-anak polos penghuni rumah kasih. Semua orang tahu bahwa ketika sebuah candu tak tersalurkan, tubuh akan terasa mati sebelum mati yang sesungguhnya. Aku menyatakan kepada papa dan mamaku bahwa aku ingin seterusnya tinggal disana.

“Pa, aku ingin tinggal disini hingga ujung usiaku.” Mantab sekali kalimat yang kuucapkan. “Kamu yakin nak? Baiklah, papa dan mama akan menitipkanmu pada bu Nani. Kami akan mengunjungimu setiap hari sepulang dari kantor.” Jawab papaku.

Sebelum aku menimpalinya lagi, keempat anak yang kurindukan segera menyambutku dengan sukacita “Kak Maya datang. Jangan pulang lagi ya kak?” kata Biya. Aku tersenyum. Ini bukan senyum hambar lagi, ini senyumku yang sesungguhnya karena kurasa aku baru saja bertemu hal yang kucari selama ini, yang ternyata sangat menentramkan hati, yang selalu kucari dan akan selalu kurindui. Hal itu adalah bahagia.

Akhirnya aku menemukannya disini, di rumah kasih, rumah tempat anak-anak menderita kanker ini, aku menemukan bahagiaku.

Cerpen ini ditulis oleh Novi Anggun Wijayanti kamu juga bisa menulis karyamu di belapendidikan, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah setiap bulannya, Daftar Sekarang

Ahmad Andrian F
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi keluhkesah.com