Cerpen : Cahaya Cinta Dari Timur

oleh -1.464 views
cahaya cinta dari timur
Cerpen : cahaya cinta dari timur

Cahaya Cinta Dari Timur (Bagian Ketiga)

Sejak tadi memang aku sudah memikirkan hal tersebut, tapi ada satu hal yang masih ada di benakku. “Bagaimana?” aku berpikir cara kesana, karena kemungkinan semua bandara disana sudah hancur dan tidak ada lagi landasan untuk mendaratkan pesawat.

“Aku akan pergi, tapi tidak bersamamu. Aku tidak mau membahayakan nyawamu, dan kamu juga harus menjaga si kecil sayang.”

Setelah berkata seperti itu istriku seperti berpikir dan akhirnya mengangguk kecil. Masalah pertama selesai sudah, tinggal masalah utama bagaiman cara aku sampai ke Jepang dengan selamat. Si kecil yang masih tertatih – tatih berjalan mendatangi kami dengan langkah kecilnya. Membuat kami tersenyum, sejenak melupakan permasalahan yang terjadi.

Sejak 1 jam yang lalu aku mencoba – coba menghubungi seluruh kenalanku yang berada di Nakatsugawa, namun tidak ada tanda – tanda nada sambung yang memberitahukan bahwa keadaan alat komunikasi mereka sedang aktif. Hampir saja diriku menyerah sampai telepon rumahku berdering dengan kencang, dengan terburu – buru dan hati yang kacau aku menghampiri telepon dengan secercah harapan.

Ketika mengangkat telepon tidak ada suara seseorang pun yang terdengar olehku, hanya suara baling – baling berisik, aku bingung setengah berteriak untuk mungkin mengalahkan suara baling – baling yang menutupi hampir seluruh suara di sekitarnya.

“ Halo? ini siapa? kenapa berisik sekali.” Kataku kepada yang di seberang telepon.
“ Dengan Hirumi san, kami kiriman dari Jepang atas permintaan dari Kuro, bisa diberitahu lokasi anda, dan tempat kami mendarat? Pertanyaan lebih lanjut akan kami jawab nanti.” Kata salah suara yang disana.

“Ya disini Hirumi, posisi kami di rumah yang didepannya terdapat lapangan yang cukup besar, kalian bisa mendarat disana.”
“ Baiklah Hirumi san, kami akan sampai sekitar setengah jam lagi, mohon disiapkan keperluan anda, kita akan langsung berangkat lagi ke Nakatsugawa.” Sambungan langsung diputus sepihak, meninggalkan diriku yang terdiam menahan syukur.

Istriku yang kebetulan ada disampingku merasakan hal yang sama, kami berdua bersujud syukur, dan saling berpelukan beberapa lama. Aku berkata dengan nada tegas kepada istriku ini.
“Aku akan segera pergi, kamu tolong jaga kondisi rumah ya! Doakan semoga aku bisa kembali dengan selamat serta membawa semua keluargaku kesini.”

“Tentu sayang, aku akan selalu menjaga rumah ini, dan bersiap akan kedatangan keluargamu yang membutuhkan tempat tinggal, akan aku persiapkan sebaik mungkin.” Kata istriku sambil tersenyum kepadaku.
Aku mencium kening istriku seraya berbisik, “terima kasih.” lalu aku bangkit dan mempersiapkan diri untuk menunggu jemputan yang sudah disiapkan oleh Kuro untukku. Tidak banyak yang aku persiapkan hanya pakaian ganti dan beberapa makanan yang bisa aku makan selama berada disana.

Setengah jam kemudian aku sudah berada di lapangan seberang rumah, tempat aku dan istriku bermain bersama, menambahkan kemesraan kami. Dari jauh aku melihat titik hitam kecil di iringi dengan suara baling – baling menuju arahku. Aku tersenyum menatap wajah istriku yang berdiri didepan rumah sambil menggendong anak kami. Ketika Helikopter sudah tepat beberapa meter diatas kepalaku terlemparlah suatu tangga tali yang disambut dengan lambaian seseorang diatas.

“Ayo cepat naik! waktu kita tidak banyak!” Teriak orang yang diatas kepadaku. Aku memandang tangga yang berayun – ayun itu dengan sedikit gemetar, namun demi bertemu lagi dengan keluargaku. Aku genggam tangga yang terbuat dari tambang kasar itu dan mulai menjejakan kaki keatas.

Setelah 4 anak tangga aku lewati tangga itu secara otomatis naik sampai ke badan helikopter. Aku sempat melambaikan tangan kepada istri dan anakku, sebelum helikopter melesat meninggalkan rumahku yang tercinta.
13.00 Nakatsugawa, Jepang.

Dengan pandangan bergidik aku memandang ke kota yang sekarang sudah hancur hampir keseluruhannya, seluruh tempat yang aku kenal hampir tidak bersisa jejak – jejaknya, yang tersisanya hanyalah puing – puing berserakan dimana – mana. Aku merasa sedih, mengingat tempatku tinggal sejak kecil sekarang hanya seperti kota mati yang tidak berpenghuni.

“Hirumi san, Kita akan sampai sebentar lagi, tolong bersiap!” kata Shiro sang Pilot kepadaku.

Aku menatap sekitar dan aku sadar ini bukan mengarah ke rumahku. Karena tidak ada pemandangan yang aku kenal. Entah karena hanya sisa puing saja atau memang aku dibawa ketempat yang lain.

“Kobe san, kita tidak menuju ke rumahku? Kita akan kemana?” Tanyaku penasaran ke temannya yang tadi menolongku naik ke helikopter.

“Kita langsung kerumah sakit, kabar terakhir dari Kuro san, bahwa ibu anda sedang dalam keadaan sekarat.” Aku terkejut mendengar jawaban dari Kobe, hatiku terasa sesak. Selama sisa perjalanan itu aku hanya diam. Ada perasaan aneh berkecamuk di dalam diriku.

Tentang Penulis: Ahmad Andrian F

Gambar Gravatar
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi keluhkesah.com