Cerpen : Cahaya Cinta Dari Timur

oleh -1.465 views
cahaya cinta dari timur
Cerpen : cahaya cinta dari timur

Cahaya Cinta Dari Timur (Bagian Kedua)

2 tahun yang lalu, ketika aku baru saja menikah dengan Riana, aku pulang ke kampung halamanku di Jepang, untuk memperkenalkan istriku kepada ibuku secara langsung. Namun siapa sangka respon yang aku terima sangatlah jauh dari yang aku perkirakan.

Ibuku mengamuk seketika itu juga, aku hanya bisa diam dengan perlakuan ibuku, mencaci maki bahwa keluarga ini tidak pantas apabila menikah dengan selain penduduk Jepang. Hingga ibuku memberi pilihan yang cukup berat,
“apabila kamu masih ingin dianggap keluarga maka tinggalkan Riana dan hidup disini atau pergi selamanya!” Ibuku berkata nyaris berteriak.

Aku yang tidak ingin melukai hati ibuku berpikir dengan keras, namun karena rasa cintaku yang sangat besar terhadap Riana, aku memutuskan untuk bersama Riana. Dengan hati berat aku meninggalkan kediamanku dengan hati terluka. Setelah beberapa bulan setelah kejadian tersebut Kuro menghubungiku dan sejak saat itu kami terus berkomunikasi sampai saat ini.

Sutaretta, gomen dona afureru…, Aku tersadar dari kenangan itu, mengusap beberapa genangan air di pelupuk mata dan menjawab telepon dari Kuro, aku taruh spekarer telepon di kupingku dan menjawabnya.
“Halo…, Kuro san?” terasa ada yang ganjil, suara gemuruh yang berisik dan sirine dimana – mana, aku menyadari ada kekacauan di sana.

“Hirumi san…, tolong…, ada gempa di Nakatsugawa…., kekacauan dimana – mana, Argh! Awas gempa susulan…, Tutt…..” Sambungan terputus. Aku tidak mendegar dengan jelas karena sinyalnya yang buruk. Namun aku sadar satu hal bahwa Ibu dan Kuro sedang dalam bahaya.

Aku terdiam, badanku gemetar hebat gengamanku melemah telepon itu jatuh dan terbanting ke lantai dengan suara yang keras. Mendengar hal tersebut istriku segera menghampiriku, meninggalkan anak kami yang tengah asyik bermain sendirian.

“Sayang, ada apa? Apa yang terjadi?” Tubuh istriku memeluk hangat tubuhku yang sedang gemetar hebat, menahan antara kesedihan dan amarah didalam diriku, semuanya berkecamuk menjadi satu. Perlahan aku menangis tertahan, istriku yang melihat keadaan tersebut langsung memapahku ke sofa.

Dengan masih memegang lenganku istriku duduk disampingku, yang masih terisak – isak. Aku malu terlihat cengeng didepan istriku tapi biarlah aku keluarkan semua perasaan yang bergejolak ini.

Setelah setengah jam, berangsur – angsur aku mulai tenang, dengan dekapan hangat istriku membuat moodku kembali membaik dengan cepat. Aku mentap istriku yang ternyata juga menangis disampingku. Aku merasa tidak enak segera menghapus air matanya dengan ujung ibu jariku. Matanya yang penuh dengan tanda tanya membuatku tidak enak, dan berucap kepadanya,

“Tidak apa – apa sayang, hanya saja tadi Kuro menelepon dan…..” dengan segenap kekuatanku aku melanjutkan perkataanku. “Jepang terkena gempa yang dahsyat dan sepertinya Nakatsugawa menjadi bagian yang paling parah.” Aku menatap mata istriku yang membulat seperti tidak percaya, dengan lirih dia menjawab,

“Astaga sayang, kamu mungkin harus segera kesana, dan melihat keadaan keluargamu disana…, dan aku akan ikut bersamamu.”

Tentang Penulis: Ahmad Andrian F

Gambar Gravatar
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi keluhkesah.com