Web portal pendidikan – Cerpen kali ini berjudul Bukan cita citaku, yang sudah dikirimkan oleh salah satu peserta dalam ajang lomba cerpen nasional bersama belapendidikan.com. Untuk lebih lengkapnya dapat kita lihat sebagai berikut.

Cerpen : Bukan Cita Citaku (Bagian Pertama)

“Anak-anak hari ini ibu ingin bertanya, siapa yang punya cita-cita menjadi guru?”
“saya buu, sayaaa”. Dan suara anak-anak di kelaspun memecah suasana, banyak bahkan hampir semua dari mereka mengangkat tangannya ketika aku bertanya siapa yang ingin menjadi guru.

Membuatku teringat dengan diriku sendiri saat beberapa tahun yang lalu, saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar bahkan hingga sekolah menengah ketika ditanya cita-cita aku tidak pernah mengatakan ingin menjadi guru, aku justru selalu mengatakan bahwa aku harus menjadi seorang pramugari, dan sangat-sangat tidak ingin menjadi guru, dengan alasan aku tidak suka anak kecil, aku tidak suka berisik, dan aku tidak memiliki bakat mengajar, namun siapa sangka, takdir membawaku duduk di kelas ini, di kelas yang penuh dengan anak-anak, di kelas yang selalu ramai dan gaduh, entah itu dengan tangisan ataupun dengan canda dan tawa, dari anak-anak kecil berumur 4-7 tahun di sekolah ini, sekolah taman kanak-kanak.

“Nak nanti kalau lulus kuliah mau jadi apa?” tanya mama, “mau jadi pramugari lah mah, biar bisa terbang tiap hari”, jawabku. “Jadi guru aja lah nak, biar bisa jadi pahlawan tanpa tanda jasa”, kata mama, “enggak lah mah, aku gak ada bakat jadi guru, gak suka juga sama anak-anak, berisik”.

Selalu saja kata-kata itu yang ku ucapkan ketika mama, ataupun papa menyuruhku untuk menjadi guru. Selain itu aku paling tidak suka ketika lebaran dan bertemu dengan anak-anak dari kakak sepupu ku atau sepupu-sepupu ku yang masih kecil lalu mereka mencium tanganku, aku pasti langsung bergegas menarik tanganku.

Pernah juga ketika berkunjung ke rumah temanku yang sudah menikah atau berkunjung ke rumah tetangga yang baru saja lahiran, hampir semua orang yang datang pasti mencium bayinya, tapi tidak denganku, jangankan mencium, menyentuhnya saja tidak, entah kenapa aku sama sekali tidak merasa tertarik dengan anak kecil, dimataku mereka itu menyusahkan.

Tapi itu dulu, dulu saat aku belum merasakan betapa indahnya bercengkrama dengan anak-anak, betapa menyenangkannya melihat tumbuh kembang mereka, betapa bahagianya melihat canda tawa mereka setiap hari. Bahkan sekarang aku mulai merasakan bagaimana rindu, rindu dengan anak-anak ku di sekolah, rindu dengan kegaduhan-kegaduhan yang mereka buat, rindu saat mereka mencium tanganku sebelum pulang sekolah, rindu dengan hal-hal yang ku benci dulu.

Mungkin ini yang dimaksud jangan terlalu membenci nanti bisa jadi cinta, dan benar sekarang aku sudah sangat mencintai profesi ini, profesi yang tidak pernah ada di daftar cita-citaku, profesi yang ku pandang remeh dan sebelah mata, profesi yang ku anggap sangat sepele.

Cerpen : Bukan Cita Citaku (Bagian Kedua)

Tapi ternyata menjadi guru tidak semudah kelihatannya. Karena menjadi guru tidak hanya sekedar mengajarkan materi tidak hanya sekedar menyuruh mereka untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah. Karena mengajar berarti kita harus mengerti suasana hati anak-anak, kita harus menemukan metode belajar yang menyengakan untuk mereka kita harus membuat mereka tertarik dan yang paling penting kita harus membuat mereka ingin dekat dengan kita. Hal-hal luar biasa yang sama sekali tidak pernah ku rasakan dulu, pengalaman-pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan.

Ketika tawaran untuk menjadi seorang guru datang menghampiriku, aku menerimanya bukan karena aku ingin menjadi guru, tapi karena saat itu aku bosan dengan waktu luang saat libur kuliah, iseng-iseng ku coba menerima tawaran menjadi guru, namun siapa sangka berawal dari iseng-iseng aku justru mulai mencintainya, mencintai profesi ini.

Hal yang paling ku ingat saat pertama kali mengajar adalah saat tidak ada satu orang anakpun yang menghiraukanku, ketika pertama kali aku masuk kelas, suasana gaduh dan ricuh, mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing, ada yang berlarian kesana kemari, ada yang bermain dengan mainannya, ada yang sibuk berbincang-bincang dengan teman-temannya seakan-akan mereka tidak menyadari kehadiranku, padahal jelas-jelas aku berdiri didepan mereka.

Lalu apa yang harus kulakukan? Aku mencoba berbicara “anak-anak, selamat pagi”.
Ku pikir setelah aku mengucapkan kalimat itu mereka langsung serentak menjawab “pagi bu”, namun faktanya, krik krik krik tidak ada satupun yang menjawab. Sekali lagi ku coba, “anak-anak ini ibu guru baru ya, namanya ibu Susi”.

Aku mulai berharap mereka merespon kehadiranku, lalu kemudian ada yang bertanya “ibu Mia kemana bu?”, “ibu Lisa kemana bu?”, “ibu Desy kemana bu?”, dan sederet nama ibu-ibu mereka sebutkan satu persatu, bukannya bertanya kenapa aku ada disini, tapi mereka justru bertanya kemana guru mereka. Ah rasanya kehadiranku disini seperti tidak diharapkan.

Aku mulai melanjutkan mengajar dengan menulis beberapa soal di papan tulis. Lalu ada seorang anak laki-laki yang bertanya “bu, itu huruf apa?”, aku menulis kalimat saya makan, namun rupanya mereka tidak bisa mengenali huruf yang ku tulis, entah huruf a yang ku tulis terlalu keren atau apa, lalu ku coba menuliskannya dengan sangat sederhana, mengikuti gaya mereka menulis.

Tak lama setelah itu ada dua anak perempuan di belakang yang saling dorong hingga salah satunya terjatuh dan menangis, kemudian aku menghampiri dan bertanya apa yang terjadi hingga membuat mereka bertengkar dan menangis, ternyata masalahnya hanya perkara berebut pensil, Kia mengaku bahwa pensilnya telah direbut oleh Sasa sedangkan Sasa mengaku bahwa itu adalah pensilnya, karena aku tidak tau siapa yang jujur akhirnya ku ambil pensil itu dari tangan Sasa, namun ternyata tindakanku justru membuat mereka berdua menangis, mereka kemudian berteriak mengatakan bahwa aku telah mengambil pensil mereka berdua. Padahal niatku hanya supaya mereka tidak berebut, tapi aku justru di fitnah.

Padahal baru satu hari tapi begitulah, perjuangan untuk membuat mereka tertarik denganku bukan hal yang mudah. Hari itu akhirnya aku sadar bahwa menjadi sekedar guru bukan hanya sekedar mengajar.

Cerpen : Bukan Cita Citaku (Bagian Ketiga)

Esoknya aku mulai sibuk mempersiapkan diri dengan mencari-cari informasi tentang metode mengajar anak-anak mulai dari bertanya kepada mbah gugel hingga bertanya kepada mbah yutub, lalu ku temukan metode belajar yang ku rasa cukup akurat jika ku terapkan pada mereka, yaitu dengan membawakan media belajar yang menarik seperti boneka tangan, boneka itu ku beli di sebuah toko boneka di pinggir jalan yang ku lalui sebelum berangkat ke sekolah.

Sesampainya di sekolah saat anak-anak tengah ribut dengan kegiatannya masing-masing kali ini aku mencoba masuk dengan cara yang berbeda, aku mencoba memperkenalkan diriku lewat boneka tangan ini, “selamat pagi anak-anak” ucapku di depan pintu kelas, namun hanya boneka di tanganku saja yang terlihat, badanku masih berada diluar kelas. Ternyata rencanaku berhasil, mereka mulai terlihat tertarik, satu persatu murid mulai menjawab “selamat pagi juga bu”.

Perlahan aku mulai masuk kedalam kelas, “anak-anak perkenalkan ini ibu baru, ibu Susi”, aku mengulang perkenalan diriku yang gagal kemarin. “oh ibu Susi ya, iya ibu Susi, lucu ya, iya bonekanya lucu”, anak-anak mulai sibuk berbisik-bisik dan aku berhasil mencuri perhatian mereka. “Nah anak-anak hari ini kita mulai belajar ya, siapa yang mau belajar dengan ibu Susi angkat tangan?”, aku mencoba memulai interaksi dengan mereka, merekapun menjawab “saya bu, saya bu, sayaa”.

Semua murid di dalam kelas mengangkat tangannya. Aku senang, senang sekali rasanya, bisa mengajar hari itu, bisa membuat mereka tertarik denganku, bisa membuat mereka akhirnya melihat kehadiranku dan menyukaiku. Sejak hari itu anak-anak kemudian mengenalku dengan cirikhas ibu boneka, ibu yang kemana-mana selalu membawa boneka.

Tak ku sangka sejauh ini akhirnya kakiku melangkah, tak bisa ku tahan diriku untuk sehari saja tidak dekat dengan mereka, berada diposisi ini meyadarkanku bahwa menjadi seorang guru bukan perkara yang mudah, terlebih lagi untuk mengajar anak-anak usia dini dengan suasana hati mereka yang sangat cepat berubah dan sangat mudah bosan, tak jarang aku harus melupakan bahwa diriku adalah tipe orang yang tidak suka berbasi-basi, karena disini guru dituntut harus bisa berbasa-basi untuk berinteraksi dengan anak-anak.

Disini aku juga harus meninggalkan sifat kemandirianku, karena aku tak mungkin melepaskan mereka begitu saja dengan tugas-tugas yang ku berikan, aku harus menuntun mereka satu persatu, aku harus mengajak mereka untuk bekerjasama mengerjakan sesuatu, aku harus mengenalkan mereka dengan kebersamaan dan kekompakan didalam tim.

Sungguh menjadi guru bukanlah hal yang mudah, mulai hari ini berhentilah memandang profesi guru sebelah mata, berhentilah berpikiran bahwa kuliah dengan jurusan guru itu mudah, berhentilah meremehkan jurusan pendidikan. Karena sesungguhnya pekerjaan seorang guru adalah pekerjaan yang paling mulai, guru dituntut untuk bisa menjadi orangtua bagi anak-anak orang lain di sekolah, dengan sabar mendidik dan menemani mereka, mengajarkan mereka dengan berbagai macam hal yang belum mereka ketahui, dan disinilah peran guru itu penting.

Jadi bagi para orangtua zaman now yang sering meremehkan guru, tidak hormat kepada guru, bahkan melaporkan guru ke polisi hanya karena masalah sepele cobalah kalian lihat mau jadi apa anak-anak kalian itu jika tanpa guru, atau begini saja, coba kalian bertukar tempat sehari saja dengan guru, rasakan bagiaman sulitnya menjadi seorang guru.

TAMAT …

Cerpen : Bukan cita citaku
Cerpen : Bukan cita citaku

Biodata Penulis :

Nama : Siti Mulia Sari
Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat, Tanggal Lahir : Tabunganen, 17 Juli 1997
Kewarganegaraan : Indonesia
Status : Mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Program Studi S-1 Ilmu Komputer
Agama : Islam
Kesehatan : Sangat Baik

Cerpen ini ditulis oleh Siti Mulia Sari kamu juga bisa menulis karyamu di belapendidikan, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah setiap bulannya, Daftar Sekarang

Ahmad Andrian F
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi keluhkesah.com