Web portal pendidikan – Cerpen kali ini berjudul Abnormal, yang dikirimkan oleh salah satu peserta dalam ajang lomba cerpen nasional bersama belapendidikan.com. Untuk lebih lengkapnya dapat kita lihat sebagai berikut.

Cerpen : Abnormal (Bagian Pertama)

Namaku Viola. Aku seorang perempuan dan aku anak tunggal. Kebanyakan orang kalau tahu aku anak tunggal pastilah berfikir aku ini di manja. Ya, aku biarkan mereka berfikir hal seperti itu, karena sebenarnya aku tidak di manja.

Dulu saat aku kecil, aku tinggal bersama nenek kakekku. Entah kenapa mereka berdua seperti tidak menyukaiku. Mereka memukuliku, menyiksaku bahkan mereka sering melontarkan kata-kata kasar kepadaku. Sering kali aku mendapatkan teriakan dari nenekku dan menyebutkan bahwa aku anak dari hasil hubungan terlarang.

Suatu hari orang tuaku berkunjung, mereka terkejut melihatku yang sedang tertelungkup di sudut ruangan. Badanku gemetaran, banyak luka di sekujur tubuhku. Aku ketakutan. Entah bagaimana selanjutnya tiba-tiba aku tinggal bersama orang tuaku.

Aku sangat takut kepada nenek dan kakekku. Setelah tinggal dengan orang tuaku aku selalu merasa cemas dan takut jikalau kakek dan nenekku tiba-tiba datang. Aku selalu memeriksa pintu rumahku berkali-kali, ataupun saat tidur aku harus menutup rapat pintu kamarku.

Aku juga sering bertanya-tanya kepada orang tuaku apakah benar kakek dan nenek tidak berkunjung. Terkadang aku juga takut untuk berperilaku sosial. Aku takut melakukan kesalahan di depan umum yang membuatku malu karena aku takut tidak diterima oleh mereka. Parahnya lagi aku tidak mau berjabat tangan dengan mereka.

Suatu hari orang tuaku mengajakakku bertemu dengan Dokter Sarah. Dokter Sarah baik banget, cantik dan suka tersenyum. Awalnya aku sedikit cemas apakah Dokter Sarah benar baik padaku. Dokter Sarah bertanya banyak hal padaku seperti keseharianku bagaimana. Rasa cemasku, ketakutan yang berlebihan, atau selalu berfikir negatif ke orang lain.

Kemudian Dokter Sarah mengatakan kepada orang tuaku bahwa aku mengidap penyakit Obsessive Compulsive Disorder atau biasa disebut OCD. Entah mengapa Dokter Sarah mendiagnosa ku seperti itu padahal aku tidak merasa cemas yang berlebihan tetapi lebih tepatnya aku tidak mudah percaya ke siapapun.

Cerpen : Abnormal (Bagian Kedua)

Tanggal 13 Agustus 2017 saat ini aku menjadi mahasiswa baru di Jurusan Psikologi. Ternyata begini rasanya kuliah. Memakai pakaian bebas sopan, dan saat belajar pun tidak full dari pagi sampai sore. Tetapi tetap saja rasa cemas itu masih ada.

Tiba-tiba Bugh..!! aku menabrak kakak tingkat. Gawat aku takut, aku benar-bbenar tidak sengaja. “Maaf kak, saya tidak melihat kakak,” sambil tertunduk aku tidak berani melihat wajahnya.

“Eh, kamu Viola ya ? Kenalin, aku Rifki,” kata Kak Rifki.
Kak Rifki adalah kakak tingkatku, dia masih semester tiga di Jurusan Psikologi. Semakin bertambah waktu semakin dekat pula aku dengan kak Rifki sampai suatu ketika.

“Viola, aku menyukaimu”
“Kenapa kakak suka aku ? Aku kan perempuan berpenyakit,” kataku.
“Emang kamu sakit apa ?” tanya Kak Rifki.
“Gangguan OCD,” jawabku sambil menundukkan kepala. Kak Rifki mengusap kepalaku, dia tersenyum dan berkata “Its ok Viola, aku akan bantu menyembuhkan penyakitmu.”

Ternyata benar Kak Rifki membantuku. Biasanya aku cemas, khawatir, bahkan selalu memikirkan hal-hal yang buruk tetapi Kak Rifki membantuku untuk tetap tenang. Banyak hal yang membuatku cemas seperti pertandingan olahraga antar fakultas, presentasi kelas, kuis dadakan, ujian lisan dan banyak hal sampai aku selalu berfikir negatif tentang dosen. Kak Rifki tetap ada di sampingku, menenangkanku, menghibur dan menyemangatiku.

“Aku gak percaya sampai sekarang masih sama Kak Rifki”
“Sudah jangan bilang begitu, yang penting sekarang aku sayang kamu, Viola”

Begitulah aku sekarang yang selalu merasa bahagia hingga lupa bahwa aku pernah mengalami gangguan OCD saat itu.
Saat selesai kuliah pun aku kerap kali bertemu Kak Rifki. Dia terkadang juga sering menjemputku untuk sekedar makan di kantin.

“Viola tahu hari minggu besok ada acara apa?” Tanya Kak Rifki.
“Nggak kak, emang ada apa ?” tanyaku.
“Minggu besok ultahku, dan juga beretepatan ada festival kembang api di taman kota. Jadi list-nya pagi-pagi aku jemput kamu trus kerumahku ntar aku kenalin ke orang tuaku.”

“Ha?,” aku terkejut dengan perkataan Kak Rifki barusan.
“Trus siangnya kita nonton, setelah nonton temani aku beli buku buat kulia, malamnya kita dinner di warung pinggir jalan dekat taman kota saja, sambil menunggu mulainya festival kembang api,” lanjut Kak Rifki.
“Jadi seharian kita gak mandi nih?” tanyaku.
“Iya, kita adalah orang yang paling bau saat ultahku nanti,” canda Kak Rifki.
Kita tertawa dan aku tidak sabar akan datangnya hari itu. Sungguh aku sangat bahagia.

Cerpen : Abnormal (Bagian Ketiga)

Dua hari kemudian aku mendapatkan kabar bahwa Kak Rifki kecelakaan. Temanku mengabariku dan langsung membawaku ke rumah sakit dimana Kak Rifki dirawat. Aku terkejut, rasanya baru kemarin aku dan Kak Rifki tertawa dan bercanda bersama tetapi saat ini aku melihatnya berbaring lemah.

Aku tidak tahu betul apa yang menyebabkan Kak Rifki kecelakaan. Aku menangis dan tidak peduli orang lain yang menenangkanku. Belum lima jam aku disini dokter menyatakan bahwa Kak Rifki meninggal. Aku shock. Keluarga dan teman-temannya menangis sedangkan aku pingsan.

Setahun berlalu, saat ini aku sedang berada di kamarku. Bagaimana proses pemakaman Kak Rifki akupun tidak tahu. Seingatku aku hanya tetap berada di dalam kamar ini, hanya orang tuaku saja yang berkunjung ke rumahnya kala itu. Aku mencoba untuk melupakan hal itu.

Akupun selalu memikirkan hari-hariku bersama Kak Rifki. Barang pemberian dari Kak Rifki pun masih ada. Bahkan aku selalu memikirkan hal-hal yang aku lakukan dengan Kak Rifki nantinya. Kak Rifki saat ini sedang pergi. Main bersama teman-temannya mungkin. Oh atau masih turlap (turun lapangan) di luar kota.

Aku yakin suatu hari nanti pasti Kak Rifki datang. Aku kerap kali bertanya kepada orang tuaku apakah Kak Rifki hari ini datang menjemputku.

“Ma, katanya hari ini Kak Rifki datang ke rumah. Mau mengajak jalan-jalan.”
Mama hanya tersenyum dan mengusap kepalaku. Saat kuliahpun aku sebal karena Kak Rifki tak kunjung datang.
“Viola gak pulang?” Tanya temanku.
“Iya pulang, masih nunggu Kak Rifki katanya datang mau jemput,” jawabku.
Temanku hanya mengernyitkan dahi, tersenyum lalu meninggalkan ku sendirian. “Kenapa dia? Aneh,” pikirku.

“Guys besok ada festival kembang api ? Aku gak sabar nih mau nonton sama Kak Rifki.”
“Ha? Festival kembang api kan sudah setahun berlalu Vi,” jawab temanku.
Ntahlah, mengapa saat ini teman-temanku sangat menyebalkan.

Pernah juga suatu ketika
“Eh ada film baru nih,” kata temanku sambil menunjukkan handphone-nya.
“Hari Minggu besok aku mau nonton ini nih sama Kak Rifki,” jawabku.
“Vi, sadar dong,”
Ih apaan sih lagi-lagi mereka membuatku sebal.

Orang tuaku merasa aku ada yang salah. Mereka membawaku mengunjungi Dokter Sarah. Apalagi sih ini, aku normal kok, aku juga merasa tidak sakit lagi. Hanya saja reaksi dari Dokter Sarah berbeda saat aku menyebutkan Kak Rifki berkali-kali. Kemudian Dokter Sarah mendiagnosaku bahwa aku menyebutkan gangguan Skizofrenia.

Cerpen : Abnormal (Bagian Keempat)

Ha? Parah banget. Aku termenung dan memikirkan kenapa aku selalu seperti ini sih. Kenapa harus aku.

Saat kuliah, aku banyak termenung. Mungkin teman-temanku mengetahui bahwa sebenarnya aku mengalami gangguan dan halusinasi yang membuatku susah membedakan manakah hal fantasi dan manakah kehidupan yang nyata.

Tetapi mereka tidak mau mengatakannya. Saat ini aku sendiri yang mengetahuinya, karena Dokter Sarah itu. Tiba-tiba Pak Anto menghampiriku. Beliau adalah dosen mata kuliah Psikologi Abnormal di Jurusan Psikologi.

“Viola, kenapa? Ada sesuatu?” Tanyanya lembut.
“Pak ternyata saya ini abnormal ya,” ucap ku.
“Kamu merasa begitu Viola?” kata Pak Anto penasaran.
“Saya baru sadar, ternyata saya gangguan Skizofrenia. Saya baru sadar kalau ternyata Kak Rifki telah tiada.

Saya baru sadar bahwa setahun ini saya menjalani hari-hari tanpa Kak Rifki. Aneh, rasanya Kak Rifki selalu ada di samping saya pak. Rasanya juga baru kemarin Kak Rifki berjanji akan mengajakku melihat festival kembang api,” aku terisak menahan air mataku. Sebenarnya aku tidak kuat menahan tap aku memaksa diriku sendiri untuk tahan.

“Saya sudah tau,” kata Pak Anto
“Apa? Darimana bapak tahu?” tanyaku penasaran.
“Sebenarnya saya sudah merasa saja kalau kamu mengidap gangguan itu, teman-temanmu banyak yang bertanya kepada saya mengenai keanehanmu. Mereka sudah merasa kalau kamu berubah hanya saja mereka tidak mau mengatakannya padamu, karena mereka yakin kamu tidak akan percaya pada mereka.

Maka waktu itu saya meminta pada teman-temanmu untuk memberi kontak orang tuamu agar saya bisa menghubunginya. Akhirnya saya mendapatkanya langsung saya hubungi orang tuamu untuk memeriksakan kamu,” ucap Pak Anto.
Aku terdiam ternyata mereka sejauh ini untuk menolongku. Aku terharu, sungguh aku tidak mampu membendung air mataku.

“Tidak apa-apa, mari jalani keseharianmu seperti biasa tanpa Rifki. Orang yang sayang ke kamu bukan Rifki saja. Ada teman-temanmu bahkan orangtuamu. Kamu harus selalu bersyukur,” kata Pak Anto.
Ya, Pak Anto benar. Kak Rifki telah pergi. Aku harus tetap menjalani hari-hariku meskipun itu tanpa Kak Rifki.

Tamat ….

Cerpen ini ditulis oleh Leyla Novita kamu juga bisa menulis karyamu di belapendidikan, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah setiap bulannya, Daftar Sekarang

Ahmad Andrian F
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi keluhkesah.com