Budaya Literasi Sebagai Solusi Mengatasi Berita Hoaks

oleh -604 views
Budaya literasi solusi mengatasi berita hoaks
Budaya literasi solusi mengatasi berita hoaks

Web portal pendidikan – Judul yang akan kita bahas kali ini tidak jauh jauh dari masalah hoaks, adapun judul yang di angkat yaitu budaya literasi sebagai solusi mengatasi berita hoaks. Untuk selengkapnya dapat kita simak dalam ulasan berikut ini.

Budaya Literasi Sebagai Solusi Mengatasi Berita Hoaks

Pada hakikatnya manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan orang lain. Untuk mencapai kesepahaman satu sama lain, manusia menjadikan bahasa sebagai perantara. Negara Indonesia sendiri yang notabennya merupakan negara multikultural, memiliki bahasa yang beragam di setiap daerahnya. Namun keberagaman tersebut justru akan lebih indah saat satu sama lain saling menghargai bahasa mereka.

Bahasa sendiri memiliki berbagai fungsi diantaranya sebagai media mengekspresikan diri, komunikasi, adaptasi dan integrasi, serta sebagai kontrol sosial. Namun dalam penggunaannya, bahasa seringkali disalahgunakan untuk hal-hal yang dapat merugikan maupun memecah belah kerukunan bangsa Indonesia.

Salah satu bentuk dari hal tersebut adalah berita hoaks. Menurut Oxfford English Dictionary “hoax” didefinisikan sebagai malicious deception atau dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai kebohongan yang dibuat dengan tujuan jahat.

Di era yang semakin maju, teknologi semakin berkembang dan masyarakat semakin mudah dalam mengakses berita yang beredar luas di internet. Pesatnya perkembangan teknologi juga dapat menyebabkan informasi sekecil apapun cepat menyebar dan sampai ke masyarakat.

Namun perkembangan teknologi ini seringkali tidak dibarengi dengan kemampuan masyarakat untuk membedakan antara berita yang benar dengan berita hoaks.

Salah Satu Sebab Berita Hoaks Mudah Dipercaya ?

Salah satu penyebab berita hoaks mudah dipercayai oleh masyarakat adalah karena kemampuan literasi mayarakat yang rendah. Untuk itu bagi para pemuda Indonesia harus mebudayakan literasi dalam membuktikan kebenaran suatu berita.

Salah satu cara untuk menghindari hoaks adalah kita harus mengetahui ciri-ciri berita hoaks yaitu dalam berita tersebut tidak mencantumkan sumber yang jelas, siapa pengirimnya, lokasinya, serta tanggal dan waktu kejadiannya.

Faktor lain yang menyebabkan masyarakat percaya dengan hoaks adalah adanya bandwagon effect, yaitu pada awalnya masyarakat belum percaya dengan suatu berita, tetapi setelah melihat ada banyak orang yang memercayainya dan bahkan sampai membentuk komunitas, masyarakat jadi cenderung lebih mudah untuk ikut-ikutan mempercayainya.

Faktor selanjutnya adalah adanya bukti sosial. Kita tidak perlu menilai benar pada suatu berita jika lingkungan kita sudah mempercayainya. Hal ini dilakukan menggunakan teori konspirasi dengan mengambil argumentasi ringan yang dapat kita temui di kehidupan sehari-hari, lalu mencocokannya menjadi cerita yang utuh sehingga menarik dan mudah di percaya oleh masyarakat.

Manusia rentan dengan availability bias yaitu kita memandang dunia dengan informasi yang terbatas sehingga cerita yang ada menjadi nyambung dan lebih mudah untuk kita percaya juga menjadi faktor masyarakat mudah percaya dengan berita hoaks.

Selain itu adanya illusory truth effect yang dimiliki manusia, membuat manusia suka mengaitkan dua hal yang sebenarnya tidak memiliki hubungan sebab akibat dan terus menerus dipikir secara berulang-ulang sehingga berita yang ada jadi terasa benar.

Dalam penyebarannya ada tiga jenis hoaks yaitu hoax proper, click bait dan menyebarkan berita lama

Hoax proper yaitu berita yang dibuat untuk menipu orang dan sengaja menyerang inividu atau kelompok yang tak sependapat dengannya. Jenis hoaks ini dapat tergambar pada saat-saat sekarang yaitu jelang pemilu, karena biasanya jika salah seorang memiliki pilihan berbeda dalam pemilu sering kali orang tersebut menyebarkan berita yang sifatnya menjatuhkan pasangan calon yang bukan pilihannya.

Jenis hoaks click bait ini seringkali dilakukan oleh pengunggah situs yaitu dengan membuat judul yang heboh sehingga menarik pembaca, padahal isi dari berita tersebut berbeda jauh dari judul yang diberikan.

Tanpa di sadari sebagian besar berita seringkali melebih-lebihkan judul beritanya agar banyak pengguna yang mengakses beritanya. Ini merupakan salah satu penyalahgunaan bahasa dalam berita, sehingga dapat dikatakan penggunaan judul yang dalam istilah “lebay” merupakan salah satu bentuk dari hoaks.

Yang terakhir adalah pengangkatan berita lama sehingga menimbulkan asumsi terhadap peristiwa yang baru saja terjadi. Misalnya yang baru-baru ini terjadi di Indonesia yaitu jatuhnya pesawat Lion Air JT 610. Saat kejadian tersebut diselimuti dengan berita hoaks yaitu tersebar luasnya sebuah gambar pesawat Lion Air yang terbelah, padahal setelah dikonfirmasi ternyata itu adalah pesawat Lion Air yang jatuh di laut Bali pada tahun 2013 silam

Untuk menghindari berita-berita hoaks maka masyarakat harus cerdas dalam menyaring berita-berita yang ada. Masyarakat harus hati-hati dengan berita yang memiliki judul provokatif, serta masyarakat harus mencermati alamat situs, periksa fakta, dan keaslian berita.

Selain itu masyarakat harus menjadikan media sosial yang ada sebagai mitra informasi bukan mitra konflik. Dalam hal ini media untuk mendapatkan informasi dapat diperkuat yaitu dengan edukasi terhadap masyarakat dalam praktek literasi media.

Ini menjadi sangat perlu dan merupakan tanggung jawab bagi semua terutama para pemuda yang cenderung memiliki pandangan kritis.

Pemuda Indonesia harus mampu meliterasi masyarakat luas mengenai hoaks, misalnya dengan membuat dan turut serta aktif dalam grup anti hoak. Aktif disini maksudnya adalah pemuda harus mengajak masyarakat untuk gabung dalam grup tersebut serta melakukan tindakan lebih lanjut pada pelaku hoaks dengan cara melaporkannya kepada pihak yang berwajib. Dengan begitu pelaku penyebar hoaks akan jera, dan hal ini akan mencegah bibit-bibit penyebar hoaks bermunculan.

Kesadaran dari masyarakat menjadi tombak untuk mencegah berita hoaks tersebar luas di Indonesia. Masyarakat tidak boleh masa bodoh dengan sumber berita yang ada, dan harus mengecek kevalidan beritanya. Apalagi sekarang ini sudah banyak situs-situs maupun aplikasi yang dapat digunakan untuk mengecek apakah berita yang tersebar itu hoaks atau tidaknya.

Namun hal ini sulit dilakukan karena masyarakat sekarang cenderung malas mengecek kebenaran dari suatu berita dan menelan mentah-mentah berita hoaks tersebut. Untuk itu ini menjadi tugas pemuda bersama dengan pemerintah untuk membrantas berita hoaks agar tidak merajalela di Indonesia.

Penulis by : Naely Ulfa
Penulis by : Naely Ulfa

Esai ini ditulis oleh Naely Ulfa, kamu juga bisa menulis karyamu di belapendidikan, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah. Klik disini untuk kirim tulisan

Tentang Penulis: Ahmad Andrian F

Gambar Gravatar
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi keluhkesah.com