Web portal pendidikan – Esai kali ini berjudul Bermoral dalam berpendidikan, yang dikirimkan oleh salah satu peserta dalam ajang lomba esai nasional bersama belapendidikan.com. Untuk lebih lengkapnya dapat kita lihat sebagai berikut.

Bermoral Dalam Berpendidikan

Kita adalah orang-orang yang berharga. Kita semua brilian. Kita bagaikan berlian. Namun kala memiliki rendahnya budi luhur dan wibawa, kita bagai berlian yang terbenam di lumpur rawa-rawa.
“Jangan jadi berlian di lumpur rawa, brilian minim budi luhur dan wibawa.”

Moral, Itu yang terpenting. Dahulu, beberapa orang tua tak membiarkan anak mereka keluar menuntut ilmu sebelum anak-anak itu menguasai moral. Bukan sekadar tahu, tetapi juga mau melakukan adab-adab yang baik di mana pun mereka berada.

Kadang, seseorang akan dikenal dan dikenang tergantung dari apa yang terakhir mereka capai. Dan tidak dikatakan pencapaian terakhir jika seseorang mencapai rumah besarnya bahkan menggaet titik mapannya. Akhir dalam hal ini juga bukan tentang mata tertutup untuk selamanya. Bukan yang seperti itu. Ini perihal adab yang seseorang lakukan setelah meraih sebuah pencapaian atas ilmu yang ia bawa.

Mereka yang berdasi setelah sukses menjadi alumni masyur lalu menggunakan ilmu tinggi mereka untuk memeroleh uang haram pada akhirnya akan lebih dikenal sebagai koruptor kendati bahkan sudah keluar dari bui.

Pendidikan,

Betapa bosan orang-orang mendengarnya sementara masih lebih banyak yang mendustai pendidikan daripada memuliakannya. Tingkat intelek juga masih menjadi tolak ukur atau takaran terfundamental dibanding akhlak. Lebih penting tahu aritmatika daripada arif dan tahu etika.

Lama sudah, entah kapan kadaluwarsanya. Ibanya, perkara ini sudah terpancang di hati. Untunglah hanya bersifat segmental, di mana masih sebagian orang yang memihak terhadap pandangan ini, baik itu yang memeroleh didikan, yang memberi didikan, yang membayar didikan, maupun yang menunggu produk-produk didikan.

Berujar soal bumi tercinta yang menggaet independensinya pada 17 Agustus 1945 ini, tak perlu lagi untuk sekadar dinalar perihal faktor-faktor rendahnya pendidikan di dalamnya. Materi pelajaran yang terlalu keras dan ujung-ujungnya orang tua yang mengerjakannya di rumah; banyaknya jumlah peserta didik; kurikulum yang tidak efektif; dan hal lain yang masih banyak untuk disebutkan adalah penyebab rendahnya potret pendidikan di Indonesia.

Ada juga faktor lain yang sering disebut-sebut namun sebenarnya kurang tepat, yaitu masalah dana. Banyak sedikitnya dana untuk pendidikan bukan alasan dalam berkualitas tidaknya pendidikan, tetapi bagaimana penggunaan dana tersebut. Selain itu, tak ada penghargaan bagi guru-guru kreatif yang mampu benar-benar menyampaikan ilmu. Dan yang paling utama adalah karakter anak didik itu sendiri.

Tidak akan berubah seseorang, jika bukan orang itu yang mengubahnya. Segala yang ada di sekitar hanyalah instrumen, hanya medium. Para penempuh pendidikan patut sadar bahwa tak ada yang bisa diandalkan selain diri sendiri. Pintar itu tidak harus. Yang wajib itu kesungguhan dalam mengejar ilmu.

Dan inilah yang minim dijumpai. Yang berwawasan kurang wibawanya, yang agak `di bawah` kurang usahanya. Ya, kebanyakan orang masih rendah usahanya untuk menjadi berwibawa. Di satu pihak ada yang angkuh dan pelit (ilmu), di pihak lain ada yang berleha-leha.

Berpengetahuan semampai itu hebat bahkan perlu. Namun jika moral rendah, maka hampalah mutu ilmu. Berpengetahuan secuil pun tak apa asal punya harkat moral yang utuh.

Bersungguh-sungguh.

Ini juga mungkin sudah pengar didengar khalayak. Tetapi inilah kuncinya. Jika saja ada sebuah ruangan yang didalamnya terdapat emas dan uang yang siapa saja boleh mengambilnya, maka akan berlomba-lombalah kunci dari pintu ruangan itu dicari.

Nah, ini semua orang sudah kenyang mendengar kuncinya yaitu kesungguhan namun tetap hanya segelintir yang peka untuk mengindahkan. Ada juga yang memilih untuk mendobrak ruangan itu. Sekali pun berhasil, sayang sekali orang itu merusak pintunya.

Jika ada yang berkeluh, “Kenapa harus memelajari materi perhitungan ini, materi hapalan itu, dan kenapa harus ada yang namanya materi jungkir balik dan memasukkan bola ke ring padahal tak ada keinginan untuk itu di masa depan nanti?”

Jawabannya, karena sekolah itu tempat kita mencari jati diri. Semua harus kita rasakan hingga akhirnya ada yang terasa benar-benar terpatri di dalam benak.

“Sudah saya temui apa yang saya mampui dan minati. Lantas apa yang akan saya lakukan jika masa jabatan saya di bangku pendidikan belum berakhir? Bukannya saya cukup fokus pada satu hal saja kalau begitu? Yakni pada apa yang menjadi passion saya? Saya sudah tidak perlu lagi, kan, bahan aja yang bukan bidangnya saya?”

Lantas? Terserah. Jika mau, keluar saja. Tidak. Bukan begitu maksudnya. Disinilah makna dari pendidikan harus dipahami. Berbagai mata pelajaran yang diajarkan pada siswa gunanya untuk meningkatkan wawasan, mencari spesialisasi tiap individu di mana, dan mengasah kedisiplinan.

Tak apa nilai rendah, yang penting semua tugas dikerjakan dengan serius. Yang pokok itu proses, bukan produk. Yang diharapkan adalah yang benar-benar niat dan mau mengerjakan amanah, bukan `yang penting selesai`, `yang penting nilai bagus`. Lagi pun, nilai bagus apanya jika bersekolah hanya untuk sekadar menggugurkan formalitas saja; bersekolah karena orang lain juga bersekolah. Harus pindah ideologi, yaitu bersungguh-sungguh karena itu alasan ada yang namanya sekolah, ada yang namanya pendidikan.

Kesungguhan adalah kala telinga tak sekadar mendengar tetapi juga menelaah; bibir yang berupaya hanya membahas kajian berbobot; mata fokus pada papan materi, melupakan permainan di layar radiatif. Tidak fasih dalam memahami, rumit menghadapi semua tugas, itu barangkali sudah kodrat yang tidak bisa diubah secara signifikan.

Namun itu bukan alasan untuk berpangku tangan. Justru disinilah kesungguhan diuji. Dan jika seseorang mau dan berjaya dalam kesungguhan, tekad, dan tekunnya, maka itulah substansi dari adab dalam menuntut ilmu.

Ya, mencerap pendidikan bukan tentang menjadi pintar tetapi menjadi disiplin. Tatkala ada ulangan semester misalnya, terserah siapa yang rangking satu dan terbelakang, yang pasti mereka yang mengindahkan kejujuran itu terhebat. Kurang gigih dalam belajar namun menolak untuk mencontek, itu keren. Lebih-lebih, sudah kukuh belajar, pun anti untuk korupsi dalam menyongsong soal-soal. Cemerlang.

Pokoknya, berjuang keras namun gagal lebih apik daripada malas-malasan namun berhasil. Seperti ada manis-manisnya, gitu, melihat keringat meleleh seiringan dengan intensitas semangat yang memadat.

Lagi pula berpendidikan bukan hanya untuk ilmu. Perlu ditancap dalam batin, dicengkeram sealot mungkin, digigit dengan geraham, bahwa mengenyam pendidikan itu demi menuntut ilmu dan menjulang karakter bermoral.

Esai ini ditulis oleh Husnul Raja kamu juga bisa menulis karyamu di belapendidikan, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah setiap bulannya, Daftar Sekarang

Ahmad Andrian F
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi keluhkesah.com