Web portal pendidikan – Esai kali ini berjudul Benang kusut sistem pendidikan nasional, yang dikirimkan oleh salah satu peserta dalam ajang lomba esai nasional bersama belapendidikan.com. Untuk lebih lengkapnya dapat kita lihat sebagai berikut.

Benang Kusut Sistem Pendidikan Nasional

Kemajuan suatu negara tidak bisa lepas dari pendidikan yang diwujudkan. Bangsa yang besar terbentuk dari kepedulian terhadap dunia pendidikan. Beberapa negara maju seperti Jerman, Jepang, Finlandia, Singapura, Canada, Cina dan lain-lain merupakan negara yang tidak kaya sumber daya alam.

Namun kelemahan tersebut membuat mereka bangkit dengan menanam modal pada sektor pendidikan. Penanaman modal pada sektor pendidikan dapat membangun sumber daya manusia berkualitas yang kelak dapat menjadi agen perubahan dan mengubah tatanan negaranya ke arah yang lebih baik dalam segala bidang. Tidak dapat dipungkiri, pendidikan merupakan pondasi awal perkembangan bidang lain.

Pendidikan adalah bidang yang tidak bisa dikerjakan asal-asalan, perlu perencanaan yang matang agar pendidikan berkualitas tercapai. Mewujudkan pendidikan berkualitas membutuhkan sistem yang kokoh dan tertata sehingga terwujud tujuan pendidikan sejati.

Oleh sebab itu, jalannya pendidikan nasional hendaknya tidak boleh melenceng dari dasar tujuan pendidikan itu sendiri. Perlu diingat bahwa pendidikan bukan hanya tentang menyelesaikan sekolah dan mendapatkan ijazah.

Sejak zaman penjajahan bangsa Portugis dan Belanda, Indonesia sudah mulai mengenal pendidikan. Pendidikan diselenggarakan tidak lepas dari tujuan negara/penguasa di masanya.

Pada masa penjajahan bangsa Portugis, pendidikan dimulai di Indonesia bagian timur yaitu Maluku sebagai pusat kekuasaan Portugis untuk menyebarkan agama katolik melalui gereja-gereja yang dibangun pada masa itu dan penanaman bahasa Portugis kepada masyarakat.

Sedangkan pendidikan pada masa awal penjajahan kolonial bertujuan menyelenggarakan sekolah untuk mengajar menulis, membaca, dan budi pekerti. Pendidikan pada masa penjajahan Belanda memang kalah sukses dibandingkan Portugis karena ketidakmampuan masyarakat Indonesia menguasai bahasa Belanda hingga puncak keberhasilan pendidikan kolonial dimulai sejak diberlakukannya politik etis tahun 1890 atas dorongan kaum liberal dalam Parlemen Belanda.

Tujuan pendidikan pun bergeser yaitu untuk menghasilkan pekerja terdidik yang murah guna menjaga perkebunan pemerintah berjalan lancar (Nasution, 2015).
Perkembangan pendidikan Indonesia setelah kemerdekaan seolah berjalan ditempat. Pemangku kebijakan melakukan trial and error untuk mewujudkan pendidikan berkualitas.

Benang Kusut Sistem Pendidikan Nasional (2)

Adaptasi sistem pendidikan dari berbagai negara dicoba. Melihat ke belakang, sudah 11 kali Indonesia berganti kurikulum, mulai dari “Rencana Pelajaran 1947” hingga “Kurikulum 2013. Terakhir, kurikulum 1994 dan suplemen 1999 yang cukup lama terpakai. Setelah itu, pergantian kurikulum terus terjadi begitu cepat.

Namun tidak ada perubahan signifikan terhadap pendidikan di Indonesia. Perubahan kurikulum seakan-akan hanya proyek tanpa landasan dan tujuan yang jelas sehingga wajar muncul sindiran dari masyarakat, “ganti menteri, ganti kurikulum”.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sistem adalah perangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga membantuk suatu totalitas (https://kbbi.web.id/sistem, 3 April 2018).

Berdasarkan UU Sisdiknas tahun 2003 pasal 3, tujuan pendidikan adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara demokratis serta bertanggungjawab (UU Sisdiknas, 2003).

Oleh sebab itu, sistem pendidikan nasional harus dibentuk secara teratur guna mewujudkan tujuan pendidikan.

Indonesia merupakan negara yang kaya akan keberagaman budaya maka pendidikan tidak bisa lepas dari kebudayaan. Negara wajib menjamin penyelenggaraan pendidikan demi keberlangsungan kebudayaan nasional dan daerah sebab kebudayaan Indonesia yang beragam ini merupakan kekayaan yang harus dijaga.

Sebagaimana amanat UUD 1945 pasal 32 yang berbunyi: (1) negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budaya; (2) negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional (http://kelembagaan.ristekdikti.go.id, 3 April 2018).

Upaya pemerintah dalam mewujudkan cita-cita negara dalam pendidikan belum bisa terwujud. Melihat banyak kasus dari rumitnya persoalan pendidikan di Indonesia, idealitas pendidikan bertolak belakang dengan realitas.

Menurut Rohman (2014: 31), praktik pendidikan pada anak lebih banyak didominasi dengan hafalan, materi yang diajarkan oleh pendidik kurang diimbangi proses dialog antarmereka sehingga kemampuan penalaran anak kurang berkembang.

Padahal arah pendidikan sesungguhnya mengembangkan seluruh aspek kemanusiaan supaya optimal.

Perlu penyelenggaraan pendidikan yang berorientasi pada keterampilan. Menurut Saroni (2013: 133), pendidikan keterampilan merupakan proses pendidikan yang didasari konsep bahwa keterampilan merupakan kebutuhan masyarakat secara umum.

Peserta didik sudah seharusnya dibekali dengan keterampilan yang aplikatif supaya bisa bertahan hidup, bukan sebatas teori pelajaran. Masyarakat terdidik sekarang ini justru menjadi beban negara karena gelar “pengangguran terdidik”.

Benang Kusut Sistem Pendidikan Nasional (3)

Berdasarkan data BPS, jumlah pengangguran pada tahun 2017 mengalamai kenaikan sebanyak 10.000 orang. Peningkatan jumlah pengangguran terbuka tertinggi terdapat pada lulusan SMK sebesar 11.4%, SMA sebesar 8,29%, lulusan diploma sebesar 6,88% (Ekonomi.okezone.com, 6 November 2017).

Berbagai masalah pendidikan Indonesia, tidak bisa lepas dari pijakan berlangsungnya pendidikan di sekolah yaitu kurikulum. Sekolah, khususnya sekolah-sekolah negeri berjalan sesuai dengan kurikulum nasional.

Namun kurikulum yang dibuat pemerintah justru tidak sejalan dengan tujuan pendidikan nasional dan belum mampu mengakomodir kebutuhan belajar siswa. Kurikulum 2013 yang digadang-gadang dapat menyelesaikan pemasalahan degradasi moral generasi muda, kenyataannya hanya teori belaka.

Tujuan utama kurikulum 2013 adalah pembentukan karakter tapi beban capaian kompetensi dasar justru menyampingkan tujuan tersebut. Terlebih ketika ujian nasional masih digunakan sebagai alat untuk masuk ke jenjang selanjutnya maka mau tidak mau, orientasi pembelajaran kembai ke nilai kognitif, aspek psikomotorik dan afektif pada akhirnya dinomorsekiankan.

Pembelajaran yang diharapkan menyenangkan pun, tidak terjadi. Harapan penyelenggaraan pendidikan berbasis proses tetap kalah dengan orientasi hasil. Bahkan pada tingkat SMA, anak-anak lebih banyak dibebankan setumpuk tugas sehingga waktu untuk mengembangkan diri di luar sekolah sangat terbatas. Padahal pendidikan bukan semata-mata tentang nilai tinggi dari pelajaran di sekolah.

Jika selama ini guru-guru selalu menjadi kambing hitam rusaknya pendidikan di sekolah, perlu ditekankan bahwa mereka bertindak sesuai kurikulum nasional. Keberlangsungan pendidikan juga membutuhkan pondasi kokoh berupa kurikulum yang matang, tidak asal dibuat dan diterapkan.

Benang Kusut Sistem Pendidikan Nasional (4)

Selama ini, kurikulum bergonta-ganti tanpa riset terkait kelebihan dan kekurangannya. Lihatlah Finlandia yang berhasil menyusun kurikulum yang berbeda dari kebanyakan negara OECD (Organization For Economic Cooperation and Development). Pada dasarnya, prinsip kurikulum Finlandia adalah tidak ada diskriminasi dan semua siswa mendapat perlakuan yang sama. Siswa-siswa disana tidak dibebani dengan setumpuk tugas and penilaian yang rumit.

Mata pelajaran di Finlandia terdiri dari 6 mata pelajaran yang terbugkus dengan kata orientation yang bermakna mereka tidak mempelajari isi buku tapi berlatih berinteraksi dengan ilmu-ilmu tersebut, menjelajah fenomena alam dengan memahami dan mencoba.

Sistem pendidikan ini sempat mendapat pertentangan dari banyak negara dan pakar pendidikan, tapi kenyataannya hasil studi PISA tahun 2012, Finlandia menduduki peringkat pertama. Meskipun pada tahun 2015, hasil studi PISA menunjukan penurunan peringkat ke peringkat 5 (https://www.oecd.org/pisa/PISA-2015-Indonesia.pdf, 2016).

Tapi sistem pendidikan mereka tetap diakui sebagai yang terbaik. Ketika pondasi sebuah sistem pendidikan sudah kokoh, tidak akan sulit memperbaiki masalah lain dalam pendidikan kita.

Benar, guru memiliki peran penting dalam kemajuan pendidikan karena mereka adalah tiang utama. Bagaimana mungkin berharap terlalu tinggi jika kesejahteraan guru-guru di Indonesia masih rendah. Ada banyak ribuan Guru Tidak Tetap yang gajinya saja tidak manusiawi. Pemerintah mengetahui masalah tersebut, tapi seolah tutup mata terhadap realitas ini.

Negara besar seperti Jepang begitu menghargai guru. Pasca dibom oleh sekutu pada tahun 1945, Kaisar Hirohito langsung menanyakan kondisi guru bahkan mengirimkan mereka sekolah ke luar negeri.

Bandingkan apa yang terjadi dengan nasib guru di Indonesia. Sebagian besar GTT adalah guru-guru muda yang produktif dan sangguh diajak untuk berkembang, namun kenyataannya mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang tidak dianggap oleh negara. Bahkan GTT di sekolah-sekolah negeri dipersulit untuk mendapat SK.

Education For All (EFA) sudah menjadi program Kementerian Pendidikan dan kebudayaan sejak tahun 2000 yang lalu tapi kenyataannya, pendidikan masih menjadi barang mahal. Pendidikan berkualitas hanya dimiliki sekelompok masyarakat, sedangkan masyarakat miskin hanya memperoleh pendidikan ala kadarnya dari fasilitas seadanya yang disediakan pemerintah.

Benang Kusut Sistem Pendidikan Nasional (5)

Saroni (2013: 33) mengungkapkan bahwa banyak sekali pelanggaran terkait penyelenggaraan pendidikan untuk orang miskin yang dimaklumi oleh pejabat di atasnya sehingga tidak sedikit sekolah yang melakukan tes kemampuan finansial.

Pemerintah pun belum mampu menyelenggarakan pendidikan berkeadilan untuk orang miskin. Pendidikan gratis hanya slogan, kenyataannya banyak kebutuhan sekolah yang belum tercukupi jika hanya menggunakan dana BOS. Pendidikan murah tidak mampu mencapai target pendidikan berkualitas.

Tidak meratanya pendidikan di Indonesia, tidak bisa lepas dari ketimpangan sosial dalam masyarakat. Kebutuhan hidup yang semakin tinggi, tidak diimbangi dengan penghasilan keluarga. Banyak orang tua mati-matian menyekolahkan anak walaupun untuk makan sehari-hari saja, mereka kesulitan.

Sistem Pendidikan Nasional merupakan sistem yang harus dibuat secara runtut dan jelas. Terpuruknya pendidikan Indonesia tidak lepas dari kompleksitas masalah bangsa dan tidak bisa lepas dari politik/kepentingan penguasa.

Selama pemerintah tidak memprioritaskan masalah pendidikan menjadi agenda bangsa yang harus segera diselesaikan, maka wajah pendidikan Indonesia akan tetap sama. Anggaran pendidikan 20% dari APBN ternyata tidak cukup ampuh untuk menyelenggarakan pendidikan bermutu karena program-program pemerintah selama ini tidak berimbas besar.

Pemerintah dinilai masih tanggung-tanggung dalam membuat rencana besar untuk perbaikan pendidikan nasional. Seharusnya dana yang cukup besar tersebut, bisa dialokasikan untuk program yang tepat guna, bukan berefek sementara waktu.

Wajah pendidikan di Indonesia bisa berubah menjadi lebih baik jika permasalahan pendidikan menjadi prioritas utama pemangku kebijakan, dalam hal ini pemerintah. Negara seperti Cina dan Finlandia yang dahulu terpuruk, kini bisa menjadi negara maju dengan memperbaiki kualitas pendidikan.

Kebijakan yang dibuat seharusnya bisa menyentuh akar masalah pendidikan kita, bukan permukaannya saja. Sistem Pendidikan Nasional seharusnya dibuat berdasarkan karakteristk negara Indonesia sebagai bangsa yang kaya akan keberagaman, bangsa Timur yang mengedepankan nilai-nlai luhur, tujuan pendidikan nasional sebagaimana sudah dimamatkan dalam UUD 1945, bukan sebatas mengdaptasi pendidikan modern ala barat.

Esai ini ditulis oleh Aniza Ambarwati kamu juga bisa menulis karyamu di belapendidikan, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah setiap bulannya, Daftar Sekarang

Ahmad Andrian F
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi keluhkesah.com