web portal pendidikan – Sebagai bahan hukum sekunder, yang terutama adalah buku buku hukum termasuk skripsi, tesis dan disertai hukum dan jurnal jurnal hukum. Di samping itu juga, kamus kamus hukum, dan komentar komentar atas putusan pengadilan. Dalam artikel kali ini kami sudah merangkum bahan bahan hukum sekunder.

Bahan Hukum Sekunder

Kegunaan bahan hukum sekunder adalah memberikan kepada penelitian semacam “petunjuk” ke arah mana peneliti melangkah. Apabila tulisan itu berupa tesis, disertai atau artikel di jurnal hukum, boleh jadi tulisan itu memberi inspirasi bagi peneliti untuk menjadi titik anjak dalam memulai penelitian.

Bagi kalangan praktisi, bahan hukum sekunder ini bukan tidak mungkin sebagai panduan berpikir dalam menyusun argumentasi yang akan diajukan dalam persidangan atau memberikan pendapat hukum.

Sudah barang tentu buku buku dan artikel artikel hukum yang dirujuk adalah yang mempunyai relevansi dengan apa yang hendak diteliti. Begitu juga dengan komentar komentar atas putusan pengadilan perlu diseleksi kasus kasus relevan dengan objek penelitian.

Dapat saja buku atau artikel mengenai masalah yang lain daripada objek penelitian dijadikan rujukan asalkan memang ada keterkaitan dengan apa yang diteliti tersebut.

Dalam hal inilah peneliti dituntut ketajaman pemikiran yuridis peneliti dalam menghadapi isu yang ditanganinya. Seorang peneliti atau seorang yang lagi menangani perkara warisan dari suatu perkawinan campuran, misalnya tidak ada gunanya merujuk tulisan Moeljatno tentang Hukum Pidana.

Sebaliknya, apabila perkawinan campuran itu menyangkut masalah hak atas tanah, mengingat didalam kasus warisan itu tersangkut orang asing, tulisan tulisan dan komentar atas putusan pengadilan tentang masalah masalah keagrarian relevan untuk di telaah.

Persoalan yang timbul adalah tulisan tulisan hukum yang manakah yang layak untuk dijadikan rujukan, baik untuk penelitian bagi keperluan praktis maupun kepentingan akademis.

Bahan Hukum Sekunder

Berbagai literatur menyebutkan bahwa yang layak menjadi rujukan adalah tulisan yang dibuat oleh scholar atau jurist yang mempunyai kualifikasi tinggi. Siapakah mereka ? Apakah mereka harus bergelar doktor ? ataukah harus seorang Guru Besar ? Ataukah setiap tesis dan bahkan disertai layak untuk dirujuk ? Pertanyaan pertanyaan ini tidak mudah untuk dijawab.

Yang jelas penulis harus seorang Jurist. Sebagai Jurist, ia sekaligus scholar. Akan tetapi untuk kasus Indonesia, sebagaimana telah dikemukakan pada Bab I, tidak semua sarjana hukum berpikiran sebagai Jurist. Bahkan mereka lebih bangga kalau menghasilkan tulisan yang mencemooh ilmunya sendiri sambil memasuki wilayah ilmu tanpa arah dan tersesat.

Tulisan para sarjana hukum semacam ini tidak layak untuk dijadikan referensi baik untuk keperluan praktis hukum maupun untuk penulisan hukum secara akademis.

Terus terang, tulisan tulisan sosiolegal apakah berupa tesis, disertasi, ataupun makalah sebaiknya tidak dirujuk karena menempatkan hukum hanya sebagai gejala sosial bukan sebagai norma. Begitu juga disertasi yang tidak lebih merupakan kompilasi dari pendapat berbagai sarjana tanpa melahirkan preskripsi mengenai apa yang seyogianya secara yuridis tidak perlu dijadikan rujukan.

Di indonesia ini dapat dijumpai seorang penulis menulis begitu banyak buku bahkan puluhan buku tetapi antara satu buku dengan lainnya berbeda bidangnya atau dengan perkataan lain, penulis ini merupakan seorang yang menulis berbagai bidang hukum.

Dengan demikian, sebenarnya yang menjadi ukuran bukan kualifikasi penulis, melainkan karya tulisannya. Memang kalau penulis penulis seperti Paul Scholten, Nieuwenhuis, Meuwissen, Philip Jessup, Hart dan pandangan pandangan hakim Holmes, Learned Han, Benjamin Card0z0 dan hakim Hoge Raad Belanda mempunyai kualifikasi tinggi.

Akan tetapi diluar itu yang pertama kali diperhatikan adalah apakah tulisan itu tulisan hukum (treatise). Suatu ciri khas bahwa tulisan itu merupakan tulisan hukum adalah penulisnya akan membahas suatu bidang tertentu sesuai dengan keahliannya atau tentang ilmu hukum secara umum, penulisnya akan berpangkal dari karakter keilmuan hukum sebagai norma bukan sebagai gejala sosial.

Bahan Hukum Sekunder

Dengan pengetahuan dasarnya tentang hukum dan setelah membaca Kata Pengantarnya, peneliti mengetahui bahwa buku yang akan dirujuk itu buku hukum, perlu juga ditelaah lagi sasaran pembaca buku itu atau untuk siapa buku itu ditulis.

Telaah terhadap buku buku klasik sangat dianjurkan bagi peneliti yang menggunakan pendekatan historis. Hanya saja tidak dapat disangkal persoalan bahasa merupakan kendala utama bagi peneliti. Sebagian besar sarjana hukum sudah tidak lagi menguasai Bahasa Belanda apalagi Perancis atau Latin.

Sebagai penyeimbang buku buku hukum baik yang klasik maupun yang kontemporer, artikel artikel yang dimuat di jurnal jurnal hukum layak dijadikan bahan hukum sekunder. Bahkan dapat dikatakan bahwa yang dimuat jurnal jurnal tersebut adalah pandangan pandangan baru.

Akan tetapi sangat disayangkan, beberapa jurnal hukum Indonesia memuat tulisan yang bukan merupakan artikel hukum melainkan artikel sosio-legal. Artikel semacam ini tidak layak dimuat di jurnal hukum, melainkan lebih layak dimuat di jurnal semacam law society.

Untuk memperoleh pandangan pandangan terbaru tentang bahan hukum sekunder, peneliti dapat mengakses lewat Internet US Law Review atau melangganya.

Sangat disayangkan, fakultas fakultas hukum Indonesia tidak memiliki perpustakaan tersendiri yang lengkap dengan buku buku dan jurnal hukum yang aktual dari berbagai negara seperti yang dijumpai negara negara lain seperti Malaysia, Singapura, dan lain lain.

Itulah ulasan dan rangkuman dari Penelitian Bahan Hukum Sekunder. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca artikel kami Bahan Hukum Sekunder. Kami berharap tanggapan dari para pengunjung jurnalis, untuk isi dalam artikel ini.

Ahmad Andrian F
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi keluhkesah.com