Web portal pendidikan – Esai kali ini berjudul Bagaimana kabar pendidikan Indonesia, yang dikirimkan oleh salah satu peserta dalam ajang lomba esai nasional bersama belapendidikan.com. Untuk lebih lengkapnya dapat kita lihat sebagai berikut.

Bagaimana Kabar Pendidikan Indonesia ?

Sudah berpuluh tahun lamanya sejak wafatnya Ki Hadjar Dewantara, Pahlawan yang dihormati sebagai Bapak Pendidikan Nasional, Bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), setiap tanggal 2 Mei.

Peringatan ini umumnya dilakukan dalam bentuk upacara bendera. Miris, meski sudah puluhan tahun peringatan ini dilaksanakan, kabar pendidikan Indonesia masih jauh dari kata ideal.

Pasalnya, pendidikan Indonesia lebih sering mengalami kemerosotan daripada kemajuan. Padahal, pendidikan merupakan salah satu parameter dalam menentukan kemajuan suatu bangsa.

Melalui pendidikan, proses pendewasaan potensi penduduk dapat dikembangkan. Penduduk dengan tingkat pendidikan tinggi serta berintegritas memiliki kemampuan beradaptasi terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Hal ini tentunya diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap kemajuan di bidang lain. Alhasil, pendidikan merupakan salah satu pembentuk kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) suatu bangsa.

Memasuki abad ke-21 yang ditandai oleh proses globalisasi, Bangsa Indonesia tentunya dituntut untuk mempersiapkan Sumber Daya Manusia yang berkualitas dan kompetitif. Sayangnya, seperti yang dapat kita perhatikan, wajah pendidikan Indonesia masih jauh dari harapan.

Masalah pendidikan sering menjadi pembicaraan hangat di tengah masyarakat. Bermacam keluhan dan argumen dilontarkan oleh berbagai pihak. Namun, dibalik semua itu, masyarakat yang sebagai salah satu komponen penting dalam penentu kemajuan pendidikan Indonesia, banyak yang belum memahami hal-hal apa saja yang menjadi persoalan umum pendidikan di Indonesia, tetapi terus menuntut pemerintah agar segera mendapatkan solusi.

Tentu untuk mendapatkan solusi, masyarakat juga harus mengetahui lebih dalam penyebab dari suatu persoalan dan menganalisisnya, sehingga bisa ikut berkontribusi dalam menangani hal ini.

Apa Yang Menjadi Persoalan Umum Bangsa Ini Tentang Merosotnya Pendidikan ?

Salah satu persoalan umum yang sering diperbincangkan di masyarakat adalah tentang angka putus sekolah yang tinggi. Berdasarkan data dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Tahun 2016/2017, angka putus sekolah masih sangat tinggi. Untuk tingkat Sekolah Dasar ada 39.213 anak, tingkat Sekolah Menengah Pertama ada 38.702 anak, dan tingkat Sekolah Menengah Atas/Kejuruan ada 109.163 anak yang putus sekolah dan tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya.

Umumnya, hal ini terjadi akibat lemahnya faktor ekonomi. Mahalnya biaya sekolah dan seringnya terjadi pungutan liar (pungli) dengan alih-alih untuk menambah fasilitas atau meningkatkan kualitas sekolah masih terjadi.

Bila hal ini dibiarkan terus berlanjut, tentu setiap tahunnya akan terjadi kenaikan angka putus sekolah dan penurunan jumlah Sumber Daya Manusia yang berkualitas.

Selain itu, persoalan tentang gaji guru di Indonesia yang rendah juga berdampak pada kualitas pendidikan kita. Saat ini, gaji guru di Indonesia memang sudah meningkat menjadi lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Tetapi, jika dibandingkan dengan Negara tetangga kita seperti Malaysia dan Singapura, Indonesia masih berada jauh dibawah. Terlebih untuk gaji guru honorer yang sangat memprihatinkan. Banyak guru honorer yang sudah mengabdi selama 10 tahun tetapi belum juga diangkat menjadi guru tetap.

Karena gaji yang diterima terlalu rendah, banyak guru yang melakukan pekerjaan sampingan untuk menunjang kehidupan mereka. Tentu saja ini berdampak pada berkurangnya komitmen mereka terhadap pekerjaan mengajar dan bahkan terkadang menyebabkan ketidakhadiran mereka. Alhasil, ini merujuk pada buruknya kinerja disusul menurunnya kuallitas pendidikan di Indonesia.

Setelah masalah angka putus sekolah dan gaji guru, masalah lain seperti kesalahan persepsi bahwa nilai adalah yang terpenting didalam menempuh pendidikan juga perlu diperhatikan.

Tidak bisa dipungkiri bahwa hampir semua orang mengakui hal tersebut. Berbagai cara dilakukan agar bisa mendapatkan nilai yang tinggi. Salah satu contohnya seperti pada penerapan Ujian Nasional.

Setiap pihak sekolah tentunya sangat ingin mempertahankan citra sekolah dengan melihat seluruh siswanya lulus dengan nilai yang memuaskan. Mirisnya, pihak sekolah yang seharusnya menjadi pembimbing yang mengarahkan siswanya ke arah yang positif, malah sebaliknya.

Tak jarang pihak sekolah sengaja membeli kunci jawaban dan membocorkannya kepada siswa. Melihat hal ini, tidak heran jika hasil cetakan dari sistem pendidikan kita banyak melahirkan sosok pemimpin rakyat yang tidak amanah dan korupsi. Pertanyaannya,

apakah hal ini akan terus berlanjut pada setiap generasi ?

Disamping persoalan-persoalan di atas, ada satu masalah klasik dalam bidang pendidikan di Indonesia yang hingga kini seolah-olah belum menemukan jalan keluar yang tepat dari pemerintah untuk segera ditangani, yaitu belum adanya pemerataan pendidikan di setiap daerah di Indonesia.

Perbedaan kualitas pendidikan di setiap daerah terlihat jelas, terkhusus untuk daerah terpencil dan daerah perkotaan. Banyak anak di daerah terpencil yang tidak bersekolah dengan berbagai alasan, seperti tidak ada sekolah, biaya yang mahal, jarak ke sekolah yang sangat jauh sehingga harus menyeberangi sungai, berjalan di jembatan yang rapuh, dan sebagainya.

Kurangnya sarana prasarana sekolah, kurangnya tenaga pengajar dan sulitnya mengakses internet untuk menambah informasi dan pengetahuan juga menjadi kendala.

Masalah ini bisa kita lihat pada masyarakat Papua yang kesulitan dalam mengenyam pendidikan. Hal ini menimbulkan munculnya pandangan konservatif mereka yang menganggap bahwa pendidikan tidak penting bagi orang yang hidup di daerah kecil seperti mereka.

Bagi sebagian masyarakat juga, perbedaan perhatian pemerintah terhadap daerah perkotaan dan daerah terpencil menimbulkan kecemburuan sosial. Mungkin inilah salah satu alasan mengapa dahulu Papua ingin memisahkan diri dari NKRI.

Untuk hal ini, seharusnya pemerintah bisa lebih memperhatikan daerah-daerah terpencil agar tidak muncul kasus serupa di daerah lain. Menerapkan kebijakan-kebijakan seperti melakukan penyuluhan tentang pentingnya pendidikan bagi setiap orang atau mengirim tenaga pengajar ke daerah terpencil bisa menjadi salah satu langkah untuk mengatasi masalah ini.

Tidak adanya pemerataan pendidikan di setiap daerah juga mempersulit permberlakukan kurikulum yang telah ada. Seperti penggunaan Kurikulum 2013 saat ini, tidak semua siswa dan sekolah memiliki sarana dan prasarana yang memadai untuk memberlakukan Kurikulum ini secara efektif, khususnya di daerah terpencil.

Seharusnya, pemberlakuan kurikulum ini diikuti dengan bantuan dari pemerintah terhadap pemerataan pendidikan, seperti penambahan sarana dan prasarana.

Pemberlakuan kurikulum pun seharusnya konsisten. Dapat kita lihat sampai saat ini, pendidikan Indonesia seolah-olah belum menemukan bentuk kurikulum yang optimal. Ini terbukti dari penggunaan kurikulum yang terus berubah.

Sayangnya, perubahan kurikulum ini tidak diiringi dengan perubahan dari seluruh masyarakat pendidikan di Indonesia.

Dari pemaparan di atas, tidak berlebihan jika dikatakan kabar pendidikan kita masih sangat memprihatinkan. Program-progam pemerintah masih banyak yang belum bisa terlaksana secara global, seperti program wajib belajar 12 tahun.

Masalah-masalah ini tentu harus segera ditangani. Hal ini memaksa pemerintah untuk lebih optimal lagi dalam menerapkan kebijakan dalam kinerjanya.

Untuk mewujudkan pendidikan ideal di Indonesia, tidak hanya dibutuhkan kebijakan-kebijakan atau program dari pemerintah. Kita tahu bahwa pemerintah telah mengalokasikan dana anggaran terbesar untuk bidang pendidikan.

Apa Yang Dilakukan Pemerintah Dalam Mengupayakan Kemajuan Pendidikan di Indonesia ?

Pemerintah telah melakukan berbagai upaya demi kemajuan pendidikan di Indonesia. Dan yang dibutuhkan sekarang adalah kesadaran dari setiap pihak yang berkontribusi terhadap kemajuan pendidikan di Indonesia.

Ini menjadi langkah utama untuk mewujudkan pendidikan ideal. Setiap pihak disini maksudnya adalah pemerintah pusat, lembaga-lembaga di bawah pemerintah, tenaga pengajar, pelajar dan juga masyarakat.

Masyarakat seringkali menyalahkan pemerintah atas persoalan yang terjadi tanpa menyadari bahwa mungkin dirinya juga salah satu penyebab dari persoalan yang ada. Jika hanya pemerintah saja yang dituntut untuk berupaya keras dalam memajukan pendidikan, tentu sampai puluhan tahun ke depan, kabar pendidikan kita akan tetap jalan di tempat, bahkan mundur.

Harus ada kontribusi dari berbagai pihak, karena jika bukan kita, masyarakat Indonesia, siapa lagi yang akan berkontribusi dalam upaya memajukan kemajuan pendidikan kita.

Peran lembaga-lembaga pemerintah untuk bekerja secara jujur dan amanah sangatlah penting. Peran guru sebagai tenaga pengajar dalam mendidik dan mencerdaskan para pelajar juga tidak kalah penting.

Disusul peran orangtua dalam membentuk karakter anak agar dapat tumbuh menjadi seseorang yang bermoral bukan hanya berpendidikan. Dan tentu peran pelajar yang kelak akan menjadi penentu kemajuan dari suatu bangsa sangat dibutuhkan.

Jika kesadaran telah ada, maka setiap program dan kebijakan pemerintah akan sinkron terhadap pelaksanaannya. Dengan demikian, diharapkan peringatan Hari Pendidikan Nasional bukan hanya lagi sekedar peringatan, tetapi menjadi pendorong bagi kita untuk lebih giat berjuang bersama dalam memajukan pendidikan, sehingga harapan kita terhadap pendidikan ideal dapat terwujud.

Esai ini ditulis oleh Lily Yana kamu juga bisa menulis karyamu di belapendidikan, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah setiap bulannya, Daftar Sekarang

Ahmad Andrian F
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi keluhkesah.com