Web portal pendidikan – Esai kali ini berjudul Apakah “Harus” Demi Mendapatkan Gelar, yang dikirimkan oleh salah satu peserta dalam ajang lomba esai nasional bersama belapendidikan.com. Untuk lebih lengkapnya dapat kita lihat sebagai berikut.

Apakah Kata “Harus” Demi Mendapatkan Gelar ?

Pendidikan merupakan sesuatu yang penting untuk memanusiakan seorang manusia. Pendidikan yang utama dan pertama adalah berasal dari keluarga. Keluarga memiliki peranan penting dalam membentuk kepribadian seorang manusia.

Pendidikan setelah keluarga adalah Taman Kanak-kanak, dilanjutkan dengan Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Atas dan diakhiri dengan pendidikan pada bangku perkuliahan. Namun, ada yang mengatakan bahwa “Long Life Education” yang memiliki arti pendidikan seumur hidup. Apakah itu benar?

Berbicara mengenai pendidikan tak lepas dari kata perkuliahan. Dan didalam perkuliahan, ada yang dinamakan skripsi. Skripsi sendiri adalah salah satu syarat penting untuk mendapatkan gelar sarjana.

Lalu yang menjadi pertanyaan cukup penting adalah, apakah skripsi merupakan sebuah keharusan untuk mendapatkan gelar sarjana? Apakah seseorang dianggap sarjana jika dan hanya jika ia telah lulus dalam menyelesaikan skripsinya? Saya rasa ini argumen yang cukup mengundang perhatian tersendiri.

Saya adalah seorang mahasiswa tingkat akhir yang berada di semester 8 dimana saat ini saya sedang berusaha menyelesaikan tantangan untuk mendapatkan gelar sarjana Teknik yaitu skripsi.

Menurut saya, skripsi tidak seharusnya menjadi sebuah keharusan untuk mendapatkan gelar sarjana, bukan karena saya tidak mampu. Saya mampu dan dengan pengetahuan yang cukup selama 7 semester saya yakin dapat menyelesaikan dengan baik. Tetapi bagaimana dengan yang lain? Apakah semua mahasiswa memiliki tingkat kecerdasan yang sama?

Tidak menyudutkan, tetapi ini berbicara tentang fakta. Setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda dan tentunya setiap orang akan menonjol pada hal-hal tertentu.

Menurut Kabar Berita

Dilansir dari sebuah situs berita yaitu Tribun Regional pada kamis 18 Juni 2015 seorang mahasiswi bernama Valentina Anjuna Pangestika(23) ditemukan tewas gantung diri di rumah kontrakan di Pulosari RT 3 RW IV, Gayam, Kecamatan Sukoharjo pada Selasa 16 Juni 2016.

Mahasiswi tersebut meninggal dikarenakan depresi lantaran skripsinya tak kunjung kelar di semester 10 yang ia jalani. Selain itu dilansir dari Merdeka.com seorang mahasiswa USU (Universitas Sumatera Utara) bernama Frendis Agustinus Panjaitan(24) ditemukan tewas karena bunuh diri akibat dikejar deadline skripsi.

Dan yang lebih mengenaskan, seorang mahasiswa bernama David Hartanto Widjaja(21) yang mendapatkan beasiswa dari ASEAN pada jurusan elektro Nanyang Technology University (NTU) nekad membunuh dosen pembimbing skripsinya dan kemudian membunuh dirinya sendiri. Dan masih banyak lagi kejadian buruk terkait bunuh diri yang dilakukan mahasiswa akibat stres dan depresi menghadapi skripsi.

Melihat kejadian buruk yang terjadi tersebut, apakah masih perlu skripsi menjadi sebuah keharusan untuk mendapatkan gelar sarjana? Selain tingkat kemampuan akademik yang berbeda-beda, biaya juga menjadi faktor yang membuat mahasiswa depresi dalam menyelesaikan skripsi.

Kenapa Biaya Menjadi Masalah Dalam Menyelesaikan Skripsi ?

Hal ini dikarenakan untuk menyelesaikan revisi, mencetak laporan, mencari data, semuanya membutuhkan biaya. Banyak mahasiswa yang berasal dari keluarga tak mampu, sudah kuliah saja menjadi sesuatu yang patut disyukuri, lalu bagaimana jika harus mengeluarkan biaya tambahan untuk hal-hal yang disebutkan tadi?

Dan juga, padatnya kegiatan dosen yang meliputi mengajar, penelitian dan sebagainya membuat dosen pembimbing yang bersangkutan kurang memiliki waktu yang cukup untuk mengadakan bimbingan. Apakah mahasiswa harus menunggu dan dikejar deadline? Saya rasa ini cukup menjadi perhatian bagi wajah pendidikan Indonesia saat ini.

Pendidikan memang penting. Penting untuk memanusiakan manusia, penting untuk menciptakan manusia yang unggul, berintegritas dan berperilaku layaknya manusia. Namun skripsi bukan syarat yang penting untuk menentukan sukses atau tidaknya seseorang di bangku perkuliahan.

Kesuksesan tidak diukur dari seberapa besar kesanggupan seorang mahasiswa dalam menulis landasan teori dan tinjauan pustaka pada skripsi tetapi diukur dari bagaimana ia mampu menyesuaikan diri dan berpraktek dalam dunia kerja.

Kesuksesan tidak diukur dari bagaimana ia mampu menggunakan kemeja putih dan rok atau celana hitam pada saat ujian pendadaran, tetapi kesuksesan adalah bagaimana menghadapi tantangan hidup yang jauh lebih keras yaitu kerja.

Esai ini ditulis oleh Yunita Chrisna Riana A. Bere kamu juga bisa menulis karyamu di belapendidikan, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah setiap bulannya, Daftar Sekarang

Ahmad Andrian F
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi keluhkesah.com